Bab 8 Cium
Bab 8 Cium
Leo meminggirkan mobilnya, di lihatnya istrinya yang langsung keluar dari mobil dan memuntahkan semua isi perutnya, diikuti oleh dirinya sendiri dan Luna yang juga ikut turun.
"Lun, tisu." kata Leo melambai-lambaikan tangannya ke arah Luna.
Lunapun bergegas membuka kembali pintu mobil dan mengambil tisu yang tersedia di dalamnya.
"Ini bang."
Leo mengambil beberapa tisu yang di bawa Luna, di peganginya rambut istrinya yang berjatuhan ke depan dengan sebelah tangannya, sebelah tangannya lagi mengulurkan tisu ke arah istrinya, dan memijit tengkuk istrinya pelan.
Luna memandang ke arah abangnyaa takjub, karena sungguh baru pertama ini ia lihat abangnya yang begitu perhatian dengan kaumnya, di tambah ketidak jijikan yang terlihat membuatnya semakin takjub, dirinya saja yang melihat ingin memuntahkan isi perutnya juga.
"Udah?." Tanya Leo saat istrinya menegakkan badannya seraya mengusap bibirnya.
Netta mengagguk lesu, tenaganya terasa terkuras bersama dengan keluarnya semua sarapan pagi yang ia makan tadi.
"Maaf." kata Netta menatap ke arah suaminya.
Dalam hati dirinya bersyukur bertemu dengan pria di depannya, pria yang kini menjadi suaminya.
"Aku ngerti, tapi kamu masih kuatkan? bentar lagi sampai." kata Leo seraya menunjuk ke arah sekolah yang memang terlihat dekat dari posisinya.
Berbeda dengan Luna yang mengerutkan keningnya, maksudnya apa dengan jawaban abangnya yang sudah mengerti?.
"Abang nikahin kak Netta karna dia udah hamil anak abang?." Tanya Luna spontan seraya melirik bergantian ke arah abangnya dan kakak iparnya.
"Jangan macem-macem deh Lun, udah ayo berangkat, nanti kalian telat." kata Leo memegang bahu istrinya dan menuntunnya untuk masuk ke mobil.
Leo kembali mengemudikan mobilnya dengan pelan, di tatapnya istrinya yang tersandar lemas dengan wajah pucatnya.
"Nanti pulangnya sama Lintar aja, biar nanti aku kasih tau dia." kata Leo menghentikan mobilnya di depan sekolah di mana adik adiknya menimba ilmu.
"Luna gimana?." Tanya Luna ikut nimbrung.
"Ntar biar supir mama yang jemput." jawab Leo.
"Oh ya Lun, pastiin kak Netta buat sarapan di kantin nanti ya, isi perutnya sudah kosong." kata Leo lagi yang langsung di jawabi anggukan oleh Luna.
"Meskipun kamu nggk terbiasa, tapi usahain buat tahan kalau naik mobil ya Ta, meskipun jaraknya dekat." kata Leo mengingatkan istrinya.
"Iya kak, maaf ya Netta nggak pernah naik mobil." katanya membuat Leo mengangguk.
"Luna bisa tunggu di luar? abang mau bicara sama kak Netta." kata Leo menoleh ke belakang dengan senyumnya.
Luna mendengus mengerti dengan maksud abangnya ini, berbeda dengan Netta yang gugup tak karuan saat melihat Luna turun dari mobil dan menutup pintunya, meninggalkan dirinya dan suaminya.
Di tatapnya suaminya yang juga menatapnya hangat, apa Netta pernah bilang kalau ia sudah jatuh cinta dengan perilaku laki-laki di depannya? di tambah senyum misterius yang terlihat membuat laki-laki itu terlihat lebih manis dan brengsek di waktu yang sama, brengsek karna melumpuhkan detak jantungnya hanya dengan senyum tipisnya.
"Ngeres nih pasti." ledek Leo saat melihat istrinya yang menatapnya penuh selidik.
"Huh.....appa?." Tanya Netta gelagapan sendiri.
"Udah-udah, sekolah yang bener, uang saku ada di dompet, dan dompetnya udah ada di dalam tas." kata Leo menunjuk tas istrinya.
"Mau itu habis atau enggak, setiap harinya uang saku kamu segitu, terserah kamu buat apa, untuk nafkah yang sesungguhnya nanti aku bikinin rekening baru dan transfer ke sana tiap aku dapat penghasilan dari kerja aku, faham." jelas Leo menatap istrinya yang terlihat bingung.
"Nanti habis pulang sekolah langsung makan siang, habis makan siang siap-siap buat belanja sama Luna, nggak perlu khawatir dengan biayanya karena udah aku kasih ke Luna semuanya, buat kendaraannya nanti aku fikirin lagi, sekarang kamu sekolah yang bener, buktiin sama aku dan yang lainnya kalau aku nggak salah buat nyekolahin kamu lagi, oke?." Jelas Leo diikuti pertanyaan persetujuan olehnya.
Netta tersenyum mendengarnya, ia baru tau jika suaminya bisa cerewet sepertinya, coba aja kalau dirinya sudah cukup dekat dengan Leo dan keluarga, pasti dia juga akan berbicara panjang lebar seperti yang di lakukan suaminya padanya, di tambah lagi ia tak akan segan-segan buat balas setiap perkataan sinis dari Liandro adik suaminya.
"Boleh peluk?." Tanyanya seraya memutar tubuhnya ke arah suaminya.
"Hah?." Tanya Leo spontan
Ia tak menyangka dengan tanggapan istrinya yang akan seperti itu, di tambah lagi dengan dirinya yang tiba-tiba bersikap bodoh seperti itu.
Netta terlalu bahagia dengan semua itu, dulu ia selalu kesepian saat neneknya kerja kecil-kecilan buat menghidupinya, sepinya bertambah kala neneknya terbaring sakit dan tak berdaya untuk sekedar mendengarkan setiap cerita panjangnya, dan sepinya kembali menjadi kala Tuhan lebih menyayangi neneknya, dan kali ini dengan baiknya tuhan mengirim suami yang sangat sangat membuatnya rakus untuk mendapatkan semua perhatian suaminya.
Leo tersenyum menarik istrinya ke pelukannya saat tersadar istrinya mendengus hendak turun dari mobilnya, di elusnya surai istrinya mesra dengan bibirnya yang mengecup puncak kepala istrinya berulang kali.
"Sekolah yang pinter, inget jangan ganjen udah punya suami di rumah yang lebih ganteng ok?." Kata Leo membuat Netta tertawa mendengarnya.
"Narsis dasar." desis Netta dengan senyum lebarnya, tangannya masih memeluk erat punggung suaminya.
Leo tersenyum, kebahagiaan yang selama ini mengitarinya terasa semakin lengkap karna adanya bidadari yang selama ini ia inginkan kini berada di pelukannya.
Tak berbeda dengan Netta yang juga bahagia tiada tara, ia merasa memiliki keluarga dan ayah yang selalu menyayanginya.
Netta melepaskan pelukannya, menatap manja ke arah suaminya dengan senyuman yang tak bisa ia sembunyikan dengan sempurna.
"Makasih y kak." katanya kembali memeluk singkat suaminya yang tersenyum mendengarnya.
Netta kembali menatap ke arah suaminya setelah melepaskan pelukannya.
"Jangan buat aku berubah fikiran buat nyeret kamu pulang dan tidur di ranjang ya Ta." ancam Leo dengan seringainya.
"Apaan sih kak, yaudah aku sekolah dulu ya." jawabnya dengan tersipu, wajahnya saja sudah memerah seperti tomat.
"Iya, belajar yang bener." balas Leo seraya menarik istrinya mendekat dan mencium kening istrinya dengan sayang.
Netta mengulurkan tangan kanannya ke arah Leo, udah menjadi rutinitas tetapnya dari dahulu bersama neneknya jika ingin pergi ke sekolah, ia tak pernah melupakan sekalipun berpamitan pada neneknya, dan kini posisi neneknya telah di ganti oleh Leo suaminya.
Leo tersenyum seraya mengulurkan tangannya, ia mengacak rambut istrinya pelan kala melihat istrinya mencium punggung tangannya, inilah perbedaan yang selalu ingin ia miliki.
"Aku pergi." kata Netta membalikkan badannya dan membuka pintu mobil.
Netta kembali menoleh sebelum benar-benar keluar, di dekatkannya tubuhnya ke arah suaminya yang terlihat bingung dengan kernyitan di dahinya.
"Ada yang ketinggalan?." tanya Leo bingung saat melihat istrinya tak kunjung turun malah semakin mendekat kearahnya.
"Ada." jawab Netta singkat.
"Cups"
Leo kehilangan kata-katanya saat benda kenyal mendarat mulus di salah satu pipinya, di peganginya pipinya dan menatap ke arah istrinya yang sudah bergegas turun dengan lambaian tangannya.
Leo tersenyum masih dengan memegangi pipinya, di lihatnya istrinya yang kini tengah berjalan melewati gerbang dan bercanda ria dengan adiknya.
"Gue ngerasa jadi anak abg lagi" gumam Leo pelan seraya menatap ke arah cermin, di tatapnya pantulan dirinya yang ada di cermin dengan mengelus pipinya yang tadi di cium oleh istrinya.
Tbc.
