Bab 2: Tamu Di Balik Kain
Tamu di balik kain itu kini perlahan-lahan menampakkan wujudnya sambil membawa sebuah undangan maut yang tertulis dengan darah segar pada selembar kafan. Cengkeraman tangan pucat yang keluar dari layar kamera kian menguat hingga membuat pembuluh darah di leher Raka Adi Wijaya menonjol serta berwarna kebiruan.
Raka Adi Wijaya mencoba melepaskan diri namun jari-jari dingin itu terasa seperti lilitan besi yang membeku serta menusuk masuk ke dalam kulitnya. Ia merasakan oksigen di sekitarnya mendadak hilang digantikan oleh uap panas yang keluar dari dalam mesin kamera yang kini mulai mencair perlahan-lahan.
"Arini, cepat lakukan sesuatu atau leherku akan patah sebelum kita sempat melangkah lebih jauh!" rintih Raka Adi Wijaya dengan suara yang sangat parau.
Arini Sekar Arum segera menghunuskan keris kecil dari balik pinggangnya lalu menggores telapak tangannya sendiri hingga darah segar menetes ke atas punggung tangan pucat tersebut. Begitu darah Arini menyentuh kulit makhluk itu, terdengar suara desisan seperti daging yang dipanggang diikuti oleh kepulan asap hitam yang sangat berbau busuk.
Tangan gaib itu meronta hebat lalu ditarik paksa kembali ke dalam layar kamera hingga meninggalkan bekas luka bakar berbentuk telapak tangan di leher Raka. Raka Adi Wijaya jatuh tersungkur sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah-olah ia baru saja bangkit dari dasar liang lahat yang sangat sempit.
"Makhluk itu bukan sekadar penunggu hutan, Raka, karena ia adalah bagian dari sumpah Kenanga yang telah mengikatkan jiwanya pada setiap benda milik korban!" tegas Arini Sekar Arum.
Raka Adi Wijaya menatap bekas luka di lehernya melalui pantulan layar kamera yang kini sudah kembali gelap serta dipenuhi retakan halus layaknya jaring laba-laba. Ia melihat kain kafan yang tadi tergantung di atas pohon kini mulai turun perlahan-lahan serta melayang di udara tanpa ada hembusan angin sedikit pun.
Kain itu seolah-olah memiliki mata yang terus mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari balik lipatan putihnya yang sudah mulai kecokelatan akibat noda tanah. Raka Adi Wijaya segera bangkit berdiri meskipun kakinya masih terasa lemas serta bergetar akibat syok yang baru saja ia alami di tengah kesunyian hutan.
"Apakah kain itu yang kamu sebut sebagai tamu, Arini, atau ada sesuatu yang lebih buruk yang sedang bersembunyi di balik serat benangnya?" tanya Raka Adi Wijaya dengan nada penuh kecurigaan.
Arini Sekar Arum tidak menjawab melainkan hanya memberikan isyarat agar Raka tetap diam serta jangan pernah mengalihkan pandangan dari arah kain kafan yang kian mendekat. Ia merasakan suhu udara di sekitar mereka turun secara drastis hingga embun dingin mulai keluar dari setiap helaan napas yang mereka keluarkan.
Tiba-tiba kain kafan itu mengembang lebar serta membungkus tubuh seorang wanita yang berdiri membelakangi mereka dengan rambut panjang yang menjuntai sampai ke tanah. Wanita itu tidak memiliki kaki melainkan hanya gumpalan asap hitam yang terus berputar serta mengeluarkan suara rintihan bayi yang sangat memilukan hati.
"Kembalikan apa yang sudah kakekmu ambil dari pusaraku atau kalian berdua akan membusuk bersama akar-akar tua ini selamanya!" suara wanita itu menggema tanpa ada bibir yang bergerak.
Raka Adi Wijaya merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya namun ia tetap memaksa tangannya untuk meraih parang yang terselip di pinggang. Ia tidak tahu apa yang sudah diambil oleh kakeknya namun ia sadar bahwa dendam ini sudah melampaui batas kewarasan manusia serta logika yang ia pelajari.
Arini Sekar Arum melemparkan serbuk garam ke arah sosok wanita tersebut hingga menciptakan percikan cahaya kuning yang terang benderang di tengah kegelapan hutan. Sosok itu berteriak melengking hingga membuat daun-daun di pohon kamboja berguguran serta menutupi seluruh permukaan tanah tempat mereka berdiri.
"Kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat dengan arwah ini, segera lari ke arah timur sebelum mereka semua terbangun dari tidur panjangnya!" perintah Arini Sekar Arum sambil menarik paksa tangan Raka.
Raka Adi Wijaya menoleh ke belakang sejenak serta melihat ribuan kain putih mulai bermunculan dari balik pohon-pohon besar serta melayang mengejar mereka dengan sangat cepat. Mereka berdua berlari sekuat tenaga menembus semak berduri namun arah jalan yang mereka lalui justru terasa semakin asing serta berputar-putar di tempat yang sama.
Mereka justru berlari menuju pusara tanpa nama yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja berdarah yang menjadi pusat dari segala kutukan ini.
