Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

8. Bertukar Saliva

"Boleh. Bapak mau tanya apa?" sahut Pak Bambang mempersilahkan.

"Siapa Pak Irsyad itu?" tanya Firas langsung pada intinya.

"Oh, Pak Irsyad. Beliau guru bahasa Inggris di sekolah ini, Pak," sahut Pak Bambang.

"Oh gitu. Apa Bapak tau alasan kenapa Prita selalu terlambat di hari yang sama setiap Minggu?" tanya Firas lagi mencoba mengorek informasi.

"Tentu saja tau. Itu karena Neng Prita menyukai Pak Irsyad. Jadi, dia sengaja terlambat untuk mendapatkan perhatiannya," terang Pak Bambang menerawang ingatannya ketika Prita mengatakan bahwa ia menyukai Pak Irsyad.

"Apa?!" Firas tersentak mendengar jawaban yang Pak Bambang lontarkan.

"Ada apa, Pak?" tanya Pak Bambang melihat keterkejutan di wajah Firas.

"Ngga, ngga papa. Makasih sudah mau menjawab pertanyaan saya. Kalo gitu, saya pamit pulang. Oh iya, ini kartu nama saya. Kalo Pak Irsyad meminta pertanggungjawaban karena mengizinkan Prita masuk. Bapak bisa menghubungi nomor yang tertera di kartu nama ini," kata Firas sebelum akhirnya ia pulang ke rumah.

"Baik, Pak. Terima kasih banyak," sahut Pak Bambang menatap kepergian Firas.

Ia menatap lembar kartu nama dengan manik mata berbinar. Di sana, tertulis dengan jelas,

bahwa Firas Corten seorang CEO di Corten Departemen Store. Departemen store terbesar di seluruh Indonesia. Ia penasaran bagaimana Prita bisa mengenal orang besar seperti Firas. Ia berencana menanyakannya pada Prita setelah pulang sekolah nanti.

Sementara di depan kelas, Prita sedang mengendap-endap masuk ke dalam tepat ketika Pak Irsyad sedang fokus menulis di papan tulis. Tiba-tiba, Pak Irsyad membalikkan badannya dan mendapati Prita terdiam dengan posisi sedia. Ia seperti orang yang hendak lomba lari.

"Prita! Berdiri di depan sampai jam pelajaran habis," kata Pak Irsyad tegas.

Prita berjalan menunduk ke arah depan papan tulis. Ia berdiri sesuai perintah Pak Irsyad. Kali ini, Pak Irsyad dibuat bingung dengan sikap Prita. Biasanya, gadis itu akan berdalih dan meminta agar ia menghukum di ruangannya. Namun, kenapa sekarang Prita dengan mudahnya menerima hukumannya? Sebenarnya apa yang terjadi dengan Prita?

"Tumben banget Prita ngga kayak biasanya," bisik Pak Irsyad dalam hati.

Ia benar-benar penasaran apa yang terjadi dengan Prita. Entah kepalanya terbentur atau bagaimana. Yang pasti Pak Irsyad tidak percaya dengan perubahan sikap Prita yang tiba-tiba. Ia berpikir, apa karena masalah terakhir kali yang membuat Prita berubah.

Setelah pelajaran bahasa Inggris selesai, Pak Irsyad meminta agar Prita kembali ke tempat duduknya. Ketika ia sedang merapikan buku di meja dan hendak pergi. Ia mendengar sesuatu yang mengejutkan.

"Bibir lo kenapa, Ta?" tanya Anggi melihat bibir Prita yang terluka.

"Abis dicipok," sahut Prita malas. Ia tidak tahu bahwa saat ini Pak Irsyad sedang mendengar ucapannya.

"Serius lo, Ta?" tanya Anggi lagi memastikan.

"Iya, Anggi. Ngapain, sih, gue bohong sama lo. Ini bibir gue abis dicipok," sahut Prita menekankan kata-katanya sambil memonyongkan bibirnya.

"Akhirnya lo ngerasain dicipok juga. Gimana rasanya, enak ngga? Gue jadi pengen nyobain rasanya nelen ludah orang lain. Soalnya kata orang, sih, nelen ludah orang lain lebih enak daripada nelen ludah sendiri," kata Anggi penasaran ingin tau rasanya bertukar saliva.

"Kepo lo. Udah ntar gue ceritain semuanya sama lo, tapi lo jangan ngiri, yah," sahut Prita menepuk kepala Anggi dengan buku.

"Eum... eum... " Pak Irsyad sengaja berdehem agar Prita tahu bahwa ia masih ada di kelas.

"Ups! Pak Irsyad denger semuanya ngga yah, Ta?" Anggi terkejut menutup mulutnya.

"Gue ngga peduli. Mau dia denger apa ngga, ngga ada urusannya sama gue. Jujur aja gue udah cape ditolak terus sama dia. Apalagi sekarang gue udah--" Prita sengaja menaikkan volume suaranya agar Pak Irsyad mendengarnya.

Prita ingin Pak Irsyad tahu dan menyesal sudah sering menolak cintanya. Dan sekarang setelah mendengar kata-kata Prita, hati Pak Irsyad merasa ada sesuatu yang hilang. Mungkin karena kebiasaan Prita yang selalu mengejar-ngejarnya ataupun mengganggunya. Lalu tiba-tiba, ia mendengar Prita mengatakan bahwa ia sudah tidak peduli lagi dengannya..

"Lo serius? Lo ngga lagi becanda atau sengaja mau bikin Pak Irsyad nyesel 'kan?" tanya Anggi berbisik.

"Keduanya," sahut Prita menatap tajam ke arah Pak Irsyad.

Pak Irsyad hanya menoleh dan bergegas keluar kelas. Hatinya serasa hancur berkeping-keping. Sepertinya rencana Prita berhasil untuk membuatnya menyesal. Seharusnya kalau ia memang memiliki perasaan yang sama terhadap Prita. Setiap kali Prita menyatakan perasaanya. Ia tidak perlu menolak dan mengabaikan perasaannya sendiri. Sekarang giliran Prita sudah menikah dan berusaha melupakannya. Ia malah baru sadar keputusannya untuk selalu menolak Prita adalah salah.

"Maksud lo keduanya apa?" tanya Anggi penasaran.

"Gue serius dan sengaja mau bikin dia menyesal. Udah ah, ntar aja gue ceritain," sahut Prita mengeluarkan buku pelajarannya.

"Ayo dong, Ta. Ceritain sekarang aja, gue penasaran banget nih. Lo mau gue mati cuman gara-gara penasaran?" kata Anggi penasaran tingkat tinggi.

"Ngga bisa. Ntar aja pulang sekolah lo maen ke rumah gue. Lo tenang aja, ntar gue ceritain sedatail-detailnya," sahut Prita tidak mengindahkan ucapan Anggi.

"Hmm, iya deh," kata Anggi menyerah dengan ekspresi lesu.

Tidak terasa, bel pulang sekolah pun berbunyi. Prita dan Anggi sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Mereka menunggu angkot yang lewat. Karena memang pagi ini Prita diantar oleh Firas.

"Sepeda lo mana, Ta?" tanya Anggi karena biasanya Prita tidak pernah absen berangkat ke sekolah menggunakan sepedanya.

"Gue ngga bawa, Anggi. Makanya gue ajak lo naek angkot," sahut Prita samar-samar melihat mobil yang tadi pagi ia tumpangi mendekat.

"Oh iya ya, gue lupa," kata Anggi menepuk jidatnya.

Mobil Firas berhenti tepat di depan Prita dan Anggi. Pria itu membuka jendela dan meminta agar Prita masuk ke dalam. Sedangkan Anggi, terperangah melihat ketampanan Firas. Ia membuka mata dan mulutnya lebar-lebar.

"Masuk!" kata Firas.

"Tutup mulut lo, ntar ada laler masuk. Jangan lupa lap juga tuh iler lo," kata Prita membuat Anggi menutup mulut dan menyeka bibirnya.

"Siapa, Ta? Ganteng banget," kata Anggi menyenggol bahu Prita.

"Ayo masuk mobil dulu," ajak Prita.

Firas membukakan pintu depan untuk Prita dan Anggi duduk di kursi penumpang.

"Om Firas ngga kerja? Kok jam segini bisa jemput aku?" tanya Prita melirik jam tangannya.

"Namanya juga bos. Bebas dong mau keluar jam berapa aja," sahut Firas kembali menyombongkan diri.

"Sombong," kata Prita memonyongkan bibirnya.

"Eum... eum... " dehem Anggi merasa diabaikan.

"Eh iya, Om. Kenalin ini Anggi sahabat sekaligus teman sebangku aku," kata Prita memperkenalkan.

"Halo, Anggi. Perkenalkan, saya Firas suaminya Prita," sapa Firas menatap ke arah spion sambil memperkenalkan diri.

"Apa? Suami?" kata Anggi terkejut.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel