Bab 3
"guys lihat deh..!, anak kampung datang..!" ucap senior yang memang dari awal kami masuk kampus selalu mencari masalah, aku belum tau nama seniornya tapi yang pasti mereka bertiga bisa dibilang trio kwek kwek, sok cantik, tenang Tia, jangan sampai terpancing, ingat pesan ibu belajar yang benar, biarkan saja mereka, mereka cuma segerombolan lalat, batinku
" hahaha, anak kampung punya uang juga ternyata, ngak hasil jual kebun kan, kasian nanti orang tua dikampung habis kebunnya.! " balas teman gengnya dan mereka tertawa terbahak-bahak, ternyata ngak wajah aja yang jelek kelakuan juga
Ayu hanya diam melihat ke sekeliling mungkin dia heran, eksperinya tidak bisa ditebak, atau mungkin dia berpikir aku diam karna aku takut..?, aku bodoh.?, ntahlah, intinya aku cukup diam
" permisi kak.!" ucapku dengan sopan, kami berjalan melewati geng sok cantik
Aku sudah berusaha agar tidak terjadi masalah, ternyata masalah itu sendiri yang inisiatif mendatangiku
" punya nyali juga ternyata.! " ucap senior yang sepertinya dia ketua geng, sambil mendorongku
" ahkkahkkahkkahhakk " aku berteriak karna si nenek lampir mendorongku sangat kuat, aku tidak peduli dengan keadaan disekitar, sekarang aku sudah jatuh dan ini kejadian yang sangat memalukan
"bruk" mengapa aku merasa seperti jatuh di kasur, empuk, gumamku sambil meraba-raba, aneh ya, padahal lantainya keramik tapi kok bisa empuk..? nyaman juga jatuh dilantai kalo kayakgini, hehehe
"ya ampunnnnnnn " teriakan seseorang tak lain ialah si nenek lampir ketua geng, yang membuatku harus bangun dari kasur empukku, huhhhh, dengan nafas yang terengah aku mulai membuka mataku dan ternyata.
"aaaaaaaakkkkkkkkk " aku kaget dengan apa yang aku lihat
" sudah telat teriaknya " acuh tak acuh dengan wajah tanpa ekspresi ya ampunnnnn, aku tidak tau lagi mau ngapain, bisa-bisa aku dimakan hidup-hidup sama nenek lampir , seseorang tolong culik aku, aku mau hilang dari hadapan orang-orang aneh ini, tolong..
"ya ampun, anggara, kamu ngak papa kan, pasti badanmu sakit, dimana yang sakit..? "ucap si nenek lampir sambil memegang tangan pria dingin itu, kesempatan dalam kesempitan, jihh jijik
" heh, anak kampung, lihat gara-gara kamu anggara jadi kotor, dasar anak kampung, selain penampilan yang kampungan ternyata caramu menggoda juga kampungan dan murahan.!" Bentak nenek lampir sambil melayangkan tangan mengarah ke pipiku aku rasa ada seseorang yang menahan, ya dia adalah pelindung bigbos ayu, ayu dengan amarahnya yang sedaritadi di tahan karna omongan trio kwek kwek akhirnya meledak dan terjadilah hal yang tidak diinginkan, semua gara-gara aku, mereka mulai saling tarik menarik rambut
" ayu sudah, ayu " ucapku dan mencoba menghentikan, kasian, ayu harus berhadapan dengan tiga orang sekaligus, aku harus gimana, ngak, aku ngak boleh diam, aku harus bantu ayu
" nenek lampir kurang ajar.!" akhirnya aku turun tangan, perkelahian hebat terjadi antara trio kwek kwek dan duo macan Kami mulai saling tarik, sampai anak-anak lain datang dan menghentikan kekonyolan ini, sudah dipastikan siapa pemenangnya, jelas duo macanlah, karna pertahanan yang kuat, ayuuuu !!!
" awas ya, nanti kita akan membalas kalian.! " ucap nenek lampir mengancam Dia tidak tahu dengan rambutnya yang sudah acak-acakan lucu sekali seperti nenek lampir, hihihi
"ok kakakku yang cantik " jawab ayu dengan ekspresi mengejek
aku dan ayu hanya saling tatap dan berakhir dengan tawa, hahahaha
"Tia, kok kamu jelek banget sih " ejek ayu
" kamu tu yang jelek, rambutmu berdiri kayak landak " ucapku tertawa melihat rambut ayu "
" rambutmu juga kayak kuntilanak " balas ayu tak mau kalah
" hahahahahaahhah " kami tertawa puas karna kekonyolan yang hakiki
" yu , kamu pesen makanannya ya , aku udah laper " ucapku, karna cacing diperutku sudah pada demo
"ok, tunggu disini ya "
"sip "
kok aku jadi bodoh gini sih, masak gara-gara cowok sampe ribut, cowoknya aja ngak peduli, malah langsung pergi, lah kita disini udah kayak orang gila, Tia Tia, sadar dan siapa sebenarnya cowok dingin itu
selang beberapa menit ayu datang membawa dua mangkok bakso yang dari baunya saja sudah sangat menggugah selera, membuat cacingku tambah meronta-ronta,
"kamu harus makan yang banyak, biar nanti kuat buat hadapi si nenek lampir " ucap ayu dengan senyum tipisnya
"hahaah, udahlah capek, ngapain diladeni "
" Tia kamu harus tegas sama mereka kalo ngak mereka bisa semena- mena " jelas ayu hmmmm, saran ini sudah dua kali ku dengar dalam sehari, sudah seperti minum obat, aku harus gimana, mau lawan nanti malah tambah masalah dan bisa berpengaruh pada beasiswaku, yang dikatakan nenek lampir ada yang benarnya sih, penampilanku memang kampungan, tapikan aku tidak merugikan orang lain, kenapa ya mereka ngak suka gitu, gumamku dalam hati
"iya yu, aku cuma males aja, aku disini mau belajar dengan tenang, ngak mau ada masalah, makanya aku milih diam " jelasku pada ayu
" iya kamu mikirnya gitu, tapi kalo mereka cari masalah terus ya sama aja, kamu juga ngak bakalan bisa tenang "
" kan ada kamu, benteng perlindungan " ucapku dengan senyum sumbringah
" ada-ada aja kamu "
" makasih ya yu, kamu udah mau jadi teman aku, udah bantu aku "
" Tia dengar ya, kita sekarang teman, apa yang menjadi masalah temanku berarti itu masalahku juga, dan aku ngak akan tinggal diam lihat kamu diperlakukan seperti tadi" jelas ayu dengan mimik wajah yang serius
"ya allah, makasih sudah memberiku teman sebaik ayu " kata-kata lebaiku dengan mimik wajah yang sok cantik
" lebay " jawab ayu singkat
" yu, kamu kenal ngak sama cowok yang dipanggil anggara tadi..? "
"ngak.!, kan kita sama-sama mahasiswa baru Tia " celetuk ayu
" siapa tau kamu kenal, secara kamu kan anak kota sini juga" bantahku
"ngak, emangnya kenapa..? hmm naksir ya.?, karna nyaman jatuh ditubuhnya.?, kata-kata ayu yang membuatku malu, kalo ada kaca aku bisa melihat wajahku sudah merah kayak tomat
" ngaklah, cuma rasa dia tu aneh aja"
" aneh gimana "
"kayaknya dia homo deh" ucapku dengan tampang tak berdosa, hehhe
"khok .khok " ayu langsung batuk dan menyemburkan makanannya mendengarkan ucapanku yang tidak masuk akal sama skali
" Tia, kamu kalo ngomong tu hati- hati, ntar orangnya dengar gimana " ucap ayu sedikit berbisik
"ihhh ayu jorok, bersihin dulu itu dimulutmu " ucapku sambil memberikan tisu pada ayu
" kamu sih ada-ada aja "
" beneran, soalnya aku perhatiin dari awal masuk kampus dia ngak peduli gitu sama cewek, trus tadi pas aku jatuh, dia diam aja, gak ada ekspresi, aneh ngak tu.? "
" kamu yang aneh " ucap ayu singkat
" hmmmm " " udahlah ngak usah bahas yang ngak penting, habisin aja makanannya " perintah ayu
"iya ayu sayang "
" kira-kira, teman sekamar kita yang dua lagi gimana ya orangnya yu " ucapku penasaran
"ya ngak tau "
" kalo kayak kamu semua mantap dong
" apanya yang mantap "
"iya mantap, berarti aku punya banyak pelindung hehe "
"Tia Tia " makan sambil ngobrol juga menyenangkan, karna cacingku sudah aman dan tentram kami balik ke asrama dengan damai
**********
"Awas saja mereka, akan ku balas nanti, berani-beraninya dia menggoda anggara" ucap ketua geng yang disebut tia nenek lampir dengan penuh amarah
"Tenang saja, kita akan buat dia tidak betah disini" satu ya menimpali
*******
"ahhhh, kasur empukku " aku membaringkan tubuhku dan mencari kenyamanan karna badanku sudah sakit- sakit semua habis ribut sama si nenek lampir
"Yu, tutup aja pintunya" pas banget, ayu mau tutup pintu, datang dua orang yang berjalan lenggak lenggok, yah mereka teman sekamarku
"hiiii " ucapnya bersamaan
" iya " ucapku dan ayu bersamaan
"kenalin aku tara"
" aku kasih "
"aku ayu dan ini fitria " ucap ayu mewakilkan
sekarang kami sudah lengkap, kita bukan duo macan lagi tapi 4 serangkai
"guys tau ngak, tadi digerbang aku lihat siswa nya ganteng-ganteng, badannya sispack, mau banget jadi pacarnya " ucap kasih yang kalo dilihat- lihat orangnya centil, dan cocok dengan namanya kasih, orangnya cantik, badan mungil, kulit putih dan rambut sebahu, baru kenal beberapa menit tapi kita sudah berasa kenal lama
" ayu orang mana..? Udah punya pacar.? , atau tunangan.? " pertanyaan berturut-turut dari si manis tara, aku merasa dipertemuan pertama, pertanyaan yang di ucapkan tara sangat tidak masuk akal, harusnya cukup tanya asal daerah, trus kapan datangnya, huhhh
"belum " jawab ayu singkat
" kalo Tia gimana .? "
"belum juga " jawabku seadanya
inilah kamarku, teman-temanku, lengkap sudah dari ayu si tomboi, kasih si centil dan tara si kepo dan aku sendiri si gadis kampung...
