Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 Leo Lian

Bab 11 Leo Lian

Raya menatap menantu dan putranya dengan menggelengkan kepala, tak habis fikir dengan tingkah putranya pada menantunya.

"Lian, kamu udah nggak ada kelas sore kan?." Tanya Raya pada putranya.

Lian menoleh, menatap ke arah mamanya yang melontarkan pertanyaan padanya. Baru kali ini mamanya terlihat hendak mengandalkannya dari pada yang lain.

"Iya, tapi,,,,,,,."

"Kebetulan sekali, kamu anter Netta buat belanja keperluan sehari hari ya, bonceng pakai motor." seru Raya memotong kata-kata Lian.

Lian melotot tak percaya mendengar usulan mamanya. Tak berbeda dengan Netta yang juga melotot tak percaya, bagaimana mungkin mertuanya menyuruh musuhnya untuk mengantarkannya, bisa-bisa ia di tinggal di tempat dari pada di temani berbelanja.

"Nggak usah ma." tolak Netta menatap sengit ke arah Lian yang juga menatapnya.

"Masalahnya mama nggak ngasih pilihan buat kalian berdua, gimana donk?." Tanya Raya tak menerima bantahan apapun.

"Tapi Lian ada janji sama...."

"Kan bisa di tunda besok." sela Raya santai.

"Netta kamu pergi ke kamar Luna, ganti dulu seragam kamu sama baju punya Luna, Lian kamu siapin sepeda motor kamu, sekalian bilang sama mang ujang buat manasin mobil." titah Raya yang mendapat jawaban helaan nafas dari keduanya.

Keduanya berjalan menuju tempat masing-masing dengan ekspresi yang tidak bisa di katakan baik-baik saja.

"Masuk."

Netta pov.

Aku memasuki kamar Luna saat Luna menyuruhku untuk masuk ke kamarnya, ku rebahkan tubuhku di sampingnya.

Aku ceritakan semua kekesalanku yang hanya di tanggapi oleh tawanya, jika saja tadi bukan aku yang di nyinyirin, udah pasti aku tertawa mendengarnya, dan semuanya kembali ke sayangnya.

Luna menyeretku bangkit untuk menuju almarinya, hampir semua bajunya di keluarkan hanya untuk mencocokkan mana yang pantas ku pakai, dan setelah menemukannya ia menyuruhku ganti di kamar mandi, dia mendandaniku sedemikian rupa, setelah selesai aku menunggunya berganti dan berdandan.

*******^~^******

Dan di sinilah kami, di dalam sebuah mall bertingkat yang terkenal, Luna menyeretku menuju di mana baju-baju bermerk tersedia, diikuti oleh kak Lian yang mengekor di belakang kami.

Aku menunggu Luna yang katanya sedang berkeliling memilih milih baju untukku, hingga dia kembali dengan beberapa baju yang ada di tangannya.

"Kak Netta coba di sana ya." kata Luna seraya mendorongku untuk memasuki ruang ganti

Ku coba baju pertama yang menurutku lumayan, dan keluar untuk meminta pendapat pada Luna.

"Lo mau nakutin gue?."

Aku melotot tak percaya saat melihat kak Lian malah berteriak spontan saat menatapku, apaan coba.

"Apa sih kak, bagus gitu" nilai Luna

"Enggak-enggak, muka lo kayak hantu kalau pakai gituan."

Aku mendengus tak suka ke arah kak Lian, ku balikkan tubuhku memasuki ruang ganti, mengganti baju yang tadi dengan pilihan baju yang lain.

"Lo mau malak gue? " Pekiknya lagi saat aku keluar dengan jins sobek-sobek di beberapa bagian dan atasan yang juga ada sobekan di beberapa tempat.

Aku kembali melotot ke arahnya, terserah jika ia mengatakan mataku hampir menggelinding, tapi dia benar-benar cerewet.

"Iya kak, nggak cocok" seru Luna.

Aku menghela nafas pasrah dan kembali memasuki ruang ganti.

"Lo mau ngapain sih? ganti."

Lagi.

"Ganti."

Lagi.

Aku mendengus kesal, sekali lagi dia nyuruh ganti aku ancurin tuh muka ngeselinnya.

"Ganti."

"Apaan sih kak, seksi gitu, cantik juga"

Hampir saja aku meloncat mencakar wajahnya jika saja Luna tak memberikan respon untukku.

"Aku ambil ini, lupain si muka mercon." kesalku melirik sinis ke arah kak Lian, toh nggak ada mama disini.

Dia terlihat melotot tak percaya ke arahku, tapi apa peduliku? dia juga memakiku seenaknya.

Aku keluar dari ruang ganti dengan berbagai baju yang ku pilih.

"Tumben banget bang Lian peduli sama penampilan orang."

Aku melirik Luna yang jalan dan berbicara pada kak Lian.

"Karna muka dia jelek, kalau bajunya nggak bener mukanya makin jelek, gue nggak mau gara-gara dia keluarga kita yang terkenal gans cans tercoret karena muka dia."

Aku menggertakkan gigiku kesal, sumpah ni orang mulutnya emang bener-bener minta di sambelin, awas aja ya.

"Itu bukannya bang Leo ya?." Kata Luna sedikit tak yakin menunjuk ke arah laki-laki yang berjalan dengan tangan di apit seorang wanita.

Netta memutar bola matanya, mengikuti arah tunjuk Luna.

"Iya kan bang?." Tanya Luna lagi.

Lian menoleh ke arah Netta, di mana istri abangnya yang memperhatikan abangnya dan seorang wanita dengan tatapan yang ia hapal.

"Kita samperin." kata Lian seraya memegang lengan Netta dan Luna di kanan-kiri, membuatnya berada di tengah-tengah.

Lian menghentikan langkahnya kala merasakan Netta menahan lengannya, di tolehkannya wajahnya menatap ke arah iparnya dengan tatapan bertanya.

"Udah sore, mending lanjut belanja aja, ntar keburu malem" kata Netta menatap ke arah Luna dan Lian bergantian.

Lian menatap punggung iparnya yang melangkah mendekati deretan sepatu, diikuti oleh Luna yang ikut heboh memilih-milih.

Sekali lagi Lian menoleh ke arah di mana abangnya berada.

"Jangan salahin Lian, jika suatu saat Lian mengambil dia dari abang." lirihnya dalam hati seraya menatap ke arah abangnya.

Di balikkannya tubuhnya untuk mengikuti di mana Luna dan iparnya berada.

*******

Netta tersenyum lega melihat ke arah paper bag yang ia bawa sebagian, akhirnya acara belanjanya selesai.

"Kita pulang." kata Lian

Netta menatap ke arah Lian dengan tatapan bertanya, rasanya aneh saat tak mendengar Lian memakinya seperti biasa.

"Bukan waktunya jatuh cinta sama gue, muka lo kurang cantik buat gue." sentak Lian membuat Netta menatapnya sinis, lagian siapa juga yang jatuh cinta.

Lian tersenyum tipis melihat istri abangnya yang berlalu begitu saja dari hadapannya, rasanya hidupnya tak lagi membosankan, ia punya Netta yang bisa ia gunakan bahan ejekan.

"Gue bareng sama Luna aja kak, ntar kalau mabuk baru naik motor, lagian rasa-rasanya gue juga alergi di ledakin mercon tiap menit." kata Netta seraya menoleh ke arah Lian dan masuk mobil begitu saja setelah menyelesaikan kata-katanya.

Lian mengumpat dalam hati, ia tak tau jika istri abangnya juga bisa berbicara melawan dirinya.

******

Netta membereskan barang belanjaannya, ia menoleh kala mendengar pintu kamarnya terbuka, menampilkan suaminya yang terlihat lelah dengan tas kerja yang ada di tangannya.

Netta melirik ke arah jam dinding dan menghampiri suaminya.

"Udah pulang kak?." Tanyanya seraya mengambil alih tas Leo.

"Iya." jawab Leo seraya melepas jas yang ia kenakan.

Rasa lelahnya tiba-tiba saja menguap kala melihat istrinya, di hampirinya istrinya yang berjalan untuk menyimpan tas kerjanya.

Leo tersenyum kala merasakan gerakan terkejut istrinya kala ia memeluk istrinya dari belakang.

"Kak." lirih Netta memegang tangan suaminya yang ada di perutnya.

"Bentar sayang." kata Leo dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.

Netta diam, ia jadi mengingat apa yang ia lihat di mall tadi. Apa suaminya juga bersikap seperti ini saat bersama wanita lain? .

Apa karena itu suaminya memilih dirinya?.

Seorang gadis desa yang tak akan berani berbiat apapun sekalipun ia merasa marah dan kesal?.

"Ta."

Netta menyadarkan dirinya dari pertanyaan pertanyaan konyol yang berputar di kepalanya, di tatapanya suaminya yang entah sudah sejak kapan ada di depannya dan menatapnya tajam.

"Ada apa?."

"Hah." Netta mengerjapkan matanya kala pertanyaan terlontar dari bibir suaminya.

"Ah itu, kak Leo nggak mau mandi dulu?." Tanyanya,

Leo tersenyum seraya mengacak rambut istrinya.

"Aku kira ada apa, kalau ada apa apa bilang aja, hem?." Kata Leo menatap dalam ke arah istrinya.

Leo kembali tersenyum melihat istrinya mengangguk.

"Yaudah aku mandi dulu ya." pamit Leo seraya mengacak kembali rambut istrinya.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel