Bab 5
Liam menoleh lagi ke arah tiga orang yang tadi terlihat sedang berdebat kecil. Dari sela kerumunan yang bergerak seperti gelombang, pandangannya menangkap sosok Sabrina. Gadis itu tampak terhuyung sedikit saat berjalan menuju lorong belakang kelab—tempat yang lampunya lebih redup, seolah memisahkan diri dari hiruk-pikuk pesta.
Ia tidak mengenakan gaun pesta yang berkilau seperti para undangan lainnya. Tidak ada payet, tidak ada manik, hanya kaos V-neck sederhana yang jatuh pas di tubuh, dipadu rok rempel selutut. Terlihat asing, tetapi justru lebih nyata dibanding busana glamor yang memenuhi ruangan.
“Sejujurnya aku benci tempat seperti ini,” gumam Liam, hampir tanpa suara.
Ia menerobos kerumunan. Beberapa orang menari tanpa peduli dunia, beberapa mengobrol sambil bergelayut, beberapa hanya tertawa keras–tawa yang tenggelam oleh dentuman bass. Aroma alkohol bercampur dengan parfum mahal, lalu digempur oleh embusan mint dari hookah yang berputar di meja-meja VIP. Semua itu berubah menjadi kabut memabukkan yang menyelimuti seluruh ruangan.
“Liam!”
Suara itu menusuk di antara noise kelab.
Ia berhenti, menoleh ke kanan, lalu ke kiri.
“Di sini!”
Saat tubuhnya berputar, ia menemukan sosok tambun berdiri di dekat meja bar. Pria itu melambai dengan semangat berlebihan, seolah Liam adalah selebriti yang baru turun dari panggung konser.
“Hei, Luke, kamu beneran undang Liam?” bisik seorang wanita yang duduk di kursi tinggi, satu siku bertumpu di meja, jemari menyentuh bibir gelas wine-nya.
“Tentu saja. Dia juga teman kita,” jawab Luke santai.
Liam mulai mendekat, dan wanita itu—Vidia—memiringkan tubuhnya sedikit, membisik pada Luke tanpa benar-benar menurunkan suaranya.
“Ada Brisia di sini.”
Ia menoleh sekilas. Di sofa siku di belakang mereka—sofa berlapis kulit hitam yang tampak semakin mewah oleh cahaya neon—Brisia duduk bersandar manja di lengan kekasihnya. Di meja terdapat hidangan ringan yang sangat khas kelab malam: chicken wings dengan saus pedas yang menyengat, kentang goreng tipis berlumur rosemary, platter buah dingin, dan sederet minuman berwarna-warni yang terus berdatangan.
Luke menyeringai. “Apa masalahnya? Dia juga bukan siapa-siapa Liam lagi, Vidia.”
Luke turun dari kursinya lalu menyambut Liam dengan tos dan pelukan singkat—pelukan yang terasa lebih seperti formalitas daripada kehangatan.
“Kukira kamu tidak datang, Liam,” katanya lega.
“Aku sempatkan hadir,” balas Liam dengan senyum tipis.
Beberapa kepala di sofa yang tadinya sibuk dengan obrolan dangkal kini menoleh menatapnya. Tidak hanya menoleh—menilai. Senyum kecil mereka tampak sopan di permukaan, tetapi matanya penuh penghakiman.
“Berantakan sekali kamu, Liam,” ujar seorang pria bertato, cengengesan sambil mengangkat gelasnya. “Masih sama seperti dulu. Belum dapat kerjaan yang sepadan, ya?”
Senyum Liam hanya bergerak setengah inci. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini bahkan sebelum datang tadi.
“Apa kabar kalian? Tampang kalian seperti orang sukses,” katanya santai, satu alis terangkat.
Brisia menurunkan gelasnya. Sekilas saja ia melihat Liam, lalu kembali menyandarkan kepala di bahu kekasih barunya—aksi yang begitu dibuat-buat hingga Liam nyaris tertawa.
Jijik.
Ia ingin muntah melihat adegan itu.
“Memang kita cukup sukses, Liam,” sahut salah satu dari mereka dengan nada pamer yang amat kentara. “Beberapa dari kita bahkan masuk ke perusahaan cabang milik Dawson Family.”
“Oh.” Liam terkekeh kecil, ringan, hampir terdengar seperti ejekan. “Keren sekali.”
“Sudah, sudah, jangan bahas hal tidak penting.” Luke masuk lagi ke percakapan, meletakkan dua botol bir di meja dan menyerahkan salah satunya pada Liam.
“Nikmati saja pestanya, Liam.”
salah satu pasangan di meja itu bangkit. Kursinya menggeser pelan, meninggalkan bunyi rendah yang hampir tenggelam oleh dentuman musik dari ballroom.
“Ayo dansa,” ajak pria itu pada kekasihnya. “Aku mulai penat duduk.”
Wanita itu segera merangkul lengannya, bibirnya melengkung manis—manis yang terlalu sempurna. Mereka berjalan menuju ballroom, menembus kabut ringan dari mesin asap, lalu hilang ditelan riuh cahaya strobo.
Kepergian mereka justru membuat ruang VIP itu terasa lebih sempit, lebih rapat dengan aroma parfum mahal dan ketidaknyamanan yang menggantung.
Peter—kekasih Brisia yang baru—menyilangkan kaki, memandangi Liam dari ujung kepala hingga sepatu. Tatapannya tidak kasar, hanya… menilai, seperti seorang kolektor menaksir barang antik yang tak lagi berkilau.
“Jadi, kamu kerja di mana, Liam?” tanyanya sambil mengangkat gelas. “Kamu terlihat… sederhana sekali.”
Liam tersenyum tipis. Ia menaruh gelasnya di atas meja kaca yang basah oleh embun botol alkohol. Ia bisa saja menyebut posisinya, nama keluarganya, bahkan kekuasaan yang mengalir begitu alami dalam hidupnya. Tapi kesombongan tak pernah menjadi bagian dari bahasanya.
“Aku lebih suka terlihat sederhana,” jawabnya tenang.
“Hm.” Peter mengangguk perlahan, lalu menatap Brisia sebelum kembali pada Liam. “Kudengar kalian dulu cukup dekat.”
Brisia membuka mulut, namun Liam mendahuluinya.
“Tidak juga,” katanya lembut, nyaris sopan. “Kami hanya teman masa kuliah.”
Kalimat itu membuat Brisia memalingkan wajah, bibirnya mengeras. Vidia—yang duduk di seberang—menangkap semuanya. Tatapan kecil, napas yang terjeda, jari Brisia yang mengetuk gelas seperti sinyal bahaya.
Lima bulan bersama Brisia dulu telah lebih dari cukup bagi Liam untuk memahami satu hal:
Beberapa orang tidak mencintai dirimu. Mereka mencintai apa yang bisa mereka ambil darimu.
“Aku ke toilet sebentar,” ujar Peter sambil bangkit.
“Oke, Sayang,” sahut Brisia, terlalu manis, terlalu dibuat-buat. Tangannya mengusap lengan pria itu seolah sedang memperagakan loyalitas.
Begitu Peter menghilang, Luke mencondongkan tubuh.
“Mau ikut menari?” tawarnya.
Liam menggeleng. Ia merogoh ponselnya dari saku, menunduk. Layar ponsel menyala—ada pesan dari Bill.
Di kursi berkaki tiga, Vidia memutuskan menggeser tempat duduknya dan duduk di samping Brisia. Tatapannya menyapu Liam tajam, seperti sensor yang menangkap perubahan kecil pada ekspresi wajahnya.
“Kuyakin kamu sebenarnya masih terpesona melihat dia, kan?” bisiknya.
Brisia langsung berkedip cepat, memutar tubuh menghadap Vidia.
“Sembarangan!” bisiknya ketus seraya mencubit paha Vidia.
“Jangan kira aku tidak tahu. Kamu curi-curi pandang sejak tadi,” balas Vidia dengan senyum nakal.
Liam tidak menyadari apapun. Fokusnya penuh pada pesan di layar.
Bill :
‘Tuan, pihak wanita sudah setuju. Tidak bisa mundur lagi’
Dua wanita itu menangkap ketegangan samar yang lewat di wajah Liam.
“Lihat itu!” bisik Vidia, matanya melirik ke arah kemeja Liam yang terbuka dua kancing, memperlihatkan sedikit kulit dadanya. “Kupikir itu sangat menggoda.”
“Sialan!” geram Brisia, buru-buru menangkup mulut Vidia dengan telapak tangan.
Liam masih tenggelam dalam pikirannya. Ponsel tetap menempel di tangannya. Beberapa detik kemudian, ia menghubungi Bill dan menaruh ponsel di telinganya.
“Sudah pesan kamar? Aku bermalam di sini,” katanya datar.
“Carikan saja di lantai lima.”
Vidia langsung menyeringai, alisnya turun naik memberi sinyal pada Brisia—sebuah sinyal yang artinya terlalu jelas. Tetapi Brisia menepis cepat, pipinya memanas.
Liam memasukkan kembali ponselnya ke saku dan berdiri.
“Mau ke mana?” tanya Vidia dengan pose genit dan nada menggoda. “Acara kita belum selesai, Liam.”
“Ke toilet,” jawabnya singkat.
Begitu punggung Liam menghilang melewati kerumunan, Vidia langsung mengguncang bahu Brisia dengan antusias yang tak sopan.
“Cari kamarnya, Brisia!”
“Gila!” sembur Brisia. “Aku datang bersama Peter. Kami sudah pesan kamar, Vidia. Dan lagi… aku tidak mau lagi menyentuh tubuhnya. Dia pria miskin.”
“Bodoh!” Vidia menoyor kepalanya. “Hanya tidur, Brisia. Bercinta. Rasakan tubuhnya tanpa status. Sayang kalau dilewatkan.”
Brisia terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada dentuman bass dari DJ. Ia menatap gelasnya, meraihnya dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu menenggak habis isinya.
