Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Pertemuan Kedua

Nerissa duduk di salah satu kursi ruang tunggu Castelli Corporation sambil memeriksa kembali berkas yang sejak tadi ia pegang. Telapak tangannya terasa sedikit dingin meskipun pendingin ruangan tidak terlalu kuat.

Ini bukan pertama kalinya ia mengikuti wawancara kerja, tetapi entah mengapa suasana perusahaan sebesar Castelli Corporation membuatnya jauh lebih gugup.

Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian melihat jam di pergelangan tangannya.

Pukul sembilan tepat.

Seorang perempuan yang mengenakan pakaian formal keluar dari ruangan di ujung lorong sambil membawa beberapa berkas. Ia berjalan menghampiri Nerissa dengan senyum profesional.

“Nona Nerissa Marchelline?” tanyanya.

Nerissa langsung berdiri. “Iya, saya Nerissa. Apakah saya sudah boleh masuk untuk wawancara?”

“Benar. Namun ada sedikit perubahan. Anda tidak akan diwawancarai oleh bagian sumber daya manusia. Tuan Castelli sendiri yang ingin bertemu dengan Anda.”

Nerissa mengerutkan kening. “Tuan Castelli?”

Perempuan itu mengangguk. “CEO kami.”

Nerissa terdiam beberapa detik. "CEO?" bisik hati kecilnya. Entah kenapa nama itu langsung membuat pikirannya melayang kepada pria yang semalam berada di apartemennya.

Ronan.

Namun ia segera menepis pikiran tersebut. Ronan adalah nama yang cukup umum. Mungkin hanya kebetulan.

“Mari, Nona Nerissa.”

Nerissa mengikuti perempuan itu menuju lift.

Semakin tinggi lantai yang mereka lewati, semakin sunyi suasananya. Ketika pintu lift terbuka, Nerissa melihat sebuah lorong luas dengan dinding kaca dan dekorasi elegan berwarna hitam serta emas.

Di ujung lorong terdapat sebuah pintu besar. Perempuan itu berhenti di sana.

“Silakan masuk. Tuan Castelli sudah menunggu.”

Nerissa mengangguk.

Setelah perempuan itu pergi, Nerissa berdiri selama beberapa detik di depan pintu sambil menarik napas panjang.

“Tenang. Kamu datang untuk wawancara, bukan untuk membuat masalah.”

Nerissa kemudian mengetuk pintu.

Suara dari dalam terdengar rendah dan tenang.

“Masuk.”

Nerissa membuka pintu.

Langkah pertamanya membuat pandangannya langsung tertuju pada seorang pria yang berdiri membelakanginya di depan jendela besar.

Setelan warna hitam yang dikenakannya terlihat sempurna. Posturnya tegap, bahunya lebar, dan satu tangannya berada di dalam saku celana.

Nerissa tidak langsung mengenali wajahnya.

Sampai pria itu berbalik.

Mata mereka bertemu.

Nerissa tertegun. “...Anda?”

Ronan menatapnya tanpa terlihat terkejut sedikit pun. Ia justru seperti sudah mengetahui bahwa perempuan itu akan berdiri di hadapannya pagi ini.

“Nerissa Marchelline.”

Suara itu. Wajah itu. Pria yang semalam ia rawat di sofa apartemennya.

Nerissa menutup pintu perlahan, masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Jadi... Anda CEO Castelli Corporation?”

Ronan berjalan menuju mejanya dengan langkah tenang. “Sepertinya kau baru mengetahuinya.”

“Saya sama sekali tidak tahu.” Nerissa mengikuti langkahnya dengan pandangan. “Kalau saya tahu Anda pemilik perusahaan ini, saya mungkin akan meminta maaf karena semalam banyak mengomeli Anda.”

Ronan duduk di kursinya dan membuka salah satu berkas di atas meja. “Kenapa meminta maaf?”

“Karena saya menyuruh CEO sebesar Anda tidur di sofa apartemen saya.”

Ronan menatapnya.

Nerissa menahan napas, lalu menambahkan dengan nada lebih santai, “Tapi kalau dipikir-pikir, Anda memang terluka dan tidak punya pilihan. Jadi saya rasa saya tidak perlu minta maaf.”

Sudut bibir Ronan terangkat tipis. “Duduk.”

Nerissa menarik kursi di depan meja lalu duduk. “Terima kasih.”

Ronan membuka berkas lamaran Nerissa. Matanya bergerak membaca setiap informasi yang tertera di sana.

Nerissa memperhatikan wajahnya. “Kalau boleh tahu, kenapa Anda sendiri yang mewawancarai saya? Bukankah biasanya ada bagian HR yang melakukan ini?”

“Ada.”

“Lalu?”

“Aku ingin mengenal orang yang akan bekerja di perusahaanku.”

Nerissa sedikit mengernyit. “Tapi ada banyak kandidat lain.”

“Benar.”

“Dan Anda mewawancarai semuanya?”

“Tidak.”

Jawaban itu membuat Nerissa semakin bingung. “Berarti hanya saya?”

Ronan menutup berkas tersebut dan menatapnya.

“Ya.”

Nerissa menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil. “Ini terasa agak aneh.”

“Kenapa?”

“Karena saya tidak tahu apakah saya sedang mengikuti wawancara kerja atau sedang diinterogasi.”

Ronan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau aku ingin menginterogasimu, pertanyaannya akan jauh lebih berbeda.”

Senyum Nerissa langsung menghilang. Ia menatap Ronan dengan curiga. “Anda serius?”

“Tidak.”

Nerissa menghela napas lega. “Syukurlah. Saya mulai menyesal telah datang ke sini.”

Ronan menatapnya cukup lama sebelum akhirnya membuka kembali berkas tersebut. “Kenapa melamar ke Castelli Corporation?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Nerissa menjawab dengan jujur, “Karena saya membutuhkan pekerjaan yang lebih stabil. Perusahaan tempat saya bekerja sebelumnya sedang melakukan pengurangan karyawan, dan saya tidak ingin terus berpindah-pindah pekerjaan.”

“Ambisi?”

Nerissa berpikir sebentar. “Saya ingin berkembang. Saya tidak ingin selamanya menjadi seseorang yang hanya bekerja untuk mendapatkan gaji setiap bulan. Saya ingin suatu hari nanti bisa melihat pekerjaan saya dan merasa bahwa saya benar-benar melakukan sesuatu yang berarti.”

Ronan memperhatikannya tanpa menyela. “Dan kalau pekerjaan ini ternyata jauh lebih sulit dari yang kau bayangkan?”

“Saya akan belajar.”

“Kalau kau gagal?”

“Saya coba lagi.”

“Kalau kau gagal lagi?”

Nerissa tersenyum kecil. “Berarti saya cari cara lain sampai berhasil.”

Ronan terdiam. Jawaban perempuan itu sederhana, tetapi terdengar tulus. “Kau tidak takut gagal?”

“Tentu takut.” Nerissa mengangkat bahu. “Saya hanya tidak mau rasa takut menentukan hidup saya.”

Untuk sesaat, Ronan tidak mengatakan apa-apa. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuatnya teringat pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu.

Namun ia segera mengesampingkan pikirannya. “Baik.”

Nerissa berkedip. “Baik?”

Ronan mengambil pena dan menandatangani dokumen di hadapannya. “Mulai Senin, kau bekerja di sini.”

Nerissa terdiam. Ia menatap dokumen itu, lalu Ronan, kemudian kembali melihat dokumen. “Tunggu... saya diterima?”

“Ya.”

“Wawancaranya baru beberapa menit.”

“Aku sudah membaca berkasmu.”

Nerissa masih terlihat bingung. “Tapi Anda belum menanyakan banyak hal.”

“Aku sudah mendapatkan jawabannya.”

“Dari mana?”

Ronan menatapnya. “Dari cara kau berbicara.”

Nerissa tidak tahu harus menjawab apa. Ia akhirnya tersenyum lega. “Terima kasih, Tuan Castelli. Saya akan bekerja dengan baik.”

“Ronan.”

Nerissa bingung. “Apa?”

“Kalau di luar urusan kantor, panggil aku Ronan.”

Nerissa menatapnya beberapa detik. “Bukankah itu agak tidak profesional?”

“Di kantor, kau tetap memanggilku Tuan Castelli.”

“Dan kalau di luar?”

“Ronan.”

Nerissa mengangguk perlahan. “Baik... Ronan.”

Entah kenapa, ketika mendengar namanya keluar dari bibir Nerissa, ekspresi Ronan berubah sangat tipis. Hanya sesaat, namun Nerissa sempat melihatnya.

Nerissa berdiri sambil merapikan map di tangannya. “Kalau begitu saya pamit. Senin saya akan datang tepat waktu.”

“Datang pukul delapan.”

Nerissa menatapnya heran. “Bukankah jam kerja mulai pukul sembilan?”

“Untukmu, pukul delapan.”

“Kenapa?”

Ronan kembali membaca dokumennya seolah pertanyaan itu tidak penting. “Karena kau akan bekerja sebagai asisten eksekutifku.”

“Asisten... Anda?” tanya Nerissa tak percaya.

“Benar.”

“Tunggu dulu. Saya melamar posisi staf administrasi.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa saya ditempatkan sebagai asisten Anda?”

Ronan mengangkat wajah. “Karena aku membutuhkannya.”

Nerissa mengerutkan kening. “Dan Anda yakin saya mampu?”

Ronan menatapnya beberapa saat. “Aku tidak akan memberimu posisi itu kalau aku tidak yakin.”

Jawaban tersebut membuat Nerissa terdiam. Ada sesuatu dalam cara Ronan mengatakannya yang terdengar seperti kepercayaan, bukan sekadar keputusan seorang CEO.

Nerissa akhirnya mengangguk. “Baiklah. Saya akan berusaha memenuhi harapan Anda.”

“Jangan berusaha.”

Nerissa mengerutkan kening. “Lalu?”

“Lakukan.”

Nerissa menatapnya sejenak, kemudian tersenyum tipis. “Baik, Tuan Castelli.”

Nerissa berbalik menuju pintu. Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Ronan kembali terdengar.

“Nerissa.”

Nerissa menoleh.

Ronan masih duduk di balik meja. “Jangan pulang sendirian malam-malam.”

“Kenapa Anda mengatakan itu?”

Ronan menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Karena kota ini tidak selalu aman.”

Nerissa tersenyum kecil. “Saya akan berhati-hati.”

Pintu kemudian tertutup.

Ronan kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya masih tertuju pada pintu yang baru saja dilewati Nerissa.

Ia tidak mengerti kenapa perempuan itu terus menarik perhatiannya.

Yang ia tahu hanya satu.

Sejak malam hujan itu, hidupnya mulai berubah sedikit demi sedikit.

Dan Nerissa Marchelline... tanpa menyadarinya, baru saja memasuki bagian paling berbahaya dari kehidupan Ronan Castelli.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel