Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5: Sisa Pakaian Yang Terkoyak

Sisa pakaian yang terkoyak itu ternyata menyimpan sepotong kulit manusia yang memiliki tato nama keluarga Wijaya tepat di bagian tengahnya. Raka Adi Wijaya merasakan seluruh persendiannya melunglai saat jemarinya menyentuh tekstur kulit yang dingin serta kenyal layaknya karet yang sudah lama direndam air sungai.

Tato itu masih terlihat sangat jelas dengan guratan tinta hitam yang merembes masuk ke dalam pori-pori kulit yang mulai membusuk serta mengeluarkan aroma belerang. Raka Adi Wijaya teringat bahwa hanya adiknya yang memiliki rajah silsilah tersebut sebagai tanda kehormatan keluarga yang diwariskan secara turun-temurun oleh ayah mereka.

"Arini, katakan padaku bahwa ini hanyalah sebuah tipu daya gaib karena aku tidak sanggup membayangkan Dimas dikuliti hidup-hidup di tempat ini!" raung Raka Adi Wijaya dengan suara yang pecah oleh isak tangis.

Arini Sekar Arum segera mendekat lalu menggunakan ujung kerisnya untuk mengangkat potongan kulit tersebut agar tidak bersentuhan langsung dengan telapak tangan Raka yang terluka. Ia melihat pinggiran kulit itu tidak dipotong menggunakan pisau melainkan robek secara paksa seolah-olah ditarik oleh kuku-kuku yang sangat tajam serta bertenaga besar.

Mata Arini berkaca-kaca saat ia menyadari bahwa darah yang mengering di sekitar tato tersebut masih berwarna merah cerah yang menandakan kejadian itu belum lama berlalu. Ia memegang pundak Raka dengan kuat guna memberikan kekuatan mental meskipun batinnya sendiri sedang diguncang oleh kengerian yang luar biasa hebat.

"Kita tidak boleh menyerah pada rasa sedih sekarang karena potongan kulit ini adalah umpan agar kita kehilangan kewaspadaan di tengah hutan yang lapar ini!" tegas Arini Sekar Arum dengan nada suara yang bergetar.

Raka Adi Wijaya menghapus air matanya menggunakan punggung tangan lalu menatap sekeliling dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh api kemarahan yang berkobar. Ia meremas sisa pakaian yang terkoyak tersebut hingga cairan kuning kental keluar dari celah serat kain serta membasahi pergelangan tangannya yang mulai membengkak.

Suara desahan wanita kembali terdengar dari balik rimbunnya pohon kamboja diikuti oleh munculnya sepasang mata merah yang menatap mereka dengan penuh rasa haus akan darah. Sosok Sundel Bolong itu kini berdiri tegak di atas dahan pohon sambil memutar-mutarkan sebuah kalung rantai yang sangat dikenal oleh Raka Adi Wijaya sebagai milik Dimas.

"Apakah kamu ingin melihat sisa tubuh adikmu yang lain atau kamu lebih memilih untuk menyerahkan jantungmu sendiri sebagai pengganti nyawanya?" tanya sang hantu dengan nada mengejek yang sangat memuakkan.

Raka Adi Wijaya melompat maju sambil mengayunkan parangnya secara membabi buta ke arah dahan pohon tempat makhluk itu berdiri dengan sangat angkuh. Namun bilah parang itu justru tertancap pada batang pohon yang mendadak berubah menjadi lunak layaknya daging manusia yang sedang berdenyut kencang.

Jeritan kesakitan keluar dari batang pohon kamboja tersebut sementara darah segar mulai muncrat membasahi wajah Raka hingga ia merasa sangat mual akibat bau amis yang menyengat. Arini Sekar Arum mencoba menarik Raka mundur namun tanah di bawah kaki mereka mulai bergerak-gerak seperti ada ribuan ulat yang sedang menggali jalan keluar.

"Raka, jangan biarkan amarahmu mengendalikan langkahmu karena setiap tetes darah yang keluar dari pohon ini akan menjadi racun bagi jiwamu!" teriak Arini Sekar Arum sambil melemparkan serbuk suci ke arah batang pohon tersebut.

Lampu senter yang dibawa oleh Raka mendadak berkedip-kedip sebelum akhirnya mati total serta meninggalkan mereka dalam kegelapan yang sangat pekat dan mencekam. Di tengah kegelapan tersebut, Raka merasakan sebuah tangan yang sangat halus mulai meraba punggungnya serta membisikkan kata-kata dalam bahasa kuno yang tidak ia pahami.

Ia mencoba berbalik namun tubuhnya terasa sangat kaku seolah-olah seluruh ototnya telah berubah menjadi kayu jati yang tertanam kuat ke dalam perut bumi. Arini Sekar Arum berteriak memanggil nama Raka namun suaranya perlahan-lahan menghilang serta digantikan oleh suara rintihan bayi yang sangat memilukan dari arah bawah tanah.

"Selamat datang di gerbang penderitaanku yang abadi di mana setiap jengkal tanah adalah saksi dari pengkhianatan yang dilakukan oleh leluhurmu!" bisik suara wanita tepat di telinga Raka.

Raka Adi Wijaya melihat sebuah cahaya redup muncul dari arah kejauhan namun cahaya itu bukan berasal dari lampu senter melainkan dari sebuah kompas tua yang tergeletak di atas tanah. Kompas tersebut berputar secara gila-gilaan tanpa arah yang jelas sementara jarum penunjuknya mulai berubah menjadi kuku manusia yang terus meneteskan darah segar.

Kompas yang menyesatkan itu perlahan-lahan mulai menuntun langkah kaki Raka yang kaku menuju ke arah jurang yang dipenuhi oleh kabut yang menelan cahaya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel