7. secarik memory
Pagi ini Inda bangun lebih pagi dari biasanya karena memang ia sudah menjadwalkan keberangkatan nya siang ini entahlah rasanya ia ingin berlama lama menunda waktu tapi bunda nya selalu mengingatkan untuk menjadi orang yang profesional.
Jujur dalam hatinya yang paling dalam ia merasa negara itu sudah termasuk kedalam daftar blacklist nya, Inda pun juga tidak faham kenapa bisa merasa harus menjauhi negara itu, tapi apa boleh buat profesional seperti kata bunda selalu membuat kepala Inda pusing tujuh keliling jika perlu dalam hati nya yang paling dalam dia sudah mendoakan ingin ketinggalan pesawat, sepertinya saat ini fikirannya mulai konyol.
Tok tok tok
Kepala Inda tertoleh saat mendengar ketukan dari luar kamarnya ia merasakan kehadiran bundanya mulai dekat, terdengar lucu memang merasakan kehadiran seseorang padahal belum tentu benar, insting nya berpendapat.
"Ziezie," suara lembut nan ayu itu mengalun membuat Inda gelabakan ingin segera bergelung kembali ke atas kasur dan berakting seakan dia sedang sakit.
Cklek
Pintu pun terbuka Sae Yeon segera menyembulkan kepalanya ingin melihat apakah anak gadisnya itu sudah packing apa belum?
Melihat Inda yang masih bergelung di atas kasur membuat Sae Yeon tersenyum gemas, ia tahu anaknya yang satu ini pasti sedang berakting dan berpura pura sakit, merasa memiliki ide jahil Sae Yeon segera menyuruh Damien untuk masuk, memang benar Sae Yeon datang tidak sendiri ke kamar Inda ia datang bersama Damien tak lain dan tak bukan anak dari Vanya sahabatnya, sudah empat bulan lebih Damien belum pulang ke tanah air di karenakan kesibukannya dalam berkerja ini pun damien menyempatkan diri untuk pulang karena begitu merindukan princess nya itu.
"Kamu sakit sayang?" Sae Yeon mulai mengikuti drama yang di mainkan oleh anaknya.
"Ya sudah kalau begitu, maaf ya nak Damien sepertinya sakit Ziezie parah dan tidak bisa berangkat ke California bersama mu, itu berarti dia juga tidak bisa menghadiri acara pertunangan itu," jelas Sae Yeon kepada Damien yang langsung mengerti arah dan maksud pembicaraan dari Sae Yeon itu ia pun mulai menahan tawa dan terkikik geli berusaha menetralkan suaranya dan mengikuti alur main nya.
"Ah ya sudah tante tidak masalah, itu berarti aku hanya berangkat sendirian ke California?" Damien menjawab di bubuhi dengan nada seolah terdengar sesedih mungkin, sementara Inda yang kini masih bergelung di atas kasur sedikit terkejut mendengar suara Damien oh! Ia sunggu merindukan lelaki yang menjadi teman serta sahabatnya satu itu selain Donny tentu saja.
Sae Yeon memberikan aba aba kepada Damien berniat pergi meninggalkan kamar, mendengar derap langkah kian menjauh dengan sigap dan gelagapan Inda segerah turun setengah meloncat dari atas kasurnya, Damien dan Sae Yeon yang membelakangi nya pun tersenyum geli karena Inda masuk kedalam sandiwara mereka.
"Loh Zie kamu sudah sehat sayang?" tanya Sae Yeon se akan ia benar benar terkejut saat ini.
"Bunda," rengek Inda karena ia sadar saat ini ia sudah di bohongi, Damien saat ini tak kuasa lagi menahan tawanya dengan semangat ia tertawa serta memegangi perutnya karena merasa geli.
"Berhentilah tertawa, menyebalkan!" Inda mendelik sebal ke pada Damien sedetik kemudian sudah berhamburan memeluk lelaki tampan bertubuh tegap itu sosok yang sempurna dan memiliki kehidupan yang rumit hanya kepada orang terdekatnya lah Damien akan menunjukkan sisi hangat nya tak terkecuali Inda .Q.Yuvalo entah sejak kapan menjadi prioritas nya.
********
Di sini lah mereka sekarang setelah melewati sarapan bersama duduk bersantai di ruang keluarga kediaman Yuvalo membahas berbagai pernyataan serta masalah lainnya, setelah melepas rindu bersama Damien, Inda sudah mempersiapkan diri untuk berangkat ke California karena memang ia sudah mempersiapan segalanya dari semalam.
Niat sekali bukan?
Tapi kenapa ia akting seakan tak ingin pergi.
seperti yang Inda jelaskan insting nya mengatakan bahwa ia memiliki ikatan kuat terhadap negara itu tapi terlalu sulit untuk di gapai.
"Berhentilah ngelamun Zie nanti kesurupan." Donny membuyarkan segala lamunan cantik milik Inda membuat gadis itu mendelik tak suka sebelum kemudian menyikut kuat perut kotak Donny.
"Awww," ringgis Donny setelah mendapat cubitan maut itu.
"Berhenti mengganggu kenyamanan seorang Quenzie!" balas Inda dengan tegas memunculkan wajah terkejut lainnya terutama Donny ia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya hanya Donny yang berfikir seperti itu sementara yang lainnya itu adalah nama terlarang sudah lama dia tak mendengar nama itu sebelumnya.
Quenzie pakailah make up ini kau akan terlihat sangat cantik.
Pakaian indah ini sepertinya akan cocok melekat di tubuh mu.
Jangan memarahi Quenzie dia tidak bersalah.
Apa kau begitu naif ? siapa yang ingin berteman dengan perempuan bodoh seperti mu.
Quenzie aku akan memakai nama itu saat di Cal*____
"Argggghh!" Inda meremas kuat kepalanya jantungnya bergemuru kencang ia merasakan sakit luar biasa semua memandang cemas.
"Ziezie kamu tidak apa apa sayang?" Sae Yeon memeluk Inda cepat.
Inda yang masih merasakan hal itu seakan sangat akrab hanya terdiam dn berfikir berbagai fikiran berkecamuk di kepala nya ia harus menyelidiki ini semua, dia pun tersenyum dan menggeleng lemah kepada semua orang yang ada di sana tanpa adanya Bryan yang masih di kantor dan Indy masih di sekolah.
"Tidak bunda Ziezie hanya merasa sedikit pusing saja." Inda berucap berusaha terlihat normal dan tidak terjadi apa apa.
Sae Yeon mau tak mau hanya tersenyum berusaha terlihat tidak terlalu khawatir di mata anaknya, dan selalu percaya bahwa semua kan baik baik saja.
*Ya benar semua akan baik baik saja belum kan.
Walaupun Ziezie terceplos nama itu hal itu tidak akan langsung berdampak kepada ingatannya bukan.
Semoga saja*
