Bab 10 Macam-macam Saudara Leo
Bab 10 Macam-macam Saudara Leo
"Kak maafin Luna, Luna nggak ada niatan buat bilang gitu, sampai kakak di katain anak pungut." kata Luna tak enak hati pada Netta.
"Bukan salah kamu Lun, mereka aja yang udah kebiasaan gitu." jawab Netta.
Luna menghela nafasnya lega, ia takut jika iparnya itu salah faham dengan kata-katanya tadi yang seolah memperjelas semuanya, padahal bukan itu niatnya.
"Lo pulang bareng gue?."
Netta mendongak, menatap ke arah laki-laki yang masih berseragam olah raga yang tengah memberi es jeruk untuknya dan untuk Luna.
"Kalau nggak keberatan." jawab Netta dengan nada yang sedikit tidak mengenakkan, mengingat amarahnya tadi yang masih belum reda sepenuhnya.
"Jangan telat, nanti abis nganter lo pulang gue ada latihan basket." kata laki-laki tersebut seraya beranjak pergi.
Netta menatap kepergian iparnya dengan tatapan bertanya.
"Kak Lintar emang suka to the point, tapi baik kok, nanti kalau kalian udah saling akrab pasti makin baik lagi." jelas Luna seraya meminum es jeruk yang tadi di belikan kakaknya.
"Kamu nggak jajan Lun?." Tanya Netta pada adik suaminya.
"Kenapa emang?." Tanya Luna seraya melihat ke arah iparnya.
"Sayang kalau uang jajan gue utuh." jelas Netta yang langsung di jawabi kekehan oleh Luna.
"Tapi kayaknya hari ini emang harus utuh deh kak, tadi pagi gue juga dapat ceperan dari bang Leo, dan gue dari tadi udah mikir mau nraktir kakak." jawab Luna seraya mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari sakunya.
"Kak Netta suka mie ayam atau bakso?." Tanya Luna.
Netta menoleh ke arah penjual kantin, melihat ke arah menu yang tertulis di sebuah papan.
"Nasi aja Lun." jawab Netta.
"Padahal nggak ada pilihan nasi yang aku ajuin."rajuk Luna.
"Makan mie terlalu sering itu nggak baik buat kesehatan, makan bakso juga, ntar kena kolesterol loh." jelas Netta pada Luna.
"Iya iya, nasi." kalah Luna seraya berjalan memesan makanan untuk iparnya dan dirinya sendiri.
*******
Leo tersenyum menatap ke arah ponselnya, di mana momen penting baginya dan Netta terekam jelas di sana. Foto-foto serta video yang sedari tadi ia lihat berulang-ulang saat lelah menghampirinya.
Tatapannya ia alihkan menatap ke arah dua orang yang duduk di sofa yang ada di ruangan kerjanya. Di mana kembarannya yang sibuk bercanda dengan putra ayahnya, melupakan tentang ajaran untuk memimpin perusahaan yang ia tempati sekarang.
Virza Ahsanil Livian, putra angkat dari ayahnya Bayu. Sudah setahun yang lalu Ahsan pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan kerjaannya di sana, dan kemarin malam laki-laki itu sampai di kediamannya, dan hari ini laki-laki itu berkunjung ke kantornya untuk sekedar menyapa dan mengucapkan selamat atas pernikahannya.
"Jadi kapan lo pergi?." Tanya Leo to the point, ia tak suka jika kedatangan sahabat sekaligus putra ayahnya yang mengganggu kegiatannya.
"Gue jadi penasaran gimana muka istri lo, melihat sikap lo yang kayak gitu." jawab Ahsan santai seraya menatap ke arah Leo.
"Tapi tenang, lo nggak perlu nunjukin mukanya, ntar malem gue bakal main sekalian bawain hadiah pernikahan dari gue." lanjut Ahsan seraya beranjak dari duduknya.
Ahsan berjalan ke arah pintu dengan tangan melambai-lambai seolah pamit jika dirinya akan undur diri.
"Leon, terusin apa yang abang suruh tadi." kata Leo pada kembarannya.
Leo kembali fokus pada layar ponselnya, dan berakhir dengan menghela nafasnya. Di letakkannya ponsel canggihnya di atas nakas, jemarinya kembali bergerak lincah dengan tatapan matanya yang terarah ke laptop yang ada di depannya, ia perlu menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini, jika ia ingin menghabiskan waktunya nanti bersama istri tercintanya.
*********
Netta berjalan keluar kelas dengan tas yang bertengger manis di punggungnya, jam pelajaran telah usai beberapa menit yang lalu, dan kini sudah waktunya untuk pulang dan istirahat.
Netta memejamkan matanya, mengingat baik bagaimana banyak gadis yang ada di kelasnya tidak menyukainya, ia tak ingin perduli tapi ia bisa apa?.
"Minggir gays, anak pungut mau lewat."
Netta menajamkan penglihatannya menatap tiga orang gadis yang tertawa setelah salah satunya mengucapkan kaliamat tersebut.
"Siapa yang kalian maksud?."
Netta kembali menutup bibirnya yang akan mengucapkan berbagai sumpah serapah jika saja ia tak mendengar suara yang sedikit familiar di kendang telinganya.
Netta tersenyum menatap ke arah laki-laki yang tengah bersandar di tembok depan kelasnya dengan tangan yang terlipat di dada, mata lelaki itu bergerak mengamati satu persatu gadis yang tadi mengejek istri abangnya.
"Kalian nggak perlu cari masalah sama dia kalau kalian masih ingin hidup dengan kemewahan yang kalian miliki." tegas laki-laki tersebut seraya menarik punggungnya, menjauhkan tubuhnya dari dinding dan berjalan ke arah di mana istri abangnya dan ketiga pembuli iparnya berdiri.
"Kak Lintar, maksud kita bukan gitu." bela salah seorang yang tadi mengatakan kalimat ejekan untuk Netta.
"Apa perlu gue laporin juga rekaman di mana lo ngebuang semua isi tas adek gue di lantai?menginjak-nginjak barang-barangnya yang berserakan?." Tanya Lintar seraya melirik ke arah istri abangnya.
Bagaimana gadis itu bisa bertahan dengan keterdiamannya dari pada membalas kejahatan mereka? dirinya saja yang melihat video yang di dapatkan dari salah seorang laki-laki yang masuk dalam club basketnya saja ingin marah dan memaki pelakunya.
"Selama kalian sekolah di sini, jangan pernah buat ngusik hidup adek gue, kalian tau ini bukan ancaman semata."
"Ayo Net." ajak Lintar pada iparnya,
Netta tersenyum mengikuti langkah Lintar di belakangnya, katakan saja dia jahat, tapi bukankah semua itu salah mereka? mereka yang dengan berani mengusik dirinya.
"Luna di mana kak?." Tanyanya saat kakinya sudah menginjakkan kaki di parkiran sekolah.
"Jaket gue buat nutupin paha lo, gue nggak mau ambil resiko di bunuh sama bang Leo karna nggak bisa lindungin lo luar dalem." jawab Lintar tidak sesuai dengan pertanyaan yang di ajukan.
Meskipun begitu, Netta tetap mengambil jaket tersebut, rok yang di pakainya memang sedikit minim dari umumnya, di tambah ia akan naik motor yang jok belakangnya tinggi, jadi dia memang butuh jaket milik iparnya itu.
Netta naik dengan hati-hati saat motor milik iparnya telah di bunyikan, di tutupinya pahanya dengan jaket yang di pegangnya.
"Bentar, rok gue nyangkut." kata Netta saat mendengar mesin motor iparnya yang hendak berjalan.
Netta berpegangan pada pundak Lintar yang membuat Lintar beberapa kali memarahinya, tapi ia bisa apa? berpengangan di pinggang laki-laki itu? bisa di katakan sudah tidak pantas untuk dirinya yang sudah berkeluarga. Yah meskipun rasanya ia sedang pacaran dari pada menikah.
*********
Netta berjalan masuk ke dalam rumah setelah 20 menit ia perjalanan pulang dengan Lintar, dan hampir 5 menit laki-laki itu memarahinya karena kesalahan yang sama.
Di langkahkannya kakinya memasuki pintu rumah yang terbuka lebar,memperlihatkan sosok laki-laki yang tak menyukainya. Lagi, ia hanya bisa menunduk kala laki-laki itu menatapnya tajam.
"Lo kalau jalan itu liat depan bukan malah nunduk, lo kira kalau lo jatuh kesandung nyungsep di sini gue nggak kena marah sama semua orang? lo tau nggk? deket sama lo kayak musibah buat gue." lirih seorang lelaki di depannya dengan nada marah yang terkesan sinis.
Netta mendongakkan kepalanya, menatap ke arah adik iparnya dengan hati dongkol dan perasaan marah, diam aja dia salah, apalagi gerak.
"Lo fikir gue juga mau ketemu sama mulut mercon kayak lo? gue juga ogah." lirih Netta dalam hati. Bisa habis dirinya kalau benar-benar bilang begitu.
"Kenapa? mau marah? mata lo hampir menggelinding di lantai kalau lo melotot kayak gitu." kata laki-laki di depannya lagi.
Netta benar-benar jengkel mendengarnya.
"Lian,."
Netta dan laki-laki yang tadi di panggil namanya menoleh ke sumber suara, di mana terlihat Raya yang menggelengkan kepalanya dengan kedua tangn yang melipat di dada.
"Lo lihat? gue yang nggak nyentuh lo aja kena amuk sama mama." kata laki-laki itu membuat Netta melotot tak percaya.
"Udah gue bilang, lo itu emang kayak musibah buat gue." lanjutnya membuat Netta menggertakkan giginya sendiri.
"Musibah pala lo peang, lo dari tadi nyinyirin gue dan gue cuma diem aja, jadi udah sewajarnya mama belain gue." umpatnya dalam hati.
Apalah daya bagi seorang keluarga baru, membantah salah, diam pun semakin salah.
Tbc.
