5. Hari Pertama Di Sisi CEO
Pagi berikutnya, Nerissa berdiri cukup lama di depan cermin sambil merapikan kerah kemejanya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Castelli Corporation, dan semakin ia memikirkan keputusan Ronan untuk menjadikannya asisten eksekutif, semakin ia merasa tidak yakin.
Semalam ia sudah beberapa kali membaca kembali surat penerimaan kerja yang dikirimkan perusahaan. Posisi yang tertulis di sana jelas: asisten eksekutif CEO.
Bukan staf administrasi seperti yang ia lamar.
Nerissa menghela napas sambil mengambil tas kerjanya. “Aku bahkan belum pernah menjadi asisten seorang CEO. Kalau hari pertama sudah membuat kesalahan, tamatlah karierku.”
Ia segera berangkat.
Ketika tiba di Castelli Corporation, jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh. Nerissa mengira dirinya akan menjadi orang pertama yang datang, tetapi begitu memasuki lantai eksekutif, ia melihat beberapa karyawan sudah bekerja.
Seorang perempuan menghampirinya.
“Nona Nerissa, saya sudah menunggu Anda. Nama saya Clara, sekretaris pribadi Tuan Castelli. Mulai hari ini saya akan membantu Anda memahami pekerjaan yang harus dilakukan.”
Nerissa tersenyum sopan. “Terima kasih, Clara. Sejujurnya saya masih merasa sedikit gugup karena posisi ini berbeda dari yang saya lamar.”
Clara tertawa kecil. “Jangan terlalu khawatir. Tuan Castelli memang terlihat sulit didekati, tetapi selama pekerjaan Anda selesai dengan baik, beliau tidak akan mempermasalahkan apa pun.”
Nerissa menatap pintu ruang CEO yang berada tidak jauh dari mereka. “Benarkah? Karena dari pengalaman saya semalam, dia sepertinya cukup suka membuat orang gugup.”
Clara terdiam. Kemudian matanya membesar. “Anda sudah mengenal Tuan Castelli sebelumnya?”
Nerissa tersenyum canggung. “Sedikit.”
“Sedikit?”
“Ceritanya panjang.”
Sebelum Clara sempat bertanya lebih jauh, pintu ruang CEO terbuka.
Ronan keluar dengan setelan abu-abu gelap yang terlihat sempurna. Rambut hitamnya tertata rapi, wajahnya tetap tenang, dan aura dingin yang selalu mengelilinginya membuat beberapa karyawan spontan menegakkan tubuh.
Tatapan Ronan langsung jatuh kepada Nerissa. “Kau datang lebih awal.”
Nerissa melirik jam tangannya. “Anda yang menyuruh saya datang pukul delapan.”
“Bagus. Setidaknya kau bisa mengikuti instruksi.”
Nerissa mengangkat alis. “Kalau begitu, saya sudah mendapat nilai bagus untuk hari pertama?”
Clara menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum.
Ronan justru menatap Nerissa beberapa detik sebelum berkata, “Masuk ke ruanganku.”
Nerissa mengikuti Ronan.
Begitu pintu tertutup, ia melihat beberapa tumpukan dokumen di atas meja.
Ronan menunjuk salah satunya. “Ini jadwal rapat hari ini. Pelajari semuanya sebelum pukul sembilan.”
Nerissa mengambil berkas tersebut. “Ada tujuh rapat?”
“Delapan.”
Nerissa membalik halaman berikutnya. “Delapan?”
“Masalah?”
“Tidak. Saya hanya sedang mencoba memahami bagaimana satu manusia bisa mengikuti delapan rapat dalam sehari dan masih terlihat hidup.”
Ronan menatapnya datar.
Nerissa tersenyum. “Maaf. Saya akan mempelajarinya." Ia kemudian duduk di kursi kerjanya yang berada tidak jauh dari meja Ronan.
Selama hampir satu jam, Nerissa membaca seluruh jadwal, memeriksa dokumen, dan mencatat beberapa hal penting. Ia bekerja dengan serius sampai tidak menyadari bahwa Ronan beberapa kali memperhatikannya dari balik meja.
Pukul sembilan tepat, Nerissa berdiri membawa jadwal rapat. “Tuan Castelli, rapat pertama dengan direktur keuangan dimulai lima belas menit lagi. Setelah itu ada pertemuan dengan pihak perusahaan dari luar negeri, kemudian makan siang dengan investor, dan sore nanti ada rapat internal mengenai proyek baru.”
Ronan mengangguk.
Nerissa hendak kembali ke mejanya ketika Ronan berkata, “Kau lupa sesuatu.”
Nerissa menoleh. “Apa?”
“Makan.”
Nerissa mengerutkan kening. “Saya sudah sarapan.”
“Jam berapa?”
“Setengah tujuh.”
Ronan melihat jam tangannya. “Sekarang hampir jam sembilan.”
Nerissa tertawa kecil. “Saya masih baik-baik saja.”
“Aku tidak bertanya apakah kau baik-baik saja.”
Nerissa terdiam.
Ronan kembali membaca dokumen di hadapannya. “Makan sebelum siang.” Nada suaranya terdengar seperti perintah.
Nerissa menghela napas. “Baiklah. Saya akan makan.”
“Bagus.”
Nerissa kembali ke mejanya dengan senyum kecil. "Aneh. Pria itu dingin, tetapi ternyata memperhatikan hal-hal kecil," bisik hati kecilnya.
---
Hari pertama Nerissa berjalan lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
Menjelang sore, ia mulai memahami ritme kerja Ronan.
Pria itu hampir tidak pernah membuang waktu. Setiap keputusan dibuat dengan cepat, setiap rapat berlangsung efisien, dan tidak ada seorang pun yang berani membuat kesalahan yang sama dua kali di hadapannya.
Namun ada satu hal yang membuat Nerissa penasaran.
Beberapa kali Ronan menerima panggilan telepon, lalu meninggalkan ruangannya tanpa menjelaskan kepada siapa pun.
Dan setiap kali kembali, ekspresinya berubah lebih dingin.
Menjelang pukul tujuh malam, sebagian besar karyawan sudah pulang.
Nerissa masih berada di mejanya karena harus menyelesaikan beberapa dokumen. Ia melihat jam. “Sudah malam.”
Ronan masih bekerja.
Nerissa berdiri dan mengetuk pintunya.
“Masuk.”
Nerissa membuka pintu. “Tuan Castelli, saya sudah menyelesaikan semua dokumen untuk besok. Ada yang masih perlu saya kerjakan?”
“Tidak.”
“Kalau begitu saya pulang dulu.”
Ronan mengangkat wajah. “Sendirian?”
Nerissa sedikit heran. “Iya.”
“Siapa yang mengantarmu?”
“Tidak ada. Saya biasa pulang sendiri.”
Ronan menutup laptopnya. “Aku antar.”
Nerissa langsung menggeleng. “Tidak perlu. Apartemen saya tidak jauh.”
“Nerissa.”
Nada suaranya membuat Nerissa berhenti yang hendak melangkah.
Ronan berdiri dan mengambil jasnya. “Aku akan mengantarmu.”
Nerissa menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Baiklah. Tapi hanya karena Anda bos saya.”
Ronan berjalan melewatinya. “Anggap saja begitu.”
Mereka kemudian turun bersama.
Di lobi, Nerissa baru menyadari bahwa beberapa karyawan masih berada di sana dan langsung memperhatikan mereka.
Ia mendekat sedikit kepada Ronan. “Sepertinya mereka melihat kita.”
“Biarkan.”
“Tidak masalah?”
“Tidak.”
Nerissa menatapnya curiga. “Anda memang tidak peduli dengan apa yang orang katakan?”
Ronan berhenti di depan pintu. “Aku tidak punya waktu untuk memikirkan pendapat orang lain.”
Nerissa tersenyum kecil. “Enak juga hidup seperti Anda.”
Ronan menoleh kepadanya. “Kau ingin hidup seperti aku?”
Nerissa hendak menjawab, tetapi tatapan pria itu membuatnya berpikir ulang. Akhirnya ia menggeleng. “Tidak. Saya rasa hidup Anda terlalu rumit.”
Untuk sesaat, Ronan diam. Kalimat itu mengenai sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Namun sebelum Nerissa menyadarinya, Ronan sudah kembali berjalan.
Di luar gedung, sebuah mobil hitam sudah menunggu.
Ronan membuka pintu untuk Nerissa. “Masuk.”
Nerissa tersenyum kecil lalu masuk ke dalam mobil. Ia tidak tahu bahwa sejak hari pertama bekerja bersama Ronan, seseorang sudah memperhatikan kedekatan mereka dari kejauhan.
Seseorang yang berdiri di dalam mobil lain di seberang jalan.
Ponselnya diangkat.
Sebuah foto Nerissa yang baru saja masuk ke mobil Ronan muncul di layar.
Pesan singkat dikirimkan. ( "Dia perempuan yang sama." )
Beberapa detik kemudian, balasan masuk. ( "Cari tahu siapa dia." )
Mobil itu kemudian pergi meninggalkan jalanan.
Sementara Ronan membawa Nerissa pulang tanpa mengetahui bahwa untuk pertama kalinya, perempuan yang berada di sisinya mulai menarik perhatian dunia yang selama ini ia sembunyikan darinya.
