9. Dipaksa Menikah
"Iya, suami. Emang kenapa?" tanya Firas menatap ke arah spion lagi karena saat ini ia sedang mengendarai mobil.
"Gue ngga salah denger 'kan, Ta?" tanya Anggi terbelalak tidak percaya.
"Ngga. Yang lo denger emang bener kalo Om Firas suami gue," sahut Prita malas.
"Sejak kapan? Kenapa gue ngga tau?" tanya Anggi lagi sedikit kesal.
Ia merasa tidak dihargai oleh Prita. Jika Prita menganggap Anggi sebagai sahabatnya, seharusnya Prita mengundang atau sekedar memberitahunya saja. Sayangnya tidak sama sekali.
"Ngga usah kesel gitu. Aku sama Om Firas baru nikah kemaren," sahut Prita menjelaskan takut Anggi marah.
"Apa?! Kemaren? Kok lo ngga ngasih tau gue, sih. Sebenarnya gue ini sahabat Lo bukan, sih, Ta?" kata Anggi kecewa.
"Nih anak lebay banget, sih. Gue nikah juga dadakan, dipaksa sama ni om-om nyebelin," sahut Prita melirik ke arah Firas.
"Apa? Yang bener lo? Gue mau juga dong dipaksa nikah sama om-om ganteng model Om Firas," kata Anggi merasa iri.
Siapa yang ngga mau dipaksa nikah sama om-om ganteng model Firas. Wajah tampan, badan tinggi semampai, kekar dengan dada bidang, perut kotak-kotak, dan yang paling penting Firas itu kaya. Pasti tidak akan ada yang menolak jika dijodohkan dengannya. Yang ada malah banyak wanita cantik yang mengantri untuk dipinang olehnya.
"Mau lo itu mah," sahut Prita sambil menoyor kepala Anggi.
"Jadi bibir lo lecet begini ulah Om Firas, Ta?" tanya Anggi membuat Prita langsung bangkit dan membekap mulutnya.
"Lo apaan, sih, Ta. Asin tau telapak tangan lo. Dasar jorok!" Anggi mengalihkan pandangan ke arah Firas, "Bener ngga Om tebakan, aku?" tanya Anggi memastikannya pada Firas.
Sementara Firas hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kaku. Hanya dengan senyumannya saja sudah bisa memberikan jawaban pasti untuk Anggi.
"Diem ngga lo!" seru Prita dengan suara pelan.
"Iya, iya, sorry deh. Jangan marah gitu dong. Tapi gimana dengan Pak Irsyad?" Anggi bertanya lagi tanpa melihat situasi.
Lagi-lagi Prita membekap mulut Anggi yang tidak berhenti mengoceh. Prita memelototi Anggi, mengisyaratkan agar sahabatnya berhenti berbicara.
"Sepertinya aku harus mengorek informasi dari Anggi," bisik Firas dalam hati.
Entah apa yang membuat Firas penasaran mengenai hubungan Prita dan Pak Irsyad. Padahal saat ini ia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Prita. Apa karena statusnya kini sebagai suaminya? Entahlah.
"Kamu sahabatan sama Prita sejak kapan, Anggi?" tanya Firas mencoba mengenal Anggi lebih dalam.
Ia mencoba mengorek informasi mengenai hubungan antara Prita dan Pak Irsyad pada Anggi. Dengan cara mendekatinya terlebih dahulu, agar bisa dengan mudah mengorek informasi.
"Sejak pertama masuk SMA, Om. Tau ngga Om? Dulu Prita itu orangnya pemalu, pendiem lagi. Ngga kayak sekarang yang belingsatan kayak setan," sahut Anggi. Kemudian ia menerawang ke masa lalu ketika pertama kali bertemu dengan Prita.
"Masa, sih. Tapi kalo dilihat-lihat ngga sesuai dengan apa yang kamu ceritakan, deh," sahut Firas menatap Prita dengan tatapan menelisik.
"Liatinnya biasa aja. Ntar naksir lagi," kata Prita memutar kepala Firas agar menatap ke depan.
"Iya, Om. Suwer deh, aku ngga bohong. Sampe-sampe ada cowo yang deketin dia aja. Dikiranya dia bisu, abisnya kalo ditanya ngga pernah jawab," kata Anggi melanjutkan ceritanya.
"Gila lo yah ngatain gue bisu. Sebenarnya lo temen gue apa musuh gue, sih?" sela Prita tidak terima dikatai bisu oleh Anggi.
Anggi hanya tersenyum mengangkat tangannya menunjukkan huruf V. "Tapi kok, sekarang jadi bawel begini? Rasa-rasanya ngga mungkin deh," sahut Firas masih tidak percaya.
"Dia berubah semenjak kedatangan Pak Irsyad, guru bahasa Inggris di sekolah," kata Anggi melupakan peringatan Prita.
"Anggi!" rajuk Prita menggertakkan giginya.
"Iya, iya. Sorry yah, Om, ngga bisa lanjut cerita lagi. Aku takut digigit sama macan," kata Anggi menghentikan ocehannya.
"Irsyad lagi Irsyad lagi. Sebenarnya siapa dia? Seperti apa sosoknya?" batin Firas berkata penasaran.
Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di kediaman Firas. Anggi membelalakkan matanya terkejut. Menutup mulutnya yang terbuka lebar. Ia tidak menyangka bahwa Prita, sahabatnya menikah dengan seorang pria kaya raya.
"Aku balik kantor dulu, yah. Anggi, anggap aja rumah sendiri. Ngga usah malu-malu," kata Firas sebelum kembali ke kantor.
"Itu, sih, pasti Om," sahut Anggi mengangkat kedua ibu jarinya.
"Ati-ati, Om," kata Priita.
"Siap, Bos! Kamu juga ati-ati yah di rumah. Jangan nakal!" sahut Firas mengacak rambut Prita. Kemudian ia melajukan mobilnya menuju tempatnya bekerja.
"Cie ... co cweet banget, ci," ledek Anggi.
"Apaan, sih, lo Nggi," sanggah Prita berjalan masuk ke dalam.
"Lo ngelakuin kebaikan apa di masa lalu, Ta? Sampe-sampe lo beruntung banget kayak gini. Dapet laki ganteng, kaya pula," tanya Anggi sambil mengedarkan pandangannya menatap sekeliling.
"Apaan, sih, lo lebay banget. Biasa aja kali, Nggi. Yang ngga biasa itu kalo kita nikah sama orang yang kita cintai," sahut Prita menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Lo salah. Yang ngga biasa itu yang kayak lo alami sekarang. Berasa menarik gitu," kata Anggi.
"Apanya yang menarik coba? Dipaksa menikah sebagai penebus hutang. Dengan orang yang baru kita kenal. Apalagi waktu itu Om Firas lumpuh. Dunia gue berasa mau runtuh," balas Prita membayangkan pertemuan pertama kalinya dengan Firas.
"Masa, sih, Om Firas lumpuh? Buktinya sekarang kakinya baik-baik aja. Apa jangan-jangan dia cuman pura-pura?" kata Anggi tidak percaya.
"Ngga tau juga, sih. Dan gue juga ngga mau tau. Yang pasti gue bersyukur aja dia bisa jalan. Kasian gue liat dia kesusahan naik kursi roda," sahut Prita mengingat kejadian, ketika Firas membawa makanan untuknya ke kamar dengan susah payah.
"Ehm, gitu. Gue haus nih, Ta," kata Anggi mengusap lehernya yang terasa kering.
Siapa juga yang tidak haus jika sedari tadi sibuk mengoceh. Bahkan sejak perjalanan dari sekolah ke rumah.
"Gara-gara keasyikan ngobrol gue jadi lupa. Tunggu bentar yah, gue ke dapur dulu," sahut Prita bergegas menuju dapur.
Sampai di dapur, ia tidak melihat sosok siapa pun di sana. Padahal ia ingin meminta dibuatkan minuman dan camilan sama Surti.
"Surti!" panggil Prita.
"Iyah, Nyomud. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Surti berjalan tergopoh-gopoh ke arah Prita.
"Loh, ini siapa Surti? Ko mirip banget sama kamu?" tanya Prita melihat sosok wanita paruh baya yang sangat mirip dengan Surti.
"Ini ibu saya, Nyomud. Satu minggu yang lalu Ibu izin pulang kampung. Dan sekarang baru sampe, makanya saya ngga ada di dapur," jelas Surti menjawab pertanyaan Prita.
"Mbok, kenalin. Ini Nyonya Muda, istrinya Tuan Firas," kata Surti memperkenalkan ibunya pada Prita.
"Saya Sumbi, Nyomud. Saya sudah bekerja di sini selama dua puluh tahun. Tapi selama satu minggu saya izin pulang kampung, karena ada urusan mendesak," kata Mbok Sumbi memperkenalkan diri.
"Saya Prita, Mbok. Mbok Sumbi istirahat aja dulu, cape 'kan baru sampe. Surti, tolong buatin temen saya minuman dan camilan. Saya tunggu di ruang tamu. Oh iya, buatin juga buat Mbok Sumbi," kata Prita berlalu pergi.
Mbok Sumbi menatap Prita kagum. Walaupun usianya masih terbilang muda, tapi ia masih memiliki sopan santun. Padahal jarang sekali anak zaman sekarang seperti Prita. Apalagi Indira, mantan kekasih Firas sebelumnya. Ia sangat merendahkan status asisten rumah tangga.
"Nyonya Muda baik ya, Ndo," kata Mbok Sumbi pada Surti, putrinya.
"Iya, Mbok baik banget. Jarang ada majikan yang kaya Nyonya Muda ya, Mbok?" tanya Surti.
"Jarang banget, Ndo. Kamu ngga inget mantan pacar Tuan Firas dulu. Si Indira Indira artis itu, yang songongnya ngga ketulungan," sahut Mbok Sumbi.
Ia sering mendapatkan perlakuan buruk ketika Indira datang ke rumah Firas. Wanita itu tidak segan-segan untuk memarahi Mbok Sumbi hanya karena masalah sepele.
"Surti 'kan belom lama bantu Simbok kerja di sini. Jadi ngga begitu tau," kata Surti.
Gadis itu bekerja di rumah Firas baru berjalan sekitar lima bulan. Setelah lulus sekolah, ia meminta ibunya untuk ikut bekerja. Bahkan usianya dengan Prita tidak terlalu jauh.
"Ya udah, Simbok istirahat sana. Jangan sampe ketahuan Nyonya Muda, ntar Simbok kena semprot," kata Surti tidak ingin ibunya kena marah. Karena ia tahu bahwa Prita tidak suka dibantah.
"Loh, kok gitu toh, Ndo?" tanya Mbok Sumbi penasaran.
"Jadi gini, Mbok," Surti menceritakan pengalaman pertama bertemu dengan Prita kemarin.
***
"Jangan Nyomud! Biar saya aja yang nyuci," kata Surti mengambil alih piring yang ada di tangan Prita.
"Kamu siapa?" tanya Prita sambil mengerutkan keningnya.
"Saya Surti, Nyomud. Saya salah satu asisten rumah tangga di rumah ini," jawab Surti menunduk.
Padahal Prita di depan matanya bukan di bawah kakinya. Tapi kenapa ia menatap ke bawah di saat Prita sedang berbicara dengannya.
"Kamu liatin apa di bawah? Yang ngomong sama kamu saya, loh. Saya ada di depan kamu, tapi kenapa liatnya ke bawah," kata Prita tidak habis pikir dengan sikap Surti.
"Maaf, Nyomud. Saya cuman pelayan di sini dan saya tidak pantas menatap mata Nyonya Muda," jawab Surti masih dalam posisi menunduk.
"Emangnya kenapa kalo kamu pelayan? Toh, kita sama-sama manusia, sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Dan di mata-Nya kita semua sama," kata Prita sambil menyentuh bahu Surti dan mengangkat dagunya.
Prita bisa melihat raut wajah Surti yang ketakutan. Dan ketika Surti mencoba menatap mata Prita. Tiba-tiba terdengar suara bariton milik seseorang yang baru Prita kenal beberapa detik kemudian, Firas meneriakkan nama Surti.
"Surtiii!" teriak Firas memekakkan telinga.
