Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Izin

Bab 4 Izin

Netta duduk dengan gelisah, sekarang ia semakin menyesali tentang pemikirannya yang menyetujui tawaran konyol itu, karena yang ingin ia lakukan sekarang adalah kabur dan lolos dari keluarga ini.

"Maaf Tan Om, saya boleh pulang enggak?sepertinya saya berubah pikiran." kata Netta seraya bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri pasangan pasutri yang sudah berumur tapi masih terlihat sangat cantik dan tampan.

"Kamu nggak bakal bisa keluar setelah kamu berani masuk ke sini dan terima tawaran aku semalem."

Netta menelan ludahnya kasar saat mendengar suara tegas di belakangnya, ditolehkannya tubuhnya ke belakang, menatap laki-laki jangkung yang juga menatapnya tajam.

"Dan mulai hari ini, nama belakang kamu bakal ada embel-embelnya marga keluarga ini, Christian." lanjut laki-laki tersebut membuat semua orang yang mendengar bingung.

"Le,maksud kamu apa?." Tanya Raya pada putra pertamanya,putra kesayangannya.

"Mah pah, Leo minta izin buat nikahin Netta hari ini." kata Leo menatap ke arah kedua orang tuanya.

Raya memundurkan sedikit langkahnya saat mendengar penuturan putranya, bagaimana putranya bisa mengambil keputusan secepat itu?dan tanpa berdiskusi?.

Berbeda dengan Netta yang kini terlihat memejamkan matanya saat mendengar laki-laki tersebut benar benar meminta izin pada kedua orang tuanya, selain itu ia juga merasa terintimidasi dengan kala semua orang menatapnya dengan tatapan yang tak ia ketahui maksudnya.

"Sayang kamu lagi bercanda kan?." Tanya Raya tak percaya pada kata kata putranya .

Netta menolehkan tatapannya ke arah Raya yang berstatus sebagai orang tua laki-laki itu. Ia jadi sadar dirinya, seharusnya ia tak nekat datang kemari dan seharusnya dari awal ia juga menyadari perbedaan kasta yang melekat pada dirinya sendiri dan laki laki itu.

"Leo nggak bercanda mah, Leo serius dengan kata-kata Leo tadi." jawab Leo seraya berjalan ke arah Netta.

Netta mendongakkan kepalanya, menatap bergantian ke arah Leo dan tangan Leo yang ada di bahunya, laki-laki itu merangkulnya.

"Asyiikkkk, akhirnya Luna punya temen." teriak Luna bahagia seraya mendekati Netta dan abangnya

Leo tersenyum seraya mengacak rambut adik kesayangannya, setidaknya ada seseorang yang senang dengan keputusannya.

"Leo,kamu tau kan umur dia baru berapa?." Tanya Raya lagi.

Leo menoleh ke arah mamanya, baru kali ini mamanya terlihat sangat rempong dengan keinginannya, karna biasanya ia akan mendapatkan apa aja dengan mudah, apalagi dengan kakeknya yang ada di belakangnya, semua jadi sangat mudah.

"Umur dia baru 16 tahun mah, setara sama Luna." jawab Leo percaya dirinya.

"Ya Tuhan, kamu mau jadi pedofil yang menikahi gadis yang seharusnya pantas menjadi adik kamu?." Tanya Raya tak percaya dengan putranya

Sumpah demi apapun, dia baru 16 tahun, sedangkan putranya udah 29 tahun, kalian bisa menghitung selisihnya, betapa itu tak masuk akal.

"Lagian hukum juga belum memperbolehkan gadis seusianya menikah sayang." sahut Mondy, diikuti helaan nafas lega dari Raya, istrinya.

"Kalau itu yang bikin papa nolak, Leo udah pikirin jalan keluarnya, sementara ini Leo bisa nikahin Netta secara siri. Jadi yang terpenting sekarang itu restu dari kalian." kata Leo mencoba meyakinkan kedua orang tuanya.

Netta bergerak melepas rangkulan Leo di bahunya dengan pelan, sungguh ini situasi yang tidak pernah ia bayangkan sekalipun, ia merasa sedikit? tidak enak.

"Maaf kak."

Leo menoleh ke arah Netta yang bicara padanya.

"Sebaiknya saya menolak tawaran kakak, lagian benar apa yang di katakan Om dan Tante, umur saya masih terlalu dini untuk menikah." cicit Netta pelan tanpa berani menatap ke arah Leo yang menatapnya.

Leo menyeringai, terkekeh pelan mendengar kata kata Netta yang menurutnya sangat menyakiti dirinya. Bagaimana mungkin gadis itu mundur saat dirinya berusaha mati-matian untuk meyakinkan kedua orang tuanya, terlebih lagi mamanya.

Di putarnya tatapan matanya menatap ke arah Netta dan kedua orang tuanya bergantian.

"Leo tetep bakal nikahin dia, ada atau tanpa restu kalian." tekan Leo membuat kedua orang tuanya menatap tak percaya ke arah putranya, bahkan Netta juga ikut berpartisipasi untuk menoleh ke arah laki-laki di sampingnya dengan tatapan tak percaya.

"Dan kamu,." tekan Leo seraya menatap ke arah Netta yang terlihat meringis mendengar nada bicaranya.

"Jangan harap kamu bisa keluar dari rumah ini, karena aku nggak akan lepasin kamu lagi kali ini." lanjut Leo tajam, membuat Netta kembali mengutuk dirinya sendiri karna telah berani berurusan dengan laki-laki itu.

"Lagi? maksud abang apa?." Tanya Leon yang baru saja menyelesaikan hukumannya.

"Abang yakin kamu cukup pintar menafsirkannya tanpa Abang jelasin, bukankah begitu sayang?." Jawab Leo seraya melemparkan panggilan sayang ke arah Netta .

Netta menatap ngeri ke arah Leo yang tersenyum menakutkan ke arahnya, apalagi dengan panggilan Leo yang menurutnya tak wajar untuk di dengarnya, bisa di bilang di luar nalarnya.

"Tapi sayang, bagaimana dengan Stella?." Tanya Raya frustasi dengan keputusan putranya.

"Stella? Leo rasa dia nggak akan keberatan, apalagi ada Leon di sampingnya, ya nggak Le?." Tanya Leo seraya melirik ke arah kembarannya.

"Nah, kalau gini Leon setuju sama Abang, Leon kasih Restu dah meskipun dia udah bikin Leon sial pagi-pagi." jawab Leon semangat seraya melirik ke arah Netta yang hanya menunduk sedari tadi

Raya memijit kepalanya yang terasa pening karena ulah kedua putranya.

"Papa restuin kalian kalu itu bikin kamu bahagia." sahut Mondy menbuat Raya menoleh ke arahnya.

"Pah? Thank good pah, papa emang paling the best." kata Leo tak percaya seraya langsung menghampiri papanya dan memeluknya erat.

"Jadi dia yang sering kamu ceritain ke Bayu?." Tanya Mondy berbisik saat putranya memeluknya

Leo tersenyum mendengar pertanyaan papanya. Ah, ayahnya Bayu memang tak bisa menjaga rahasianya. Tapi meskipun begitu ia tetap mengangguk ke arah papanya dengan senyumnya.

"Jaga dia dengan baik kalau kamu tidak mau kehilangan dia." kata Mondy lagi yang langsung di jawabi anggukan oleh Leo.

Leo menoleh ke arah mamanya yang kini malah memalingkan wajahnya dengan kedua tangan yang terlipat di dada, menghindari tatapannya. Ia tersenyum, mengingat tingkah mamanya seperti anak kecil yang sedang merajuk.

"Mah" panggil Leo.

"Iya iya, mama restuin, lagian mama bisa apa kalau itu bikin kamu bahagia?." Jawab Raya sinis seraya menghentakkan kakinya pelan.

"Nah gini dong, baru deh mamanya Leo yang paling Leo sayang." kata Leo seraya melangkah pelan ke arah mamanya.

Leo memeluk mamanya dengan erat, ia tahu mamanya tak akan punya pilihan jika papanya sudah menyetujui, di tambah mamanya juga sayang banget sama dirinya.

"Kalau kayak gini cuma pas ada maunya aja." kata Raya seraya membalas pelukan putranya.

Leo membalikkan badannya, menatap ke arah Netta yang masih diam di tempatnya dengan kedua tangannya yang saling bertautan.

"Ok,." desah Leo seraya memutarkan bola matanya, menatap semua saudara serta mama papanya satu persatu.

"Le tolong bantu hubungin kakek Vian sama Nenek Zia." kata Leo menunjuk kembarannya.

"Sip." jawab Leon mengacungkan jempolnya.

"Pah tolong panggilin perangkat desa setempat yang biasa nikahin orang tanpa hukum." kata Leo menoleh ke arah papanya.

"Lintang tolong telfon nenek Farah dan kakek Romi, jangan lupa paman Roni juga." kata Leo pada adiknya Lintang.

"Dan kamu Lun,bisakan dandanin kaka ipar kamu?." Tanya Leo menatap ke arah adiknya dan calon istrinya bergantian.

"Sip deh kak." jawab Luna seraya menyeret Netta untuk menaiki tangga.

"Dan kalian, tolong bantu pinggirin sofa dan jangan lupa gelar tikarnya." kata Leo memberi tugas kepda adiknya yang lain.

"Mah, mama bisa kan pesenin gaun buat Netta di butik langganan mama?." Tanya Leo menatap ke arah mamanya

"Emang mama punya pilihan?." Tanya Raya seraya beranjak meninggalkan putranya untuk mengambil ponsel yang ada di kamar.

Leo tersenyum menatap kepergian mamanya, meskipun sedikit keras kepala tapi mamanya adalah wanita paling baik yang ia punya.

"Huft."

Leo menghela nafas saat merasa sudah selesai semua, ia berjalan hendak ke kamarnya, setidaknya ia juga perlu berganti baju untuk pernikahnnya bukan?.

"Le."

Panggil seseorang membuat Leo menghentikan langkahnya.

Tbc

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel