Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 9: Penjara Perak

Angin panas menghempas wajah Caelen saat dia meluncur di antara tebing belerang. Lengan perak yang menempel di bahunya terasa sangat berat, memberikan sensasi dingin yang kontras dengan udara lembah yang mendidih. Dia mendarat di tonjolan batu sempit dengan tumpuan tangan kirinya.

Tangan peraknya secara otomatis mencengkeram pinggiran tebing, kuku-kuku logamnya menusuk batu granit sedalam beberapa sentimeter. Caelen menarik tubuhnya ke atas, merasakan otot-otot di balik pelindung perak itu berdenyut mengikuti irama mesin yang halus.

Di atasnya, tiga kapal terbang kecil bermanuver rendah. Sayap logam kapal itu membelah kabut uap, menciptakan pusaran angin yang mengacaukan keseimbangan Caelen.

Seorang ksatria berbaju zirah matahari berdiri di dek terbuka kapal terdepan. Dia mengangkat busur besar dan melepaskan tiga anak panah cahaya sekaligus.

Caelen melihat lintasan cahaya itu mendekat. Dia mengangkat lengan peraknya. Tanpa perintah sadar, pelat-pelat logam di pergelangan tangannya bergeser dan melebar, membentuk perisai kecil berbentuk heksagon.

Anak panah cahaya menghantam permukaan perisai itu, meledak menjadi percikan energi kuning yang tidak berbahaya. Caelen merasakan getaran ledakan itu diserap sepenuhnya oleh lengan mekanisnya, lalu dialirkan menuju tangki penyimpanan di bagian siku.

"Jangan biarkan dia mencapai puncak!" teriak ksatria dari atas kapal.

Kapal terbang itu menurunkan ketinggiannya. Dua ksatria lain melompat turun dari tali tambang, mendarat di jalur setapak yang sama dengan Caelen. Mereka menghunus pedang panjang yang memancarkan panas yang tinggi. Tanah di sekitar sepatu bot mereka mulai menghitam karena suhu energi yang dilepaskan.

Caelen mundur satu langkah. Dia mencoba mengepalkan tangan peraknya. Suara desis uap keluar dari celah-celah sendi logam. Dia merasakan besi hitam di dalam tubuhnya meronta, mencoba menerobos keluar dari penjara perak tersebut. Ujung jari logamnya mulai berpendar dengan warna ungu gelap yang tidak stabil.

"Tetap di tempatmu, subjek 0-14," salah satu ksatria melangkah maju. "Dewan Tetua memerintahkan pengembalian aset dalam kondisi apa pun."

Caelen menatap ksatria itu. Dia tidak mengenali nomor yang disebutkan, namun rasa mual muncul di perutnya saat mendengar kata aset. Dia menyentakkan tangan peraknya ke arah depan. Seberkas energi hitam pekat melesat keluar, menghantam pedang ksatria terdekat hingga hancur berkeping-keping.

Ksatria itu terlempar ke dinding tebing, bajunya hancur terkena dampak getaran yang terlalu padat.

Ksatria kedua menyerang dari sisi buta Caelen. Tebasan pedang panasnya mengarah tepat ke leher Caelen.

Caelen berputar, menangkap bilah pedang yang membara itu dengan telapak tangan peraknya. Suara logam yang terbakar memenuhi udara, namun telapak tangan perak itu bahkan tidak tergores. Caelen meremas bilah pedang itu sampai bengkok, lalu menendang dada ksatria tersebut hingga jatuh ke jurang uap di bawah mereka.

Caelen bernapas tersengal-sengal. Pandangannya mulai sedikit kabur. Lengan perak ini menghisap stamina fisiknya jauh lebih cepat daripada saat dia menggunakan pedang biasa. Dia melihat ke arah kapal terbang yang kini bersiap melepaskan jangkar penangkap dari bawah lambungnya. Dia berlari mendaki lereng tebing yang lebih curam.

Di puncaknya, uap sulfur mengepul sangat tebal, menutupi pandangan siapa pun yang mencoba melihat dari udara.

Caelen masuk ke dalam kabut putih kekuningan itu, merasakan paru-parunya mulai perih. Dia mengeluarkan botol cairan merah yang tinggal separuh dari sakunya dan meminumnya untuk menahan suhu tubuhnya yang meningkat.

Di tengah kabut, dia melihat bayangan kapal terbang yang melayang diam. Caelen tidak terus berlari. Dia berhenti di balik sebuah batu besar, mengamati pergerakan rantai jangkar yang menyapu permukaan tanah untuk mencarinya. Dia meraba kompartemen di lengannya, menemukan sebuah tombol kecil yang tersembunyi di balik ukiran bunga lili.

Saat dia menekannya, sebuah peta holografis kecil muncul di atas pergelangan tangannya. Peta itu menunjukkan posisi ksatria yang mengepung lembah. Titik-titik merah tersebar di setiap jalur keluar.

Namun, ada satu jalur yang tidak dijaga, sebuah terowongan pembuangan lava kuno yang mengarah langsung ke pusat Pegunungan Berapi.

Caelen bergerak merangkak di sela-sela bebatuan. Dia mendengar suara langkah kaki di atas kepalanya. Kapal terbang itu melepaskan jaring energi yang mulai memindai area kabut. Caelen melompat ke dalam celah sempit di dinding tebing yang merupakan pintu masuk terowongan lava tersebut.

Di dalam terowongan, suhu udara jauh lebih tenang namun dinding-dindingnya memancarkan cahaya oranye yang stabil.

Caelen berjalan menyusuri lorong itu hingga dia sampai di sebuah ruangan berbentuk bundar. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja batu yang bersih dari debu, seolah-olah baru saja digunakan.

Di atas meja itu terletak sebuah gulungan dokumen dengan segel lilin merah milik Akademi Astrum. Caelen membuka segel itu dengan tangan gemetarnya. Matanya membelalak saat membaca daftar nama yang tertera di sana. Nama ibunya, ayahnya, dan namanya sendiri berada di bawah kategori Proyek Rekonstruksi Resonansi. Di samping nama ayahnya, terdapat catatan kecil bertuliskan "Kegagalan Tahap Akhir, Musnahkan."

Caelen meremas dokumen itu. Garis hitam di lehernya kembali berdenyut, menanggapi amarah yang meluap di dadanya. Dia bukan sekadar murid yang tidak sengaja terinfeksi. Dia menyadari bahwa setiap kejadian, mulai dari kehancuran rumahnya hingga ujian di hutan, adalah bagian dari eksperimen yang diawasi oleh orang-orang yang dia anggap sebagai pelindung.

Lonceng peringatan terdengar dari dalam terowongan. Getaran langkah kaki ksatria elit kembali terasa. Caelen melihat ke arah ujung ruangan yang memiliki jalan keluar menuju lereng luar pegunungan. Dia tidak bisa lagi kembali ke kehidupan lamanya. Dia juga tidak bisa lagi mempercayai siapa pun dari akademi, termasuk instruktur Varick.

Caelen mengambil sebuah tabung berisi kristal esensi yang tersisa di meja itu dan memasukkannya ke dalam slot di lengan peraknya.

Energi baru mengalir masuk, memberikan kekuatan pada motor penggerak di tangannya. Suara dengungan di bahunya kini berubah menjadi bisikan yang lebih teratur, seolah-olah lengan perak itu sedang menerjemahkan bahasa besi hitam menjadi perintah yang bisa dia kendalikan.

Dia melangkah keluar dari terowongan, berdiri di atas puncak tertinggi Pegunungan Berapi yang menghadap ke arah ibu kota kerajaan. Di kejauhan, menara-menara Akademi Astrum terlihat seperti batang lidi kecil yang ditusukkan ke bumi.

Caelen menarik napas panjang, membiarkan angin dingin puncak gunung mendinginkan lengan logamnya yang panas.

Sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari di atasnya. Kapal induk ksatria matahari, yang jauh lebih besar dari kapal terbang sebelumnya, perlahan muncul dari balik awan. Di dek utama kapal itu, berdiri seorang pria dengan jubah emas panjang yang memegang tongkat otoritas Dewan Tetua.

"Caelen dari rumah Astrum," suara pria itu menggema melalui sihir pengeras suara. "Kembalikan apa yang menjadi milik Dewan, atau kami akan meratakan seluruh lembah ini bersama semua penghuninya."

Caelen tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mengangkat tangan peraknya ke arah langit, memperlihatkan simbol bintang berujung enam yang kini menyala merah terang. Dia berbalik membelakangi kapal induk itu dan melompat turun menuju jurang yang menuju ke wilayah tak bertuan di utara.

Pengejaran ini bukan lagi soal menangkap pelarian. Caelen menyadari bahwa keberadaannya kini adalah bukti kejahatan Dewan Tetua yang paling besar. Saat dia meluncur turun di lereng gunung yang curam, dia melihat ribuan obor mulai menyala di kaki gunung, menandakan bahwa pasukan kerajaan telah mengepung seluruh area tersebut.

Dia harus mencapai perbatasan sebelum fajar, atau dia akan menjadi subjek eksperimen yang mati di tangan penciptanya sendiri. Caelen mempercepat langkahnya, menghilang di antara retakan-retakan batu yang masih mengeluarkan asap sulfur.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel