Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab ke-12 Keluarga

*-* Saat rasa membuatku bertanya tanpa adanya jawaban, rasa ragulah yang paling aku khawatirkan. *-*

Netta menatap punggung suaminya yang dengan perlahan hilang di dalam kamar mandi yang tertutup. Kejadian sore tadi kembali berputar di ingatannya, di mana suaminya yang diam saja di apit oleh wanita cantik dan sexy.

"Huftttt."

Netta menghela nafasnya kasar, ia akan gila jika terus memikirkannya.

Di langkahkannya kakinya menuju meja di mana ia menaruh tas sekolah, lebih baik ia belajar daripada terus memikirkan hal-hal yang membuatnya merasakan nyeri di hatinya. Tak bisa di pungkiri jika ia sudah terjatuh dalam pesona suaminya dalam waktu yang di katakan singkat.

^^^^^^^^

Netta menolehkan wajahnya kala mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan suaminya yang keluar dengan celana pendek yang dipadukan dengan kaos putih polos.

"Jam berapa Ta?." Tanya Leo seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya.

"Setengah tujuh kurang delapan menit kak." jawab Netta setelah melirik ke arah jam dinding yang ada di kamarnya.

"Kak Leo mau keluar?."

Memberanikan diri, Netta bertanya kepada suaminya tanpa berani menoleh, ia lebih memilih fokus pada buku pelajarannya, ia takut pertanyaan pertanyaan yang berputar di otaknya terlihat jelas di raut wajahnya.

Leo menatap istrinya, dilangkahkannya kakinya untuk menghampiri istrinya. Ia sedikit merasakan sesuatu yang berbeda tentang sikap istrinya.

"Kamu nggak nyaman tinggal di sini?." Tanya Leo yang kini sudah duduk di ranjang, di mana istrinya yang tengah berbaring tengkurap dengan beberapa buku yang berserakan di ranjang.

"Rasa ini yang membuatku tak nyaman." ingin sekali Netta meneriakkan itu untuk suaminya, tapi sekali lagi dirinya bungkam, menatap dalam ke arah iris mata suaminya.

"Apa kakak akan pergi menemui wanita tadi?."

"Kencan mungkin?."

Netta menjatuhkan kepalanya ke atas buku, pertanyaan-pertanyaan lancang yang ia simpan di otaknya benar-benar membuatnya ragu, ragu apakah ia akan melanjutkan pernikahan tawaran ini atau menghentikannya sebelum rasanya menghancurkan dirinya semakin jauh. Dan sekali lagi pertanyaan itu tak berhasil ia tanyakan.

"Biar aku yang tegur mama ataupun yang lain kalau kamu nggk nyaman, hem?."

Leo berusaha membujuk istrinya yang ia sendiri tak tau apa yang terjadi dengan istrinya.

"Mama baik kak, yang lain juga, Netta cuma mikirin ini catatannya kenapa banyak banget." bohongnya seraya memperlihatkan catatan di bukunya pada suaminya.

"Aku kira ada apa, kakak keluar dulu ya, kayaknya Ahsan udah dateng." kata Leo saat mendengar suara gaduh sahabatnya.

"Siapa?." Tanya Netta mendongakkan wajahnya.

"Anak pertamanya ayah Bayu, dia baru pulang dari Amerika, mangkanya waktu itu ayah Bayu ke sini cuma sama Azna." jawab Leo melemparkan senyuman.

"Oh"

"Kamu lanjutin aja belajarnya, nanti kalau udah siap makan malamnya aku panggil" kata Leo yang langsung di jawabi anggukan oleh Netta

Leo tersenyum, di acaknya rambut istrinya sebelum keluar kamar.

*********

Netta sedikit berlari saat mendengar teriakan suaminya yang memanggil namanya, baru saja 5 menit suaminya keluar, dan sekarang udah memanggil namanya.

"Tangkap Ta."

Dengan refleks Netta mendongak, menatap ke arah mertuanya yang sudah melemparkan sesuatu ke arahnya.

"Aaaaa,." jeritnya sedikit gaduh seraya memilih jongkok dengan menutup telinganya.

Semuanya tertawa melihat tingkah Netta yang malah menghindar. Meskipun begitu tetap saja benda tersebut mendarat mulus di tangkapan Leo.

"Maaf pah, Netta nggak biasa." jawabnya sedih seraya bangkit berdiri.

"Pantesan nilai olah raga kamu paling rendah." cibir Mondy pada menantunya, diikuti dengan senyumnya yang membuat pria paruh baya tersebut semakin terlihat tampan.

Netta menunduk mendengar kata-kata Mondy, mertuanya.

"Itu hadiah dari mama kamu, tadi sehabis kamu pulang sekolah dia mau ngasih ke kamu, tapi kata Leo kamu nggak tahan mabuk kalau naik mobil, jadi mama kamu kasih ke papa." jelas Mondy membuat Netta menoleh ke arah suaminya yang memperlihatkan kunci mobil untuknya.

"Mobilnya ada di garasi, nggak mungkin kan papa balikin ke dealernya?." Tanya Mondy dengan kekehannya.

"Tapi seharusnya nggak semewah itu pah, papa tau hadiah itu nggak sebanding dengan Netta yang bukan apa-apa" kata Netta seraya menunduk, ia benar-benar tidak pernah membayangkan akan mendapat hadiah sebagus dan semewah itu.

"Itu hadiah dari mama, bukan papa, harusnya bilangnya sama mama dong." kata Mondy melirik istrinya yang sedari tadi diam.

"Ah itu,...."

seperti orang linglung, Netta mencoba membuka suaranya dengan gugup, hingga kalimat dari Raya membuatnya sedikit bernafas lega.

"Kebahagiaan putra mama itu nggak sebanding sama hadiah yang mama kasih ke kamu, apalagi kamu juga nggak bisa pakai hadiah dari mama." sela Raya menatap menantunya yang juga menatap ke arahnya.

"Makasih mah." ucap Netta yang langsung di jawabi anggukan beserta senyuman oleh Raya.

"Mama belinya atas nama Leo, soalnya kamu kan belum punya ktp kan? ntar kalau kamu udah punya ktp bisa langsung di balik nama." jelas Raya lagi.

"Nggak usah mah, di kasih aja udah makasih banget." jawab Netta yang mendapat senyuman dari Raya.

"Yaudah ayo kita makan malam." ajak Raya seraya berjalan ke arah ruang makan, di mana semua adik adik Leo sudah duduk berjajar kecuali Luna.

"Wih, jadi ini istri lo?"

Netta mendongakkan wajahnya, di tatapnya laki-laki yang tiba-tiba bicara dengan menatap ke arahnya.

"Berisik lo." pakik Lian membuat laki-laki tadi tertawa.

Berbeda dengan Leo yang diam menanggapi keduanya, Leo lebih berinisiatif menarik kursi istrinya agar istrinya segera duduk tanpa memperhatikan laki-laki yang sialannya tak kalah tampan dengannya.

"Elah bro, lo gitu amat sama gue, nggak mau kenalin gitu? lo tau gue sempet-sempetin pulang cuma biar ketemu sama istri lo." kata laki laki itu menatap tak percaya ke arah Leo yang masih bungkam dengan seribu sikap acuhnya.

"Bukannya lo emang udah waktunya pulang ya San? kontrak kerja lo udah habis di sana, ya kali lo mau jadi parasit di negri orang, pake segala jadiin pernikahan abang gue alasan." kali ini Liam yang menyahuti, membuat laki-laki yang di panggil Dan tadi menggeram tertahan.

Semuanya tertawa mendengar kata-kata Liam, berbeda dengan Ahsan yang mencebikkan bibirnya mendengar pernyataan anak ketiga sahabat papanya, selain sombong dan dermawan, sikap Liam yang suka bener itu tak segan segan menyakiti ulu hatinya.

"Luna, sini makan dulu."

Semua orang menoleh ke arah tangga, di mana Luna yang berdiri membelakangi mereka, seolah ingin kembali naik ke atas tanpa memakan makan malamnya.

Netta tersenyum menatap iparnya yang membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekat.

Netta kembali menolehkan wajahnya ke arah Lintar yang berbicara kepada Luna untuk memberi tahu kedatangan Ahsan.

"Masak?."

Netta memicingkan matanya kala mendengar Luna yang menjawab dengan nada bertanya, setahunya Luna sudah memperhatikan laki-laki itu tadi, lalu kenapa?.

"Apa kabar?."

Fikirannya buyar saat mendengar sapaan tanya yang Ahsan lontarkan untuk adik suaminya.

"Kurang baik setelah liat muka kakak."

Hampir saja Netta ikut tertawa bersama yang lain, jika saja ia tak menyadari perubahan raut wajah Luna yang terlihat? Sedih?.

"Terima kasih untuk pujiannya sayang, kamu juga makin cantik setelah sekian lama."

Playboy, kata pertama yang Netta pikirkan saat mendengar jawaban yang Ahsan lontarkan untuk adik suaminya.

Netta tersenyum kala iparnya malah terlihat ingin muntah.

"Mereka ada hubungan?." Tanya Netta pelan seraya menatap ke arah suaminya

"Sejauh ini tidak ada yang spesial kecuali hubungan antar saudara." jawab Leo menghentikan suapannya dan menatap ke arah istrinya.

^*^*^*^*^*^*

"Mama sama papa mutusin buat berangkat malam ini, kalian nggk papa?."

Raya memulai pembicaraan setelah melihat putra putrinya menyelesaikan makan malamnya.

"Nggak jadi besok mah?."

Leo bertanya seraya memperhatikan mamanya.

"Kalau besok perjalannya buru-buru, kalau berangkat malam ini kan bisa nyantai." jelas Raya menatap putra putrinya.

"Mau Liam anter aja mah? Liam khawatir kalau papa nyetir sendiri." kata Liam setelah menghabiskan air putihnya.

"Acaranya mama mau sekalian ajak papa jalan-jalan sih, jadi kemungkinan mama sama papa ada di sana 3-4 hari" jelas Raya tersenyum melirik suaminya.

"Bikin adek buat kalian." Sahut Mondy yang langsung mendapat pukulan pelan dari Raya.

"Luna nggak mau ya mah, sumpah nggak lucu tau kalau mama hamil lagi."

Raya dan Mondy tertawa melihat putrinya yang terlihat sedikit mencak-mencak, tak terima dengan kata-katanya.

"Iya tuh, bener kata Luna, mama kalau udah pengen gendong cucu biar Stella aja yang kasih buat mama." kali ini Leon yang ikut menyahuti

"Itu mah mau lo aja biar cepet di nikahin." sela Leo menatap tak percaya ke arah kembarannya.

"Ah elah bang, sirik ae." kesal Leon.

"Enggak, mama cuma bercanda, mama udah tua jadi nggak pantes kalau buat hamil lagi." jelas Raya menggelengkan kepalanya.

"Ta, tadi Lian nggak ngapa-ngapain kamu kan?."

Raya menoleh menatap ke arah menantunya sayang, bagaimana pun juga itu sudah pilihan putranya.

Netta melirik ke arah Lian yang memegang gelasnya, sesekali menenggaknya perlahan.

"Dia baik kok mah, makasih ya kak Lian, udah anter Netta tadi." jawab Netta tersenyum, membuat Lian mendongak dan menatap tepat ke arah manik mata istri abangnya.

"Hem." jawab Lian kembali meminum airnya.

"Yaudah mama beresin pakaian dulu, Ahsan kamu jadi nginep sini?." Kata Raya melirik ke arah putra sahabat suaminya.

"Iya tan, udah lama banget nggak nginep, jadi kangen." kata Ahsan yang di jawabi senyuman oleh Raya.

"Yaudah, kalian main dulu sana biar Netta juga akrab sama yang lain, Netta jangan di kamarin aja Le." titah Raya pada putranya.

"Mama yakin nggak mau Liam anter?" Tanya Liam sekali lagi.

"Kamu fokus sama pelatihan aja, minggu depan pelantikan kan?." Tanya Raya yang langsung di jawabi anggukan oleh Liam.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel