Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9 Sekolah

Bab 9 Sekolah

Netta melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Luna yang berdiri di sampingnya, ini hari pertamanya masuk sekolah, dan Luna dengan senang hati membawanya berkeliling menunjukkan berbagai bangunan yang ada di dalam sekolah, seperti halnya ruang-ruang yang ada di dalamnya.

"Ini ruang kepsek, kakak harus ke sini dulu sekalian cari tau di mana kelas kakak." jelas Luna seraya menarik tangan Netta untuk memasuki ruangan tersebut.

"Pagi pak." sapa Luna seraya sedikit membungkuk ke arah pria paruh baya yang mungkin seusia papanya.

"Pagi Lun, dia?." Jawab pak kepsek seraya bertanya dengan menunjuk ke arah Netta.

"Selamat pagi pak, saya Netta." sapa Netta seraya memperkenalkan dirinya.

"Silahkan duduk." kata pak kepsek yang berdiri seraya menyuruh keduanya duduk.

Tok tok tok.

Ketiganya menoleh ke arah pintu yang terketuk, terlihat sangat jelas di mana wanita paruh baya yang berdiri tegak dengan wanita tua yang ada di sampingnya.

"Mama, Nenek" seru Luna dengan senyumnya.

"Nyonya." sapa kepsek dengan berdiri.

Raya dan Zia tersenyum ke arah kepsek yang menyapanya ramah, di langkahkannya kakinya untuk memasuki ruangan yang sebenarnya sudah sering ia masuki, mengingat semua putra Raya menjadi alumni sekolah ini.

"Dia putri saya pak, maaf atas keterlambatan pendaftarannya. Tapi, kalau boleh saya minta tolong untuk tetap menerima putri saya." kata Raya sopan setelah sebelumnya sudah menunduk hormat.

"Kami tidak bisa monolak jika menyangkut keluarga anda nyonya, mengingat bagaimana pak Mondy sudah dengan baik hati menjadi bagian dari kami." jawab kepsek dengan sopan pula.

"Terima kasih pak, tapi seperti sebelum-sebelumnya, anda harus memeriksa beberapa persyaratan putri saya untuk mendaftar di sekolah ini, dengan begitu saya tidak merasa menggunakan kekuasaan suami saya, dan jika menurut bapak tidak sesuai maka di mohonkan untuk berterus terang." jelas Raya menekan setiap katanya dan melirik ke arah Netta yang menunduk

Netta dan Luna diam, memperhatikan bagaimana pak kepsek yang melihat lihat nilai yang ada di dalam ijazah SMP milik Netta dan beberapa berkas lain yang memang di perlukan.

Netta duduk dengan gelisah, ia mulai membanding-bandingkan siapa dirinya dan siapa mereka,bukan hanya kaya, mereka juga deretan dari keluarga pintar tanpa sogokan, murni dengan hasilnya, karena nyatanya tak semua orang kaya akan memanfaatkan kedudukannya untuk meraih apapun itu.

"Tapi bagaimana mungkin?." Tanya pak kepsek seraya mendongak menatap keempatnya bergantian.

"Semua keluarga nyonya memeng deretan orang pintar, tapi ini? ini hampir sempurna nyonya." lanjutnya seraya memperlihatkan deretan angka nilai yang Netta raih waktu itu.

"Dan tentu saja dia di terima di sekolah ini, dan jika nyonya tidak keberatan kami meminta izin buat mengajak kedua putri nyonya untuk bergabung mewakili olimpiade tahun ini." jelas pak kepsek yang langsung membuat Netta tersenyum lega.

Raya tersenyum mendengarnya, setidaknya pilihan Leo bukanlah gadis yang minim otak dan pikiran, karna nyatanya ia juga kagum saat pertama kali mendapat ijazah menantunya yang Leo berikan untuknya, bahkan Leo masih ada di bawah tingkat menantunya. Bolehkah Raya sombong untuk itu?memamerkan kecerdasan keluarganya?.

___________

Netta memasuki kelasnya bersamaan dengan salah satu guru perempuan yang hari ini memang mengajar di kelasnya. Tadi, mertuanya juga mengajukan satu permintaan untuk memisahkan kelas antara dirinya dan Luna, tapi bagaimanapun juga ia sungguh sangat berterima kasih sudah dibiarkan untuk kembali menimba ilmu seperti yang ia inginkan.

Netta menatap deretan kursi yang di tempati murid murid yang duduk dengan rapi saat mendengar suara bu guru masuk, ricuh yang tadi terdengar kini berubah menjadi keheningan yang menegangkan.

"Ibu tau kalian pasti bertanya tanya siapa murid yang ada di samping ibu kan? kenalin ini Netta, murid baru di sekolah ini."

Netta tersenyum menoleh ke arah bu guru yang bername tag Ayuningtiyas.

"Mohon bantuannya." sapa Netta seraya tersenyum ke arah semua murid yang kini sudah menjadi teman seperjuangannya.

"Netta kamu nggak papakan duduk sendiri di belakang?." Tanya Bu Ayu seraya menujuk ke arah bangku kosong paling pojok

"Nggak papa bu, permisi." pamit Netta seraya berjalan ke arah bangku yang memang di tujukan untuknya.

*********

Netta memberesi bukunya saat waktu istirahat tiba, di abaikannya sekelilingnya yang menggunjingkan dirinya.

"Irham."

Netta menghentikan gerakan tangannya dan mendongak, menatap ke arah laki-laki yang duduk di mejanya dengan santai seraya memperkenalkan dirinya.

"Netta." jawabnya acuh dengan masih membereskan bukunya.

Bukannya sombong, tapi sebagai istri yang baik ia masih ingat bagaimana suami tampannya yang menunggu di rumah. Mengingatnya saja sudah membuatnya tersenyum geli.

"Senyum berarti suka."

Netta kembali mendongak dan menghentikan senyumnya, memasang wajah datar seraya menatap ke arah laki-laki yang sepertinya tidak mempan dengan sikap acuhnya.

Netta mengangkat kedua bahunya seraya beranjak berdiri, jika laki-laki itu tak mau pergi udah sewajarnya dia yang pergi bukan?.

"Anak baru aja belagu."

Netta menghentikan langkahnya saat baru saja ia melangkah dan mendengar cibiran yang terdengar, jika saja ia tak harus memikirkan reputasi keluarga Christian maka bisa saja ia akan membantah habis-habisan siapapun yang mencibirnya.

"Baru kali ini gue di abaiin sama cewek."

Netta menggigit bibir bawahnya pelan saat mendengar suara dari arah belakang, tanpa ia menolehpun ia sudah tau siapa pemilik suara yang sejak tadi mengganggu kenyamannya.

"Gue rasa bukan cuma kali ini." sahut seseorang yang bersandar di pintu kelas dengan tangan yang terlipat di dada.

Semua orang yang masih ada di kelas menolehkan tatapannya ke arah pintu, di mana terlihat seorang gadis yang bersandar di pintu dengan kedua tangan yang terlipat.

"Lo lupa gue juga pernah nolak lo?." Tanyanya seraya berjalan masuk dan menghampiri Netta.

"Lo pernah jadi mantan gue kalau lo lupa." bantah lelaki yang Netta ketahui bernama Irham.

"Dan gue nolak lo pas lo minta balikan sama gue." sahut gadis itu lagi dengan kekehannya.

"Lo ikut campur bukan karna lo masih suka sama gue kan Lun?." Tanya Irham dengan seringaiannya.

Luna tertawa mendengarnya, membuat Netta menoleh bergantian ke arah adik suaminya dan laki-laki yang baru di kenalnya.

"Dia kakak gue kalau lo mau tau." jawab Luna seraya meraih jemari Netta untuk di genggamnya.

"Siapapun orangnya nggk akan percaya sama yang lo omongin, lo nggak bisa baca? nama awalan dia N dan bukan L seperti nama kakak-kakak lo" sinis Irham tak mau kalah.

"Keluarga gue emang sengaja nggak ngubah nama panggilan dia, karena bagaimanapun juga dia berhak pakai namanya sendiri." bantah Luna dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.

Netta menoleh ke arah sekitar yang terdengar ribut.

"Oh jadi anak pungut?."

"Anak pungut aja belagu ya."

"Nggak tau apa silsilah keluarganya Irham."

"Nanti kalau dia tau juga bakal nyerahin diri."

Netta menatap tajam satu persatu orang yang membicarakan tentang dirinya.

"Biar gue perjelas ya. Pertama, gue emang anak pungut. Kedua, gue emang nggak kenal sama keluarga Irham, tapi gue yakin gue nggak bakal suka sama dia. Dan yang ketiga, ini sikap gue, mau nggak tau diri, mau sombong, dan belagu itu terserah gue karena ini hidup gue, kalian jangan cuma nyinyir, emang di bayar berapa sih buat gunjingin orang kayak gitu? kalian fikir gue takut karna gue anak baru? sorry itu bukan gue." bantah Netta panjang lebar seraya menarik Luna keluar, meninggalkan semua orang yang melongo setelah mendengarnya, berbeda dengan Irham yang tersenyum tipis menikmati ekspresi yang Netta perlihatkan tadi.

"Dia lebih menarik dari pada yang gue bayangin." gumamnya pelan masih dengan menatap ke arah punggung dua gadis yang baru saja beru saja keluar kelas.

Tbc.....

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel