Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 8

BAB 8 Keputusan yang tak bisa diubah

Inggit yang melihat itu semua dia langsung memapah anggita ke kamar bersama bian, dan setelah itu tanpa fikir panjang inggit menelfon adiknya hamzah untuk segera pulang ke Jakarta karena ada urusan penting, hamzah yang tak tau dan tak biasanya di telfon seperti itu langsung bergegas untuk menitipkan sepeda motornya ke temannya yaitu raina.

Tak selang lama si teteh naik ke atas membawa the hangat untuk anggita, “neng, maaf teteh langsung masuk” sambil menaruh teh hangat tadi, inggit hanya mengangguk

“teh, apa yang terjadi, kenapa tika bisa seperti itu?” inggit mencari penjelasan dari teteh yang emang setiap harinya teteh yang ditumah ini, pasti tau kejadian pastinya, dan si teteh menceritakan versi yang dia tau, dan beberapa spekulasi anggita, inggit mengerti itu, dan dia kecewa tapi tak bisa marah, sedangkan di lantai bawah sudah sepi tak terdengar teriakan seperti tadi

“neng, apa neng anggi gak apa-apa” teteh khawatir, dan bener setelah dicek inggit, anggita pingsan, bian langsung menggendong adiknya dan membawanya turun untuk dibawa ke klinik, inggit berpamitan kepada si teteh, dan teteh pun menunggu kabar dari inggit di dapur, sambil berkutat, dia terus berdoa agar anggita tidak terjadi apa-apa

Sedangkan ibunya inggit hanya diam melihat gadis kecilnya digendong oleh calon mantunya keluar, dalam hatinya dia khawatir tapi dia yakin akan gadis kecilnya akan baik-baik saja, dan dia mempasrahkan gadis kecilnya kepada mereka berdua, sedangkan mereka bertiga masih bersikukuh yang satu hanya bisa diam sambil mengucapkan maaf, yang satu bersikukuh untuk berpisah, yang satu lagi bersikukuh tetap tidak mau berpisah.

Diklinik kesehatan tempat anggita dibawa, dia sedang terbaring di UGD, menurut dokter tidak ada yang salah dengannya dia hanya shock dan dia anjurkan untuk menghabiskan satu botol infus baru boleh pulang, dan sementara itu anggita dibiarkan di UGD, dan kedua kakaknya hanya menunggunya hingga dia stabil.

“mas, kemungkinan terburuk ibu bakalan pergi hari ini juga, kita tunggu hamzah pulang” kata inggit dengan sedihnya, bian hanya mengelus punggung inggit yang Nampak sedih, sedangkan inggit sesekali megelus punggung adik mungilnya itu untuk memberikan kekuatan kepada dirinya sendiri dan anggi

“mas, telfon mamah dulu ya dek, buat pamit malam ini enggak pulang, sekalian mas keluar bentar beliin kamu makan, kamu tadi pagi kan Cuma makan roti aja” inggit hanya mengangguk pasrah “jagain adik, jangan nangis, hm.. harus kuat kan sebagai yang tertua” bian mengelus pucuk rambut tunangannyannya, dan kemudian meninggalkan inggit dan anggita di klinik

“dek, masih pusing?” Tanya inggit yang sudah melihat adiknya terbangun, anggita hanya menjawab dengan gelengan kepala, “jangan banyak mikir ya, anggi sayang ibu bapak kan?” anggi hanya mengangguk “berarti anggi harus kuat demi ibu bapak, biar enggak khawatir” anggi diam untuk sesaat

“adek mikirin ibu mbak,.. kita pulang aja ya” kata anggi, dan inggit tau, dia sedang memendam apa yang dia rasa

“habisin infus dulu kata dokter, sekalian mbak telfon mas bian dulu” anggita nurut sama kakaknya, bagaimanapun dia adalah kelemahan orangtua dan kakaknya, sehingga kali ini dia harus memberikan kekuatan kepada mereka

“mas, enggak usah beli makan, langsung ke klinik aja, beli roti sama air mineral aja, makan dirumah aja, anggi sudah minta pulang” bian hanya mengiyakan, karena dia sendiri terkena macet butuh waktu sekitar 30 menit buat sampai ke klinik

Akhirnya ketika mereka sampai rumah, dia tidak mendapati ibunya, bahkan bapak ataupun tika, si teteh bilang ibunya dikamar hamzah, dan ibu minta kalo mbak inggit, mas bian sama anggi disuruh makan kalo udah datang, karena ibu sudah masak kesukaan inggit, dan mereka semua ke meja makan untuk makan bersama

“Bapak ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan mbak tika, ibu yang memaksa” jawab si teteh karena mendapatkan tatapan dari inggit yang mengartikan dimana bapak sama tika, inggit hanya mengangguk “neng, tolong rayu ibu buat makan ya, ibu belum makan dan dia tidak mau berbicara apapun dikamar, Cuma diam dan mijitin kepalanya terus” inggit hanya mengangguk lagi dan melirik ke bian dan anggita untuk tetap makan

“aku ke kamar hamzah bentar, anterin anggi ke kamar mas, biarkan dia istirahat” kata inggit, tapi anggita tidak mau, dia mau tetap di sini, dan bian terpaksa mengiyakan kemauan anggita, si teteh menuntun anggita untuk pindah duduk di sofa depan TV, dan disana anggita memeluk lengan si teteh, dia sangat membutuhkan sandaran

“bu,..” kata inggit setelah masuk ke kamar dan mendepati ibunya bersandar di ranjang, ibunya buru-buru bersikap netral kepada inggit “enggak perlu sok kuat bu, aku tau ibu kecewa sama bapak, tapi ibu juga harus makan, ibu lupa gadis kecilmu di depan selalu mengkhatirkanmu, ibu kalo belum siap cerita ke inggit gak masalah, setidaknya ibu kuat buat anggita, jangan fikirkan aku ataupun hamzah yang sudah dewasa, fikirkan gadis kecilmu yang sangat bergantung padamu” inggit tanpa basa-basi langsung mencecar psikologis ibunya, karena dia enggak tahan melihat ibunya lemah seperti itu karena cintanya kepada bapaknya, inggit tau dengan cara seperti itu dengan alas an semua tentang anggita dia akan bangkit “inggit keluar” kata inggit singkat dan langsung beranjak dari situ

Inggit langsung keluar kamar itu dan menemani bian di meja makan, bian memberikan tatapan ke inggit untuk menanyakan gimana keadaan ibu “bentar lagi juga keluar, aku bikinkan jeruk anget dulu buat ibu” dan benar saja tak lama ibu rahayu keluar nyamperin inggit dan bian di meja makan, dan dia memakan sedikit nasi dan lauknya, inggit tak masalah akan itu, yang penting ibunya makan, karena inggit yakin ibunya hanya sarapan sedikit karena itu kebiasaan ibunya

Tak lama suara mobil berhenti di depan rumah, sudah bisa dipastikan kalo itu mobil suami ibu rahayu yang tadi keluar ke dokter kandungan bersama tika, “apakah sekarang sudah percaya kalo dia hamil?” kata ibu rahayu yang melihat suaminya lesu terduduk di sofa “sekarang pertanggung jawabkan perbuatanmu, dan kita pisah secara baik-baik, jangan menghalangiku lagi” kata ibu rahayu yang mengambil keputusan, sedangkan suaminya masih bersikukuh untuk tidak melepaskan istrinya

“dia emang anakku, tapi kamu juga tidak bisa pergi begitu saja dek dariku” ibu rahayu yang dibentak seperti itu langsung terisak, karena dia melihat cinta suaminya ke dia begitu besar, tapi dia egois kalo dia tidak meninggalkan suaminya, karena bagaimanapun tika harus dinikahi

“kamu jangan egois mas, bagaimanapun tika dan aku sama-sama wanita, aku tidak mau tinggal serumah dengan istri keduamu, dan aku yakin dia juga berfikir sama” kata ibu rahayu sambil meneteskan air matanya

Tak lama setelah si teteh pulang, hamzah datang, dengan wajah yang tak tau apa-apa melihat semua keluarganya berkumpul termasuk kartika, yang beberapa hari ini tidak bisa di telfon ataupun balas sms darinya, Cuma hamzah melihat semua raut wajah semua wanita itu tampak tak bahagia sama sekali.

“ibu, bapak, dek anggi, mbak inggit, mas bian, dan kamu baby, ngapain pada disini sih?” Tanya hamzah yang kaget ketika masuk rumahnya penuh dengan semua anggota keluarganya, padahal mbak inggit dan tunangannya itu ada di solo, sedangkan yang paling dia curigai ngapain kartika alias pacarnya hamzah itu ke sini bersama keluarganya

“hamzah duduk sayang” kata ibunya hamzah, terlihat dimuka sang ibu wajah yang capek dan terlihat emosi yang tertahan dimukanya, hamzah nurutin kata ibunya, dia duduk di sebelah adik kesayangannya yang masih duduk di kelas 3 SMP

“ibu ingin bicara sayang dengan kalian semua, dengerin ibu” kata ibunya, terlihat wajah pak roshikin alias bapaknya hamzah yang sudah pasrah

“ibu sudah memikirkan ini dengan baik selama beberapa hari, dan keputusannya ibu akan pulang kerumah omma di solo, silahkan siapa yang mau ikut ibu, ibu tidak memaksa siapapun, ibu hanya membawa anggita, dan hari ini kepindahan sekolah anggita sudah ibu urus, ibu tidak memaksakanmu ham, sama inggit, kalian sudah besar” kata bijak ibu rahayu ibunya hamzah keluar, sedangkan dia masih belum paham apa yang dimaksud oleh ibunya, dia menanyakan kepada semuanya tapi taka da jawaban

Kepulangan dia justru membawa kesedihan di hatinya atas keputusan ibunya yang sudah tidak bisa diubah, hamzah jujur bingung apa yang akan dia lakukan kepada kedua orang tuanya, sedangkan dia belum tau benar duduk permasalahan yang sesungguhnya.

“

“

“

FLASSBACK OFF

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel