Bab 6: Kompas Yang Menyesatkan
Kompas yang menyesatkan itu perlahan-lahan mulai menuntun langkah kaki Raka yang kaku menuju ke arah jurang yang dipenuhi oleh kabut yang menelan cahaya. Jarum jam yang biasanya menunjuk ke arah utara kini berubah menjadi kuku manusia yang terus memutar serta mencakar kaca penutup kompas tersebut.
Raka Adi Wijaya mencoba melepaskan benda itu dari genggamannya namun permukaan kompas terasa seperti sudah menyatu dengan kulit telapak tangannya. Ia merasakan sebuah tarikan magnetis yang sangat kuat dari dasar jurang hingga tubuhnya terseret paksa melewati semak belukar yang penuh duri tajam.
"Arini, tanganku tidak bisa berhenti memegang kompas terkutuk ini, ada sesuatu yang menarikku ke bawah!" teriak Raka Adi Wijaya dengan suara yang tercekat oleh rasa takut.
Arini Sekar Arum segera melompat serta mencengkeram tas punggung Raka guna menahan laju tubuh pria itu agar tidak terperosok ke dalam kegelapan abadi. Ia melihat asap hitam keluar dari sela-sela jari Raka yang mulai menghitam akibat pengaruh hawa murni dari benda pusaka yang sudah dirasuki roh jahat.
Gadis itu segera mengambil botol kecil berisi air doa lalu menyiramkannya ke arah telapak tangan Raka yang sedang memegang kompas tersebut. Suara desisan yang sangat memilukan terdengar bersamaan dengan munculnya wajah wanita yang samar-samar pada permukaan kaca kompas yang retak.
"Jangan pernah melawan arah angin jika kalian tidak ingin jiwa kalian terpecah menjadi butiran debu di dalam hutan ini!" bisik sebuah suara yang terdengar sangat dekat di telinga Arini.
Raka Adi Wijaya akhirnya berhasil melempar kompas itu meskipun sebagian kulit telapak tangannya ikut terkelupas serta meninggalkan luka yang menganga lebar. Ia jatuh terduduk tepat di bibir jurang sementara kompas tersebut melayang di udara lalu meledak menjadi ribuan kepingan tajam yang menyambar ke arah mereka.
Arini Sekar Arum menggunakan selendang kuningnya untuk menangkis kepingan logam tersebut hingga menimbulkan percikan api keunguan yang menerangi sekejap kegelapan. Ia menyadari bahwa kabut yang ada di bawah mereka bukanlah kabut biasa melainkan kumpulan napas dari ribuan makhluk yang sedang menunggu mangsa jatuh.
"Raka, lihat ke bawah sana, kabut itu mulai membentuk anak tangga yang menuju ke jantung kegelapan!" seru Arini Sekar Arum sambil menunjuk ke dalam jurang.
Raka Adi Wijaya menatap ke bawah serta melihat gumpalan kabut putih mulai memadat serta membentuk susunan tangga yang terbuat dari jalinan rambut manusia yang sangat panjang. Di setiap anak tangga terdapat tengkorak kecil yang terus membuka serta menutup mulutnya seolah-olah sedang merapalkan sebuah mantra pemanggil maut.
Ia merasakan sebuah dorongan yang sangat kuat dari dalam batinnya untuk menuruni tangga tersebut karena ia melihat sosok Dimas sedang berdiri di anak tangga paling bawah. Dimas melambaikan tangannya dengan gerakan yang sangat lambat sementara air mata darah terus mengalir dari kedua matanya yang kosong tanpa bola mata.
"Itu hanya jebakan mata, Raka, jika kamu melangkah ke sana maka raga kamu akan langsung hancur sebelum mencapai dasar jurang!" peringat Arini Sekar Arum dengan tegas.
Raka Adi Wijaya tidak memedulikan kata-kata Arini karena ia merasa sudah tidak memiliki alasan untuk hidup jika harus kehilangan adiknya dengan cara yang mengerikan. Ia mulai melangkahkan kaki kanannya ke atas tangga rambut tersebut sementara suara tawa Sundel Bolong kembali pecah memenuhi seluruh penjuru hutan.
Arini Sekar Arum mencoba menarik baju Raka namun sebuah kekuatan besar mementalkannya hingga ia menghantam batang pohon kamboja yang ada di belakangnya. Ia melihat Raka kian menjauh ke dalam kabut tebal yang mulai menelan cahaya lampu senter yang masih tersisa di tangan pria tersebut.
Kabut itu mendadak berubah menjadi sangat pekat serta beraroma daging busuk yang membuat siapa pun yang menghirupnya akan langsung kehilangan kesadaran sepenuhnya. Raka Adi Wijaya merasa tubuhnya menjadi sangat ringan seolah-olah ia sedang terbang di antara awan merah yang dipenuhi oleh suara rintihan wanita yang tersiksa.
"Dimas, tunggu kakak di sana, kita akan pulang bersama-sama serta meninggalkan tempat terkutuk ini selamanya!" teriak Raka Adi Wijaya sambil mempercepat langkahnya.
Namun saat ia sampai di depan sosok Dimas, wajah adiknya itu mendadak retak lalu hancur berkeping-keping serta memperlihatkan wajah Kenanga yang sedang menyeringai lebar. Sang Sundel Bolong mencengkeram bahu Raka lalu membisikkan sebuah rahasia yang membuat seluruh aliran darah Raka terasa berhenti seketika.
Kabut yang menelan cahaya itu kini mulai merayap naik ke atas bibir jurang serta membungkus raga Arini yang sedang tidak sadarkan diri di bawah pohon kamboja.
