Bab 1
Terik matahari siang memantul dari kaca jendela, menembus tirai tipis yang menggantung miring. Panas itu seolah merayap masuk hingga ke ruang tamu, membuat udara di dalam terasa lebih sesak, lebih menekan.
Namun, bukan cuaca yang membuat ruangan itu terasa seperti ruangan eksekusi—melainkan tiga pasang mata yang saling menghindar, seakan percaya bahwa dengan tidak saling menatap, masalah akan mengecil dengan sendirinya.
Sabrina Watson, perempuan cantik berkulit putih, memiliki wajah bulat, duduk di kursi kayu tua yang kaki-kakinya sedikit bergoyang. Jemarinya mengetuk meja ritmis—tak sabar, tertekan, marah—namun tak satu pun dari ketiga orang di ruangan itu berani menyahut duluan.
Ibunya—Taylor Rosi—sedang terbaring di rumah sakit. Napasnya lemah, tubuhnya dipenuhi selang-selang yang membuat Sabrina ingin memaki dunia.
Dan kini, perempuan itu sedang sendirian memperjuangkan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan seluruh keluarga.
“Kenapa kalian cuma diam saja?” suaranya pecah. Datar, tapi getir.
Tuan George Watson—ayahnya—menghela napas panjang dari sofa usang yang warnanya mulai pudar. Asap rokok terakhirnya masih menggantung di udara sebelum dia menekan puntung itu kuat-kuat di asbak, seolah kemarahan Sabrina menular pada jarinya.
“Bukan diam, tapi Kita tidak ada uang, Sabrina.” suaranya berat, pasrah. “Biaya operasinya… sangat besar.”
Sabrina mengangkat wajah, menatap ayahnya, lalu menggeser tatapannya pada dua sosok di dekat jendela.
Chloe Watson, kakak perempuannya, bersedekap dengan wajah kesal yang berusaha menutupi rasa bersalah.
Henry Watson, si sulung, berdiri memunggungi ruangan sambil pura-pura sibuk menatap halaman.
Sabrina tersenyum miring—senyum yang lebih mirip luka.
Tentu saja mereka tidak menatap balik.
Tentu saja mereka menghindar.
“Kalau saja sisa harta keluarga kita tidak dipakai untuk investasi bodong,” katanya pelan namun tajam, “kita bisa pakai uang itu buat biaya operasi Mama.”
Chloe langsung menoleh, matanya menyala seperti api kecil yang tersulut ego.
“Kamu menyalahkan kita berdua?” tanya Chloe, nadanya meninggi.
“Kuanggap iya, kalau kalian merasa,” sahut Sabrina tanpa berkedip.
Henry mendengus tajam. “Kita cuma bermaksud membantu. Beberapa kali juga investasi itu menguntungkan.”
Sabrina tertawa pelan—dan tawa itu jelas menyakitkan. “Oh, begitu? Dan sekarang ratusan juta hilang. Menurut kalian… kita harus apa?”
Diam.
Chloe membuang muka.
Henry menggeleng kecil, seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan tapi masih mencoba membela diri dalam hati.
Sabrina mengepalkan jemarinya di atas paha.
Tak ada waktu untuk menyalahkan siapa pun.
Yang dia butuhkan sekarang adalah solusi.
“Nggak ada waktu, Pa.” Sabrina menatap ayahnya lurus-lurus. “Operasi harus dilakukan paling lambat besok.”
Keheningan lain jatuh.
Bukan hening yang penuh harapan—tapi hening orang-orang yang sedang diam karena tak punya pilihan.
Lalu…
Dering ponsel memecah udara.
Sabrina terlonjak kecil. Ia melihat layar ponsel, dan alisnya langsung berkerut.
Sebuah notif muncul.
Pengirimnya tidak memakai nomor.
Hanya satu nama.
Pasangan Hati
Sabrina meringis kecil. Biro jodoh itu—yang seminggu lalu didaftarkan oleh Amanda tanpa sepengetahuan Sabrina—kini menampakkan diri tepat di tengah kekacauan hidupnya.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka pesan itu.
Sabrina beranjak. Ia berlari cepat menaiki tangga kayu rumahnya menuju kamar. Tiga orang di ruang tamu saling pandang tanpa suara—entah merasa bersalah, atau pura-pura tidak peduli.
Setibanya di kamar, Sabrina menutup pintu dengan telapak tangan gemetar. Ponsel itu masih bergetar pelan, seolah memanggil-manggilnya untuk kembali melihat pesan yang ia buka tadi.
Kening Sabrina berkerut, alisnya saling bertautan. Perlahan ia mundur, pantatnya mendarat di tepi ranjang. Ia membuka ulang pesan itu, memastikan ia tidak salah membaca.
PASANGAN HATI – PEMBERITAHUAN RESMI
Dengan ini kami memberitahukan bahwa peserta atas nama: SABRINA WATSON telah memasuki tahap kecocokan virtual dan dijadwalkan untuk pertemuan perdana.
Waktu pertemuan: Minggu 24 Agustus 2025, pukul 21:00
Lokasi: Suite 1903, Hotel Margrain
Di bawahnya, paragraf lain tampil seperti ancaman halus:
Perlu diingat bahwa seluruh peserta wajib mengikuti seluruh rangkaian pertemuan setelah menerima biaya awal fasilitas pencocokan. Pembatalan sepihak akan dikenakan konsekuensi berupa:
1. Pengembalian penuh biaya fasilitas senilai 45.000 USD, dibayarkan dalam 48 jam.
2. Sanksi administratif dan tuntutan pidana berdasarkan perjanjian privasi dan kontrak layanan bab 4, pasal 17.
3. Pembekuan akses layanan kesehatan premium yang telah diberikan selama masa keanggotaan awal.”
Sabrina membaca kalimat itu tiga kali. Dan tetap saja, jantungnya serasa berhenti.
45.000 USD?
Dia bahkan tidak pernah memegang uang sebanyak itu dalam hidupnya.
Dan ini semua ulah Amanda.
"Astaga! Aturan gila dari mana ini!" decaknya frustrasi, suara pecah oleh kemarahan yang menumpuk sejak pagi.
Dia menggigit bibir, lalu merengek sambil menjatuhkan diri di ranjang. Kedua kakinya menendang-nendang tak karuan seperti balita minta gendong, rambutnya berantakan di atas bantal.
"Amanda… apa yang sudah kamu lakukan padaku?" geramnya lirih, giginya mengerat kuat sampai rahangnya sakit.
