Part 1
Pukul 5 pagi Sheva terbangun dari tidurnya saat ia mendengar suara adzan subuh berkumandang. Matanya lantas menoleh ke arah sofa, lebih tepatnya pada suaminya yang masih terlelap disana.
Sheva menyibak selimut nya lalu berjalan menuju sofa untuk membangunkan Kano. Sheva memperhatikan wajah Kano yang terlihat sangat damai jika sedang tertidur seperti ini. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa ia akan di per-istri oleh Kano karena perjodohan.
Rasanya ini berat bagi Sheva. Namun bagaimanapun, ia harus menerima takdir ini.
"Kano.."
Sheva sebenarnya takut untuk membangunkan Kano.
"Kano..bangun yuk, kita sholat subuh dulu." Sheva benar-benar takut. Ia takut jika Kano akan marah jika dibangunkan oleh nya.
"Kano.." Dengan sedikit keberanian nya, Sheva akhirnya menepuk pipi Kano.
Alhasil, berkat tepukan tangan Sheva pada pipi Kano, Kano pun perlahan mengerjapkan matanya. Kano sontak menghempaskan tangan Sheva yang masih berada di pipi nya dengan kasar. Ia menatap Sheva dingin.
Sheva langsung menunduk takut, "Ma-maaf. Ak-aku..""
Tanpa memperdulikan Sheva, Kano beranjak begitu saja meninggalkan Sheva.
-----
Baru saja Sheva dan Kano selesai melaksanakan sholat subuh. Jujur, ini adalah kali pertamanya bagi Sheva melaksanakan sholat subuh dengan imam yang sudah berstatus menjadi suaminya.
"Kalo kamu mau tidur, tidur aja nanti aku bangunin. Aku mau ke bawah dulu yah."
Kano tidak menjawab ucapan Sheva. Ia lebih memilih untuk terus memejamkan matanya.
Sheva menghembuskan nafasnya pelan. Ia mulai melangkahkan kakinya keluar kamar.
Di dapur, Sheva langsung bertemu dengan Rani dan dua pembantu lainnya yang tengah membantu Rani memasak.
"Mama.." cicit Sheva pelan.
Rani dan dua pembantu tersebut sontak menoleh ke belakang. Rani tersenyum, ketika mendapati menantu nya yang kini tengah berdiri menatap nya.
"Sini nak."
Sheva menurut, ia mendekati Rani.
"udah sholat?" Sheva mengangguk, "Kamu mau apa kesini? Ngga lanjut tidur?"
"Eng..engga mah, sheva mau bantu mama buat sarapan."
Rani memegang lengan Sheva sambil tersenyum, "Engga usah sayang. Kamu ke kamar lagi aja gih, temenin Kano."
"Tap-"
"Hei, kamu pengantin baru loh. Nanti kalo udah siap sarapannya, pasti mama bangunin kalian."
Sheva kekeuh menggeleng, "Sheva mau bantuin mama aja."
"Lebih baik non Sheva balik ke kamar aja. Nyonya biar kita yang bantu." Ujar salah satu pembantu tersebut dengan senyuman ramahnya.
"Tuh dengerin, mama ga sendiri kok."
"Tapi mah-"
"udah, sana."
Sheva akhirnya mengangguk. Ia melenggang pergi dari dapur.
"Non Sheva cantik yah Nya, baik lagi."
"Iya, beruntung banget yah saya punya menantu kayak dia."
Kedua pembantu tersebut mengangguk antusias menanggapi ucapan majikannya.
-----
Kembalinya Sheva ke kamar, ia langsung menuju toilet. Ia menyiapkan air hangat untuk Kano mandi. Setelah selesai, barulah ia bergegas untuk membangunkan Kano.
Sheva berjongkok disamping Kano, "Kano udah jam setengah tujuh, bangun yuk."
Tidak ada pergerakan dari Kano. Lelaki itu seakan tak mendengar ucapan istrinya, dan lebih memilih untuk terus memejamkan mata.
"Kano, kamu ga kuliah?"
Masih sama seperti tadi. Kano masih belum juga membuka matanya.
"Kan-"
"Berisik!"
Kano merubah posisinya menjadi duduk. Matanya menatap Sheva dingin.
"Ma--maaf. Air hangat nya udah aku siapin." Sheva berbicara tanpa menatap Kano. Ia menunduk takut.
Kano menatap Sheva sekilas, lalu beranjak. Cowok itu segera bergegas ke toilet.
Sepeninggal Kano ke toilet, Sheva berjalan menuju lemari untuk menyiapkan baju Kano.
Sepuluh menit kemudian, pintu toilet pun terbuka. Menampilkan---Astaga! Sheva dengan cepat mengalihkan pandangannya saat tanpa sengaja matanya menangkap sosok Kano yang berjalan keluar dengan bertelanjang dada. Ah, tak lupa pula dengan tangan yang sibuk mengusap rambut basahnya.
"Udah." Ujar Kano singkat.
Sheva menoleh kebelakang dan mendapati Kano yang kini tengah berjalan kearah pintu dengan kaos yang sudah melekat ditubuhnya. Sheva memegang dadanya yang berdebar kencang. Huft..
Kano berjalan menuruni tangga dan, tanpa sengaja berpapasan dengan mama nya.
"Loh? Tadi nya mama mau ke kamar kamu, bangunin kamu sama Sheva." Rani menoleh pada sisi kanan dan kiri Kano mencari keberadaan Sheva. "Sheva mana? Kok ga bareng?"
"Masih."
"Hah? Masih apa?"
"Di kamar."
Rani menepuk keningnya. "Astaga sayang, kalo ngomong yang jelas dong ga usah dipotong-potong kayak gitu! Kamu ini sifatnya nurun dari siapa sih? Kok dingin gitu. Pad-"
"Kano duluan."
"Ck, engga sopan!" Rani pun membalikkan tubuhnya, menyusul Kano dan suaminya yang sudah berada dimeja makan.
"Pagi mah, pah." Sheva tiba-tiba datang sambil menampilkan senyuman hangatnya.
"Pagi nak." Dafa--ayah Kano, membalas senyuman menantunya itu.
"Pagi sayang, ayo duduk." Sheva menuruti ucapan Rani. Ia menarik kursi di samping Kano kemudian duduk di sana.
"Aku ambilinq ya." Sheva mengambil alih sendok yang dipegang oleh Kano. Ia mulai meletakkan satu potong lauk pada piring Kano.
"Cukup?"
Kano hanya mengangguk singkat.
"Kamu kok udah rapih gitu No? Mau kemana?" Tanya Dafa.
"Kuliah."
"Heh, kuliah? Engga-engga! Kamu itu pengantin baru. Udah, mendingan kamu izin saja untuk beberapa hari ini." Rani menatap putranya tak percaya.
"Mah-"
"Kano, turuti apa kata mama mu!"
Kano hanya diam menanggapi ucapan Dafa. Ia malas untuk debat sepagi ini.
Diam-diam, Sheva mencuri pandang pada Kano yang tengah menyantap sarapan nya. Dalam hatinya, ia tersenyum menatap wajah tampan suaminya itu. Yah, semoga dengan seiring berjalannya waktu Kano bisa berubah.
