Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Netta

Bab 6 Netta

Netta mengerjapkan matanya beberapa kali saat merasakan cahaya matahari mengenai retina matanya, di renggangkannya badannya yang terasa sedikit pegal. Hingga....

Netta bangun dari tidurnya dengan gerakan tergesa, di bukanya selimut yang menutupi tubuhnya.

"Lengkap." gumamnya pelan seraya melihat sekali lagi.

Leo tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan di matanya.

"Apanya yang lengkap?" Tanyanya seraya menghampiri ranjang dengan tubuh atasnya yang telanjang,.handuk putih yang melingkar di pinggangnya dan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengusa-ngusap rambut basahnya.

"Hah?annn anuu ituuuu,." kata Netta gelagapan sendiri dengan pertanyaan yang tiba-tiba ia dengar, di tambah lagi dengan sajian indah di depannya.

Eh? Aishhh kenapa dirinya jadi mesum begini setelah melihat tahu kotak yang tertata rapi di perut datar suaminya?

Suami?

Netta mendongak, menatap ke arah mata laki-laki yang juga menatapnya santai, seringaian yang terlihat membuat Netta bergidik ngeri, apaan coba?

"Jadi apa yang lengkap?" Tanya Leo lagi seraya kembali berjalan di sisi ranjang kosong dan duduk di sana.

"Ah itu." kata Netta dengan gerak refleksnya yang langsung mundur.

Leo menaikkan sebelah alisnya? apa dia baru saja di tolak? atau hanya fikirannya sendiri?

"Baju Netta masih lengkap." jawab Netta dengan gugup.

Leo tertawa mendengarnya, yang kayak gini mau jual diri?

Leo kembali tertawa sedikit kencang saat mengingatnya.

"Kenapa ketawa?" Tanya Netta selidik.

Leo menghentikan tawanya seraya berdiri dari duduknya.

"Ya masih lengkap lah, orang semalem aku bantu pakai lagi." jawab Leo seraya membalikkan badannya, menahan tawanya.

"Hah?" Tanya Netta bodoh.

"Aishhhh." gumamnya seraya memukul-mukul kepalanya, mencoba mengingat sesuatu yang mungkin saja ia ingat.

"Bercanda, kita tidak ngapa-ngapain semalam." jujur Leo karna tak tahan dengan tingkah bodoh istrinya, yang kayak gini dapat beasiswa?

"Beneran?" Tanya Netta lagi.

"Iya,kenapa? kamu mau sekarang? aku bisa cuti." tanya Leo seraya berjalan kembali mendekati istrinya dengan salah satu tangan yang hendak membuka handuk yang melilit di pinggangnya.

"Hah?" beonya lagi.

"Sumpah ya Net, kalau kamu tidak bangun, terus mandi. Aku telanjangin di sini juga ya, gemes aku " kesal Leo melihat tingkah istrinya yang dari tadi cuma hah huh hah huh aja.

"Aaa iya iya." kata Netta seraya bangkit dari tidurnya, di larikannya kakinya untuk keluar kamar, namun, baru membuka pintu ia kembali di hentikan dengan pertanyaan suaminya.

"Mau ke mana?" Tanya Leo melihat istrinya yang hendak membuka pintu.

"Keluar." jawab Netta menatap bergantian ke arah knop pintu dan Leo suaminya.

"Ngapain?" Tanya Leo lagi, baru sehari aja udah gemes banget pengen gigit.

"Mandi." jawab Netta lagi.

Nah kan, apa Leo bilang, Netta itu pinter-pinter bodoh. Bodoh atau polos sih?

"Mandi di kamar Netta,kamu tidak liat aku tadi keluar dari kamar mandi?" Tanya Leo geram seraya menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang terbuka lebar.

"Hem?" Tanya Netta lagi seraya mengalihkan tatapannya ke arah yang di tunjukkan oleh Leo suaminya.

"Hem sekali lagi aku cium ya." gemas Leo lagi

"Ah, iya." kata Netta seraya melepaskan pegangan pintu dan berlari memasuki kamar mandi, di tutupnya pintu dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara gaduh, seperti suara detak jantungnya yang kini juga ikut berpartisipasi.

Leo tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, gadisnya itu memang membuatnya terasa hidup.

Leo berjalan ke arah almari yang ada di kamarnya, di ambilnya salah satu kemeja yang akan ia kenakan untuk kerja.

Hari ini ia akan sibuk, sibuk mengajari kedua adiknya sebelum benar benar melepaskan posisinya, pernikahan bukan hambatan buat ia bekerja, toh istrinya juga akan berangkat sekolah hari ini.

Soal semalem? Ia benar-benar tak menyentuh istrinya layaknya suami istri, karena bagaimanapun juga ia sudah memilih untuk menyekolahkan istrinya, jadi ia berjanji setidaknya akan menahannya, 3 tahun bukanlah waktu yang lama, karna setelahnya ia bisa memiliki istrinya kapanpun ia mau. Leo kembali tersenyum mengingatnya.

Ceklek

Leo menoleh ke arah kamar mandi yang terbuka, memperlihatkan istrinya yang kini berdiri dengan handuk yang melilit di tubuh istrinya.

Leo menatap ke arah istrinya dari atas sampai bawah, meskipun bukan orang kaya setidaknya tubuh istrinya terlihat terawat.

Netta memegangi handuk yang melilit menutupi dadanya sampai sebatas paha, ia merasa tak nyaman saat suaminya menatap dirinya tanpa berkedip.

"Ke kenapa?" Tanya Netta gugup seraya menatap dirinya sendiri.

Leo tersadar, seringaiannya kembali terlihat, membuat Netta mundur dengan hati-hati.

"Kak." panggil Netta masih memegangi handuknya erat.

"Kenapa?" Tanya Leo dengan langkah yang terus berjalan mendekati istrinya.

"Anuuu, ituuu resletingnya belum di naikin." jawab Netta menunjuk ke arah resleting celana kerja yang Leo pakai.

Leo menundukkan pandangannya ke bawah, menatap ke arah resleting celananya yang memang lupa ia naikin, ah jadi malu kan.

"Sengaja" elaknya tanpa berniat menaikkan resletingnya, kepalang tanggung juga, kelanjur malu

"Kenapa?" Tanya Netta lagi.

"Biar kamu bisa liat." jawab Leo membuat wajah Netta malu mendengarnya.

"Apaan sih." jawab Netta berjalan hendak keluar kamar mandi.

Leo tersenyum mengikuti istrinya yang berjalan ke arah almari.

"Kamu punya baju emang?" Tanya Leo membuat Netta menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Ahhh, lupa." jawab Netta .

"Kalau aku suruh ngelepas kemejaku mau tidak?" Tanya Leo mendekat.

"Buat apaan?" Tanya Netta lagi.

"Kamu pakai lah." jawab Leo mengangkat pelan tubuh ramping istrinya agar tak membuat handuk yang di pakai istrinya terlepas.

Di dudukkannya Netta di meja rias yang ada di kamarnya, matanya sedikit melirik ke arah handuk Netta yang hampir terlepas.

Netta menatap ke arah suaminya yang juga menatapnya, apa ia pernah bilang jika suaminya sangat tampan?

Jemarinya yang sedari tadi memegangi handuknya kini bergerak melepas satu persatu kemaja yang sudah di kenakan suaminya, hingga gerakan jemarinya terhenti kala suaminya menghentikan gerakan tangannya.

"Aku tidak tahan."

Netta mendongak kala mendengar kata-kata suaminya yang berubah menjadi kamu aku.

"Terusin." kata Leo lagi yang langsung diikuti oleh Netta.

Jemarinya bergerak melepas kancing terakhir yang tersisa, melepas perlahan kemaja milik suaminya melewati kedua lengan kekar yang..., ah memikirkan saja sudah membuatnya merona

Netta menundukkan wajahnya kala kemeja suamianya sudah terlepas sempurnya, memperlihatkan tahu kotak-kotak dengan otot-otot yang membuatnya lapar dan ingin menggigit.

Leo meraih dagu istrinya, membuat istrinya mendongak menatapnya.

"Istri aku tidak boleh nunduk." kata Leo menatap ke arah istrinya.

Leo mendekatkan wajahnya ke arah istrinya, di miringkannya kepalanya untuk menggapai bibir tipis istrinya yang sedari tadi menggodanya dengan kata-kata yang menurutnya menggemaskan.

"Aku punya hak kan buat cium kamu?"

Netta mengangguk, bukankah ia benar? jika ia sudah menjadi istri maka suaminya berhak apapun tentang dirinya.

Netta memejamkan matanya kala bibir suaminya yang hampir saja bersentuhan dengan bibirnya, hingga,,,,,.

"MAMAAAAAA." jerit seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamar keduanya membuat Leo mengurungkan niatnya dan memilih memeluk istrinya.

"Luna ada apa?"

Leo memegangi kepalanya saat mendengar suara mamanya yang juga ikut masuk ke dalam kamarnya.

"LEO." panggil Raya membuat Leo menghembuskan nafasnya.

"Kamu kalau kamu macem-macem jangan lupa kunci pintu." teriak mamanya lagi.

Leo melirik ke arah istrinya yang kini menggerakkan kepanya di dada bidangnya, dengan handuk yang sudah lepas pengaitnya, terlihat di pantulan cermin di mana punggung mulus istrinya terekpos bebas.

"Ada apa ma?"

Sial, kembarannya yang berotak mesum ikut-ikutan bergabung, dan yang paling ia sesali kenapa handuk istrinya melorot? mau melepaskan pelukan dan membenarkan sudah pasti tak bisa atau dada indah istrinya yang terekpos.

"Mama bisa bawa Leon keluar? dan kamu Lun, ambilan salah satu seragam kamu buat kak Netta, jangan lupa dalamannya juga." pinta Leo membuat semuanya faham dan beranjak keluar menutup pintu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel