Pustaka
Bahasa Indonesia

Gadis Terbuang yang Tidak Bisa Diremehkan Lagi

71.0K · Baru update
althea
57
Bab
603
View
9.0
Rating

Ringkasan

Sejak kecil, Fu Lu — Nona ketiga dari keluarga Fu — terlahir buta dan lemah secara fisik. Ia tidak dipandang sebagai anggota keluarga yang setara, melainkan hanya dianggap sebagai alat demi kepentingan keluarga. Namun, setelah ia kehilangan nilai guna dan dijual ke tangan orang lain, kepribadiannya mengalami perubahan drastis. Ia tidak lagi patuh, tidak lagi sakit-sakitan, bahkan penglihatannya pun pulih. Kemampuan bela dirinya meningkat pesat, hingga seolah-olah mampu menaklukkan apa pun yang ada di hadapannya. Yang lebih mengejutkan, ia berani menaruh hati pada pria paling terpandang di kalangan keluarga terpandang. Lian Zheng adalah pemegang kekuasaan keluarga besar Lian. Sosoknya agung, penuh wibawa, dan dipandang tinggi oleh masyarakat. Karena ketekunannya dalam spiritualitas dan sifatnya yang menjauh dari wanita, ia dijuluki Tuan Buddha. Di balik citra yang penuh kasih, ia sebenarnya berhati dingin dan tidak tertarik pada hubungan asmara. Keberanian Fu Lu untuk menyukainya dianggap sebagai tindakan nekat dan tidak tahu diri. Banyak yang menantikan kehancurannya. Namun di luar dugaan, Tuan Buddha justru mendekatinya dengan penuh kelembutan, bahkan menggoda sambil berkata: “Lu Lu, sayang... tidakkah sudah saatnya kita mendaftarkan pernikahan kita?” Fu Lu menjawab dengan tenang namun tegas, menepis tangannya dan berkata: “Kita belum sedekat itu.” Kejadian ini membuat semua orang terkejut. "Siapakah sebenarnya yang mengatakan gadis ini menaruh hati padaku? Muncullah, Tuan Buddha bersumpah tidak akan menghukum... terlalu keras."

FantasiTuan MudapetarungPengembara WaktuSupernaturalWanita CantikCinta PertamaMengungkap MisteriKekuatan SuperDewa

Bab 1

Pada pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit, di sebidang tanah kosong di dalam hutan lebat di belakang Desa Yinlu, cahaya api menyala terang, menerangi sebuah lubang makam yang baru digali.

Di dalam lubang itu diletakkan sebuah peti mati besar yang bisa memuat dua orang. Di sisi kiri peti mati terbaring mayat seorang pria yang mengenakan jubah pernikahan bordir yang mewah. Karena cahaya dari api tidak mencapai bagian kepala peti dengan cukup terang, wajah mayat pria itu terbungkus dalam kegelapan. Sementara sisi kanan peti mati masih kosong.

Beberapa saat kemudian, seorang gadis muda yang mengenakan gaun pernikahan merah namun tangan dan kakinya terikat dibopong oleh dua orang pria dan diletakkan di sisi kanan peti. Setelah itu, mereka mencabut kain putih yang menyumbat mulut si gadis.

Yang mengejutkan, gadis itu ternyata masih hidup. Takut mereka akan menyakitinya, ia buru-buru berkata, “Aku adalah Nona ketiga dari Grup Fu, Fu Lu. Kalau kalian menginginkan uang, aku bisa menelepon ayahku agar dia memberikannya pada kalian. Tapi kalau kalian berniat menyakitiku, ayahku tidak akan membiarkan kalian begitu saja.”

Ucapan itu terdengar seperti lelucon. Kedua pria itu tidak hanya tidak takut, malah tertawa terbahak-bahak. Salah satunya, pria kurus berwajah licik, berjongkok sambil menepuk pelan pipi kiri si gadis dan berkata, “Kau tahu tidak, justru keluargamulah yang membayar kami untuk menculikmu dan membawamu ke sini. Kau pikir mereka akan datang menyelamatkanmu?”

Fu Lu tidak percaya, “Tidak mungkin. Keluargaku tidak mungkin melakukan ini padaku, mereka juga tak punya alasan.”

Pria satunya lagi menyalakan rokok di mulutnya, mengisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap putih sambil tertawa, “Huang Quan, mumpung masih ada waktu, ceritakan semuanya padanya. Biar dia mati dengan tenang. Kalau nanti dia jadi hantu penasaran, juga tahu harus cari siapa.”

Pekerjaan mereka memang berhubungan dengan kematian, jadi sedikit banyak mereka percaya takhayul. Kalau bukan karena penghasilannya yang tinggi, mereka juga tidak akan terus-menerus berurusan dengan mayat.

“Baiklah, aku paling suka bercerita,” kata Huang Quan sambil mencengkeram dagu Fu Lu. “Kisah ini dimulai delapan belas tahun lalu. Saat itu keluarga Fu sedang sial luar biasa. Apa pun yang mereka lakukan selalu gagal, bahkan minum air pun bisa tersedak. Lalu suatu hari, seorang peramal datang memberi saran agar keluarga Fu melahirkan seorang anak dengan delapan karakter kelahiran yang bagus untuk mengusir bala dan membawa keberuntungan. *delapan karakter kelahiran/ Ba Zi八字 yaitu tahun, bulan, tanggal, dan jam lahir; yang masing-masing terdiri dari dua karakter.

Ajaibnya, setelah anak itu lahir, keluarga Fu memang berubah nasib. Dalam waktu delapan belas tahun, mereka berubah dari keluarga kecil biasa menjadi keluarga terkaya di Kota Tang. Mereka mendirikan grup perusahaan terbesar di kota itu, semua berjalan lancar tanpa satu pun kegagalan. Tapi anak yang dipakai untuk membuang bala itu malah bernasib tragis. Sejak lahir, demi menyerap kesialan keluarga, dia menjadi buta. Setelah itu, tubuhnya terus sakit-sakitan, sering muntah darah, masuk rumah sakit dua minggu sekali. Aura sial di tubuhnya makin berat, keberuntungannya makin tipis.

Dia sudah tidak berguna lagi bagi keluarga Fu, malah dianggap bisa membawa malapetaka. Keluarga pun mulai ketakutan, takut aura buruknya itu berbalik mengenai mereka sendiri. Lalu mereka mulai memikirkan cara untuk menyingkirkannya.

Kebetulan, saat itu sebuah keluarga besar membutuhkan seorang gadis dengan delapan karakter kelahiran yang bagus untuk dinikahkan secara arwah dengan anak lelaki mereka yang sudah meninggal. Keluarga itu kemudian mendekati keluarga Fu. Tanpa pikir panjang, keluarga Fu langsung menjual anak itu seharga sepuluh juta.”

Melihat wajah Fu Lu yang semakin pucat, Huang Quan menyeringai licik dan berkata, “Setelah mendengar semua itu, Nona Ketiga Fu seharusnya sudah tahu siapa anak yang dimaksud tadi, bukan?”

Secara rasional, Fu Lu merasa tidak seharusnya mempercayai perkataan orang asing. Namun, saat mengingat sikap dingin keluarga terhadapnya selama ini, dan kenyataan bahwa mereka tak pernah serius mencari dokter untuk mengobati matanya, benaknya mulai digerogoti keraguan.

Ia buru-buru menggeleng keras, “Ti-tidak mungkin, keluargaku tidak akan berbuat seperti itu padaku. Kalian pasti hanya mengarang cerita untuk menakutiku, atau kalian sebenarnya bekerja sama dengan keluargaku untuk menakut-nakutiku.”

Huang Quan menoleh pada si Zheng tua, “Zheng tua, dia tidak percaya apa yang aku katakan, bagaimana?”

“Tak percaya ya sudah.” Lagipula, informasi yang Huang Quan sampaikan tadi juga hanya hasil penyelidikan mereka sendiri, belum tentu benar, tapi menurutnya kemungkinan besar memang begitu. Zheng tua menjatuhkan puntung rokok ke tanah dan menginjaknya hingga padam, “Nona Ketiga, anggap saja saudara-saudaramu di rumah takut kau akan merebut saham perusahaan, jadi mereka ingin menyingkirkanmu.”

“Ka-kalian mau membunuhku?” Fu Lu tak bisa menghentikan tubuhnya yang gemetar hebat, “Membunuh orang itu melanggar hukum, kalian bisa dipenjara!”

“Asalkan pihak keluarga Fu tidak melapor, tak akan ada yang tahu kau sudah mati.” Huang Quan menekannya kembali ke dalam peti mati, “Kecuali kalau mereka juga ingin ikut masuk penjara.”

“Tidak! Aku tidak mau mati! Tolong lepaskan aku, aku mohon!” Fu Lu sadar mereka benar-benar berniat mencelakainya, rasa takut memenuhi hatinya. Ia menangis keras sambil memohon-mohon, “Asal kalian mau melepaskanku, kalian suruh aku lakukan apa pun, aku akan lakukan!”

Asalkan bisa kembali dan bertemu dengan kekasihnya, Fu Lu rela melakukan apa saja, bahkan jika harus menjadi budak. Saat ia membayangkan kekasihnya yang selama ini begitu menyayanginya, keinginannya untuk bertahan hidup pun semakin kuat.

“Apa pun akan kau lakukan?” Huang Quan menatap tubuh Fu Lu dengan pandangan cabul, “Zheng tua, gadis kecil ini cantik sekali. Bagaimana kalau kita...”

Zheng tua berkata dingin, “Keluarga pihak pria menginginkan tubuh yang masih perawan. Kalau kau berani macam-macam, bukan cuma merusak urusan bisnis ini, tapi juga akan menyinggung orang yang tak seharusnya dimusuhi.”

Huang Quan tertawa canggung, “Aku cuma bercanda.”

Saat itu, ponsel si Zheng tua berbunyi. Ia melihat layar ponselnya dan berkata, “Panggilan dari Nona Kedua Fu.”

“Pas sekali.” Huang Quan kembali menyumpal mulut Fu Lu dengan kain putih, “Biar Nona Ketiga ini dengar sendiri, apa yang akan dikatakan kakak tersayangnya kepada kami.”

Zheng tua mengangguk, menekan tombol speaker sambil tersenyum dan bertanya, “Nona Kedua Fu, menelepon selarut ini, ada urusan penting apa?”

Suara tenang Fu Xing terdengar dari seberang, “Sudah hampir masuk waktu baik. Apa kalian sudah siap? Sudah mengantar si jalang itu ke tempat yang ditentukan?”

Itu memang suara kakak keduanya, Fu Xing.

Tangisan Fu Lu terhenti. Ia menatap ke arah Zheng tua dengan ekspresi tak percaya. Apa benar seperti yang dikatakan Huang Quan, bahwa keluarganya benar-benar ingin membunuhnya?

Zheng tua menjawab, “Aku sudah menaruh dia ke dalam peti. Begitu ritual pernikahan arwah selesai, langsung tutup peti dan kubur.”

“Aku tambah seratus ribu. Rekam semua proses pernikahan arwah itu dan kirimkan padaku.”

“Merekamnya? Maksud Anda ini... apa Anda tidak percaya pada kemampuan kerja kami?”

“Aku hanya ingin melihat sendiri saat si jalang itu mati.” Nada bicara Fu Xing dipenuhi jijik dan kebencian.

Zheng tua terkekeh ringan, pura-pura bertanya, “Bagaimanapun juga, Nona Ketiga itu adalah adik kandung Anda. Anda tega melihat dia mati dengan mata kepala sendiri?”

“Itu bukan urusanmu.”

Merekam video bukanlah perkara sulit, jadi Zheng tua langsung menyetujui, “Baiklah, nanti setelah selesai aku kirimkan videonya padamu.”

Tak lama, terdengar suara pria dari seberang telepon, lembut dan hangat, “Xingxing, sudah saatnya kita tidur.”

Ekspresi Fu Lu langsung membeku saat mendengar suara pria itu.

Itu adalah suara pacarnya, Yang Yujie. Tapi kenapa dia memanggil kakak keduanya dengan begitu mesra? Bahkan menyuruh kakak keduanya tidur?

Jangan-jangan… mereka menjalin hubungan di belakangku? Semakin Fu Lu memikirkannya, semakin terasa masuk akal. Sekujur tubuhnya langsung terasa dingin membeku.

Pacar yang selama ini paling ia percayai, yang ia anggap paling dekat dengannya, ternyata juga mengkhianatinya: Kenapa? Kenapa mereka semua tega berbuat seperti ini padaku? Kalau memang tidak menyukaiku, kenapa dulu masih pura-pura ingin menjalin hubungan denganku?

Benar juga, hari ini Fu Lu keluar rumah karena dia diajak oleh Yang Yujie. Begitu sampai di tempat tujuan, ia langsung dibius, dan saat sadar, dirinya sudah dibawa ke tempat ini oleh si Zheng tua dan Huang Quan.

Apakah semua ini juga ada hubungannya dengan Yang Yujie?

Dari seberang telepon, Fu Xing menjawab lembut, “Baiklah, aku akan segera ke sana.”

Setelah berkata singkat, ia segera menutup telepon.

Huang Quan mencibir, “Perempuan kalau sudah kejam, benar-benar lebih kejam dari laki-laki.”

Zheng tua memasukkan ponselnya ke dalam saku, “Sudah jam dua belas, saatnya bekerja.”

Fu Lu tak ingin mati. Ia pernah mendengar soal pernikahan arwah yang menggunakan orang hidup—dan itu berarti dikubur hidup-hidup. Ia pun segera memberontak sekuat tenaga, namun tali yang mengikatnya terlalu kuat hingga tak bisa lepas.

Huang Quan dan Zheng tua mengambil jaring merah khusus untuk pernikahan arwah dan menutupi peti mati dengannya, kemudian memakunya erat-erat. Setelah itu, mereka memasukkan tangan ke sela-sela jaring dan memotong tali yang mengikat tubuh Fu Lu.

Begitu bebas, Fu Lu langsung mencabut kain dari mulutnya dan buru-buru bangkit hendak lari. Namun baru saja berdiri, tubuhnya terpantul balik oleh jaring merah yang elastis, dan saat terjatuh, ia membentur sesuatu yang dingin.

Ia refleks meraba benda itu—ternyata itu adalah tangan manusia. Seketika ia sadar, itu adalah mayat calon suaminya dalam pernikahan arwah ini. Ia langsung menjerit dan menangis histeris, “Aaaah! M-Ma-Mayat! Itu mayat!”

Huang Quan mengejek, “Teriak apaan? Yang di sampingmu itu kan suamimu. Apa yang perlu kau takutkan.”

Sejak kecil dibesarkan di halaman belakang rumah, Fu Lu tak pernah mengalami hal mengerikan seperti ini. Begitu menyadari bahwa di sampingnya terbaring mayat, pikirannya langsung kosong karena ketakutan. Ia menjerit seperti orang gila sambil menarik-narik jaring merah di atas kepalanya. Tapi jaring itu sangat kuat, tak bisa disobek, dan ia pun tak bisa keluar dari sela-selanya.

“Aku tidak mau di sini! Aku mau keluar! Keluarkan aku! Kalau aku mati di sini, aku akan jadi hantu dan takkan biarkan kalian hidup tenang! Kalian semua akan kubawa mati bersamaku!”

Mata Fu Lu memerah, penuh dengan kebencian yang membara. Suaranya yang putus asa menggema di tengah hutan malam, terdengar begitu menyeramkan.

Namun Huang Quan dan Zheng tua sama sekali tak menggubrisnya. Mereka mundur ke samping dan berkata, “Zheng tua, selanjutnya kita harus ngapain?”

Zheng tua mengeluarkan ponsel untuk merekam, “Keluarga pihak pria minta kita menjaga dari samping setelah jaring merah dipasang. Nanti, saat jam satu pagi, baru boleh menutup peti.”

“Kalau begitu, kita tunggu saja.”

Namun, di tempat yang tidak mereka lihat, jaring merah itu tiba-tiba berkilat dengan cahaya merah samar.

Fu Lu, yang sedang menangis dan berteriak histeris, tiba-tiba mendengar seseorang melafalkan mantra di dekat telinganya. Ia terdiam, tak lagi berteriak. Meskipun tak paham apa isi mantra itu, suara itu justru memberinya rasa tenang. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya mengambang, hingga akhirnya ia tak sadar diri.

Saat Fu Lu sadar kembali, sudah satu jam berlalu.

Huang Quan berjalan mendekati peti dan bertanya, “Sudah satu jam tidak ada suara. Apa si gadis itu sudah mati?”

Jaring merah menghalangi pandangan mereka, jadi mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam.

Zheng tua menggeleng, “Tidak tau.”

“Kita tutup petinya sekarang?”

Zheng tua ragu sejenak, lalu mengangguk, “Waktu yang ditentukan pihak pria adalah jam satu pagi. Sekarang sudah boleh ditutup.”

Keduanya pun berbalik untuk mengangkat tutup peti.

Di dalam peti, Fu Lu perlahan sadar kembali. Saat ia merasa bahwa jaring di atasnya mengendur, ia segera menarik jaring itu dan merangkak keluar dari peti dengan panik, lalu lari terburu-buru ke dalam hutan yang lebih dalam.

Mendengar suara langkah kaki, Huang Quan langsung menoleh dan melihat Fu Lu kabur dari dalam peti. Ia mengumpat marah, “Sialan! Si gadis kecil kabur!”

“Cepat kejar!” Zheng tua segera melempar tutup peti dan berlari mengejarnya.

“Toloooong! Ada orang yang mau membunuhku—!” Fu Lu menangis sambil berteriak minta tolong, namun karena matanya buta, ia baru lari beberapa langkah sudah tersandung dan jatuh, lalu menabrak pohon. Dalam waktu kurang dari semenit, tubuhnya sudah penuh luka dan kotoran. Saat para pengejarnya semakin dekat, tiba-tiba kakinya terpeleset, dan tubuhnya terjun ke bawah.

“Ah—!”

Huang Quan dan Zheng tua mendengar teriakan nyaring itu dan langsung berhenti. Mereka menyalakan senter ponsel dan menyinari tempat Fu Lu terjatuh, tapi tidak bisa melihat dasar jurang. Namun, mereka bisa mendengar suara keras tubuh jatuh menghantam tanah.

Huang Quan berkata, “Sepertinya ini lubang yang dalam.”

Zheng tua memungut sebuah batu kecil dan melemparkannya ke bawah. Beberapa detik kemudian baru terdengar bunyinya. “Hm, dalam sekali.”

“Jadi, kita turun ke bawah untuk menangkap dia tidak?”

Zheng tua mengerutkan alis, “Sekarang gelap gulita, kita juga tidak membawa alat panjat. Bagaimana kita mau turun?”

“Lalu bagaimana? Tunggu sampai pagi baru turun menangkap orang?”

“Jatuh dari ketinggian seperti ini, kalau tidak mati, paling juga cacat. Kalaupun masih hidup, tanpa pertolongan siapa pun, dia juga tak akan bertahan lama. Tidak perlu urus dia lagi.”

Huang Quan tampak khawatir, “Tapi kalau tidak bawa dia naik, bagaimana kita akan menjelaskan ke keluarga pihak pria?”

“Di sini hanya ada kita berdua. Asal kita tutup petinya dan kubur seperti biasa, siapa yang akan tahu kalau pengantinnya tidak ada di dalam?”

Huang Quan tersenyum, “Masuk akal. Ayo, kita kembali ke sana.”

Mereka pun kembali ke lokasi pemakaman, dengan cepat menutup peti mati dan menimbunnya dengan tanah. Setelah itu mereka membakar dupa dan kertas persembahan di depan makam.

Tepat saat itu, beberapa kilatan petir melintas di langit. Disusul suara gemuruh yang menggelegar, membuat dua pria yang biasanya berani itu pun terkejut bukan main.

Huang Quan menengadah memandang langit malam yang dipenuhi bintang, “Sial, waktu berangkat tadi aku melihat ramalan cuaca katanya hari ini cerah, kenapa sekarang malah petir menggelegar?”

Begitu kata-kata itu terucap, angin kencang tiba-tiba bertiup dari segala arah. Pepohonan dan rerumputan bergesek mengeluarkan suara gemerisik, binatang buas dan serangga di hutan mulai gelisah, melolong dan berteriak—suasana menjadi sangat mencekam.

Dengan pengalaman bertahun-tahun, si Zheng tua segera menyadari tempat ini tidak aman untuk berlama-lama, “Aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kita harus cepat pergi.”

Huang Quan selalu mengikuti perintahnya. Tanpa banyak bicara, ia segera membereskan peralatan dan bergegas pergi.

Sementara itu, di dasar jurang yang tak terlihat oleh mereka, Fu Lu tergeletak diam di atas sebuah batu nisan tua. Darah segar mengalir dari tubuhnya, meresap masuk ke dalam batu nisan.

“Ayah… Ibu… Kakak laki-laki Besar… Kakak perempuan kedua… A-Jie… Kenapa… kenapa kalian lakukan ini padaku…”

Ia sangat ingin hidup dan kembali ke rumah untuk menuntut jawaban—apakah semuanya benar? Apakah mereka benar-benar ingin membunuhnya?

Namun kesadarannya semakin kabur. Ia tahu, jatuh dari ketinggian seperti itu, dirinya hampir tak mungkin bisa selamat. Tapi ia tidak rela mati begitu saja.

Tepat ketika Fu Lu menutup matanya, dari dalam batu nisan itu menyembur kabut merah yang perlahan menyelimuti tubuhnya.

Di luar, petir terus bergemuruh mengguncang langit. Penduduk Desa Yinlu pun terbangun karena suara petir yang menggelegar tanpa henti. Kegelisahan menyelimuti malam. Tak ada yang bisa tidur tenang hingga menjelang pagi, saat suara guntur akhirnya mereda.