Bab 4: Jeritan Dari Akar Tua
Jeritan dari akar tua mulai menggema dari bawah tanah seiring dengan munculnya ribuan raga tanpa kepala yang mulai merangkak keluar dari balik pohon kamboja. Raka Adi Wijaya merasakan getaran hebat pada telapak kakinya yang seolah-olah sedang berpijak di atas gendang raksasa yang dipukul oleh amarah dari dalam bumi.
Udara di sekitar mereka mendadak dipenuhi oleh serbuk kayu yang sangat halus namun terasa setajam silet saat menyentuh pori-pori kulit wajahnya. Arini Sekar Arum segera menarik keris pusakanya lalu menancapkannya ke sebuah akar besar yang sedang menggeliat tepat di depan ujung sepatu bot milik Raka.
"Jangan pernah mendengarkan suara itu karena jeritan ini berasal dari jiwa-jiwa yang sudah menyatu dengan kayu hutan akibat sumpah Kenanga!" teriak Arini Sekar Arum dengan wajah yang sangat pucat.
Raka Adi Wijaya mencoba menutup kedua telinganya namun suara jeritan itu justru terdengar semakin keras serta mulai merayap masuk ke dalam pikiran bawah sadarnya. Ia melihat raga-raga tanpa kepala itu mulai bergerak mendekat dengan gerakan yang kaku namun sangat cepat hingga mengepung posisi mereka berdua.
Tangan-tangan pucat yang penuh dengan serat kayu mulai mencengkeram pergelangan kaki Raka hingga ia terjatuh ke atas tumpukan daun kamboja yang basah oleh darah. Raka Adi Wijaya menghantamkan kepalan tangannya ke arah raga terdekat namun tinjunya justru terasa seperti menghantam batang pohon jati yang sangat keras.
"Arini, mereka bukan hanya sekadar hantu melainkan raga yang sudah menjadi kayu serta tidak bisa dihancurkan dengan kekuatan fisik!" pekik Raka Adi Wijaya sambil berusaha melepaskan kakinya.
Arini Sekar Arum segera menyiramkan sisa minyak suci ke arah akar yang melilit kaki Raka lalu menyulutnya menggunakan pemantik api perak kesayangannya. Kobaran api biru mendadak menjilat udara serta membakar serat-serat kayu hidup tersebut hingga mengeluarkan aroma daging terbakar yang sangat menyengat indra penciuman.
Raga-raga tanpa kepala itu serentak berhenti bergerak lalu mengeluarkan suara gemeretak seperti ribuan dahan pohon yang patah secara bersamaan di tengah badai. Namun kemenangan singkat itu sirna saat akar-akar dari pohon kamboja yang lebih besar mulai turun dari langit-langit kabut serta mengincar leher Arini.
"Gunakan parangmu untuk memutus urat nadi dari akar ini sekarang juga sebelum jantungku berhenti berdetak akibat lilitannya!" perintah Arini Sekar Arum dengan napas yang terputus-putus.
Raka Adi Wijaya segera mengayunkan parangnya dengan kekuatan penuh hingga bilah logam itu terbenam dalam ke dalam urat akar yang berwarna merah kehitaman. Cairan kental yang menyerupai getah berdarah muncrat membasahi baju Raka sementara akar tersebut menggeliat hebat seperti seekor ular yang sedang sekarat.
Ia merasakan tangannya gemetar hebat karena ia baru menyadari bahwa akar-akar ini memiliki denyut nadi yang sangat mirip dengan denyut nadi manusia yang sedang ketakutan. Arini Sekar Arum jatuh terduduk sambil memegangi lehernya yang kini dipenuhi oleh bekas lilitan yang membentuk pola serat kayu permanen pada kulitnya.
"Hutan ini sedang mencoba mengubah kita menjadi bagian dari barisan raga tanpa kepala itu jika kita tidak segera menemukan sisa pakaian Dimas yang hilang!" bisik Arini Sekar Arum sambil menyeka darah dari sudut bibirnya.
Raka Adi Wijaya menatap sekelilingnya yang kian gelap serta melihat sebuah bayangan sedang berdiri di atas dahan pohon kamboja yang paling tinggi. Bayangan itu memegang sebuah benda yang berkilau di bawah cahaya bulan yang redup serta mulai menjatuhkannya tepat ke arah pusara tanpa nama.
Benda itu jatuh dengan suara dentingan logam yang cukup keras serta tertimbun oleh daun-daun berdarah yang terus berguguran tanpa ada hentinya. Raka Adi Wijaya segera berlari menuju lokasi jatuhnya benda tersebut meskipun ia harus menginjak raga-raga kayu yang masih mencoba untuk merangkak bangkit.
"Berhenti, Raka, itu adalah jebakan yang sengaja diletakkan agar kamu melupakan aturan keselamatan di dalam dimensi gerbang gaib ini!" teriak Arini Sekar Arum yang masih berusaha untuk berdiri tegak.
Namun Raka Adi Wijaya sudah terlambat karena ia telah menyentuh sebuah kain biru yang terkoyak-koyak yang ternyata berisi gumpalan rambut manusia yang masih sangat basah. Ia merasakan sebuah kekuatan dingin mulai menarik jiwanya keluar dari raga sementara matanya hanya mampu menatap sisa pakaian yang sudah tidak lagi berbentuk tersebut.
Sisa pakaian yang terkoyak itu ternyata menyimpan sepotong kulit manusia yang memiliki tato nama keluarga Wijaya tepat di bagian tengahnya.
