Bab 2
Setelah suara guntur berhenti, hutan lebat di pegunungan kembali sunyi. Seorang gadis berpakaian gaun pengantin merah berjalan menuruni gunung dengan santai, bertumpu pada tongkat kayu sepanjang satu meter. Kehadirannya langsung menarik perhatian para penghuni lima mobil mewah yang berhenti di pinggir jalan.
Gadis itu bukan orang lain—dia adalah Fu Lu, yang semalam dibius oleh Huang Quan dan dibawa ke hutan pegunungan ini.
Para pengawal yang bertugas melindungi pemilik mobil-mobil mewah itu langsung menatapnya dengan waspada. Penampilannya aneh—pakaian compang-camping, dan terdapat noda darah kering di bajunya.
Fu Lu berhenti melangkah, lalu mengambil beberapa dedaunan obat dari tangannya dan mengunyahnya sebelum menelannya.
Para pengawal hendak mengusirnya, namun tiba-tiba dari dalam salah satu mobil mewah panjang, sopirnya membuka jendela dan bertanya, “Gadis kecil, kau berdiri di sini mau apa? Apa kau mau naik mobil kami?”
“Mobil? Jadi benda ini namanya mobil ya?” Fu Lu bergumam, lalu mengangkat wajah dan tersenyum ke arah suara itu. “Benar, aku ingin naik mobil ke Kota Tang. Apa kalian searah?”
“Searah. Kami juga memang sedang ada urusan ke Kota Tang. Ayo, kau bisa naik mobilku.”
Salah satu pengawal membukakan pintu untuk Fu Lu.
Di dalam mobil, selain sang sopir, ada dua pria muda. Yang satu tampak berpenampilan rapi dan terpelajar, memakai kacamata berbingkai emas, dengan sepasang mata tajam penuh perhitungan di balik lensa.
Yang satunya lagi memiliki wajah tampan luar biasa, auranya bersih dan tenang, bibir tipisnya tersenyum ringan seolah terlihat ramah. Tapi sorot matanya seakan menyimpan kedalaman ribuan tahun, dingin dan tak mudah didekati. Yang paling mencolok darinya adalah rambut hitam lurus yang panjang hingga paha, membuat wajahnya yang seperti pahatan tampak agak ambigu—antara lelaki dan perempuan.
Keduanya tidak berkata sepatah kata pun setelah Fu Lu naik ke dalam mobil.
Sang sopir kemudian berkata pada Fu Lu, “Kue-kue di atas meja di depanmu itu boleh kamu makan sepuasnya.”
Fu Lu pun tak sungkan, langsung mengambil sepotong kue dan mulai makan. Begitu menelan gigitan pertama, matanya langsung berbinar, lalu buru-buru menyendok suapan kedua dan memasukkannya ke mulut. Cara makannya yang polos seperti anak kecil menarik perhatian pria tampan yang duduk di dalam mobil itu.
Ia memperhatikan, di balik noda darah yang menutupi wajah gadis itu, tersimpan wajah yang sangat cantik: wajah mungil berbentuk telur angsa, kulit putih bersih berkilau, alis seperti daun willow yang lembut, hidung tinggi mancung, bibir merah basah berkilau—keseluruhan wajahnya memancarkan aura polos seperti malaikat mungil yang bercahaya di bawah sinar matahari.
Namun, yang paling mencolok adalah sepasang matanya yang besar. Sayangnya, mata itu telah kehilangan cahaya. Tak ada gerakan, tak ada fokus—tanda bahwa gadis itu telah kehilangan penglihatannya. Dunia di matanya gelap gulita, dan tubuhnya pun menyandang kekurangan.
Saat itu, Fu Lu menoleh ke arah pria tampan tersebut.
Tatkala bertemu dengan tatapan kosong gadis itu, pria tampan itu sempat tertegun. Padahal ia tahu bahwa gadis itu buta, namun entah kenapa, tatapan kosong itu seolah-olah bisa menembus jantungnya dan melihat seluruh dirinya dengan sangat jelas. Detak jantungnya pun tiba-tiba melonjak.
Fu Lu kemudian menunduk kembali dan melanjutkan makan kuenya.
Sopir menyalakan mesin mobil dan bertanya, “Gadis kecil, kulihat tubuhmu penuh darah. Apa kau mau aku antar ke rumah sakit?”
“Tidak perlu. Aku tidak akan mati,” jawab Fu Lu dengan santai, sama sekali tak peduli dengan luka-lukanya.
Sang sopir tidak bertanya lagi. Yang lain pun tetap diam. Sepanjang perjalanan, hanya terdengar suara Fu Lu mengunyah makanan ringan.
Setelah hampir kenyang, perhatian Fu Lu mulai tertuju pada mobil. Kadang ia mengetuk-ngetuk kursi tempat duduknya, kadang memegang kaca jendela, seolah-olah ini pertama kalinya ia naik mobil dan belum pernah melihat kendaraan sebelumnya. Ia sangat penasaran dengan struktur mobil itu.
Setelah puas mengamati, ia kembali melanjutkan makan.
Menjelang malam, mobil akhirnya memasuki Kota Tang.
Fu Lu mendekatkan wajah ke jendela, memandang pemandangan luar tanpa bergerak, dan sesekali mengeluarkan suara kagum kecil. Sampai mobil tiba di depan tembok besar vila keluarga Fu, barulah ia bergerak. Ia mengeluarkan sebuah lobak kecil dari lengan baju lebar yang dipakainya dan meletakkannya di atas meja, “Ini uang ongkos mobil.”
Di bawah tatapan terkejut semua orang, ia turun dari mobil, lalu dengan lincah menginjak tembok dan melompat tinggi, melewati dinding tinggi keluarga Fu dengan begitu mudah—seolah ia sudah melakukannya ribuan kali. Gerakannya begitu lancar seperti sedang makan.
Semua orang di dalam mobil terdiam sejenak.
Sopir tersenyum, “Gadis kecil itu hebat juga dalam urusan panjat-memanjat.”
Pria berkacamata di kursi belakang terkekeh ringan, lalu mengambil lobak kecil dari meja dan berkata, “Baru kali ini aku lihat ada orang membayar ongkos menggunakan lobak. Terlalu murah. Kalau dia tahu mobil yang dia naiki ini adalah mobil mewah edisi terbatas di dunia…”
Namun ucapannya terhenti tiba-tiba. Matanya menatap tajam ke arah lobak itu. Ia cepat-cepat mendorong kacamatanya, lalu menatap lobak itu dengan serius dan berkata penuh keterkejutan, “Ini bukan lobak… ini ginseng! Dan ini… ginseng seribu tahun!”
Saat ini, ginseng berusia seratus tahun saja sudah sangat langka, apalagi yang seribu tahun. Ia teringat, saat lelang terakhir, satu batang ginseng berusia 120 tahun saja laku hingga 7 juta yuan. Ginseng seribu tahun lebih dari sekadar langka—bahkan meski punya uang pun belum tentu bisa membelinya.
“Ini adalah ongkos mobil termahal yang pernah kuterima seumur hidupku. Tapi… kenapa dia bisa membawa ginseng seperti ini ke mana-mana?” Pria berkacamata itu perlahan membersihkan tanah yang masih menempel di akar ginseng dan bertanya heran, “Apa mungkin dia baru saja menggali ini? Beruntung sekali kalau iya…”
Pria tampan tadi melirik ke arah ginseng itu, lalu bertanya dengan nada dingin, “Qixian, itu dia, kan?”
Nada suaranya begitu tenang dan dingin hingga membuat Qixian segera menghentikan tawanya. Qixian duduk tegak dan menjawab dengan serius, “Ya, Tuan Buddha, itu dia.”
*Tuan Buddha bukan nama si Tokoh, tapi hanya panggilan yang digunakan orang disekitarnya untuk menyebutnya. Untuk selengkapnya silakan lanjutkan membaca~
Saat itu juga, suasana di dalam mobil langsung turun hingga serasa di bawah nol derajat. Sang sopir dan Lu Qixian bahkan tidak berani menarik napas terlalu keras.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, pria yang dipanggil “Tuan Buddha” itu akhirnya kembali berbicara, “Usianya masih muda.”
Lu Qixian bisa mendengar nada marah dari suara si Tuan Buddha itu, sehingga ia hanya bisa menunduk, tak berani menatap wajahnya.
Tuan Buddha kembali bertanya, “Kau bilang dia buta?”
“Benar.”
Tuan Buddha menyipitkan matanya dan berkata, “Tapi dia sama sekali tidak tampak seperti orang buta.”
Yang tak mereka ketahui adalah: saat ini Fu Lu bukan lagi Fu Lu yang sebelumnya.
Fu Lu yang asli sebenarnya sudah mati saat jatuh ke dalam jurang. Tubuhnya kini ditempati oleh jiwa yang kuat dari dua ribu tahun lalu—sebuah jiwa yang selama ini disegel dan tertidur dalam batu nisan kuno, yang kini terbangun oleh darah dan dendam pemilik tubuh sebelumnya. Jiwa itu pun kembali ke dunia manusia dengan menempati tubuh Fu Lu.
….
Di kediaman keluarga Fu, semua pelayan yang melihat kemunculan Fu Lu di depan pintu aula besar rumah itu tampak sangat terkejut.
Fu Lu berdiri tenang di luar pintu utama, menatap ke dalam aula yang penuh keceriaan, dan bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
Saat itu, dari dalam aula terdengar suara riang anak-anak, “Wah, makanan malam ini mewah dan banyak sekali ya!”
Orang dewasa di sana menimpali, “Pasti untuk merayakan kematian si bocah sialan itu.”
“Si bocah sialan itu benar-benar sudah mati?”
“Orang-orang yang disuruh membereskan dia sudah mengirimkan video kematiannya, mana mungkin palsu?”
“Syukurlah.” Semua orang tampak lega, “Mulai sekarang kita tidak perlu takut lagi pada aura buruk dari dia yang bisa saja menular ke kita. Memang pantas dirayakan.”
Anak-anak mendengar ucapan orang dewasa itu, langsung bertepuk tangan dengan gembira. “Si bocah sialan itu mati, sangat luar biasa!”
Tiba-tiba, suara tawa lembut menyela di antara mereka, disusul dengan pertanyaan yang terdengar polos, “Siapa ‘bocah sialan’ yang kalian maksud?”
“Siapa lagi kalau bukan Fu…” Belum sempat mereka menyelesaikan kalimatnya, mereka semua berbalik dan melihat sosok yang sangat familiar berdiri di pintu aula.
Seluruh tubuh mereka langsung menegang, dan ruangan itu pun mendadak sunyi senyap.
