Chapter 8: Lembah Sulfur dan Cetakan Tanpa Nama
Lumpur rawa yang dingin perlahan berganti menjadi aliran air hangat yang membawa endapan kuning cerah.
Caelen muncul dari permukaan air dengan napas yang memburu. Dia menyeret tubuhnya ke tepian sungai kecil yang membelah tebing-tebing batu tajam. Di hadapannya, Lembah Sulfur membentang dengan kabut uap panas yang keluar dari celah-celah tanah. Udara di sini terasa berat, beraroma telur busuk dan belerang yang mencekik tenggorokan.
Caelen mencoba merasakan getaran di sekitarnya. Namun, efek cairan merah dari pria tua itu masih bekerja.
Dunianya tetap sunyi senyap dari resonansi energi. Dia hanya bisa mendengar suara air yang mendidih dari kejauhan dan detak jantungnya sendiri yang terasa tumpul.
Tanpa indera resonansinya, dia merasa seperti berjalan di atas tali tipis dalam kegelapan.
Dia meraba bahu kanannya. Tato hitam itu tidak lagi terasa panas, namun kulit di sekitarnya mengeras seperti lapisan arang. Dia melangkah tertatih, mengikuti petunjuk arah utara yang pernah disebutkan pria tua itu.
Tebing-tebing di lembah ini memiliki formasi yang tidak alami. Banyak bekas pahatan besar di dinding batu, menyerupai bekas sabetan pedang raksasa.
Caelen melewati sebuah jembatan batu alami yang menghubungkan dua sisi jurang. Di bawahnya, aliran lava kecil mengalir perlahan, memberikan cahaya kemerahan yang remang pada jalan setapak yang dia lalui.
Setelah mendaki lereng yang licin selama satu jam, Caelen melihat sebuah bangunan yang menempel di dinding tebing. Bangunan itu terbuat dari logam hitam yang sudah berkarat, sebagian terkubur oleh reruntuhan batu. Sebuah cerobong asap besar mencuat dari atapnya, meskipun tidak ada api yang menyala di dalamnya.
Caelen mendekati pintu masuk yang terbuat dari besi berat. Di atas pintu tersebut, terdapat sebuah ukiran kecil berbentuk palu dan bunga lili. Tangannya gemetar saat menyentuh ukiran itu.
Cincin perak di sakunya terasa bergetar pelan, seolah-olah mengenali tempat ini.
Dia mendorong pintu besi itu. Suara derit logam yang beradu dengan batu menggema di dalam ruangan yang luas. Di dalamnya, debu menutupi tumpukan cetakan senjata dan tungku besar yang sudah dingin. Ada ribuan perkamen yang berserakan di lantai, sebagian besar hancur dimakan usia dan kelembapan.
Caelen berjalan menuju meja kerja utama di tengah ruangan. Di sana terletak sebuah kotak kayu panjang yang dibalut dengan rantai perak. Dia mencoba menarik rantai itu, namun tenaganya masih terlalu lemah. Dia duduk di kursi kayu tua di belakang meja, mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa berat.
Mata Caelen tertuju pada sebuah buku catatan yang terbuka di atas meja. Tulisannya sudah pudar, namun dia mengenali gaya tulisan tangan yang kaku dan tegas.
"Resonansi ke-777, besi hitam menolak untuk menyatu dengan baja biasa," Caelen membaca baris pertama dengan suara serak. "Dia tidak mencari wadah, dia mencari irama yang sama."
Caelen membalik halaman berikutnya. Ada sketsa sebuah pedang tanpa bilah, hanya gagang dengan lubang di tengahnya. Di bawah gambar itu tertulis sebuah nama, Caelen.
Sensasi dingin tiba-tiba menjalar ke tengkuknya. Caelen berbalik dengan cepat. Di sudut ruangan yang gelap, sesosok pria dengan zirah rusak berdiri diam. Pria itu tidak memiliki kepala, namun di tempat seharusnya kepala berada, sebuah bola cahaya biru berdenyut pelan.
Itu adalah Sentient Armor, sebuah artefak kuno yang diprogram untuk menjaga tempat ini.
Zirah itu mengangkat pedang besarnya yang terbuat dari batu granit. Langkah kakinya berat, menggetarkan lantai logam di bawah kaki Caelen. Caelen mencoba mencari senjatanya, namun dia hanya menemukan sebilah tang penjepit besar di dekat tungku.
Zirah penjaga itu menyerang dengan tebasan vertikal yang sangat kuat.
Caelen berguling ke samping, menghindari serangan yang menghancurkan meja kerja kayu di belakangnya. Serpihan kayu berterbangan ke segala arah. Caelen berlari menuju tungku besar, berharap menemukan sesuatu untuk bertahan hidup.
"Aku bukan penyusup!" teriak Caelen, meskipun dia tahu artefak itu tidak memiliki telinga.
Zirah itu terus bergerak mendekat. Bola cahaya di lehernya berubah warna menjadi merah darah. Caelen merasa pengaruh cairan merah pria tua itu mulai memudar. Detak rendah di bahunya kembali terasa, berdenyut keras mengikuti irama gerakan zirah penjaga itu.
Caelen mengepalkan tangan kanannya. Tato hitam di lengannya mulai memancarkan uap hitam kembali. Dia tidak lagi mencoba menekan logam di dalam tubuhnya. Dia justru membiarkan energi itu mengalir menuju ujung jemarinya.
Saat zirah penjaga itu menusukkan pedang batunya, Caelen menangkap bilah pedang itu dengan tangan kanannya yang telanjang.
Logam hitam di bawah kulit Caelen merambat keluar, menyelimuti bilah batu zirah penjaga tersebut. Suara pekikan logam terdengar sangat memekakkan telinga. Pedang batu itu hancur menjadi debu hanya dalam hitungan detik. Zirah penjaga itu membeku di tempat, bola cahayanya meredup dan berkedip tidak beraturan.
Caelen jatuh berlutut, memegangi lengannya yang kini dipenuhi oleh serpihan batu yang menancap di kulit. Dia menatap zirah yang kini tidak bergerak itu. Di dada zirah tersebut, terdapat sebuah celah kecil yang terbuka, memperlihatkan sebuah kunci kristal yang berputar pelan.
Dia mengambil kunci itu dan membawanya ke arah kotak kayu panjang yang dirantai perak tadi. Begitu kunci kristal itu menyentuh gembok, rantai perak itu meleleh seperti air. Tutup kotak kayu itu terbuka perlahan, menyingkap isinya.
Di dalamnya bukan sebuah pedang, melainkan sebuah lengan buatan dari logam perak yang sangat halus, lengkap dengan sendi-sendi mekanis yang sangat rumit. Di telapak tangan logam itu, terdapat sebuah lubang berbentuk bintang berujung enam.
Caelen menyentuh lengan buatan itu. Seketika, sebuah proyeksi cahaya muncul dari kotak tersebut, menampilkan wajah seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan mata yang tajam namun lembut.
"Jika kau membaca ini, berarti aku sudah gagal dan kau sudah terinfeksi," suara proyeksi pria tua itu terdengar jernih. "Lengan ini bukan untuk menggantikan anggota tubuhmu. Ini adalah penjara untuk besi hitam yang kau bawa. Pakailah sebelum besi itu mencapai sumsum tulang belakangmu."
Caelen menatap lengan kanannya sendiri. Garis-garis hitam kini sudah merambat melewati bahu dan mulai mencapai pangkal lehernya. Dia merasa setiap helai ototnya mulai mengeras menjadi logam. Dia tidak memiliki pilihan lain.
Caelen mengambil pisau kecil dari meja kerja dan mulai menyayat pakaian di bahu kanannya. Dia memposisikan lengan perak mekanis itu di atas lengannya yang terinfeksi. Logam perak itu seolah-olah hidup, klem-klem kecil di pinggirannya terbuka dan menancap ke dalam daging Caelen, mengunci posisi lengan mekanis itu secara permanen.
Rasa sakit yang luar biasa membuat pandangan Caelen memutih. Dia merasakan logam perak itu mulai menyedot keluar semua energi hitam dari lengannya, menyimpannya di dalam kompartemen tersembunyi di balik sendi siku mekanis tersebut.
Saat rasa sakit itu mereda, Caelen melihat lengan kanannya kini terbungkus oleh pelindung perak yang elegan namun terlihat sangat mematikan. Dia mencoba menggerakkan jari-jarinya. Gerakannya sangat halus, bahkan lebih presisi daripada tangan aslinya.
Tiba-tiba, suara deru mesin terdengar dari luar tebing. Beberapa kapal terbang kecil dengan lambang matahari milik Dewan Tetua mulai muncul dari balik kabut uap sulfur. Mereka menurunkan tali tambang, dan belasan ksatria elit mulai turun menuju bengkel tua itu.
Caelen melihat ke arah pintu yang terkunci. Dia menyadari bahwa tempat ini bukan lagi tempat persembunyian, melainkan sebuah kotak jebakan yang sempurna. Dia mengambil buku catatan kakeknya dan memasukkannya ke dalam tas jubahnya yang baru.
Dia mendekati dinding belakang bengkel yang berbatasan langsung dengan kawah uap panas. Caelen mengangkat tangan peraknya. Dia merasakan kekuatan yang tersimpan di dalamnya siap untuk diledakkan. Dengan satu pukulan terukur, dia menghancurkan dinding batu tebing itu, menciptakan celah sempit untuk melarikan diri ke jalur udara yang berbahaya.
Caelen berdiri di tepi lubang tersebut, menatap ksatria pertama yang berhasil mendobrak pintu depan. Dia melompat ke arah tebing yang berseberangan, membiarkan angin panas membawanya semakin jauh ke dalam wilayah yang belum pernah terjamah oleh peta kerajaan.
