Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3: Mereka Justru Berlari Menuju Pusara Tanpa Nama Yang Tersembunyi

Mereka justru berlari menuju pusara tanpa nama yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja berdarah yang menjadi pusat dari segala kutukan ini. Raka Adi Wijaya terengah-engah dengan jantung yang berdegup kencang seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya saat melihat tanah di depannya mulai memuntahkan kelopak bunga kamboja yang berwarna merah pekat.

Akar-akar raksasa yang mencuat dari permukaan bumi bergerak melilit layaknya ular sanca yang sedang kelaparan serta siap untuk meremukkan tulang belulang siapa pun yang melintas. Arini Sekar Arum mendadak berhenti tepat di depan sebuah gundukan tanah yang tidak memiliki nisan namun dikelilingi oleh ribuan ulat tanah yang bergerak membentuk pola lingkaran sempurna.

"Raka, berhenti sekarang juga atau kamu akan menginjak jantung dari hutan ini yang sedang berdenyut mencari tumbal baru!" teriak Arini Sekar Arum sambil merentangkan tangannya guna menahan laju lari pria itu.

Raka Adi Wijaya mengerem langkahnya hingga debu tanah beterbangan serta menempel pada wajahnya yang sudah bersimbah keringat dingin. Ia menatap gundukan tanah itu dengan tatapan tidak percaya karena ia melihat sebuah tangan kecil yang sangat mirip dengan tangan Dimas perlahan-lahan muncul dari balik timbunan tanah becek.

Tangan itu tampak pucat serta memiliki tanda lahir yang sangat identik pada bagian pergelangan tangan seperti milik adiknya yang hilang secara misterius. Raka Adi Wijaya merasa dunianya runtuh seketika hingga ia nekat merayap maju guna meraih tangan tersebut tanpa memedulikan peringatan dari Arini.

"Dimas, apakah itu kamu yang terkubur di bawah sana?" tanya Raka Adi Wijaya dengan suara yang serak serta penuh dengan kepedihan yang mendalam.

Belum sempat jari jemari Raka menyentuh tangan itu, tanah di sekeliling pusara mendadak amblas serta mengeluarkan uap belerang yang sangat menyengat indra penciuman. Tangan yang semula tampak seperti tangan manusia kini berubah menjadi cakar hitam yang sangat tajam serta langsung mencengkeram pergelangan tangan Raka dengan kekuatan yang luar biasa.

Arini Sekar Arum segera menghujamkan kerisnya ke tanah di samping pusara tersebut hingga menimbulkan ledakan cahaya kuning yang membuat cakar hitam itu melepaskan mangsanya. Ia menyadari bahwa pusara ini adalah jebakan ruang yang sengaja diciptakan oleh sang Sundel Bolong untuk mengumpulkan jiwa-jiwa yang sedang tersesat dalam kesedihan.

"Itu bukan adikmu, Raka, melainkan sebuah ilusi yang diciptakan dari rasa bersalahmu yang paling dalam agar kamu sukarela masuk ke dalam liang lahat itu!" pekik Arini Sekar Arum sambil menarik tubuh Raka menjauh.

Raka Adi Wijaya masih terpaku menatap pusara tersebut sementara air mata mulai membasahi pipinya yang kotor oleh tanah hutan yang berbau amis. Ia merasa gagal sebagai seorang kakak karena tidak mampu membedakan antara kenyataan dengan tipu daya gaib yang sedang menjerat jiwanya secara perlahan-lahan.

Suara tangisan bayi kembali terdengar namun kali ini berasal dari dalam gundukan tanah tersebut diikuti oleh suara tawa wanita yang semakin melengking tinggi. Kelopak bunga kamboja yang berceceran di tanah mulai terbang berputar serta membentuk pusaran angin yang dipenuhi oleh aroma melati yang sangat memabukkan.

"Mengapa kalian sangat takut untuk masuk ke dalam rumah baruku padahal aku sudah menyiapkan tempat yang paling nyaman untuk kalian berdua?" suara itu muncul dari balik rimbunnya pohon kamboja.

Sesosok wanita dengan lubang punggung yang sangat besar muncul di hadapan mereka sambil memegang sepotong pakaian yang sangat dikenal oleh Raka. Pakaian itu adalah jaket biru milik Dimas yang kini sudah terkoyak-koyak serta dipenuhi oleh bekas gigitan taring binatang yang sangat besar.

Raka Adi Wijaya merasakan amarahnya bangkit kembali melebihi rasa takutnya saat melihat bukti penderitaan adiknya berada di tangan makhluk terkutuk tersebut. Ia meraih parangnya kembali lalu mengarahkannya tepat ke wajah pucat sang Sundel Bolong yang sedang tersenyum mengejek di bawah cahaya bulan yang redup.

"Berikan kembali adikku sekarang juga atau aku akan membakar seluruh hutan ini sampai tidak ada satu pun akar yang tersisa!" ancam Raka Adi Wijaya dengan mata yang memerah akibat amarah.

Sang Sundel Bolong tidak merasa takut melainkan justru tertawa semakin keras hingga membuat pohon kamboja di belakangnya mulai mengeluarkan darah segar dari setiap celah kulit kayunya. Darah itu mengalir deras membanjiri kaki Raka serta Arini hingga membuat mereka sulit untuk bergerak serta merasa seolah-olah kaki mereka sedang dipasung oleh besi panas.

Jeritan dari akar tua mulai menggema dari bawah tanah seiring dengan munculnya ribuan raga tanpa kepala yang mulai merangkak keluar dari balik pohon kamboja.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel