3. Perpisahan Yang Singkat
Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai membuat Nerissa perlahan membuka mata. Selama beberapa detik ia masih menikmati hangatnya tempat tidur, sampai suara hujan yang tersisa dari malam sebelumnya mengingatkannya pada sesuatu.
Ronan.
Nerissa langsung bangun dan keluar dari kamar. Ia mengira akan menemukan pria itu masih terbaring di sofa ruang tamunya, tetapi langkahnya terhenti ketika melihat sofa tersebut sudah kosong. Selimut yang semalam ia berikan telah dilipat dengan rapi, sementara tidak ada seorang pun di sana.
“Serius?” gumam Nerissa sambil mengusap wajahnya. “Dia benar-benar pergi tanpa membangunkan saya.”
Nerissa berjalan mendekati sofa, berharap setidaknya pria itu meninggalkan pesan. Ia tidak tahu kenapa, tetapi ada sedikit rasa khawatir yang muncul setelah melihat tempat itu kosong.
Kemudian matanya menangkap sesuatu di atas meja.
Sebuah kartu berwarna hitam tergeletak di sana.
Nerissa mengambilnya dan membaca tulisan emas yang tercetak di permukaannya.
RONAN CASTELLI
CHIEF EXECUTIVE OFFICER
CASTELLI CORPORATION
Nerissa tertegun.
“CEO?”
Ia membalik kartu tersebut dan menemukan alamat kantor perusahaan di bagian belakang. Seketika ia teringat nama Castelli Corporation yang beberapa kali ia lihat di berita ekonomi.
Perusahaan besar. Salah satu perusahaan paling berpengaruh di kota.
Dan orang yang semalam duduk di sofa kecil apartemennya ternyata adalah pemilik sekaligus CEO perusahaan tersebut.
Nerissa menghela napas sambil menatap kartu itu. “Pantas saja bajunya kelihatan mahal.”
Ia hampir memasukkan kartu itu ke dalam laci ketika menyadari ada sesuatu yang lain di bawahnya.
Sebuah saputangan putih.
Nerissa mengambilnya dan mengernyit. Ia mengenali saputangan itu sebagai kain yang semalam digunakan untuk menekan lukanya.
Di sudut kain tersebut terdapat sebuah lambang kecil berwarna emas berbentuk huruf C.
Nerissa tersenyum tipis. “Ternyata orang kaya pun masih bisa meninggalkan barang sembarangan.”
Ia memasukkan saputangan itu bersama kartu nama ke dalam tas.
Awalnya ia berniat membuangnya nanti, tetapi entah kenapa tangannya justru memilih menyimpannya.
---
Beberapa kilometer dari sana, sebuah mobil hitam melaju melewati jalanan kota.
Ronan duduk di kursi belakang dengan satu tangan menopang kepalanya. Luka di sisi tubuhnya masih terasa nyeri, tetapi wajahnya tetap tenang.
Di hadapannya, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun duduk dengan tablet di tangan.
“Semua sudah diamankan, Tuan,” katanya. “Orang-orang yang menyerang Anda tadi malam berhasil ditemukan. Kami masih menunggu perintah untuk menangani mereka.”
Ronan menatap keluar jendela. “Jangan lakukan apa pun dulu. Aku ingin tahu siapa yang mengirim mereka.”
“Baik, Tuan. Tapi bagaimana dengan kondisi Anda? Dokter pribadi Anda sudah menunggu di rumah.”
“Aku akan menemuinya nanti.”
Pria itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya, “Tuan... di mana Anda menghabiskan malam tadi?”
Tatapan Ronan perlahan beralih kepadanya.
Pria itu langsung menundukkan kepala. “Maaf, Tuan. Saya hanya... ”
“Tidak perlu tahu.”
“Baik.”
Ronan kembali menatap keluar jendela. Pikirannya justru kembali kepada Nerissa.
Perempuan itu sama sekali tidak tahu siapa dirinya.
Ia tidak tahu bahwa pria yang duduk di sofanya semalam bukan hanya seorang CEO. Ia juga tidak tahu bahwa orang-orang yang mengejar Ronan bukanlah orang yang akan berhenti hanya karena gagal menangkapnya sekali.
Ronan menghela napas pelan.
Mungkin memang lebih baik jika mereka tidak pernah bertemu lagi.
Namun, ketika pikirannya baru saja mengambil keputusan itu, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Ronan membuka pesan tersebut. Sebuah laporan kandidat karyawan. Di antara puluhan nama yang tertera, matanya berhenti pada satu nama.
Nerissa Marchelline.
Tatapan Ronan berubah. Ia membaca informasi singkat mengenai perempuan tersebut.
Usia dua puluh empat tahun. Pengalaman kerja sebagai staf administrasi. Melamar posisi yang tersedia di Castelli Corporation.
Ronan menatap layar cukup lama. “Nerissa Marchelline...”
Pria di hadapannya memperhatikan perubahan ekspresi Ronan. “Tuan?”
Ronan mengunci layar ponselnya. “Tidak ada apa-apa.”
---
Sementara itu, Nerissa sama sekali tidak tahu bahwa namanya baru saja berada di tangan pria yang ia kira tidak akan pernah ditemuinya lagi.
Ia berdiri di depan lemari sambil memilih pakaian untuk bekerja.
Hari ini ia harus mengirim beberapa lamaran tambahan. Salah satunya ke Castelli Corporation.
Nerissa sebenarnya sudah mengirim lamaran ke perusahaan itu tiga hari sebelumnya. Ia tidak terlalu berharap diterima karena persaingannya pasti sangat ketat.
Namun pagi itu, ketika ia membuka email di ponselnya, sebuah notifikasi membuatnya berhenti bergerak.
Undangan Wawancara — Castelli Corporation.
Nerissa membaca email tersebut dua kali. “Serius?”
Ia segera duduk di tepi tempat tidur. Undangan wawancara itu meminta dirinya datang ke Castelli Corporation pagi berikutnya.
Nerissa tersenyum lebar.
Setelah beberapa minggu mencari pekerjaan baru, akhirnya ada perusahaan besar yang memberinya kesempatan.
Ia tidak tahu apakah akan diterima. Tetapi setidaknya ia akan mencoba. Tanpa sedikit pun menyadari bahwa orang yang akan menunggunya di sana adalah pria yang baru saja ia selamatkan.
---
Malam kembali turun.
Di lantai paling atas Castelli Corporation, Ronan berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya.
Lampu kota terlihat seperti bintang yang tersebar di bawah sana.
Pintu diketuk.
“Masuk.”
Sekretarisnya masuk sambil membawa beberapa dokumen. “Tuan, jadwal wawancara kandidat untuk besok pagi sudah disiapkan. Kandidat terakhir akan datang pukul sembilan.”
Ronan masih menatap kota. “Siapa?”
Sekretaris itu membuka berkas. “Nona Nerissa Marchelline.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Ronan perlahan berbalik. “Dia?”
Sekretarisnya mengangguk. “Benar, Tuan. Apakah ada masalah?”
Ronan tidak langsung menjawab. Ia hanya teringat bagaimana perempuan itu berdiri di hadapannya malam tadi sambil mengomel karena dirinya terlalu keras kepala.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. “Tidak ada masalah.”
Sekretaris itu menunggu instruksi berikutnya.
Ronan mengambil berkas tersebut dan membukanya. “Pastikan dia datang ke ruangan saya.”
Sekretarisnya sedikit terkejut. “Bukankah wawancara kandidat biasanya dilakukan oleh bagian sumber daya manusia, Tuan?”
“Biasanya.” Ronan menutup berkas itu. “Besok, aku yang akan mewawancarainya.”
---
Keesokan paginya, Nerissa berdiri di depan gedung Castelli Corporation dengan napas panjang.
Gedung itu jauh lebih megah daripada yang ia bayangkan.
Ia merapikan blazer yang dikenakannya, kemudian menggenggam erat map berisi dokumen lamaran.
“Tenang, Nerissa. Ini hanya wawancara.”
Ia melangkah masuk. Namun baru beberapa langkah, sebuah perasaan aneh muncul dalam dirinya. Seolah-olah ia pernah berada di tempat ini. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang menunggunya di balik gedung megah tersebut.
Nerissa mengabaikan perasaan itu.
Ia tidak tahu bahwa beberapa lantai di atas kepalanya, seorang pria sedang menunggu kedatangannya.
Pria yang semalam ia selamatkan. Pria yang ia kira hanya akan menjadi bagian kecil dari satu malam dalam hidupnya.
Dan pria yang sebentar lagi akan menjadi atasannya.
Ronan Castelli.
