Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Prolog

Mohon dibaca!

Cerita ini merupakan karya fiksi semata. Segala nama, tokoh, tempat, maupun peristiwa yang muncul dalam cerita ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak mana pun. Jika terdapat kesamaan nama atau karakter, hal tersebut murni merupakan kebetulan.

Pembaca diharapkan bersikap bijak dan dewasa dalam menyikapi isi cerita. Di dalamnya terdapat adegan kekerasan, konflik emosional, serta konten dewasa yang mungkin tidak sesuai untuk semua kalangan.

Apabila terdapat adegan atau perilaku yang dianggap tidak pantas atau bertentangan dengan norma, mohon untuk tidak menirunya. Segala risiko yang timbul dari penafsiran isi cerita sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.

####

Pintu itu digedor cukup keras, sampai engselnya bergetar dan gagangnya menjerit pelan. Dua tubuh di dalam kamar sontak terhenti. Nafas mereka masih tersengal, keringat masih mengilap di kulit.

“Amanda! Buka!”

Suara Sabrina terdengar panik bercampur marah, menusuk ke dalam kamar.

Amanda memicingkan mata, lalu menepuk lengan kekar Jonas yang sedang berada di atasnya. “Lepas dulu!”

“Tanggung, sayang,” desah Jonas rendah, suaranya menggema di ruang sempit itu. Ia malah menahan pinggul Amanda dengan kedua tangannya, tubuhnya kembali bergerak pelan seolah menolak kenyataan. Gerakannya membuat desahan halus lolos dari bibir Amanda.

“Amanda! Buruan! Jelasin apa maksudnya ini!”

Pintu kembali digedor, kali ini lebih keras, membuat bingkai pintu ikut bergetar.

“Itu Sabrina, Jonas!” Amanda mendesis kesal. “Aku temui dia dulu, ini penting.”

“Tck, sialan!” umpat Jonas. Dengan enggan ia mengangkat tubuhnya, menyingkir ke sisi ranjang sambil meraih selimut dan menariknya ke pinggang untuk menutupi setengah badannya yang telanjang.

Amanda turun dari ranjang dengan gerakan cepat, rambut panjangnya jatuh acak menutupi bahu. Ia meraih jubah tipis satin di kursi dan mengenakannya tergesa, lalu menata rambutnya sekadarnya dengan jari. Meski tampak berantakan, wajahnya tetap memancarkan keangkuhan.

Ketika pintu dibuka, Sabrina langsung maju selangkah. Napasnya memburu, wajahnya tegang. Ia mondar-mandir dari tadi di depan pintu, terlihat dari cara jarinya berulang kali menggigiti kuku yang kini memerah.

“Apa maksudmu ini, Amanda?”

Sabrina mengangkat ponselnya tepat di wajah Amanda, suara bergetar penuh kemarahan.

Amanda meringis kecil. Matanya melirik sekilas ke belakang, pada Jonas yang masih duduk santai di ranjang sambil bersandar pada bantal. Ia terlihat sama sekali tidak merasa bersalah.

Sabrina sempat mendongak dan melihatnya—selimut kusut yang jelas-jelas baru menutupi tubuh pria itu, rambut Amanda yang berantakan, jubah tipis yang tembus pandang diterangi lampu kamar.

Mata Sabrina menyipit, wajahnya memerah menahan marah.

“Kalian asik bercinta di sini, sementara aku kalian jual? Gila!” semburnya, suaranya pecah.

Amanda mendesis, lalu cepat-cepat mendorong tubuh Sabrina ke luar agar pintu bisa ditutup. “Tenang Sabrina, sayang. Nggak perlu ngamuk begini. Aku bisa jelasin.”

Sabrina mengibas lengan Amanda dari pegangan, membuat jubah tipis Amanda bergoyang terbuka sedikit di bagian dada. Mata Sabrina tak menyimpang, tapi rahangnya mengeras.

Biro jodoh virtual itu… semesta apa yang sedang ia masuki? Sabrina bukan sekadar terkejut—ia ngeri. Pagi tadi ia menerima panggilan dari nomor asing, suara berat seorang pria yang meminta bertemu dengannya. Namanya sudah terdaftar dalam sistem. Tidak boleh mengundurkan diri. Tidak ada opsi batal.

Semua itu gila.

“Mau jelasin apa kamu, Amanda?!” Sabrina menyalak lagi, suara bergetar. “Tidak waras!”

Amanda mengangkat kedua tangan, seolah mencoba menenangkan binatang liar. “Tck, tenang dulu,” ujarnya dengan nada memohon. “Ini juga karena aku mau bantu kamu.”

“Bantu gimana maksud kamu?” Sabrina maju selangkah, wajahnya mendekat. “Aku sudah punya tunangan, Amanda!”

Amanda memutar bola mata, senyum sinis mengembang. “Tunanganmu yang miskin itu ya? Dapat apa kamu dari dia, Sabrina?”

“Apa maksud kamu?” Sabrina menyalak, matanya melotot marah.

Amanda menarik napas panjang, menahan diri agar tidak kehilangan kesabaran. “Aku nggak bisa bantu banyak, kamu tahu. Tapi… ibumu butuh pertolongan, kan? Kalau nggak modal nekat, mau gimana?”

Sabrina terdiam—tubuhnya yang tadi tegang seperti kehilangan tenaga. Ia menggenggam ponselnya lebih erat, jemarinya memutih. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tak ada suara yang keluar.

“Ibu anda harus segera dioperasi. Jika tidak, kami tidak tahu seberapa singkat lagi umurnya.”

Suara dokter dua bulan lalu berdentum di kepalanya, memukulnya lagi dan lagi, seperti gema yang tak pernah padam. Sabrina memejamkan mata sesaat, menahan air mata yang mengambang.

Ia sudah melamar kerja di puluhan perusahaan. Tak satu pun menerima.

Ia mencoba pinjaman, bahkan pada lembaga yang membuatnya takut—tetap nihil.

Dunia seperti menutup semua pintu.

“Pikirkan dulu, Sabrina,” bujuk Amanda, suaranya melunak, seakan ia malaikat penolong padahal dialah sumber masalah. “Aku cuma kasih pilihan.”

“Tapi ini gila, Amanda! Itu sama saja aku jual diri!” Sabrina menahan napas, suaranya pecah. “Bagaimana dengan Matthew? Dia akan memutuskanku kalau tahu.”

Amanda mendekat, meletakkan kedua tangannya di bahu Sabrina, suaranya lembut namun dingin—lembut yang bukan berasal dari kepedulian, melainkan manipulasi yang terlatih.

“Ibumu lebih penting, Sabrina. Pikirkan lagi.”

Sabrina menunduk. Dunia seakan meredup. Suasana terasa sepi, padahal jantungnya berdetak keras. Sabrina hanya mendengar dengungan hampa di telinga, seolah tubuhnya terlepas dari dirinya sendiri.

Dan dalam keheningan itu… keputusan yang mengubah hidupnya perlahan mulai terbentuk.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel