1. Pria Di Dalam Hujan
Hujan turun deras malam itu, membasahi hampir seluruh jalanan kota yang mulai sepi. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantul di atas aspal yang mengkilap, sementara suara kendaraan terdengar semakin jarang.
Nerissa Marchelline menarik mantel tipisnya lebih rapat. Satu tangannya memegang payung, sementara tangan lainnya menggenggam tas kerja yang sejak tadi terasa semakin berat.
Hari ini benar-benar melelahkan.
Setelah seharian bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil, Nerissa hanya ingin segera sampai di apartemennya, mandi air hangat, lalu tidur tanpa memikirkan apa pun.
Namun, langkahnya terhenti ketika melewati sebuah gang sempit yang biasanya tidak pernah ia perhatikan.
Ada sesuatu di sana.
Sebuah bayangan.
Nerissa menyipitkan mata, mencoba melihat di antara derasnya hujan. Awalnya ia mengira hanya tumpukan barang atau seseorang yang sedang berteduh. Tetapi ketika kilatan petir menerangi gang itu, ia melihat seorang pria bersandar pada dinding.
Pria itu mengenakan setelan hitam mahal. Dan ada darah di kemejanya.
Nerissa spontan berhenti. “Ya ampun...” gumamnya pelan.
Ia menoleh ke kanan dan kiri. Jalanan benar-benar sepi.
Pikiran pertamanya mengatakan untuk pergi dan jangan ikut campur.
Tetapi ketika pria itu perlahan menundukkan kepala, Nerissa melihat darah menetes dari sisi tubuhnya dan bercampur dengan air hujan.
“Pak?” panggil Nerissa ragu.
Tidak ada jawaban.
Nerissa mendekat beberapa langkah. “Anda dengar saya?”
Pria itu akhirnya mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Nerissa terdiam.
Pria itu memiliki wajah yang terlalu tampan untuk terlihat begitu menyedihkan. Rambut hitamnya basah, beberapa helai jatuh di dahinya. Rahangnya tegas, sementara sorot matanya begitu dingin sampai membuat Nerissa tanpa sadar berhenti melangkah.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya.
Pria itu terlihat seperti seseorang yang tidak terbiasa meminta pertolongan.
“Pergilah,” katanya dengan suara rendah.
Nerissa mengerutkan kening. “Anda sedang terluka.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa malah menyuruh saya pergi?”
Pria itu menatapnya beberapa detik sebelum menjawab, “Karena kau tidak tahu apa yang sedang kau lakukan.”
Nerissa hampir tertawa saking tidak percayanya. “Saya memang tidak tahu. Tapi saya tahu satu hal... kalau saya meninggalkan Anda di sini, Anda mungkin mati.”
Pria itu tidak menjawab.
Nerissa meletakkan payungnya di atas bahu pria tersebut agar tubuhnya tidak semakin basah. “Bisa berdiri?”
“Aku bisa berdiri.”
“Bagus. Kalau begitu kamu berdiri.”
Tatapan pria itu berubah sedikit. “Kau selalu memerintah orang asing?”
“Tidak. Hanya orang asing yang keras kepala dan sedang berdarah.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir pria itu bergerak tipis.
Entah karena geli atau karena kesakitan, Nerissa tidak tahu.
Ia membantu pria itu berdiri. Tubuhnya jauh lebih berat daripada yang Nerissa bayangkan. Pria itu sempat kehilangan keseimbangan sehingga tangannya refleks mencengkeram bahu Nerissa.
“Maaf,” katanya.
Nerissa menggeleng. “Jangan minta maaf. Kita harus cari tempat berteduh.”
“Aku tidak bisa ke rumah sakit.”
Nerissa menatapnya curiga. “Kenapa?”
“Tidak bisa.”
Jawaban itu membuat Nerissa semakin yakin bahwa pria ini menyembunyikan sesuatu.
Namun, ia tidak punya waktu untuk menginterogasinya.
Akhirnya Nerissa membawa pria itu ke apartemennya yang berada tidak terlalu jauh dari sana. Dengan susah payah, ia membantunya menaiki tangga karena lift gedung sedang diperbaiki.
Begitu sampai di dalam apartemen, Nerissa segera mengambil kotak P3K.
“Duduk.”
Pria itu menurut.
Nerissa berlutut di depannya dan mulai membersihkan luka di sisi tubuhnya.
Saat kapas menyentuh kulitnya, pria itu sedikit mengernyit.
“Sakit?” tanya Nerissa.
“Tidak.”
“Wajah Anda bilang sebaliknya.”
“Aku baik-baik saja.”
Nerissa mendengus kecil. “Semua pria suka bilang begitu sebelum akhirnya pingsan.”
Pria itu menatapnya. “Kau banyak bicara.”
“Dan Anda terlalu sedikit bicara.”
“Namamu?”
Pertanyaan itu membuat tangan Nerissa berhenti. “Nerissa.”
“Nerissa...” Pria itu mengulang namanya perlahan, seolah sedang memastikan sesuatu.
“Kalau saya sudah memberi tahu nama saya, sekarang giliran Anda.”
Pria itu terdiam sejenak. “Ronan.”
“Hanya Ronan?”
“Untuk malam ini, iya.”
Nerissa mengangkat alis. “Misterius sekali.”
“Bukankah seharusnya kau tidak peduli?”
“Benar.” Nerissa kembali membersihkan lukanya. “Tapi sekarang Anda ada di rumah saya. Jadi setidaknya saya harus tahu nama orang yang mungkin membuat saya masuk berita kriminal besok pagi.”
Ronan menatapnya cukup lama. Lalu, tanpa disadari Nerissa, pria itu tersenyum tipis.
Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang berbicara kepadanya seperti itu.
Tidak takut.
Tidak berusaha menyenangkan.
Tidak peduli siapa dirinya.
Hanya seorang perempuan biasa yang sedang sibuk mengobati lukanya sambil mengomel karena dia terlalu keras kepala.
Malam semakin larut.
Setelah memastikan luka Ronan sudah tertutup, Nerissa berdiri dan mengambil segelas air. “Minum.”
Ronan menerima gelas itu. “Kau tinggal sendirian?”
Nerissa mengangguk. “Iya.”
“Tidak takut membawa orang asing ke rumah?”
Nerissa terdiam sebentar, lalu menatapnya. “Kalau saya takut, saya akan membiarkan Anda mati di gang tadi.”
Ronan menurunkan pandangannya pada gelas di tangannya. Kalimat sederhana itu entah mengapa terasa lebih berat daripada yang seharusnya.
Tidak lama kemudian, Nerissa menunjukkan sofa untuknya. “Anda tidur di sini malam ini. Besok pagi, Anda pergi.”
Ronan menatapnya. “Kau mengusirku?”
“Saya menyelamatkan Anda, bukan mengadopsi Anda.”
Senyum tipis kembali muncul di wajah Ronan.
Untuk pertama kalinya malam itu, Nerissa melihat sesuatu yang berbeda di mata pria tersebut.
Bukan dingin.
Bukan marah.
Melainkan kehangatan yang hanya muncul sesaat.
“Baiklah, Nerissa Marchelline.”
Ronan menyebut nama lengkapnya dengan begitu tenang hingga Nerissa merasa aneh.
“Terima kasih.”
Nerissa hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja ia selamatkan bukanlah pria biasa. Ia juga tidak tahu bahwa nama Ronan Castelli telah membuat banyak orang menundukkan kepala.
Dan yang paling tidak ia ketahui... Malam itu adalah awal dari perubahan terbesar dalam hidupnya.
Karena setelah malam hujan itu, kehidupan Nerissa Marchelline tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.
