Bab 3
Peluh menetes dari pelipis hingga ke tengkuk Sabrina, menembus kain katun murahan yang sudah lama kehilangan daya serapnya. Nafasnya memburu, jantungnya berdetak keras seakan ingin menerobos tulang rusuknya.
Sampai di depan unit 540, Sabrina menggedor pintu beberapa kali, berharap sahabatnya muncul sambil memasang wajah tak berdosa. Tapi yang ia temukan hanyalah kesunyian dan ruangan gelap di balik kaca buram yang tertutup rapat.
Tidak ada Amanda.
Tidak ada jawaban.
Dan itu membuat Sabrina makin terbakar.
Ia merogoh tas, mengeluarkan ponselnya, tangan sedikit bergetar karena adrenalin dan panik yang bercampur.
“Dimana kamu, Amanda!” geramnya sambil menekan kontak.
Sabrina melangkah kembali ke tangga, satu tangan memegang ponsel, satu tangan menahan pagar besi. Keringat di telapak tangannya membuat pegangan sedikit licin, tapi ia tak peduli. Ia terus turun, langkahnya cepat, hampir tergelincir beberapa kali.
Nada sambung bersuara.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Hening.
Sabrina menggertakkan gigi. “Brengsek! Awas, Amanda! Aku bunuh kamu beneran nanti!”
Tanpa sadar, ia sudah mencapai lantai dua. Nafasnya semakin berantakan, napas panasnya memukul pipi. Dan seakan dunia ingin mempermainkannya, notifikasi dari aplikasi sialan itu kembali muncul.
PING!
PERINGATAN TERAKHIR. PERTEMUAN WAJIB DILAKSANAKAN.
Notifikasi menyebalkan itu bahkan masuk lagi seperti sebuah alarm yang mengingatkan Sabrina untuk segera bersiap.
“AAARGH!!” Sabrina hampir melempar ponselnya dari tangga.
Ia menekan tombol back.
— Selamat! Anda lolos verifikasi.
— Pasangan Anda siap bertemu.
— Pembatalan akan dikenakan penalti.
— Tidak hadir = pelanggaran kontrak.
— Tuntutan pidana dan pengembalian dana wajib.
Pesan yang awalnya ucapan selamat karena lolos medaftar, lalu berhasil menemukan pria yang siap bertemu hingga berakhir menjadi sebuah peringatan dan ancaman.
Sabrina menutup wajah dengan kedua tangan. “Aplikasi virtual gila! Siapa developernya? Sumpah… sumpah kalau aku tahu, pasti kubunuh!”
Ia keluar dari gedung dengan napas terengah, trotoar panas menyengat telapak kakinya. Lalu lintas kota menderu, aroma knalpot menusuk hidung. Sisa uangnya sudah habis untuk taksi yang membawanya tadi — sekarang ia benar-benar harus berjalan.
Dan ketika Sabrina merasa hari ini tak mungkin lebih menyebalkan, ponselnya berdering.
Nama itu muncul.
Amanda Taylor.
“BRENGSEK KAMU, AMANDA!” Sabrina langsung menjerit setelah tersambung. “Dimana kamu?!”
“Tenang, Sabrina sayang…” suara Amanda terdengar jauh, diganggu dentuman musik berat dan sorakan orang-orang.
“Tenang katamu? TENANG?!” Sabrina menahan ponselnya agar tidak jatuh dari genggamannya. “Di. Mana. Kamu!”
Tidak ada jawaban seketika, hanya gemuruh suara DJ dan teriakan orang mabuk bersahut-sahutan di latar belakang. Sabrina bisa membayangkan lampu neon, bau alkohol, tubuh-tubuh lengket menari.
Dan dia sedang kehabisan waktu, sementara sahabatnya berpesta.
Di sisi lain panggilan, Amanda duduk di pangkuan Jonas — pria bertubuh besar dengan tato di leher. Bibir pria itu tanpa malu mencumbu kulit leher Amanda, sementara Amanda berusaha bicara sambil menahan dengusan tawa.
“Sebentar, sayang…” Amanda menyingkir dan memberi kode pada bartender untuk menuang wine.
“DIMANA KAMU!” Sabrina kembali menggelegar.
Amanda memiringkan kepala, meneguk wine-nya sebelum menjawab santai, “Aku di kelab, sayang… salah satu hotel. Kamu bisa datang ke sini, oke? Hotel Giant. Kita bicara di sini.”
Klik.
Panggilan terputus.
Sabrina menatap layar ponselnya dua detik, lalu langsung berlari. Napasnya memburu, langkahnya panjang, ia menerobos kerumunan, menyeberangi jalan raya tanpa benar-benar memperhatikan lampu merah.
Suara klakson meraung dari berbagai arah, tapi bagi Sabrina semuanya hanya menjadi dengung samar yang melayang di udara panas. Pandangannya kabur oleh emosi, napasnya naik turun cepat, kepala terasa penuh—Amanda, biro jodoh gila itu, ancaman hukum, ibunya di rumah sakit—semuanya menumpuk dan menyeret pikirannya ke jurang yang tak menentu.
Ia menyeberang begitu saja.
Terlalu cepat.
Terlalu berani.
Terlalu putus asa.
Ban mobil besar berderit keras menghantam aspal, suara gesekan karet melengking. Beberapa orang berteriak, tapi Sabrina hanya sempat melihat sekilas cahaya refleksi kap mobil sebelum tubuhnya terpental ringan seperti boneka kain.
Ia terhempas ke samping, lutut dan sikunya menghantam aspal panas. Rasa perih langsung menjalar, seperti disayat.
“Keluar! Lihat keadaannya!” suara pria bariton memecah udara—dingin, memerintah, tak terbantahkan.
Liam Dawson.
Bill bergerak cepat, pintu mobil terbanting terbuka. Dengan tubuh besar dan sikap tegas, ia mencegah kerumunan yang mulai terbentuk. Satu ayunan tangannya saja cukup membuat beberapa orang mundur, meski tanpa sentuhan.
“Nona, anda baik-baik saja?” Bill membungkuk, ingin membantu Sabrina berdiri.
Tapi Sabrina menepis udara di depannya, berdiri dengan paksa walau tubuhnya goyah. Napasnya terengah, dada naik turun cepat, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajah.
“Tidak, saya tidak apa-apa.” Suaranya bergetar, tapi tegas. “Maaf… saya permisi.”
Ia menunduk singkat, lebih sebagai refleks sopan daripada kesadaran, lalu menyeret kakinya menjauh.
Bill hendak menyusul. “Nona, tunggu!”
Tidak ada gunanya.
Sabrina sudah berlari kecil, memeluk tasnya, menahan perih di sikunya yang mengeluarkan darah tipis. Tatapannya fokus lurus ke depan, seperti pelarian adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk tetap bernapas. Dalam hitungan detik, tubuhnya menghilang di antara gedung-gedung dan arus manusia kota.
Bill berhenti mengejar. Menghela napas panjang. Wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan—jarang ada perempuan yang baru saja ditabrak tapi kabur seperti itu.
Ia kembali membuka pintu mobil, masuk.
“Orangnya malah kabur,” gumamnya, menoleh pada Liam.
Liam masih duduk bersandar, satu tangan memegang ponsel, jari-jarinya mengetik santai seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Cahaya layar memantul di matanya yang dingin—mata yang tak pernah mau menunjukkan rasa bersalah.
“Baguslah,” jawabnya ringan. “Jadi kita tak perlu repot-repot.”
Nada bicaranya datar, tapi Bill bisa merasakan keengganan tersembunyi—bukan karena Sabrina, melainkan karena insiden kecil itu bisa saja membuang-buang waktunya.
“Lajukan mobilnya.” Liam memasukkan ponselnya ke saku dalam jas. “Semua temanku sudah di sana.”
Mobil itu melaju kembali, meninggalkan bekas rem di aspal, juga satu perempuan yang kini berjalan terseok dengan tangan bergetar—masih mencoba mengatur napas—menuju hotel tempat Amanda menunggunya.
