2. Pria Yang Tidak Mau Ke Rumah Sakit
Nerissa masih berdiri di depan pintu apartemennya sambil memandang pria asing yang kini bersandar di sofa. Hujan di luar belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, sementara aroma obat luka memenuhi ruang tamunya yang sederhana.
Ia tidak pernah membayangkan malamnya akan berakhir seperti ini.
Beberapa jam lalu, ia hanya seorang perempuan yang ingin pulang setelah seharian bekerja. Sekarang, seorang pria asing dengan pakaian mahal dan luka di tubuhnya sedang duduk di sofa apartemennya.
Dan yang membuat Nerissa semakin heran, pria itu sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang panik meskipun baru saja terluka.
“Sekarang jelaskan kepada saya kenapa Anda tidak mau pergi ke rumah sakit,” ujar Nerissa sambil membawa kotak P3K ke meja. “Luka Anda cukup serius. Kalau saya lihat dari darah yang tadi keluar, seharusnya Anda diperiksa dokter, bukan malah duduk santai di rumah orang yang bahkan tidak Anda kenal.”
Pria itu menatapnya beberapa saat sebelum menjawab dengan suara rendah, “Aku tidak bisa ke rumah sakit.”
“Kenapa?” Nerissa langsung bertanya lagi. “Anda punya masalah dengan rumah sakit, tidak punya kartu identitas, atau jangan-jangan Anda sebenarnya buronan?”
Pria itu mengangkat alis. “Kau terlalu banyak berasumsi.”
“Karena Anda terlalu sedikit menjelaskan.”
Untuk beberapa detik, ruangan itu hening. Hanya suara hujan yang terdengar dari balik jendela.
Nerissa akhirnya duduk di hadapannya dan mulai memeriksa luka di sisi tubuh pria tersebut. Ketika kain kemejanya sedikit disingkap, ia melihat luka yang cukup dalam.
Wajah Nerissa langsung berubah serius. “Ini bukan luka karena jatuh.”
“Aku tahu.”
“Bukan karena kecelakaan biasa juga.”
Pria itu diam.
Nerissa menatapnya tajam. “Anda tertembak?”
Pria tersebut tidak langsung menjawab. Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Nerissa spontan menarik tangannya. “Ya Tuhan...”
“Aku tidak akan menyakitimu.”
“Bukan itu masalahnya.” Nerissa mengusap wajahnya frustasi. “Masalahnya adalah saya baru saja membawa orang yang tertembak ke dalam apartemen saya.”
Pria itu menatapnya tenang. “Kau bisa mengusirku.”
Nerissa terdiam. Ia memang bisa melakukan itu. Bahkan seharusnya ia melakukannya.
Namun, setiap kali memandang pria itu, ia teringat bagaimana tubuhnya tadi hampir jatuh di gang dalam keadaan bersimbah darah.
Nerissa menghela napas panjang lalu mengambil kembali perban. “Sudah terlanjur. Sekarang diam dan biarkan saya mengobati Anda.”
“Kau tidak takut?”
“Takut.” Nerissa mengangguk jujur. “Saya sangat takut. Tapi saya lebih takut kalau besok pagi saya membaca berita bahwa seorang pria ditemukan meninggal di gang yang saya lewati malam ini.”
Pria itu terdiam. Ada sesuatu dalam tatapannya yang berubah. Seolah-olah ia tidak terbiasa mendengar seseorang berbicara seperti itu kepadanya.
Nerissa mulai membersihkan luka dengan hati-hati. Pria itu beberapa kali mengernyit, tetapi tidak mengeluarkan suara.
“Kalau sakit, bilang,” kata Nerissa tanpa menatapnya. “Tidak perlu sok kuat.”
“Aku tidak sakit.”
Nerissa berhenti mengoleskan antiseptik dan menatap wajahnya. “Anda tahu, kebohongan akan lebih meyakinkan kalau rahang Anda tidak sedang menegang seperti itu.”
Pria itu menatapnya beberapa detik. Kemudian untuk pertama kalinya, sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. “Kau selalu seperti ini?”
“Seperti apa?”
“Berani berbicara seenaknya kepada orang yang baru kau kenal.”
Nerissa kembali fokus pada lukanya. “Saya cuma bicara normal. Kalau Anda merasa saya berani, mungkin karena Anda terlalu terbiasa dengan orang-orang yang takut kepada Anda.”
Senyum pria itu perlahan menghilang. Tatapan matanya menjadi lebih dalam. Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa terlalu tepat.
Nerissa tidak menyadarinya. Ia hanya sibuk memastikan perban terpasang dengan baik. “Sudah. Setidaknya lukanya tidak terbuka lagi. Tapi saya tetap menyarankan Anda pergi ke rumah sakit besok pagi.”
“Aku akan mengurusnya.”
“Bagus.” Nerissa berdiri dan mengambil segelas air. “Minum dulu. Anda kehilangan cukup banyak darah.”
Pria itu menerima gelas tersebut. “Terima kasih.”
Nerissa mengangguk kecil. “Sama-sama.”
Pria itu menatap gelas di tangannya, lalu kembali menatap Nerissa. “Namamu?”
“Nerissa.”
“Nerissa...” Ia mengulang nama itu perlahan.
“Kalau saya sudah memperkenalkan diri, sekarang giliran Anda.”
Pria itu diam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Ronan.”
Nerissa mengerutkan kening. “Ronan apa?”
“Ronan saja.”
“Wah, hebat.” Nerissa menyilangkan tangan di dada. “Saya sudah memberikan nama lengkap saya kepada orang asing yang tertembak, sementara saya cuma mendapatkan nama depan.”
Ronan menatapnya dengan ekspresi tenang. “Kau tidak perlu tahu lebih banyak.”
Nerissa tertawa pendek. “Baiklah, Tuan Ronan Misterius. Tapi jangan salahkan saya kalau besok saya menemukan foto Anda di berita dan ternyata Anda adalah penjahat kelas kakap.”
“Aku bukan penjahat.”
“Orang yang ditembak biasanya punya cerita.”
“Tidak semua cerita perlu diketahui orang lain.”
Nerissa menatapnya beberapa saat. Entah kenapa, jawaban itu membuatnya yakin bahwa pria di hadapannya menyimpan sesuatu yang besar.
Namun, ia tidak ingin memaksanya.
“Baik. Saya tidak akan bertanya lagi malam ini.” Nerissa menunjuk sofa. “Anda tidur di situ. Saya ambilkan selimut.”
Ronan langsung menggeleng. “Aku tidak akan tinggal sampai pagi.”
“Dalam kondisi seperti itu?”
“Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
Nerissa menghela napas. “Saya tahu Anda bisa mengurus diri sendiri. Tapi sekarang Anda sedang terluka, hujan masih deras, dan kalau Anda keluar dalam kondisi seperti ini, kemungkinan besar Anda akan jatuh sebelum sampai ke mana pun.”
“Aku harus pergi.”
“Kenapa?”
Ronan terdiam.
Nerissa menatapnya dengan lebih serius. “Ada orang yang mencari Anda?”
Tatapan Ronan berubah tajam.
Nerissa langsung mengerti bahwa pertanyaannya mengenai sesuatu yang sensitif. “Tidak perlu jawab kalau Anda tidak mau.”
Ronan berdiri perlahan. Gerakannya terlihat sedikit berat, tetapi ia berusaha menyembunyikan rasa sakit. “Aku sudah merepotkanmu terlalu lama.”
Nerissa buru-buru menghampirinya ketika tubuh Ronan sedikit kehilangan keseimbangan. Tangannya refleks memegang lengan pria itu. “Jangan keras kepala. Duduk lagi.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kalimat itu lagi.” Nerissa menatapnya kesal. “Kalau Anda benar-benar baik-baik saja, Anda tidak akan hampir jatuh dua kali dalam lima menit.”
Ronan akhirnya menurut dan kembali duduk.
Nerissa mengambil selimut lalu meletakkannya di sampingnya. “Tidurlah. Besok pagi Anda boleh pergi. Saya tidak akan menahan Anda.”
Ronan menatap perempuan itu. “Kau tidak takut aku akan melakukan sesuatu?”
Nerissa terdiam sebentar sebelum menjawab jujur, “Saya takut. Tapi saya juga percaya Anda tidak akan menyakiti saya.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Anda berniat menyakiti saya, Anda tidak akan menunggu sampai saya selesai mengobati luka Anda.”
Ronan tidak mengatakan apa-apa. Namun, untuk pertama kalinya malam itu, sorot matanya melunak.
Nerissa kemudian berbalik menuju kamarnya.
Sebelum masuk, ia menoleh. “Oh, satu lagi. Jangan pergi diam-diam saat saya tidur. Kalau besok saya bangun dan Anda sudah tidak ada, setidaknya tinggalkan pesan.”
Ronan mengangkat pandangannya. “Kenapa?”
“Karena saya ingin tahu apakah orang yang saya tolong masih hidup.”
Ronan menatapnya cukup lama. Kemudian ia menjawab dengan suara rendah, “Aku akan meninggalkan pesan.”
Nerissa tersenyum kecil. “Bagus. Selamat malam, Ronan.”
“Selamat malam, Nerissa.”
Pintu kamar Nerissa tertutup.
Ronan tetap duduk sendirian di ruang tamu. Ia mengambil ponselnya yang sejak tadi disimpan di dalam saku jas. Begitu layar menyala, puluhan pesan memenuhi layar.
Ronan membaca satu di antaranya.
"Tuan, kami sudah menemukan kendaraan mereka. Kami menunggu perintah Anda."
Tatapannya berubah dingin. Ia mengetik singkat. "Jangan bergerak sampai aku datang."
Setelah pesan terkirim, Ronan menoleh ke arah pintu kamar Nerissa.
Perempuan itu sama sekali tidak tahu siapa dirinya. Dan Ronan berharap...
Nerissa tidak akan pernah mengetahuinya.
Karena semakin dekat seseorang dengan Ronan Castelli, semakin besar kemungkinan dunia gelap yang mengelilinginya ikut menghancurkan kehidupan orang tersebut.
