Bab 4
empat serangkai itulah julukan yang cocok untuk kami sekarang, aku senang punya teman seperti mereka, dengan mereka aku merasa lebih berani, teman yang tidak pernah membandingkan status keluarga ataupun rupa, sore yang indah kami lewati ditempat ternyaman masing-masing, karna 3 hari ini awal masuk kampus kami masih dibebaskan kegiatan
"guys bangun udah sore.! " ucap ayu yang masih dengan suara serak-serak
"bangun... bangun... bangun.." teriak ayu berulangkali
" kok cepat ya paginya, aku kan baru tidur " ucap kasih yang masih setengah sadar
" hahah, kasih, kasih, masih sore belum pagi "ucap tara dengan nada santai
"guys, sekarang kita mandi, terus kita jalan-jalan keliling kampus, gimana
mau ngak..? "aku dengan ide cemerlangku, karna sudah bosan dikamar seharian
" ok " jawaban singkat dari tiga sejoli 15 menit berlalu dengan ritual masing-masing, kami sudah siap untuk menikmati indahnya kampus tercinta
"upss tunggu dulu dong!, kita selfie dulu, kan udah pada cuuuaantik " ucap kasih dengan gaya bicaranya yang centil, kasih memiliki penyakit selfie, dikit-dikit cekrek
"disana aja selfienya " bantah tara
"ngak mau, maunya disini mmmm" mulai deh manjanya ni anak mau ngak mau ya harus mau, ok ini akan menjadi foto yang kesekiqn kalinya dalam 3 hari ini di kamar ternyaman
" cekrek, cekrek, cekrek " bunyi pengambilan foto saatnya meluncur dan melewati kandang nenek lampir, semoga aja dia ngak dikamar, oh ya ngapain juga takut, palingan dia yang lari, secara anggotakukan lebih banyak
********
" anak kampung ..!" berteriak dengan bangganya, huh benerkan si nenek lampir didepan, sudah kuduga
"nooo, apaan, tadi dia bilang apa..? " sepertinya kasih mulai terpancing karna tidak terima dibilang anak kampung, kasih dari awal memang tidak tau masalah, wajar dia langsung emosi, karna takut keributan aku menarik tangan kasih jauh dari nenek lampir
"mereka siapa Tia.?, kok bilang anak kampung.?, kamu kenal.? " tanya tara penasaran
"bentar ya aku jelasin, jadi mereka bertiga itu, hari pertama datang ribut sama aku dan ayu, mereka bilang anak kampung sama aku, bukan sama kalian " jelasku pada tara dan kasih
"tetap aja kita ngak terima, kan Tia teman kita sekarang, ngak bisa gitulah " balas kasih dengan ekspresi emosi
"iya, pokoknya kita berempat sekarang saudara, satu menangis semua menangis " ucap tara dengan senyum manisnya
"tenang aja walaupun mereka senior, mereka ngak akan berani macam- macam " balas ayu
Kami tidak tau posisinya sekarang dimana, tapi yang pasti kami sudah berada di taman yang indah, kaki memang tidak salah melangkah
" cantiknyaaaa, 4 serangkai kita foto dulu " teriak kasih yang sedikit lagi bola matanya akan keluar karna melihat pemandangan yang sangat indah ini
" cekrek, cekrek, cekrek " sesi berfoto sudah selesai, semua berpencar kemana kaki melangkah, aku lebih memilih duduk dibawah pohon besar yang rimbun menikmati angin sepoi-sepoi, aku jadi rindu kampung, biasanya aku duduk dibawah pohon dengan kucing kesayanganku si tom tom, tanpa disadari air mataku mengalir tanpa disuruh, rindu ayah dan ibu, karna aku merasa tidak ada orang, jadi aku bisa leluasa mengungkapkan isi hatiku
"rindu ayah, rindu ibu, hiks hiks, ibu Tia punya teman yang sangat baik, tapi si nenek lampir selalu jahat sama Tia, emangnya salah ya bu kalo kita orang kampung, apa jadi orang kampung suatu dosa.?, ibu Tia rindu hiks, hiks hiks " aku menangis sekencang-kencangnya
"mengganggu " Ucap seseorang yang tidak tau darimana datangnya
"plak " (bunyi sapu tangan yang dilempar) aku cuma bisa diam dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan cuma satu kata dan sebuah sapu tangan, kenapa aku selalu bertemu dengan cowok ini disaat-saat memalukan, kenapa ngak ngomong daritadi ada orang, sebenarnya dia hantu atau apa..? bahkan untuk bicara saja dia ngirit, emangnya bisa ya nabung suara, dasar cowok aneh batinku memaki, dia berlalu begitu saja seperti tidak tau apa-apa, tapi baguslah aku bisa tenang sendiri disini
"Tia, Tia, Tia " panggil tiga sejoli
yang sepertinya mereka susah menemukanku, baru aja mau menenangkan diri, hufff
"iya aku disini" teriakku
"Tia, kamu habis nangis..? " tanya ayu, ayu memang lebih bisa membaca mimik wajah dan perasaan seseorang dibanding tara dan kasih
"ngak pa-pa kok, aku cuma rindu orang tua aja " aku tidak boleh kasih tau mereka kalo tadi aku bertemu dengan cowok aneh, cuma bikin masalah tambah panjang karna ada si kepo, alias tara
" kita balik yuk guys udah jam 6, siap-siap sholat " jelasku pada tiga sejoli
Waktu terasa begitu cepat berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 20.05 WIB aku rasa sudah waktunya memberi makan cacingku
"guys ke kantin yuk, ngisi kampung tengah " ucapku
" boleh " seperti biasa dikantin akan dipenuhi para siswa dan siswi, semua gabung didalam satu kantin, tanpa disengaja ketemu lagi sama nenek lampir Kami mulai menikmati makanan masing-masing, sepertinya nenek lampir lagi baik, tumben mereka tidak cari masalah
"istriku " teriak seseorang yang tidak asing bagiku, sudah pasti si gayung alias azis
Seharian ini aku memang belum bertemu dengan azis, rindu juga dengan candaanya
"istriku, kita makan bareng ya dengan senyum sumringah
" OMG, istriku, helloooo sejak kapan?, aku juga mau jadi istrimu.! " balas kasih yang satu jurusan dengan azis, jurusan gombal
" bener kamu mau jadi istriku..? " tanya azis dengan nada becanda
"bener dong my love, my babyku, muach muach " ditambah kedipan mata yang menggoda, ekspresi sok imut adalah modal terbaik buat memikat para buaya, ngak cium beneran ya cuma suara aja, hehe
" baiklah sekarang Tia aku ceraikan, dan aku menikah lagi dengan... " ucapan azis terhenti karna belum tau namanya hahah kami cuma bisa ketawa melihat ekspresinya yang gagal menggombal
" zis, kenalan dulu dong sama istri barumu.? " ucapku dengan senyum kemenangan baru kali ini azis gagal dalam hal menggombal hahaha
sedang asik menikmati makanan, cowok aneh muncul, dia duduk tidak jauh dari kami, selesai makan aku bakal mengembalikan sapu tangan yang dipinjamkan padaku tadi sore, aku belum memakainya sama sekali, aku ngak mau nanti sapu tangan ini dilihat oleh nenek lampir dan jadi masalah lagi, secara dia kan fans berat cowok
aneh,
"boleh gabung ngak " ucap si nenek lampir, cari perhatian ini ceritanya, tapi kasian ya ngak di respon tu
tanpa bicara si cowok aneh pindah tempat, karna ngak nyaman deket nenek lampir
"yu lihat deh, si nenek lampir dicuekin sama cowok aneh " ucapku pada ayu
" baguslah, siapa juga yang mau sama cewek kayak gitu " balas ayu
"bukan cuma si nenek lampir yu, si cowok aneh juga gitu, siapa juga yang mau coba, ngomong aja ngirit" ucapku jutek
"itu kamu yang ngak tau, cowok yang kayak gitu yang bekharisma "
" kharisma dari mana..? "
" kenapa sih?, kenapa sih?, aku kepo "si kepo mulai nyambung
" kamu ya emang kepo terus
kerjanya " balas ayu
" hmmm, iyalah "
" ya ampun ganteng bangetttt, goda dulu ah.? " si centil mulai masuk dalam topik, kasih berdiri dan berencana untuk menghampiri cowok aneh, ayu dengan sigap menarik tangan kasih
"duduk " ucap ayu tegas
"gak mau, aku mau kesana" ucapnya manja sambil menunjuk cowok aneh
" duduk, gak usah bikin masalah lagi kali ini ayu terlihat sangat serius dengan tegurannya pada kasih syukurlah kasih mau mendengarkan, kalo tidak, bakal terjadi perang disini
"ngak usah, kan kamu udah punya suami, hehehe" ucapku sambil tertawa kikkuk untuk mencairkan susana yang dingin bak kutup utara ini, sekaligus teguran sih biar ngak ada masalah lagi azis menatapku dengan tatapan
yang ngak bisa ditebak saat aku membahas tentang cowok aneh, kayaknya azis juga mulai aneh batinku
"bentar ya " aku harus guys memberanikan diri mengembalikan sapu tangannya, karna cuma disini kesempatanku buat ketemu sama cowok aneh, huhhhh, aku menghembuskan nafas panjang, heheh kayak mau perang aja ya
"permisi kak " ucapku dengan sopan, tidak direspon samasekali
sedangkan ditempat lain, 3 sejoli dan azis melihat dengan mimik wajah yang menyimpan banyak pertanyaan
" tadi aku mau pergi ngak dibolehin, trus kenapa Tia boleh.? protes kasih
" Tia ada urusan sama kak anggara " jawab ayu cuek
" urusan apa.?
" jangan- jangan...? ucapan tara terhenti
"jangan mikir yang aneh-aneh" tegur ayu pada tara dan kasih
sedangkan azis hanya diam dengan seribu pertanyaan ayu sebenarnya tidak tau tentang masalah ini, cuma dia lebih berfikir dewasa dari yang lain disisi lain juga, sudah ada geng nenek lampir yang sudah siap untuk menelanku hidup-hidup, aku tidak peduli yang penting aku mengembalikan sapu tangan ini dan aku bisa tenang
" hmmm, kak, aku mau balikin sapu tangan yang kakak pinjamkan tadi sore, aku ngak pake kok, ngak kotor " aku memberikan sapu tangannya tapi dia masih diam dan tetap mengunyah makanan
" ka.." ucapanku terhenti, aku rasa ini kata-kata terakhirku, sekarang semua mata tertuju padaku dan bertepuk tangan seperti memberi apresiasi kemenangan melihat apa yang terjadi sekarang, kenapa nasibku begini, salahku apa..? jus yang manis sudah mulai mengalir ke kepalaku bahkan sudah membasahi bajuku, kalian pasti sudah tau apa yang terjadi, sekarang aku merasa malu diatas malu, aku mau
menghilang dari sini..
" enak ngak.? Makanya jangan ganjen jadi cewek.? " ucap nenek lampir sambil tertawa dan langsung meninggalkan kantin
Disisi lain 3 sejoli sudah terlihat sangat emosi dan ingin mengejar geng nenek lampir, aku harus menghentikan mereka
"ayu, kasih, tara" panggilku sedikit berteriak
Akhirnya mereka mengentikan langkah dan menghampiriku
" Tia kamu ngak pa-pa " tanya azis yang kelihatan cemas
" Tia, ada yang sakit gak.? " tanya 3 sejoli bersahutan, mereka sepertinya khawatir melihat keadaanku sekarang, sedangkan yang lain hanya bisa tertawa, apalagi si cowok aneh, dia hanya diam dan terus mengunyah makanan, tidak bisakah dia bersikap baik sedikit
"awas ya itu cewek, kalian tunggu
disini biar aku yang urus " ucap azis dengan emosi yang sudah memuncak, dengan sigap aku menarik tangan azis, aku tidak mau ada masalah lagi, semua masalah teman-temanku disebabkan aku
" ya sudah kalian balik ke asrama, istirahat, besok upacara penyambutan mahasiswa baru, kalian harus hadir " pesan azis dengan wajah yang masih menyimpan dendam
"iya " cuma itu yang bisa terucap dari mulutku sekarang aku tidak peduli lagi dengan geng nenek lampir, aku rasa sekarang aku sudah terbiasa dengan kelakuan mereka, mau melawan juga ngak ada gunanya, yang sekarang ada di otakku cuma tentang cowok aneh, tadi sore dia perhatian, kenapa malam berubah drastis, apa dia punya kelainan.?, aku memang pintar memberinya julukan " pria aneh"
Kami kembali ke asrama, aku mulai membersihkan diriku yang sudah dipenuhi jus, dan sapu tangan masih ditanganku, sekarang waktunya istirahat karna mungkin besok akan lebih melelahkan dibanding hari ini..
