Bab 5 Pernikahan
Bab 5 Pernikahan
Leo menoleh ke arah papanya yang memanggilnya dan berhasil menghentikan langkahnya.
"Bagaimana dengan wali gadis itu? kamu tidak minta izin sama orang tuanya?"
Netta yang masih ada di lantai dua menghentikan langkahnya kala mendengar pertanyaan yang di lontarkan calon mertuanya untuk calon suaminya.
Netta menatap ke bawah, melihat ke arah Leo yang masih diam.
"Netta sebatang kara pah, dan untuk wali Netta papa jangan khawatir, Leo akan telfon ayah Bayu, biar ayah aja yang jadi walinya Netta." jawab Leo kembali meyakinkan papanya
Netta menunduk kala melihat calon mertua dan calon suaminya mendongakkan kepalanya, menatap ke arah dirinya dan Luna berada, demi apapun Netta siap jika pernikahan ini di batalkan.
"Lun, dandani Netta yang cantik ya, buat kakak kamu ini pangling, ok?" Kata Mondy seraya tersenyum.
"Ayo kak."
Netta tersenyum mendengar kata kata calon mertuanya, ia langsung mengikuti ajakan Luna untuk kembali naik ke lantai paling atas.
*******
Netta menuruni tangga dengan perlahan,gaun yang di pakainya bukanlah gaun biasa, ini adalah gaun terindah yang pernah ia lihat.
Netta menghentikan langkahnya saat melihat ke bawah, di sana sudah terlihat banyak sekali orang yang berkumpul.
"Keluarga besar kita kak." jelas Luna membuat Netta menoleh.
"Kakak tenang aja, mereka baik kok." lanjut Luna membuat Netta sedikit bernafas lega.
"Panggil Netta aja, kita kan seumuran, rasanya aneh kalau ada embel-embel kak nya." kata Netta.
"Sip deh." jawab Luna semangat.
Sungguh, bagaimanapun juga Luna merasa bosan di kelilingi laki-laki, ia tak pernah benar-benar punya teman, semua temannya tak ada yang tulus, mereka mendekatinya karena marga yang ia sandang.
Berbeda dengan Netta, gadis itu sedari tadi terus menunduk dan merapalkan berbagai macam do'a yang ia bisa, ia takut mempermalukan keluarga ini.
"Woahhh"
Semuanya diam kala mendengar seruan Lintang, mereka mengikuti arah pandang Lintang yang mengarah ke arah tangga dasar, di mana tempat Netta dan Luna berdiri.
"Luna tau kalau Luna cantik, tapi bang Lintang tidak harus gitu juga kali." seru Luna dengan senyum lebarnya.
Luna tak bodoh, ia tau semua orang tengah memandang kagum ke arah calon istri abang pertamanya. Namun, untuk kali ini saja ia akan bersikap bodoh agar calon iparnya ini merasa nyaman.
******
Leo duduk berdampingan dengan Netta, di sekelilingnya sudah ada keluarga besar yang hadir menjadi saksi pernikahannya satu jam yang lalu.
Di tatapnya istri mungilnya dengan senyumnya, bagaimanapun juga ia sangat berterima kasih sama Tuhan yang sudah memberikan kesempatan untuk menggapai gadis yang kini sudah menjadi istrinya.
"Kamu tau Le? kakek hampir kena serangan jantung saat adikmu Leon memberi kakek kabar jika kamu mau menikah." kata Vian, kakek yang selama ini sangat menyayanginya.
Leo tersenyum, di raihnya Netta yang sedari tadi diam tak bersuara,istrinya itu seperti manekin pajangan dengan gaun pengantinnya yang masih melekat di tubuhnya.
"Leo juga tidak percaya kalau bocah ini setuju sama tawaran Leo." jawab Leo seraya mengacak rambut Netta gemas.
Netta masih diam, ia sungguh tak tau harus bagaimana, ia takut melakukan kesalahan.
"Kamu tidak mau nyapa kakek?"
Netta mendongak, menatap ke arah laki-laki tua yang duduk di samping mertuanya, apa laki-laki itu barusan berbicara padanya?
"Kakek membuat istriku takut." kata Leo sedikit bercanda.
"Oh ya,." kata Leo seolah mengingat sesuatu.
"Ada apa?" Tanya kakeknya lagi.
Leo menoleh ke arah mamanya, mamanya masih setia diam sedari tadi.
"Leo akan lepas jabatan Leo di kantor mama dan papa." jelas Leo membuat semuanya menghentikan kegiatannya.
"Mama tidak pernah setuju soal itu Le." tentang Raya kembali terkejut dengan keputusan putranya.
"Kenapa?" Kali ini Mondy, papanya yang bertanya dengan nada yang lebih santai.
"Leo sudah punya tanggung jawab pah, bagaimanapun juga Leo mau menghidupi keluarga Leo dengan keringat Leo sendiri." jawab Leo seraya menarik Netta kepelukannya.
Leo tersenyum, lagi-lagi istrinya hanya diam dan menurut begitu saja.
"Untuk itu, Leo sudah berpikir untuk menyerahkan posisi Leo di perusahaan papa untuk Leon." lanjut Leo seraya menatap kembarannya.
"Ohhh tidak bisa gitu dong." protes Leon seraya berdiri dari duduknya.
Leo menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan tingkah kembarannya yang masih ingin main-main.
"Abang tidak bisa seenaknya gitu." kata Leon lagi
"Kamu pikir pacaran tidak perlu modal? kamu mau traktir makan Stella dengan uang yang di kasih bonyok terus?" Tanya Leo menatap tak percaya ke arah kembarannya yang benar-benar kekanakan.
"Lagian kalau di pikir pikir Stella itu cerdas, tidak mungkin dia mau sama pengangguran kayak kamu." lanjut Leo lagi.
"Sial, kenapa abang bawa bawa Stella? " Kesal Leon tak bisa mengelak lagi.
Jika di pikir-pikir apa yang di katakan Abangnya itu memang benar.
"Terserah kamu dah."
"Dan perusahaan mama bakal di pegang oleh Liam." kata Leo melanjutkan pidatonya seraya menatap ke arah adiknya .
"Aku rasa juga udah saatnya." jawab Liam membuat Leo tersenyum, yah setidaknya ia tak perlu berdebat, seperti apa yang ia lakukan dengan kembarannya tadi.
"Satu lagi, Leo boleh minta tolong sama mama?" Tanya Leo pada mamanya.
Raya mendongak, menatap putranya sedikit menyelidik, perasaannya tiba-tiba tak enak saat mendengar putranya meminta bantuannya.
"Mama bisa bantu Leo masukin Netta ke sekolah Luna kan?"
"LE" bentak Raya tak percaya, bagaimana mungkin gadis yang sudah bersuami bisa sekolah?
"Dia udah punya suami Le, tidak seharusnya juga dia sekolah." lanjut Raya dengan emosi yang masih ia simpan di dada.
Dia setuju bukan sepenuhnya setuju, dia setuju karena dia juga tak punya pilihan buat tidak ngasih restu pada putra kesayangannya itu.
"Dia ngasih jampe-jampe ke abang apaan sih?sampai segitunya." cibir Liandro yang kini masih duduk di bangku perkuliahannya
"Kak." panggil Netta merasa tak enak dengan suasana yang ada.
"Leo tau mama tidak suka sama Netta, Leo minta tolong sama mama juga karna Leo ngehargain mama, tapi kalau mama tidak bisa tolong Leo, Leo juga bisa sendiri masukin Netta ke sana." jelas Leo lagi.
Raya menggelengkan kepalanya, dari mana sikap egois putranya di turunkan?
"Lagian apa salahnya Netta sekolah lagi? toh pernikahan kita juga tidak di ketahui Negara ataupun orang lain, kecuali salah satu dari kalian buka suara." lanjut Leo lagi.
"Tapi Le, bagaimana kalau Netta hamil?"
Leo menoleh,kali ini bukan mamanya yang bicara,tapi papanya.
"Kita bisa menundanya selama Netta sekolah." jawab Leo yakin-seyakinnya.
"Besok biar nenek yang wakilin mama kamu." kata Zia membuat Leo menoleh dan tersenyum pada neneknya.
Zia menggelengkan kepalanya, ia baru tau jika cucunya punya sifat yang seperti itu, mirip sekali dengan suaminya Vian, saat ingin memilikinya dulu.
"Udah-udah, Ray mama sama papa pulang dulu, jangan bikin ribut ok?" Kata Zia meninggalkan petuah.
"Iya ma, hati-hati" jawab Raya lesu.
"Selamat ya sayang." kata Zia memeluk cucu kesayangannya.
"Thanks nek." balas Leo masih di pelukan neneknya
Zia melirik ke arah Netta yang masih duduk dengan tatapan menunduk, persis dengan dirinya dulu.
"Jadi? kamu tidak mau bangun peluk nenek?" Tanya Zia membuat Netta mendongak dan memeluk nenek suaminya, yang kini mungkin bisa di katakan menjadi neneknya.
"Sering-sering mampir ya, nenek kesepian tidak ada orang." kata Zia melepaskan pelukannya.
"Iya nek, hati-hati" jawab Netta dengan senyum terbaiknya.
Tbc.
