Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1 - Di Goda

Dingin!

Terasa sangat dingin tubuh kekar, gempal kencangku ini, hingga menusuk ke pori-pori tubuhku.

Sudah beberapa hari ini tubuh kekar gempal tinggiku, terutama belut hitam besar penisku ini, terasa sangat kedinginan. Aku sudah seminggu ini, tidak berhubungan badan bersama dengan istriku.

Bukan karena istriku yang tidak mau di tiduri olehku. Akan tetapi aku yang sedang tidak mood untuk menidurinya.

***

Pagi itu, aku baru saja menggunakan setelan pakaian kantorku yang serba ketat. Yang mana, di hari itu aku memakai kemeja polos berwarna pink, dengan celana bahan berbahan mengkilap ketat.

Tentunya dengan setelan pakaian yang biasa aku pakai itu, lekuk tubuhku yang lumayan indah ini pun, tercetak jelas menapak di pakaianku. Baik dadaku yang bidang, perutku yang sedikit endut alias gempal, dan pentolan bawah penisku yang lumayan cukup gemuk ini pun sangat menapak jelas di celana bahan mengkilapku ini.

Istriku sekarang, sedang berdiri membelakangiku dengan posisi kedua tangannya yang melipat diatas dadanya, menatap kearah luar jendela rumah. Terlihat sangat sombongnya istriku ini.

"Saya malu mas, punya suami seperti kamu! Saya malu!"

DEG!

Hatiku ini benar-benar sangat hancur, jantungku bergemuruh, telapak tangan kananku mengepal dengan keras, ingin rasanya aku menampar bibir istriku.

Kesekian kalinya, Ia berbicara seperti itu, sebuah kata-kata yang berkaitan dengan harga diriku. Sebuah perkataan yang menurutnya terlalu penting baginya.

"Ok, jika itu mau kamu. Jangan harap, saya akan menginjakkan kaki saya di rumah ini!"

"Mana mas kunci mobilnya saya!"

BRAK!!! Aku melemparkan kunci mobilnya di bawah kakinya.

Dengan segera aku membalikkan badan.

"Jangan sampai ada barang miliknya saya yang kamu bawa dari sini. Heh!" Ucapnya terdengar sangat sinis.

Aku tidak menghiraukan wanita itu. Aku melangkahkan kaki lebarku menuju ke dalam kamar. Aku langsung mengemas seluruh pakaian ke dalam tas ransel.

Ku gendong tas ransel ini di punggung. Aku berjalan cepat menuju ke luar rumah dengan tatapan wajahku yang lurus ke depan sambil. Sangat muak rasanya, untuk aku melihat wajahnya istriku itu.

Aku mendaratkan bokong di Jok Motor, memakai helm, menancapkan gas motor menuju ke tempat kerjaaanku.

Laki-laki mana yang tidak sakit hatinya, ketika harga dirinya merasa di injak-injak oleh Istrinya?

Apa masalahku ini yang sebenarnya?

Aku dan istriku ini memiliki banyak perbedaan, terutama untuk diriku sendiri. Aku sangat menyadari, kalau aku ini hanyalah seorang pria yang hanya lulusan SMA saja.

Aku sangat menyadari, kalau aku ini hanyalah seorang pria perantau yang bekerja menjadi Leader Team Sales Marketing saja.

Aku sangat menyadari, kalau aku ini hanyalah seorang Suami yang numpang tidur di rumahnya.

Akan tetapi, aku pun tidak serta merta tidur secara gratis begitu saja di rumahnya. Aku tetap memberikan sebagian gaji kerjaku untuknya.

Ucapan yang keluar dari bibir tajam istriku di pagi ini, adalah ucapan Istriku yang ke sekian kalinya.

Aku sangat tidak menyangka, bahwa sifat asli istriku memang seperti itu. Ya, aku benar-benar tidak menyangka, karena aku terlanjur menikahinya.

Namaku Bara. Aku adalah seorang Pria yang berasal dari luar pulau. Paras wajahku tampan terlihat sedikit garang atau terlihat sedikit galak, warna kulitku putih, badan kekar tinggi gempal dan sangat kencang.

Untuk sekarang ini usiaku masih berusia 28 Tahun. Aku sudah menikah sekitar dua tahun dengan wanita itu. Wanita itu usianya lebih tua lima tahun dariku.

Dulu. Tepatnya ketika sewaktu aku pertama kali berjumpa dan berkenalan dengan istriku itu, sewaktu aku mengadakan acara Event pameran property di salah satu Kota, yang masih berada di dekat Kota Rantau yang saat itu aku singgahi.

Sambil memegang brosur dan juga sambil menyapa kepada orang-orang yang melintasi di hadapanku tersebut, terkadang aku berdiri membagi-bagikan brosur dan juga terkadang duduk.

Tanpa di sadari, sedari tadi itu, dari kejauhan, aku melihat seorang wanita yang sedang berdiri dan terus memperhatikan aku.

Mungkin, di dalam hatinya perempuan itu sangat penasaran dan ingin sekali berkenalan denganku. Karena meskipun wajahku terlihat sedikit garang, akan tetapi kalau masalah untuk masalah diatas ranjang, adalah jagoku.

Kala itu, statusku pun masihlah lajang. Aku memiliki beberapa wanita yang menyukaiku untuk sekedar menyusu dikala aku yang sedang kedinginan.

Setelah wanita itu memperhatikan aku lumayan lama, wanita itu pun berjalan menyilang dengan santai, mendekati aku yang sedang duduk.

"Selamat siang Pak?" Ucap Wanita itu ketika sudah berdiri di hadapanku yang sedang duduk, dengan tatapan kedua matanya yang tertuju kearah pentolan batang hitam penisku lalu naik ke dada bidangku, hingga menatap wajahku.

Aku pun segera bangkit berdiri dari kursi. Tentunya lekuk tubuh bersama tonjolan belut hitam penisku ini pun, secara otomatis tercetak jelas di celana bahan ketat yang aku pakai ini.

Wanita itu pun kedua matanya selalu tertuju kearah bawah, menatap tonjolan penisku.

"Saya boleh duduk?" Kata Wanita itu sambil tetap menatap tonjolan penisku lalu keatas hingga menatap wajahku.

"Boleh Bu. Silahkan duduk." Ucapku.

"Terima kasih." Ucap wanita itu langsung duduk di kursi berhadapan denganku, dengan posisi paha kirinya menangkring di atas paha kanannya itu.

Aku duduk di kursi, tangan kananku menjulur ke hadapannya "Kenalin Bu, nama saya Bara." Kataku.

Tangan kanannya wanita inipun langsung menggenggam telapak tanganku "Halimah.

Aku segera melepaskan telapak tangannya.

"Ibu mau mengambil perumahan ya?" Tanyaku basa-basi sambil tersenum manis, kedua mataku menatap belahan kedua dadanya yang terlihat sangat kencang itu.

"Betul Pak." "Saya ingin mengambil Perumahan yang ada di Komplek X, di Jalan X, di Kota X." Wanita ini menginginkan salah satu rumah yang terbilang cukup lumayan besar, yang berada di luar Kota ini.

Hatiku ini pun mendadak merasa sangat bahagia, karena pastinya sebentar lagi aku akan mendapatkan Fee, kalau rumah yang di tanyakan oleh perempuan ini, di beli olehnya.

"Baik Bu, silahkan di lihat-lihat dulu?" Tangan kananku langsung menyodorkan buku katalog rumah ke hadapannya diatas meja.

Telapak tangannya langsung mendarat dan mengelus punggung telapak tanganku ini. "Makasih ya Pak?" Katanya terdengar sangat ramah sambil mengelus punggung telapak tangan kananku.

Seketika Pentolan batang hitam penisku ini pun meronta mengeras merespon elusan lembut tangannya ini, hingga mencengkal di resletting celana bahan ketatku.

"Jadi Ibu, mau yang mana Bu?" Kataku sembari melepaskan tanganku secara pelan dari telapak tangannya.

"Saya mau yang ini nih Pak?" Katanya sembari jari telunjuk tangan kanannya itu menunjuk salah satu gambar rumah yang ada di katalog itu.

"Tapi untuk hari ini, saya tidak membawa persyaratan-persyaratannya." "Saya juga belum tahu, mengenai seluruh persyaratannya. Dan kalau bisa, saya ingin membicarakan hal ini lebih lanjut, ketika saya sedang tidak sibuk seperti ini. Kalau bisa, nanti Bapak datang ke rumahnya saya ya?" Katanya.

"Baik Bu, saya sangat bersedia untuk datang ke rumahnya Ibu. Dan maaf, kalau saya boleh tahu, memangnya Ibu Halimah ini tinggalnya di daerah mana ya?" Kataku sangat bersedia untuk datang ke rumahnya.

"Panggil saya, dengan nama Halimah ya, Pak? Jangan Ibu? Serasa tua banget, umurnya saya." Katanya dengan nada pelan.

Alu cengengesan pelan. "Maaf Bu, saya sudah terbiasa memanggil kliennya saya dengan panggilan yang seperti itu. Tidak enak saya Bu, kalau saya memanggil namanya Ibu Halimah, dengan panggilan namanya saja." Kataku.

"Tidak apa-apa koq Pak. Justru saya merasa sangat senang. Kalau saya di panggil dengan sebutan nama saja." Katanya.

"Baiklah kalau begitu. Saya akan menggil nama Ibu Halimah, dengan panggilan Halimah saja." Kataku.

Wanita ini langsung tersenyum. Mungkin hatinya seketika melambung.

"Jadi nanti beneran bisa kan Pak? Kamu datang ke rumahnya saya?" "Kalau kamu tidak ada kendaraan, biar nanti saya yang jemput?" Sangat pengertian sekali wanita yang bernama Halimah ini.

"Nggak perlu di jemput koq Bu? Dan sebelumnya, saya ucapkan terima kasih." "Kebetulan saya memiliki kendaraan motor sendiri." "Dan maaf, memangnya untuk tempat tinggalnya Halimah ini, tinggalnya di daerah mana ya?" Aku mencoba untuk bersikap seprofessional dan seramah mungkin kepada wanita ini.

"Saya tinggal di luar Kota ini, Pak." Katanya.

"Saya boleh meminta alamat lengkapnya Bu?" Pintaku.

"Boleh dong. Tapi maaf, jikalau nanti kamu ingin datang ke rumahnya saya? Kalau bisa nanti kamu datangnya sendirian saja? Sekalian, nanti kita ngopi-ngopi dulu. Bisa kan?" Katanya.

"Tentu sangat bisa Bu. Dan biasanya juga, saya selalu jalan sendirian koq." Kataku.

"Ini mas, kartu namanya saya." Dia menaruh kartu namanya diatas meja.

"Terima kasih Bu." Aku langsung memegang kartu namanya.

"Ya sudah kalau gitu. Saya pamit ya Pak?" Katanya sembari langsung bangkit berdiri.

Aku pun langsung mendirikan badanku dari kursi dan langsung menyodorkan tangan kananku ke depan. "Terima kasih banyak ya Bu."

"Sama-sama. Di tunggu kedatangannya nanti malam ya?" Katanya sambil berjabat tangan denganku.

"Baik Bu." Kataku.

Kita berdua saling melepaskan jabatan tangan.

Wanita yang bernama Halimah itu langsung membalikkan badan, Ia berjalan menyilang meninggalkanku. Begitu cantiknya kedua bokong kencangnya yang sangat menonjol itu, ketika dia berjalan menyilang tadi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel