Bab 3 Datang
Bab 3 Datang
Netta mengutuk dirinya sendiri kerena telah menuruti keinginan egonya untuk menerima tawaran gila yang ia terima semalam. Entah percaya atau tidak, nyatanya kini dirinya sudah benar-benar berdiri di depan rumah,
bukan rumah, lebih pantas ia katakan sebuah gedung.
Dipandangnya gedung yang yang menjulang tinggi di depannya penuh dengan rasa takjub yang luar biasa.
"Satu, dua, tiga, empat, lima." bibirnya bergerak menghitung rumah berlantai lima di depannya.
"Gila, mimpi apa aku sampai dapat tawaran jadi istri tuh orang?." Gumamnya lagi tak percaya meskipun begitu kakinya berjalan memasuki halaman luas yang ada di depan rumah tersebut.
"Apa jangan-jangan dia cuma pengawal?." Tanyanya lagi dengan menghentikan langkahnya.
Netta melanjutkan langkahnya, menyusuri halaman luas yang masih terlihat di matanya ,matanya terus melihat ke arah sekeliling dengan tatapan yang tak bisa di artikan, dan kenapa rumah sebesar ini tak menempatkan satu orangpun security di depan gerbang? bahkan ia baru sadar jika gerbang yang ia lewati tadi terbuka lebar.
"Permisi!." seru Netta seraya menekan bel yang ada di samping pintu.
Netta sedikit memundurkan langkahnya kala pintu itu terbuka, menampilkan wanita paruh baya yang masih sangat cantik untuk seusianya. Netta jadi membayangkan bagaimana rupa laki-laki yang memberinya tawaran kemarin?.
"Siapa?." Tanya wanita paruh baya tersebut seraya memandang Netta dari atas ke bawah.
Netta menundukkan kepalanya, tangannya memilin-milin bajunya saat melihat wanita paruh baya tersebut memperhatikan penampilannya. Sekali lagi, ia ingin mengumpat karena tak sadar diri siapa dirinya.
"Empttt." Netta memukul kepalanya sendiri saat sadar ia melupakan pertanyaan wanita tersebut, dan lebih memilih berkutat dengan pikirannya sendiri.
Netta kembali memukul kepalanya sendiri kala tak menemukan kartu nama yang laki-laki itu berikan semalam, jemarinya masih terus menggeledah tas lusuhnya untuk menemukannya, namun hasilnya nihil, ia melupakannya.
"Maaf tante, saya lupa membawa kartu nama yang dia berikan semalem, dan bodohnya lagi saya juga melupakan nama panjangnya." ungkap Netta tak enak melihat wanita paruh baya tersebut terlihat bingung dengan tingkahnya.
"Tapi ini bener alamat rumah yang di berikan kok tan, seingat Netta akhirnya ada nama Christian." jelas Netta cepat, ia takut di tuduh berbohong karena tak membawa bukti apapun untuk kata-katanya.
"Dia? Christian?." Tanya wanita paruh baya tersebut yang langsung di jawabi anggukan antusias dari Netta.
"Jadi ada keperluan apa kamu kemari?." Tanya wanita paruh baya tersebut langsung pada intinya.
"Emttt, itu,."
Netta bingung, ia bingung harus menjawab apa, masak ia langsung bilang ingin menerima tawaran menjadi seorang istri?.
"Kamu kenal saya?." Tanya wanita paruh baya tersebut yang langsung membuat Netta mendongak menatap kearah wanita di depannya dan berakhir dengan gelengan pelan.
Sungguh, demi apapun ia tak berbohong soal itu, ia benar-benar tak mengenali siapa wanita paruh baya di depannya, apa dia seorang artis?.
Netta memasuki rumah tersebut saat wanita paruh baya tersebut menyuruhnya masuk, ia mengurungkan niatnya untuk melepas sepatunya kala lagi-lagi wanita paruh baya tersebut melarangnya.
Matanya meneliti setiap ruangan yang dapat ia lihat dengan jelas lewat retina matanya, langkahnya terus berjalan pelan, matanya masih meneliti setiap hal yang dapat membuatnya takjub luar biasa.
"El." teriakan yang terdengar dari bibir wanita paruh baya tersebut membuat Netta sadar dan segera berlari untuk mendekati wanita paruh baya tersebut
Netta mendongakkan kepalanya menatap ke arah tangga, di mana beberapa lelaki yang berlari menuruni tangga, dari tangga dua, tiga, empat, dan....
Pandangannya terhenti pada gadis yang menuruni tangga paling atas, gadis itu terlihat sangat cantik dengan langkah pelannya. Matanya kembali teralihkan saat menatap laki-laki yang tadi berlarian kini sudah berbaris rapi. Bibirnya kembali bergerak menghitung dalam diam, sepuluh laki-laki dengan wajah yang sempurna, begitu tampan tanpa cacat sedikitpun, diikuti seorang gadis cantik yang juga ikut berbaris di deretan terakhir.
"El siap." kata mereka berbarengan dan sangat kompak.
Netta kembali diam saat wanita paruh baya tersebut menatapnya dengan tegas, berbeda dengan tatapan ramah yang tadi sempat ia lihat.
"Nama saya Raya Marsya Christian, dan mereka anak-anak saya yang mungkin bisa kamu ingat." kata wanita paruh baya tersebut memperkenalkan diri, membuat tatapan Netta beralih menatap ke arah deretan manusia yang juga menatapnya penuh tanya.
"Kenalin nama kamu." kata Raya tegas.
"Nama saya Arnetta Yuanita Putri, maaf sudah merepotkan kalian." kata Netta memperkenalkan diri seraya menunduk tak enak.
"Kenalin nama kalian." pinta wanita paruh baya tersebut pada semua putra putrinya.
"Frank Leonil Christian." kata laki-laki tampan dengan wajah playboy nya.
"Aku Liam Christian." lanjut laki-laki yang terlihat datar tak berekspresi.
"Kamu bisa panggil aku Lintang." kata laki-laki yang terlihat ramah.
"Lutfi, samping aku kembaran aku namanya Lutfian." kata laki-laki yang berwajah sedikit mirip.
"Lucas, aku yakin bukan aku yang temuin kamu semalem." katanya datar.
"Liandro, masih cukup muda buat tawar menawar."
"Pras Luxelly Christian."
"Alexy Christian, jangan panggil aku Alex panggil Lexy biar awalan aku L."
"Lintar." kata seseorang terakhir yang mengnalkan diri.
"Aku Alana Luna Christian, paling cantik dari kakak-kakak tadi."
Netta tersenyum mendengarnya, hampir aja ia melupakan gadis itu.
Netta meringis pelan, nyatanya ia memang melupakan wajah dari laki-laki semalam. Meskipun begitu matanya bergerak meneliti setiap wajah demi wajah yang berbaris di depannya, ia menarik kedua sudut bibirnya kala gadis yang ia ketahui bernama Luna tengah tersenyum ke arahnya.
"Maaf tante, sepertinya dia." kata Netta seraya menunjuk ke arah salah satunya, ia berharap tak salah orang, mengingat nama yang ia ingat juga sama.
"Leon, kamu kenal dia?." Tanya Raya mengarah pada putranya dengan tatapan tajam.
"Leon nggk kenal dia mah." jawab Leon yakin seyakin-yakinnya.
"Kapan kamu bertemu putra saya?." Tanya Raya menatap ke arah Netta.
"Semalam tante." jawab Netta.
"Tadi malam kamu kemana?." Tanya Raya lagi pada putra keduanya.
"Leon keluar mah." jawab Leon.
"Jadi beneran kamu yang ketemu dia?." Tanya Raya sedikit memojokkan putranya.
"Bukan mah, semalem aja Leon di appartement Stella." jawab Leon tanpa sadar, membuat Raya membulatkan matanya tak percaya menatap ke arah putranya.
"LEON,sudah berapa kali mama bilang? Stella mama jodohin sama abang kamu bukan sama kamu" teriak Raya murka.
Bukannya apa? dari semenjak ia mengenalkan Stella untuk putra pertamanya, Leon selalu saja membuatnya naik pitam karna ulahnya yang slalu menggoda Stella, di tambah dengan kabar jika Leon berhasil membuat Stella jatuh cinta padanya dengan jurus playernya.
"Tapi mah Le....."
"Push up 100x se ka rang." murka Raya yang langsung Leon turuti perintah mamanya.
"Awas ya kamu, urusan kamu sama aku belum kelar." kata Leon memberi peringatan seraya menunjuk Netta sebelum melakukan push up.
Netta menundukkan pandangannya, apa ia salah orang? tapi setahunya bener kok.
"kamu terima tawaran aku?." Pertanyaan yang tiba-tiba terdengar membuat semuanya menoleh ke sumber suara, di sana, terlihat laki-laki dengan setelan kerjanya berjalan memasuki rumah dengan tas yang masih ia bawa di tangan kirinya.
"Leo." panggil Raya membuat Netta meringis karna kemiripan nama dan wajah yang ia ingat.
Netta semakin menunduk kala tatapannya ia alihkan ke arah Leon yang mendapatkan hukuman dari Raya, ah laki-laki itu pasti sangat membencinya.
"Leo ini weekend dan kenapa kamu terus saja berangkat kerja? kamu lupa kalau mama ingin menghabiskan waktu bareng kalian." tegur Raya pada putra kesayangannya sekaligus putra pertamanya.
"Justru itu Leo pulang cepet mah, belum ada jam 8 kan, dan Leo udah pulang." jawab Leo dengan mata yang masih menatap ke arah Netta.
"Tapi tadi kalau mama nggak nyuruh papa kamu jemput kamu pasti nggak akan pulang cepet." lanjut Raya seraya berjalan ke arah putranya dan mengambil alih tas kerjanya.
"Ia mah, tadi cuma ngecheck berkas buat perusahaan Leo." kata Leo seraya mengecup pipi mamanya agar mamanya berhenti menerocos.
"Jadi kamu yang samalem ketemu dia? dan kasih alamat?." Tanya Raya seraya kembali menatap ke arah Netta.
Leo mengangguk seraya berjalan mendekat ke arah Netta.
"Tuh kan mah bukan Leon." bantah Leon seraya bangkit dari posisinya.
"Awas ya kamu udah bikin aku sial pagi-pagi." ancam Leon semakin membuat Netta menunduk.
"Leon terusin hukuman kamu." lanjut Raya membuat Leon mendengus dan mau tak mau menuruti mamanya.
"Jadi Leo, tawaran apa yang kamu maksud?." Tanya Raya penasaran, menatap ke arah putranya yang kini berdiri di depan gadis itu.
"Kamu duduk dulu, nggak usah dengerin kata-kata Leon, Aku mau minum dulu, haus." kata Leo mengabaikan pertanyaan mamanya dan membawa Netta untuk duduk di sofa dekat mereka.
Mondy mendekati istrinya yang bingung dengan situasi yang ada, melihat putranya bersikap lembut selain dirinya dan Luna, bukankah itu sedikit aneh?.
"Papa yakin tuh anak bakal kasih kejutan ke kita." bisik Mondy membuat Raya menoleh ke arah suaminya.
Tbc
