Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Yang turun bersama dengan Tuan Tua Fu juga ada orang tuanya Fu Lu, kakak laki-lakinya, Paman Kedua dan Paman Ketiga, serta Paman Iparnya.

Ayahnya Fu Lu, Fu Li, ketika melihat putrinya duduk di kursi milik sang Tuan Tua, sorot matanya langsung menunjukkan rasa jijik. Namun, karena selama ini dia selalu mempertahankan citra sebagai ayah yang penuh kasih di depan Fu Lu, dia hanya bisa berkata dengan nada lembut,

"Lu Lu, kursi yang sekarang kau duduki itu milik Kakekmu. Cepat berdiri dan berikan kursi itu pada kakekmu."

Lalu, wajahnya berubah dingin dan menoleh ke arah kepala pelayan, menurunkan suaranya, berkata dengan tekanan, "Seret dia pergi dari situ."

"Baik." Kepala pelayan pun melangkah mendekati Fu Lu.

Namun, Fu Lu lebih dulu berdiri. Tiba-tiba, dengan suara puuh, darah segar muncrat keluar dari mulutnya, menyemprot ke seluruh hidangan di atas meja bagaikan semprotan air, merusak meja makan yang tadinya dipenuhi makanan lezat.

"ihh—" Semua orang langsung mundur beberapa langkah karena jijik.

Yang paling reaktif adalah ibunya Fu Lu, Han Shujun, yang buru-buru menutup hidung dengan sapu tangan seolah-olah takut tertular penyakit.

Wajah Tuan Tua Fu semakin gelap. Kalau saja sang leluhur tua tidak pernah mengatakan bahwa sebelum keberuntungan hidup Fu Lu benar-benar habis, gadis itu harus diperlakukan dengan baik dan tidak boleh merasa keluarganya memperlakukannya buruk, maka Tuan Tua pasti sudah lama tak bisa menahan diri dan meledak marah.

Kepala pelayan pun berhenti melangkah, lalu menoleh ke arah Fu Li dengan pandangan bertanya, apakah masih harus menyeret Fu Lu atau tidak.

Fu Li pura-pura menunjukkan perhatian, “Lu Lu, kamu tidak apa-apa? Mau pergi ke rumah sakit untuk periksa?” Lalu dia berkata pada kepala pelayan, “Xu tua, antar Lu Lu ke rumah sakit.”

“Tidak perlu, ini cuma penyakit lama.” Fu Lu menjawab, lalu membawa tongkatnya dan berjalan keluar, “Tubuhku tidak enak, jadi aku tidak bisa makan bersama kalian.”

Sebenarnya, semua orang memang berharap dia cepat pergi. Tapi sekarang, apakah hidangan di meja itu masih bisa dimakan?

Begitu mereka melihat makanan yang penuh bercak darah, mereka langsung merasa kenyang hanya dengan melihatnya saja.

Fu Li pun segera berkata, “Xu tua, antar Lu Lu kembali ke kamarnya.”

Fu Lu tidak menolak dan berjalan melewati sisi Tuan Tua bersama kepala pelayan.

Saat itulah, Tuan Tua Fu baru menyadari bahwa pakaian yang dikenakan Fu Lu adalah gaun pengantin merah. Dia segera bertanya, “Lu Lu, tadi malam para pelayan yang menjagamu mengatakan kau tiba-tiba menghilang. Kami langsung kirim orang untuk mencarimu semalaman tapi tidak berhasil. Kami sampai melapor ke polisi. Sebenarnya ke mana saja kamu semalam? Sudah membuat kami sibuk mencari.”

Fu Lu menjawab singkat, “Tadi malam A Jie mengajakku keluar, tapi sesampainya di tempat, aku langsung pingsan. Saat bangun, aku sudah ada di sebuah hutan. Lalu ada orang baik hati yang mengantarku pulang.”

Tuan Tua bertanya dengan nada menyelidik, “Kamu tidak mengalami kejadian yang aneh?”

Fu Lu menggeleng, “Tidak.”

“Lalu kenapa saat kamu pulang tadi tidak memberitahu kami bahwa kau telah mengalami sesuatu?”

“Tidak sempat.”

Tuan Tua memperhatikan wajahnya namun tidak menemukan apa-apa yang mencurigakan, dan diam-diam merasa lega, “Yang penting kamu kembali dengan selamat. Kamu pasti lelah setelah semalaman. Pergilah istirahat dengan baik. Tentang kamu yang tiba-tiba pingsan, nanti aku akan menyuruh orang untuk menyelidikinya dengan teliti.”

Fu Lu pun berbalik dan pergi.

Begitu dia pergi, bibi ipar kedua langsung bertanya pada Tuan Tua dengan penuh keheranan,

“Ayah, bukankah katanya si anak sialan itu sudah mati? Kenapa dia masih hidup? Tadi waktu melihat dia masuk rumah, aku sampai mengira sudah melihat hantu!”

Tuan Tua menatapnya dingin, “Dia mungkin masih punya keberuntungan yang melindunginya, jadi belum mati. Nanti saat leluhur tua datang berkunjung ke rumah kita, aku akan minta dia periksa lagi keberuntungan Fu Lu, baru kita buat rencana selanjutnya.”

Tak ada seorang pun berani membantah ucapan sang Tuan Tua, dan mereka pun tidak berkata apa-apa lagi.

Sementara itu, kepala pelayan telah mengantar Fu Lu kembali ke halaman tempat tinggalnya, kemudian pergi.

Fu Lu menatap punggung si kepala pelayan, lalu bergumam, “Aku sudah membantumu menguji keluargamu. Mereka jelas-jelas berharap kau mati. Bahkan karena kematianmu, mereka menyiapkan hidangan makan malam yang mewah. Kalau saja aku tidak sengaja menyemburkan darah ke makanan itu, mereka sekarang pasti sudah sedang bersantap ria di aula yang megah. Dan kau? Sampai sekarang kau masih berpikir bahwa keluargamu baik padamu? Kau masih mau berterima kasih pada adik sepupu kecilmu yang setiap kali menjebakmu jatuh ke tanah lalu pura-pura menolongmu bangun? Coba kau lihat lagi raut munafik orang tuamu, masihkah kau pikir mereka benar-benar peduli padamu?”

Ia lalu berbalik, masuk ke rumah tua berukuran tiga puluh meter persegi, menatap isi ruangan dengan nada mengejek, “Coba kau buka mata lebar-lebar dan lihat lagi ‘kamar mewah’ yang katanya disediakan keluargamu untukmu. Dindingnya berjamur, furniturnya semua barang bekas milik orang lain, bahkan baju-baju di lemari juga baju bekas yang sudah pernah dipakai orang lain. Kau tak ada bedanya seperti tong sampah—apa pun yang tak mereka inginkan, semuanya dilempar ke tempatmu.”

Saat itu, dari dalam lengan baju Fu Lu melayang keluar gumpalan kabut putih. Kabut itu berputar mengelilingi ruangan, lalu kembali ke hadapan Fu Lu. Ia tampak kecewa dan sedih, kabutnya hampir menguap sepenuhnya.

Fu Lu merasa iba, ia mengangkat tangan dan dengan lembut menyentuh kabut itu sambil berkata,

“Keluargamu tidak pantas membuatmu terus menetap di dunia ini. Satu-satunya jalan yang benar adalah segera menuju alam baka. Soal keluargamu… aku akan pastikan mereka menerima balasan yang setimpal.”

Meskipun ia sendiri tidak tahu mengapa bisa kebetulan masuk ke tubuh seseorang yang bernama, berulang tahun, dan meninggal di tanggal yang sama dengannya, tapi karena ia telah meminjam tubuh itu, ia pun harus menuntaskan urusan si pemilik tubuh asli.

Kabut putih itu tampak ragu-ragu.

Fu Lu tertawa kecil, seakan mengerti apa yang menjadi kegelisahannya.

“Kau takut begitu tiba di alam baka akan bertemu dengan pria yang dijodohkan padamu dalam pernikahan arwah, ya? Takut dia memaksa menjadikanmu istrinya?”

Kabut itu bergerak naik-turun, mengangguk.

“Tenang saja. Pria yang dinikahkan denganmu dalam upacara itu sebenarnya belum mati. Dia masih hidup dan sangat sehat. Dia adalah pria berambut panjang yang tadi duduk di dalam mobil. Kalau tidak, menurutmu kenapa mereka begitu mudah membiarkanku naik ke mobil mereka?” Fu Lu mengerutkan kening, “Mungkin itu satu-satunya keberuntungan yang tersisa dalam hidupmu—bisa bertemu pria yang bahkan sehelai rambutnya pun penuh berkah dan kemakmuran. Di masa depan, kau mungkin akan bereinkarnasi menjadi seseorang yang memiliki kehidupan yang baik berkat keberuntungannya. Tapi, bisa juga karena keberuntunganmu sudah habis, pernikahan arwah itu malah akan membawa semua kesialan pria itu padamu… eh, maksudku padaku.”

Jadi dia dan pria itu memiliki keterkaitan, dan kemungkinan besar akan bertemu lagi, itulah sebabnya dia tidak mengajaknya bicara saat di dalam mobil.

Kabut putih itu akhirnya tenang, dan tubuh kabutnya perlahan menjadi semakin transparan.

“Kau harus pergi sekarang,” ujar Fu Lu sambil membentuk mudra dengan tangannya, mengirimkan kabut itu menuju alam baka.

Sebelum benar-benar menghilang, kabut itu berubah wujud menjadi sosok aslinya, menatap Fu Lu dan bertanya, “Siapa sebenarnya kamu? Kenapa setelah masuk ke tubuhku, kamu bisa melihat dan melakukan hal-hal gaib yang orang lain tidak bisa?”

“Siapa aku?” Fu Lu tersenyum ringan di saat wujud kabut itu menghilang, “Dulu, selain teman-temanku yang memanggilku Fu Lu, orang lain akan memanggilku dengan sebutan: Guru Negara.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel