Bab 2
Taksi hitam berhenti perlahan di bawah bayang-bayang gedung hunian vertikal yang menjulang seperti tebing kaca. Sabrina membuka pintu dengan gerakan kaku; udara panas langsung menerpa wajahnya. Ia menaikkan kacamata hitam—menyapukan tatapannya ke arah bangunan yang terasa lebih menyesakkan dibanding terakhir kali ia datang.
Terakhir kali ia berada di sini, hatinya penuh jengkel.
Sekarang—amarahnya meluap jauh lebih liar.
“Amanda… awas kamu,” gumamnya seperti mantra kutukan. Rahangnya mengeras. Ia menutup pintu taksi dengan sedikit terlalu keras, membuat sang sopir menolehkan pandang sekilas sebelum pergi.
Sabrina menarik napas panjang, menaikkan selempang tas ke bahunya. Langkahnya cepat, tegas, seolah setiap hentakan heels-nya adalah letupan emosi yang tak tertahan.
Beberapa orang menoleh saat ia lewat—bukan karena penampilannya, tapi karena aura kesal yang nyaris terasa secara fisik.
Lift di lobi tampak penuh. Terlalu penuh. Sabrina memutar bola mata jengkel.
“Tentu saja,” dengusnya.
Tanpa pikir panjang, ia memilih tangga.
Derit langkahnya menggema, menyatu dengan napasnya yang naik turun—lebih karena emosi ketimbang lelah. Ia hanya ingin cepat sampai. Hanya ingin menyeret Amanda keluar dari persembunyiannya dan membuatnya bicara.
Di sisi lain gedung, dari arah atas tangga, muncul dua siluet pria berpakaian gelap. Yang satu—berjas hitam rapi—tubuhnya tegap, berkulit hitam, kepala plontos, gerakannya waspada. Sepetinya seorang asisten atau pengawal pribadi. Yang satunya lagi—pria di depan—berjas navy elegan, cutting tegas yang membentuk tubuhnya dengan sempurna. Terlihat seperti Tuan majikan yang berkuasa.
Wajah Tuan itu tampak dingin. Garis rahangnya tajam; bibirnya terkatup rapat seolah menahan segala bentuk keterlibatan emosional dari dunia.
Langkahnya panjang dan cepat.
“Kenapa harus lewat tangga, Tuan?” tanya si asisten, suaranya pelan namun cemas.
Tuannya tidak menoleh. “Kamu tahu aku tidak bisa bersentuhan dengan sembarangan orang.”
Asistennya mempercepat langkah. “Tapi saya bisa meminta orang-orang itu untuk menyingkir lebih dulu.”
“Aku tidak mau menarik perhatian.” Suaranya rendah namun tajam. “Dan kamu tahu itu.”
Asisten itu terdiam, namun masih terlihat gelisah.
“Tapi saya hanya tidak mau… Tuan kambuh.”
Rahang Tuannya mengeras sejenak—fleksi otot halus terlihat dari samping, seperti ada sesuatu yang berbahaya di balik kata kambuh.
Sabrina makin cepat naik. Napasnya tersengal, tapi pikirannya hanya dipenuhi satu nama: Amanda Taylor.
Saat melewati tangga pembatas lantai dua dan tiga, langkahnya melambat sedikit—lebih karena terkejut melihat dua pria asing turun dari atas.
Pria berjas navy itu—entah siapa—bergerak seperti bayangan gelap: elegan, cepat, namun memancarkan bahaya sunyi.
“Oh—maaf,” ujar Sabrina singkat sambil menyingkir sedikit, menoleh sambil sekilas menyibak rambut dari wajahnya sebelum melanjutkan langkah. Sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja bersinggungan dengan seseorang yang bisa meruntuhkan seluruh hidupnya.
Pria dengan tampang penuh kuasa itu berhenti satu detik.
Hanya satu.
Matanya mengikuti punggung Sabrina yang menjauh menaiki tangga.
Ada sesuatu pada gadis itu—bukan kecantikan, bukan penampilan—tapi ketegangan, kegelisahan, keberanian terpendam yang melekat pada tiap langkahnya.
Alisnya terangkat sedikit. Penasaran.
Si asisten mencibir kesal melihat cara Sabrina bergegas tanpa melihat keadaan. “Kurang ajar sekali dia. Biarkan saya—”
Lengan Tuannya terangkat, menghentikannya.
“Tidak perlu.”
“Tapi Tuan—”
“Kita buru-buru.” Suara itu datar, rendah, tapi ada sesuatu yang berubah di dalamnya. Sesuatu yang samar.
Minat?
Gangguan?
Atau… insting berburu?
Asisten menutup mulutnya, lalu mengangguk.
Bill Broklyn, namanya. Pria serba hitam itu menempelkan ponsel ke telinganya, langkahnya tetap mengikuti sang tuan.
“Tuan Ralph Dawson sudah kasih kabar,” ucapnya dengan suara terukur, seolah setiap kalimat harus melewati sensor disiplin.
Tuannya berhenti sekejap, menoleh dengan tatapan yang lebih dingin daripada marmer di dinding lobi gedung.
“Antar saja aku ke sana,” katanya akhirnya, bibirnya melengkung sinis. “Pria tua bangka itu selalu banyak menuntut.”
Bill mengangguk, lalu segera memutar badan. “Baik, Tuan.”
Ia membuka pintu belakang mobil hitam panjang yang lampunya redup, tampak mewah namun tanpa identitas—sebuah kendaraan yang jelas hanya digunakan orang-orang yang ingin tetap tak terlihat, tapi memiliki kekuasaan untuk membuat seluruh kota bertekuk lutut.
“Kita berangkat sekarang,” katanya sambil membungkuk sedikit.
Pria penuh kuasa itu masuk tanpa menatapnya lagi.
Perjalanan lima belas menit terasa seperti memasuki dunia lain. Kota perlahan hilang di balik kaca mobil, digantikan oleh hamparan hutan pinus yang seolah membungkam suara. Jalan beraspal privat itu begitu halus dan panjang, dikelilingi pepohonan menjulang yang menutup langit, membuat cahaya surya tampak seperti bayangan bergerigi yang bergerak mengikuti mobil.
Ketika mobil akhirnya berhenti, gerbang raksasa setinggi tiga meter berdiri angkuh di depan mereka. Besi-besi berlapis emas itu mulai bergerak—perlahan, seakan diawasi oleh mata tak terlihat yang menentukan siapa yang boleh masuk… dan siapa yang seharusnya terkubur di luar.
Roda mobil melewati pintu gerbang, dan tampaklah hunian mewah megah yang tersembunyi di balik hutan: bangunan batu putih dengan pilar-pilar tinggi, halaman luas, dan belasan pria berjas hitam yang berdiri berjajar seperti patung penjaga.
Semua membungkuk saat mobil itu melewati mereka.
Begitu mobil berhenti, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun mendekat. Wajahnya tampan—tampan dengan cara yang licin dan menghina. Senyum miringnya tampak seperti luka kecil yang disengaja untuk mengusik.
“Liam Clieff Dawson,” sapanya, suaranya seperti dagangan licik.
“Lama tak muncul.”
Liam turun dari mobil, merapikan jas navy-nya tanpa tergesa.
Tatapannya menusuk Samuel seperti angin dingin yang menyibak kabut.
Baginya, sambutan Samuel itu sama sekali tidak berarti.
“Aku pikir kamu tidak datang,” Samuel menambahkan sambil menyeringai.
“Minggir, Sam.” Liam tidak berhenti berjalan. “Aku sedang tidak mood.”
Samuel mendengus sambil menyusul dari belakang. “Kenapa, Liam? Tidak membawa siapa-siapa lagi? Di mana gandenganmu? Kakek pasti tidak suka kalau kamu datang sendirian.”
Nada mengejek itu menusuk, tapi Liam tetap melangkah lurus, tegap, seolah komentar itu hanya hembusan asap di telinganya.
Para penjaga yang berbaris di sepanjang lorong langsung membungkuk dalam-dalam begitu Liam lewat—respek yang tidak pernah diberikan pada Samuel.
Bill segera menghentikan langkah Samuel dengan tubuhnya yang besar.
“Tuan Samuel,” katanya datar, “sebaiknya Anda tidak mengganggu Tuan Liam.”
Samuel mengangkat kedua tangan seolah menyerah, tapi senyum merendahnya tak sepenuhnya hilang. Ia mundur beberapa langkah—bagaimanapun, meski ia punya kuasa, tak ada yang cukup bodoh memusuhi Bill Brocklyn seorang diri.
Begitu melewati pintu ganda berornamen emas, Liam memasuki ruang utama yang luas.
Meja makan sepanjang sepuluh meter mengisi ruangan seperti kapal perang, dikelilingi kursi-kursi kokoh berukiran nama-nama nenek moyang Dawson. Semua anggota keluarga besar itu sudah hampir memenuhi tempat duduk—pria-pria berjas mahal, wanita elegan dengan perhiasan yang terlalu besar untuk busana mereka.
Liam menghela napas panjang.
Ia membuang pandangan jengah ke arah kerumunan itu.
Terlalu banyak keturunan kakeknya.
Terlalu banyak wajah yang tidak diinginkannya untuk ditemui.
Dan silsilah keluarga Dawson… kadang terlalu rumit untuk dimengerti oleh manusia biasa.
“Selamat sore, Kakek,” ucap Liam ketika ia mendekat ke kursi utama.
Tuan Ralph Dawson—pria tua dengan rambut sepenuhnya putih, wajah keras, dan punggung yang masih tegak seperti tombak—hanya mengangguk.
Tak ada senyum, tak ada sapaan hangat.
Hanya tatapan menilai yang terasa lebih tajam daripada pisau.
Dari kursi urutan kelima, terdengar suara sinis yang memotong udara:
“Seperti biasa. Datang tanpa membawa gandengan.”
Liam menoleh sedikit.
Pria paruh baya itu adalah Federic Timberlake—ayah dari Samuel.
Mulut paling nyinyir dalam keluarga besar ini.
