Bab 2 Prolog
Netta berdiri di depan sebuah club ternama dengan pakaian miliknya yang menurutnya bagus, ia sedikit bingung untuk memilih masuk atau tidak, karna ia sendiri juga tak yakin dengan niatnya.
Yang ia lakukan sedari tadi hanya terus mondar-mandir di depan pintu club, sesekali memandang ke dalam dan melihat beberapa orang yang masuk dengan seorang wanita yang berpakaian minim, dan laki-laki dengan pakaian kemeja yang di balut dengan jas hitamnya, tak jarang ada juga yang memakai pakaian santainya.
**********
Berbeda dengan Leo, laki-laki itu kini tengah duduk di bar dan berbincang dengan seorang pria paruh baya seumuran dengan papanya. Meskipun begitu, ia tak memungkiri ketampanan laki-laki di depannya masih terpancar di wajahnya.
Bayu, sahabat karib papanya sekaligus orang yang sudah ia anggap sebagai ayahnya semenjak ia kecil.
"Kalau gitu Leo pulang dulu deh yah, nanti mama marah marah kalau Leo pulangnya kemalaman." kata Leo sedikit keras dan di jawabi anggukan oleh Bayu.
"Ayah anter sampai depan." kata Bayu yang ikut bangkit dan berjalan bersisian dengan putra sahabatnya.
Leo menghentikan langkahnya di depan pintu club seraya memandangi gadis yang cukup tak asing di penglihatannya, hingga tatapannya bertemu dengan mata coklat milik gadis itu, gadis yang sebrnarnya sudah ia incar selama 2 tahun ini.
Tapi pertanyaannya?, untuk apa gadis itu ada di sini? di depan club milik ayahnya?.
"Ada apa?" Tanya Bayu menyadarkan Leo dari lamunannya.
Leo melirik ayahnya sebentar, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah gadis yang masih mondar-mandir di depan pintu club.
"Dia?" Tanya Ayahnya membuat Leo menoleh menatap ke arah ayahnya seraya mengangguk.
"Ayah di sini aja, Leo samperin tuh anak." kata Leo yang langsung di jawabi anggukan oleh Bayu.
Leo melangkah untuk mendekati gadis yang sudah ia incar sejak 2 tahun terakhir, ia penasaran apa yang ingin gadis itu lakukan di tempat seperti ini.
Netta yang sedari tadi berdiri tak nyaman melihat ke bawah langsung mendongak kala sebuah sepatu mahal dapat ia lihat dengan kedua matanya, ia mendongakkan wajahnya dan menatap ke arah laki-laki jangkung yang kini tengah berdiri di depannya dengan tatapan dingin dan ekspresi datar.
"Kamu nggak perlu ke sini kalau cuma mau jual diri." kata Leo dengan nada tak sukanya.
Leo berucap pada seorang gadis yang sedari tadi mondar-mandir di depan club milik Bayu, sahabat papanya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.
Gadis itu mendongak menatap ke arah Leo. Dalam hati Netta bertanya-tanya bagaimana laki-laki di depannya bisa tahu maksud kedatangannya. "Bagaimana laki laki itu bisa tau kalau ia mau jual diri? apa tingkahnya begitu kentara?."
"Umur kamu baru berapa sih? udah ada niatan buat jual diri?." tanya Leo lagi saat tak kunjung mendapat jawaban dari gadis yang ada di depannya.
Gadis itu melotot karna pertanyaan Leo yang menurutnya sangat frontal.
"Aku, aku nggak jual diri kok." elaknya.
"Pergi ke rumah gue, nggak perlu ke tempat kayak ginian" kata Leo lagi seraya mengambil kartu namanya dari dompet miliknya, mengulurkan kartu namanya serta alamat rumahnya.
Dengan sedikit ragu Netta meraih kartu tersebut dan menerimanya dengan senang hati, di bacanya dengan seksama nama laki laki tersebut yang tertera di dalam kartu nama.
"Kerumah kamu ngapain?." Tanya Netta sedikit gugup, jujur ia sedikit bingung dengan tawaran laki-laki itu yang menyuruhnya untuk datang ke rumahnya.
"Dari pada kamu jual diri di sini, mending kamu jadi istri gue." jawab Leo seraya melipat kedua tangannya di dada bidangnya, memandangi gadis di depannya yang melotot tak percaya dengan kata-katanya.
"Udah sana pulang, aku tunggu besok di rumah. Kalau kamu dateng berarti kamu setuju buat jadi istri gue." usir Leo pada gadis yang masih terlihat tak percaya dengan kata-katanya.
Netta membalikkan badannya seraya membaca kembali kartu nama yang ada di tangannya, sepertinya ia mengenal nama tersebut, tapi di mana?.
"Buat ongkos ke rumah aku besok, kalau kamu nggk dateng buat jajan aja."
Netta memundurkan langkahnya kala mendengar suara laki-laki itu sudah ada di depannya, ia mendongak dan menatap ke depan.
Benar, laki-laki itu sudah berada di depannya tanpa ia sadari. Di tatapnya laki-laki itu yang mengulurkan beberapa lembar uang seratus ribuan untuknya.
"Nggak usah, Netta masih punya uang." tolak gadis itu pelan.
Leo berdecak melihat gadis ini menolaknya, ia tau gadis itu tak akan pernah menerima uang secara cuma-cuma, ia cukup tau tentang gadis itu.
"Pamali nolak pemberian orang, udah kamu pulang sana." kata Leo seraya meraih tangan Netta dan menaruh uang tersebut di telapak tangan Netta.
"Makasih kak." kata Netta menunduk pasrah.
Leo terkekeh mendengar panggilan dari gadis di depannya, membuat Netta mendongak menatap ke arah Leo dengan tatapan bingung, kenapa laki laki itu tertawa?, batinnya terus bertanya.
"Udah-udah, kamu pulang sana udah malem." kata Leo seraya berjalan ke arah club dengan kekehannya.
Leo berjalan menghampiri ayahnya yang mengernyitkan dahinya karna melihatnya terkekeh sedari tadi.
"Manis kan yah" kata Leo terkekeh sebentar seraya menoleh bergantian ke arah Bayu dan Netta bergantian.
"Kamu kalau lagi jatuh cinta nakutin Le, ketawa-ketawa sendiri kayak orang gila." kata Bayu seraya menggoda putra sahabatnya.
"Abis ini ayah harus ajarin Leo biar bisa bikin wanita suka sama Leo ya!." pinta Leo pada Bayu.
"Kamu tinggal senyum ngelihatin gigi aja mereka udah klepek-klepek sama kamu Le, nggk perlu pakai acara rayu-rayuan segala, bisa-bisa pada langsung hamil mereka dengernya." jawab Bayu dengan candaannya.
"Ayah pasti juga tau bukan mereka yang Leo inginkan." kata Leo menatap Bayu dengan tatapan dalam.
"Lagian Leo juga yakin ayah tau gimana sifat gadis itu tadi." kata Leo lagi.
"Iya iya, lagian siapa lagi kalau bukan ayah yang bantuin kamu ." kesal Bayu yang langsung mendapat senyuman dari putra sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.
"Yaudah kalau gitu Leo pamit ya yah, mama udah telpon mulu." kata Leo seraya menunjukkan ponselnya yang memperlihatkan nama mamanya yang tertera di layarnya.
"Iya, hati-hati di jalan, jangan ngebut." kata Bayu menepuk pelan bahu putranya.
"Btw, tadi namanya siapa?." Tanya Bayu menghentikan langkah Leo.
"Arnetta Yuanita Putri." jawab Leo dengan senyumnya, ia paling suka jika menyebut nama tersebut untuk ia kenalkan pada banyak orang nanti.
Leo berjalan kembali ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya, dan melajukannya dengan kecepatan rata rata. Besok hari libur, jika gadis itu menyetujui tawarannya berarti ia dengan mudah mengenalkannya ke semua keluarganya, karena bagaimanapun juga mamanya slalu meminta waktu di akhir pekan untuk berkumpul bersama di rumah, nggak ada yang namanya kerja ataupun kencan, karna mereka akan berkumpul di rumah dengan sesekali membicarakan hal-hal yang tidak penting, seperti perjodohan, prestasi, dan sebagainya.
Namun, bukan Leo kesayangan mamanya kalau dia nggak berontak, sesekali ia tak menuruti keinginan mamanya itu, kadang ia akan pergi pagi untuk mengurus beberapa berkas di kantor, meskipun begitu ia tetap pulang secepatnya atau paling lambat siang ia baru pulang, setidaknya ia tak ingin membuat mamanya sedih karna dirinya yang selalu gila kerja dan tak meluangkan waktu untuk keluarganya.
Tbc
