Bab 5
Setelah mengantarkan jiwa pemilik tubuh yang asli pergi, Fu Lu menyalakan televisi dan mulai mempelajari pengetahuan dunia modern melalui siaran-siarannya. Meskipun ia memiliki ingatan dari pemilik tubuh ini, sayangnya gadis itu adalah seorang tunanetra yang selama ini secara halus telah "dikurung" di rumah, benar-benar tidak tahu apa pun tentang dunia luar—jadi ia harus mencari tahu semuanya sendiri.
Sekali menonton, ia langsung menghabiskan semalaman. Keesokan paginya tepat pukul delapan, Bibi Zhu yang bertugas merawatnya masuk ke kamar. Melihat Fu Lu duduk di sofa menonton TV, ia mencibir dan berbisik meremehkan, “Sudah tahu tidak bisa melihat, masih juga nonton TV. Cuma buang-buang biaya listrik.”
“Aku memang tidak bisa melihat dengan mata, tapi jiwaku bisa melihat.” Fu Lu tiba-tiba berkata.
Dan itu memang benar. Mata asli pemilik tubuh ini rusak karena terluka oleh energi jahat, dan dalam waktu dekat tak mungkin sembuh. Karena itulah Fu Lu menggunakan mata jiwa untuk melihat dunia.
Bibi Zhu terkejut karena gumamannya yang pelan ternyata terdengar oleh gadis itu. Ia tersenyum kaku dan buru-buru mengalihkan topik, “Nona, aku sudah menyiapkan semangkuk bubur sarang burung untuk memulihkan kesehatanmu. Ayo segera diminum selagi hangat.”
“Bubur sarang burung?” Fu Lu mencibir, “Yang kau maksud itu bubur sarang burung yang menggunakan jamur putih (tremella) sebagai pengganti sarang burung asli?”
Gadis ini benar-benar menyedihkan—karena buta, semua orang bisa bersatu menipunya tanpa ampun. Untung saja para pelayan di rumah ini masih belum sebegitu kejamnya—setidaknya belum sampai memberi makanan basi.
Bibi Zhu hampir saja menjatuhkan bubur dari tangannya ketika mendengarnya: Anak buta ini, yang kemarin malam sempat menghilang semalaman, sekarang tiba-tiba jadi “tercerahkan”—dan dia bisa tahu kalau bubur yang aku bikin ini hanyalah jamur putih, bukan sarang burung asli? Apa jangan-jangan dia sempat mencicipi sarang burung asli saat menghilang?
“Nona, mana mungkin aku tega melakukan hal begitu? Coba kamu cicipi, lihat apakah ini bubur sarang burung kesukaan nona.” katanya sambil meletakkan mangkuk itu di tangan Fu Lu.
Kebetulan Fu Lu memang sedang lapar, jadi ia tidak melanjutkan membongkar kebohongan itu.
Bibi Zhu melihat Fu Lu meminum bubur itu, lalu tertawa kecil, “Benar kan, aku tidak membohongi Nona, ini memanglah bubur sarang burung kesukaan nona.”
Fu Lu menyeringai sinis, “Ambilkan beberapa lembar kertas putih, gunting, dan pena.”
“Nona mau kertas, gunting, dan pena buat apa?”
Fu Lu menjawab datar, “Tidak perlu kau tahu.”
Bibi Zhu: “…”
Entah kenapa, Fu Lu yang baru hilang satu malam ini terasa berubah total. Gadis ini tidak lagi penurut, tidak lagi selalu menjawab apa pun yang ditanyakan.
Fu Lu melihat Bibi Zhu masih berdiri diam, lalu berkata denga nada suara dingin, “Masih belum pergi juga?”
Tatapan kosong Fu Lu yang seharusnya tak bernyawa entah kenapa membuat Bibi Zhu merasa ngeri, seperti sedang ditatap oleh arwah jahat. Tubuhnya seakan ingin segera lari dari sana. Dengan gugup, ia cepat-cepat menjawab, “Ba-Baik, aku pergi ambil sekarang.”
Fu Lu melanjutkan meminum buburnya. Tak lama setelah ia selesai, Bibi Zhu kembali membawa apa yang diminta.
Tak berani berlama-lama, Bibi Zhu segera meninggalkan ruangan sambil membawa mangkuk kosong, meninggalkan kertas, gunting, dan pena di atas meja.
Fu Lu dengan terampil mengambil gunting dan mulai memotong lima orang-orangan kecil dari kertas putih. Setelah itu, ia menuliskan serangkaian simbol mantra di tubuh kertas kecil itu, lalu sambil membentuk segel dengan tangannya, ia mulai melafalkan mantra.
Sesaat kemudian, kelima orang-orangan kertas yang tadinya tergeletak diam di atas meja tiba-tiba berdiri dan berjalan mondar-mandir di atas meja. Ada yang terbang ke depan wajahnya sambil bergaya aneh-aneh.
“Jangan main-main.”
Fu Lu mengangkat jarinya dan mendorong menjauh salah satu orang-orangan kertas di depannya, “Aku ada tugas untuk kalian.”
Kelima orang-orangan kertas itu memiringkan kepala, memberi isyarat agar ia menjelaskan perintahnya.
“Kalian pergi dan curi kartu identitas (KTP) milik Fu Lu untukku.” Setelah menonton televisi semalaman, ia sadar bahwa di dunia ini, tanpa kartu identitas, sangat banyak hal yang tidak bisa dilakukan. Sayangnya, kartu identitas itu tidak ada di tubuh pemilik asli, jadi ia harus mencarinya sendiri.
Kelima orang-orangan kertas itu menepuk dada secara bersamaan, seolah berkata: "Tenang saja, kami bisa menyelesaikannya."
“Cepat pergi dan cepat kembali. Setelah ini aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan.”
Kelima orang-orangan kertas itu langsung melesat ke arah pintu dan menyelinap keluar melalui celah di bawah pintu.
Para pelayan keluarga Fu sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa lima orang-orangan kertas kecil telah diam-diam menyelinap ke dalam vila besar itu dan terbang menuju lantai dua. Tepat saat itu, suara perempuan yang penuh amarah terdengar dari tangga lantai tiga:
“Apa?! Anak jalang itu belum mati?!”
“Dalam video yang direkam si Zheng Tua jelas-jelas terdengar suara si jalang itu menangis dari dalam peti mati, dan Zheng Tua itu juga sudah berulang kali menjamin bahwa gadis sialan itu sudah mati! Tapi sekarang malah bilang dia masih hidup? Kenapa keberuntungannya masih sebesar itu?!”
Fu Xing marah besar sambil mengeluarkan ponsel dan menelepon si Zheng Tua, tapi ponsel orang itu sudah tidak aktif. Ia pun melempar ponsel ke lantai dengan geram.
Han Shujun memungut ponsel itu dan bertanya, “Tadi malam aku meneleponmu ingin memberitahumu soal masalah ini, kenapa tidak kamu angkat?”
“Kemarin sore aku menemani A Jie bertemu temannya, lalu kebanyakan minum. Begitu pulang ke rumah A Jie, aku langsung tertidur.” Saat menyebut nama Yang Yujie, mata Fu Xing terlihat penuh kelembutan, tetapi nama itu juga membuatnya langsung teringat pada Fu Lu.
Ia pun menggenggam tangan Han Shujun dengan cemas dan berkata, “Ibu, anak sialan itu tidak boleh dibiarkan hidup. Selama dia masih ada, hati A Jie tidak akan pernah bisa sepenuhnya untukku. Dengan begitu, mana mungkin aku bisa punya posisi di keluarga Yang setelah menikah ke sana nanti?”
Keluarga Yang adalah keluarga terpandang yang terkenal di ibu kota. Baik dari segi kekuasaan maupun bisnis keluarga, tidak ada yang bisa dibandingkan dengan mereka. Jika keluarga Yang itu diibaratkan adalah seorang raksasa, maka keluarga Fu tak lebih dari satu kakinya. Ingin menjalin hubungan dengan keluarga Yang bukanlah hal mudah bagi keluarga Fu.
Namun, sekitar setengah tahun lalu, putra kedua keluarga Yang, Yang Yujie, datang ke Kota Tang membawa proyek kerja sama dengan keluarga Fu. Demi bisa merangkul keluarga Yang, keluarga Fu menyambutnya dengan antusias dan mengundangnya berkunjung ke rumah. Saat itu, secara kebetulan Yang Yujie bertemu dengan Fu Lu yang sedang berjalan di halaman, dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak itu, dia mulai mengejar Fu Lu dengan penuh semangat.
Hal ini membuat Fu Xing dan para sepupu perempuan lainnya yang juga berniat menikah ke keluarga Yang dipenuhi rasa iri dan benci. Untungnya, orang tua Yang Yujie sangat menentang ide anaknya untuk menikahi seorang gadis buta, sehingga Fu Xing melihat ada peluang untuk masuk. Ia pun mengusulkan untuk berbagi suami dengan Fu Lu.
Awalnya, Yang Yujie menolak, tapi akhirnya setuju setelah kedua orang tuanya mengancam akan mencabut hak warisnya jika tetap ingin menikahi wanita buta. Meski begitu, dia mengajukan satu syarat: anak pertama yang ia miliki haruslah dari hasil hubungan dengan Fu Lu.
Fu Xing yang akhirnya berhasil membujuk Yang Yujie, hanya bisa menahan amarah dan perasaan terhina sambil menerima syarat tersebut.
Han Shujun menatap perut putrinya dan bertanya, “Kamu masih belum hamil anak A Jie?”
Fu Xing tambah marah saat membahas ini, “A Jie setiap kali selalu berhenti di saat terakhir. Aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk hamil.”
“Kamu tidak coba membuat dia mabuk dan lanjutkan saja?”
“Kamu kira aku belum pernah coba? Tapi begitu mabuk, dia langsung tidur pulas.”
Han Shujun mengerutkan alis, “Kalau begitu… bagaimana kalau kamu kasih obat saja?”
“A Jie baru mulai punya sedikit perasaan padaku. Kalau aku sampai kasih obat padanya, dia pasti akan marah besar dan langsung putus hubungan denganku.” Wajah Fu Xing menjadi dingin, “Satu-satunya cara… adalah menyelesaikan masalah dari Fu Lu.”
Han Shujun juga tidak ingin Fu Lu menghalangi jalan Fu Xing, ia menyipitkan mata dan berkata, “Serahkan urusan ini padaku, aku pasti akan membuatnya hancur reputasinya.”
Fu Xing ragu-ragu, “Tapi sekarang dia masih dilindungi oleh keberuntungannya, apa rencana ini bisa berhasil?”
“Aku tidak percaya keberuntungannya akan terus-menerus sebaik ini.” Han Shujun mengembalikan ponsel pada putrinya, “Ayo kita turun sarapan dulu.”
“Baik.” Kedua ibu dan anak itu membereskan emosi mereka dan berbalik hendak turun tangga, namun tiba-tiba, sosok putih melintas di kaki mereka, seperti tali yang mengait pergelangan kaki mereka dan menarik mereka jatuh ke bawah tangga.
“Ahhh—!” Jeritan nyaring menggema saat keduanya terguling dari tangga seperti bola, jatuh dengan keras ke bawah.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” Kepala pelayan dan dua orang pembantu buru-buru naik ke lantai tiga, dan mereka mendapati Han Shujun dan Fu Xing dalam kondisi babak belur, wajah memar, tubuh berantakan, tak ada lagi bayangan anggun seorang Nyonya kaya dan Nona bangsawan.
“Nyonya besar, Nona besar, kalian tidak apa-apa?”
Han Shujun menahan rasa sakit dan berkata, “Sepertinya tanganku patah.”
Fu Xing menangis kesakitan, “Kakiku juga sepertinya patah.”
Kepala pelayan langsung panik dan memerintahkan orang-orang untuk segera membawa mereka ke rumah sakit, tanpa menyadari bahwa di sudut ruangan, sekelompok kecil orang-orangan kertas sedang menutup mulut mereka, menahan tawa diam-diam.
Begitu semua orang pergi, para orang-orangan kertas itu kembali ke lantai dua dan menuju ruang kerja, mencari kartu identitas Fu Lu.
Dokumen penting seperti itu biasanya disimpan di lemari buku atau di brankas. Tanpa kunci, lemari tersebut tak bisa dibuka, namun bagi para orang-orangan kertas yang tubuhnya hanya setebal 0,01 milimeter, hal itu bukan masalah. Mereka dengan mudah menyelinap masuk melalui celah, dan tak lama kemudian berhasil menemukan kartus identitas Fu Lu di dalam laci meja.
Kartu identitas itu tidak terlalu tebal, cukup untuk diselipkan keluar dari celah lemari, lalu dengan lincah menghindari perhatian siapa pun dan membawanya ke hadapan Fu Lu.
Fu Lu menerima KTP tersebut dan memuji mereka, “Kerja bagus. Sebagai hadiah, kalian bebas bermain selama satu hari.”
Para orang-orangan kertas bersorak gembira dan pergi dengan penuh semangat.
Fu Lu pun keluar dari kamarnya, lalu memanjat tembok belakang kediaman keluarga Fu dan keluar dari sana.
