Bab 4
“Tuan…” panggil Bill pelan, nyaris tenggelam dalam riuh klakson Manhattan. Kedua tangannya tetap mantap memegang kemudi, namun pandangannya sesekali melirik spion.
Liam hanya bersuara pendek. “Hmm.”
“Perempuan tadi… yang tidak sengaja tertabrak,” Bill menelan ludah. “Sepertinya saya pernah melihatnya.”
Liam menoleh setengah, malas. “Apa dia orang penting? Tokoh publik? Jurnalis? Influencer?” Nada jengahnya tak bisa disamarkan.
Bill menggeleng kecil. “Sepertinya bukan, Tuan. Hanya saja… wajahnya terasa familiar.”
Liam tidak menanggapi. Ia hanya menghembuskan napas panjang lalu bersandar pada pintu mobil, menatap keluar jendela seakan ingin melarikan diri dari dunia.
“Aku malas pulang, Bill,” desahnya muak. “Rumah itu terlalu ramai. Terlalu… penuh.”
Bill tidak menjawab. Semakin besar keluarga, semakin banyak bayangan yang harus ditanggung seorang pewaris. Melalui pantulan kaca spion, ia menangkap wajah Liam—tegang, tidak nyaman, dan sedikit… lelah.
Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Itu adalah istana dengan lima belas kamar, taman belakang seluas lapangan sepak bola, kolam koi yang panjangnya seperti sungai kecil, serta lapangan golf pribadi yang nyaris tak pernah sepi oleh tamu penting keluarga Dawson.
Lorong-lorongnya dipenuhi foto keluarga dari generasi ke generasi, seolah menempelkan beban sejarah di punggung siapa pun yang berjalan di antaranya. Di sayap kiri, ruang keluarga dan ruang makan megah menunggu, penuh protokol tak tertulis.
Dan siang itu — meja makan keluarga Dawson berubah menjadi arena peperangan halus. Para wanita sudah menyingkir, menyisakan 4 orang pria.
“Acara itu akan dihadiri orang penting,” ujar Ralph Dawson dengan suara serak namun berwibawa. Tangannya menggenggam cangkir porselen putih yang tampak rapuh di antara jari keriput namun kokohnya. “Bahkan pejabat pemerintahan. Investor, konglomerat, para pesohor… semua akan ada di sana.”
Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keperakan tajam, membuat ruangan terasa lebih dingin. Para pria dewasa keluarga Dawson duduk berjajar, kecuali Liam—yang justru makan seolah tidak ada yang penting terjadi.
Daging panggang di piringnya tampak jauh lebih menarik daripada topik yang sedang diperdebatkan.
“Datanglah selayaknya orang bermartabat,” lanjut Ralph tanpa melihat Liam, namun jelas ditujukan padanya.
Federic mencondongkan tubuh, nadanya hati-hati namun tegang. “Ayah… peresmian pulau itu tidak bisa main-main. Apalagi letaknya masih berada di area Jacob Turner Family. Ini sangat berisiko.”
Keheningan tajam menyusul. Hanya terdengar denting sendok Liam yang mengenai piring.
Ralph tidak menjawab Federic. Ia menatap lurus pada cucunya itu — tatapan yang mengandung perintah tak terucap.
Liam akhirnya mendongak. Satu alis terangkat, wajahnya datar, hampir menantang.
Apa lagi kali ini?
“Itu tanggung jawab Liam,” ujar Ralph akhirnya, suaranya tak bisa diganggu gugat.
Samuel yang sedari tadi duduk tegak, langsung bergerak hingga kursinya berderit keras. Sorot matanya memanas. Ia, pewaris yang seluruh hidupnya dididik perfeksionis, tiba-tiba tersingkir.
“Apa Kakek yakin?” tanyanya, suaranya mengeras. “Empat puluh persen pulau itu milik Turner. Dan mereka tidak mudah diajak kerja sama. Memberikan proyek sebesar Mega Resort Island ke Liam adalah—”
Ia menahan diri sebentar.
“—langkah berbahaya. Bisa membuat saham kita anjlok.”
Liam meletakkan garpu, menyingkirkan serbet, lalu bangkit. “Aku pergi. Aku sudah kenyang.”
Gerakannya tenang, namun ada bara di baliknya.
Samuel ikut berdiri, kali ini lebih emosional. “Lihat! Kakek lihat sendiri, kan? Dia bahkan tidak peduli. Kakek memberikan proyek ini pada orang yang bahkan tidak bisa duduk lima menit saja!”
Ralph perlahan bangkit dengan bantuan tongkat kayunya, gerakannya lambat tapi penuh wibawa yang langsung membungkam ruangan.
Lalu, suaranya terdengar—pelan tapi menghantam keras.
“Beri aku seorang keturunan laki-laki…”
Ia berhenti di sana, menatap satu per satu dengan sorot mata tajam seorang raja tua.
“…maka delapan puluh persen harta dan tanahku akan menjadi milik kalian.”
Bagai ledakan senyap, kata-kata itu menggema di seluruh ruangan.
Federic menegang. Samuel mengembuskan napas tak percaya. Liam membeku sepersekian detik—sesuatu di dalam dirinya bergetar, entah itu emosi, luka lama, atau hanya kejengkelan yang semakin dalam.
Kembali di dalam mobil, Liam meraup wajahnya kasar.
Obrolan siang itu menempel seperti duri di tenggorokannya.
Jabatan, proyek, pulau, saham—semuanya dilemparkan padanya tanpa permisi.
Dan syarat absurd itu…
“Dasar keluarga gila,” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Bill melirik sebentar, tapi tidak berkomentar. Dalam hati ia tahu: Keluarga Dawson tak lagi menghasilkan keturunan laki-laki. Yang terakhir, anak dari Bibi Gritte lahir anak perempuan. Itu sebabnya Ralph Dawson menuntut Liam dan Samuel untuk segera melangsungkan pernikahan.
Mobil melaju di antara lampu kota, membawa Liam kabur dari rumah, Membawanya ke sebuah tempat.
Liam turun lebih dulu, menarik napas dingin malam sebelum melepas jasnya. Ia mengetuk kaca mobil. Bill buru-buru menurunkan jendela.
“Tunggu saja di sini. Aku tidak mau terlihat mencolok,” ujar Liam sambil menyodorkan jas hitam mahal itu, membuat Bill refleks menerimanya seperti benda sakral. “Atau kamu bisa pergi pesankan kamar untukku. Nanti beri kabar.”
“Tuan yakin?” Bill bertanya, ragu. Tatapannya bergerak cepat—dari wajah Liam yang tenang, ke pintu hotel yang gemerlap. Lalu, “Saya akan langsung pesankan sekarang.”
Liam tak menjawab segera. Pandangan matanya menerawang ke arah gedung, lalu kembali ke Bill.
“Ini cuma pertemuan biasa. Tidak perlu mengawasiku.” Liam melangkah ke belakang sambil merapikan kerah kemeja putihnya yang sederhana dan sudah sedikit terbuka di bagian atas—tampilan busana yang jauh dari citra pewaris megakonglomerat dan justru terkesan rakyat biasa.
Bill mengerutkan kening heran. Tuannya itu…
Biasanya tak pernah tampil tanpa jas mewah, sepatu kulit mengilap, dan aroma parfum yang menunjukkan status. Tapi malam ini, Liam terlihat seperti pria kota biasa yang sedang datang ke kelab untuk melepas penat.
“Aku benci acara reuni,” gumam Liam sambil memutar cincin peraknya. “Tapi… aku cukup penasaran dengan sikap mereka.”
Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.
Senyum yang bagi Bill menandakan satu hal — Liam siap mengacaukan suasana.
Liam pun melangkah mantap masuk ke hotel.
Langkahnya semakin dekat dengan lokasi yang sudah dijanjikan. Musik DJ yang awalnya hanya getaran samar kini berubah menjadi dentuman penuh bass yang mengguncang lantai. Cahaya neon ungu dan merah menyapu wajah Liam, membuat siluetnya tampak seperti tokoh misterius dalam film noir.
Begitu pintu kelab terbuka lebar, gelombang aroma alkohol, parfum mahal, dan keringat langsung menerpa wajahnya. Bar penuh sesak oleh tamu undangan—para mantan teman kuliah, teman kerja, dan wajah-wajah yang dulu pernah ada dalam hidupnya.
Liam berjalan santai, menyelip di antara orang-orang yang menari di lantai dansa. Beberapa mengenalinya, beberapa menatap lama, namun Liam tak menghiraukan mereka.
Hingga saat hampir mencapai bar, pandangannya menoleh sekilas ke sisi kanan.
Sebuah meja persegi dengan sofa melengkung tampak penuh ketegangan. Dua wanita dan satu pria — dan salah satunya terlihat… sangat marah.
Liam mendengus pelan. Drama manusia bukan urusannya. Ia pun berjalan melewatinya, tanpa tahu mungkin waktu akan mendekatkan pada sosok itu.
“Aku tak mau main-main, Amanda!” suara Sabrina mengeras, ditelan dentuman musik tetapi tetap penuh tekanan.
Tenggorokannya pedih. Suaranya nyaris pecah. Namun ia tetap memaksa agar terdengar di tengah riuh kelab.
“Kamu benar-benar menjualku,” tuding Sabrina. Matanya memerah bukan karena minuman — tetapi karena emosi yang ditahan terlalu lama.
Amanda menggeleng sambil tersenyum datar. “Ayolah, Sabrina. Jangan dibuat rumit. Ini solusi paling cepat. Dan paling bersih.”
Sabrina melipat kedua tangan sambil mendengus, bahunya tegang. “Solusi? Ini jebakan.”
“Cukup temui pasangan virtualmu itu,” Jonas tiba-tiba menyahut setelah mengembuskan asap rokok ke udara. “Ikuti instruksinya. Dapatkan uangnya. Sederhana.”
Asap rokoknya melayang tepat ke wajah Sabrina. Gadis itu refleks mengibaskannya dengan gerakan kasar.
“Aku tidak bodoh, Jonas.” Tatapannya menusuk. “Tidak ada uang 45 ribu dolar yang digunakan semudah itu. Itu bahkan hanya untuk permulaan. Siapa yang percaya?”
Jonas hanya mengangkat bahu, menyesap lagi rokoknya. “Sayangnya…” katanya tenang, santai seperti biasa, “kamu tidak bisa mundur. Sistem kontraknya ketat. Kalau kamu tidak hadir di pertemuan itu… tuntutannya berat.”
Berat.
Kata itu jatuh seperti palu di kepala Sabrina. Sabrina sudah tahu itu dari pesan beruntun yang dikirim dari acara biro jodoh gila itu.
Ia meraih segelas wine, menenggaknya tanpa jeda.
“Kalian berdua benar-benar brengsek,” katanya, suaranya bergetar tapi penuh kemarahan yang tertahan.
Amanda memiringkan kepala, wajahnya lembut namun kata-katanya menusuk. “Pikirkan lagi, Sabrina. Ibumu butuh pertolongan.”
Lalu ia mencondongkan tubuh, membisikkan kalimat yang menampar batin Sabrina:
“Hidup tidak selalu menyediakan pilihan.”
Emosi Sabrina meledak. Ia menuang wine lagi, kali ini hampir tumpah karena tangannya bergetar. Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut.
Gambar wajah ibunya muncul begitu jelas — terbaring lemah di ranjang rumah sakit, selang infus menusuk kulit rapuh itu.
Ia menenggak gelas ketiga.
Lalu keempat.
Kehangatan alkohol merayap naik ke wajahnya. Pandangannya sedikit kabur.
“Aku… ke toilet,” gumamnya lirih, lalu bangkit dengan langkah goyah. "Oh iya, uang muka itu milikku. Berikan padaku nanti."
Amanda mendecak melihatnya melangkah pergi seperti orang kehilangan arah.
“Tck! Sudah tidak bisa dicegah,” komentar Amanda sambil meraih minumannya. “Dia bahkan tidak pernah minum lebih dari satu gelas.”
