Bab 1: Rekaman Yang Berdarah
Layar kamera genggam itu mendadak bergetar hebat sebelum akhirnya memuntahkan cairan kental berwarna merah yang membanjiri telapak tangan Raka Adi Wijaya. Pria itu tersentak hingga hampir menjatuhkan benda elektronik tersebut ke atas tanah hutan yang lembap serta dipenuhi akar-akar tua yang melilit.
Di dalam rekaman yang berbayang tersebut, sosok Dimas tampak sedang berlari kencang sambil terengah-engah membelah semak belukar yang sangat rapat. Wajah adiknya terlihat sangat pucat dengan mata yang melotot ketakutan seolah-olah ada sesuatu yang sangat mengerikan sedang mengejarnya dari balik kegelapan.
"Raka, jika kamu menemukan kamera ini, tolong jangan pernah masuk lebih dalam karena hutan ini benar-benar hidup serta haus akan nyawa kita!" teriak Dimas di dalam video tersebut dengan suara yang pecah.
Raka Adi Wijaya mencengkeram kamera itu dengan erat hingga kuku-kukunya memutih serta urat-urat di lengannya menegang akibat emosi yang meluap. Ia menoleh ke arah Arini Sekar Arum yang sedang berdiri mematung sambil memegangi sebuah keris pusaka yang terus bergetar di dalam sarungnya.
Gadis itu memiliki tatapan mata yang tajam namun tersirat kecemasan yang mendalam di balik wajahnya yang biasanya tenang sebagai seorang peneliti fenomena gaib. Arini Sekar Arum perlahan-lahan melangkah mendekati Raka lalu mencium aroma anyir yang keluar dari lubang pengeras suara pada kamera tersebut.
"Bau ini bukan sekadar darah manusia biasa, Raka, melainkan darah yang sudah tercampur dengan tanah kuburan yang belum kering sempurna," bisik Arini Sekar Arum dengan nada suara yang sangat rendah.
Raka Adi Wijaya mendengus kasar sambil menghapus tetesan merah yang mulai mengering di layar kamera menggunakan ujung bajunya yang sudah kotor oleh lumpur. Ia tidak memedulikan peringatan mistis tersebut karena baginya keselamatan Dimas adalah harga mati yang harus ia perjuangkan meskipun harus bertaruh nyawa.
"Aku tidak peduli itu darah apa atau milik siapa, Arini, karena fokus utamaku saat ini adalah membawa adikku pulang dari neraka hijau ini!" seru Raka Adi Wijaya dengan nada penuh penekanan.
Arini Sekar Arum hanya menghela napas panjang sambil memperhatikan sekeliling mereka yang mulai tertutup oleh kabut putih yang sangat tebal serta beraroma bunga melati. Ia menyadari bahwa setiap kata yang diucapkan oleh Raka justru mengundang perhatian dari penghuni hutan yang sejak tadi mengintai dari atas pohon-pohon besar.
Suara tangisan bayi mendadak terdengar sangat jelas dari arah rekaman video yang seharusnya sudah berhenti diputar sejak beberapa menit yang lalu. Layar kamera kembali menyala dengan sendirinya namun kali ini hanya menampilkan lubang besar yang sangat dalam serta dipenuhi oleh ulat-ulat yang sedang menggeliat.
Raka Adi Wijaya mencoba menekan tombol pemadam namun mesin itu justru terasa sangat panas hingga membakar permukaan kulit ibu jarinya secara perlahan-lahan. Ia melihat sebuah bayangan wanita berambut panjang sedang berdiri di belakang Dimas pada detik terakhir rekaman tersebut sebelum layar benar-benar gelap total.
"Arini, apakah kamu melihat wanita itu tadi atau mataku hanya sedang berhalusinasi karena kelelahan yang luar biasa?" tanya Raka Adi Wijaya sambil berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Arini Sekar Arum tidak menjawab melainkan hanya menunjuk ke arah kain kafan yang mendadak tergantung di dahan pohon tepat di atas kepala mereka berdua. Kain itu masih tampak sangat bersih serta berkilau di tengah hutan yang kumuh seolah-olah baru saja diletakkan oleh tangan-tangan yang tidak terlihat.
Punggung Arini terasa dingin saat ia menyadari bahwa posisi kain tersebut membentuk pola yang sama dengan cara Kenanga meninggal dunia menurut cerita rakyat setempat. Ia menarik lengan baju Raka agar segera mundur namun tanah di bawah kaki mereka mulai bergerak-gerak seperti ada ribuan tangan yang mencoba menarik mereka masuk ke dalam bumi.
"Kita harus segera pergi dari titik ini sebelum gerbang pusara tanpa nama itu terbuka sepenuhnya serta menelan keberadaan kita dari dunia nyata!" perintah Arini Sekar Arum dengan mata yang membelalak.
Raka Adi Wijaya baru saja akan melangkah saat sebuah tangan pucat dengan kuku-kuku hitam yang sangat panjang keluar dari dalam layar kamera serta mencengkeram lehernya. Ia tercekik hebat hingga rona wajahnya berubah membiru sementara suara tawa melengking seorang wanita mulai membahana memenuhi seluruh penjuru hutan.
Tamu di balik kain itu kini perlahan-lahan menampakkan wujudnya sambil membawa sebuah undangan maut yang tertulis dengan darah segar pada selembar kafan.
