Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 10: Fakta yang mengejutkan

Cahaya senter sihir menyapu lereng pegunungan seperti jemari hantu yang mencari mangsa. Caelen merapatkan tubuhnya pada rekahan batu yang masih terasa hangat.

Di atas sana, kapal induk ksatria matahari memuntahkan lusinan pod pendarat yang meluncur seperti meteor perak menuju kaki lembah. Suara dentumannya saat menghantam tanah menggetarkan gendang telinga Caelen. Dia merasakan getaran itu merambat melalui lengan peraknya, menciptakan desis elektrik di antara sambungan pelat logamnya.

Dia menatap pergelangan tangannya. Peta holografis yang tadi menyala kini berkedip lemah, tertutup oleh gangguan frekuensi yang dipancarkan oleh kapal induk di atas. Caelen menarik napas dalam, membiarkan oksigen yang tipis dan berbau belerang memenuhi paru-parunya. Dia harus bergerak sekarang atau terkubur dalam kepungan.

Caelen meluncur turun di lereng yang hampir vertikal. Tangan peraknya mencengkeram permukaan batu secara bergantian, meninggalkan lubang-lubang kecil sedalam lima sentimeter. Setiap kali logam perak itu bersentuhan dengan batu, percikan api kecil tercipta. Dia mendarat di atas jalur setapak yang tersembunyi di balik tirai uap sulfur yang pekat.

Dua ksatria elit dengan zirah bersimbol matahari muncul dari balik kabut. Mereka tidak membawa pedang, melainkan tongkat pendek yang memancarkan jaring energi biru di antara ujungnya. Mereka segera mengarahkan tongkat itu ke arah Caelen.

Caelen tidak berhenti berlari. Dia memacu kakinya, merasakan otot paha yang mulai berteriak karena kelelahan. Saat jaring energi itu dilepaskan, Caelen melompat dan memutar tubuhnya di udara. Lengan peraknya berpendar merah terang. Dia menghantamkan kepalan tangan logamnya ke tanah tepat di tengah kedua ksatria tersebut.

Ledakan getaran yang sangat padat terpancar dari titik hantaman. Tanah batu di bawah kaki ksatria itu pecah menjadi butiran pasir halus. Gelombang kejutnya melempar mereka ke arah yang berlawanan, menghancurkan helm zirah mereka hingga retak. Caelen mendarat dengan bertumpu pada satu lutut, sementara sisa-sisa energi hitam menguap dari sela-sela jari mekanisnya.

Dia merasakan rasa haus yang luar biasa menyiksa tenggorokannya. Cairan merah yang dia minum tadi sudah habis bereaksi. Tanpa penekan, besi hitam di dalam sumsum tulangnya mulai terasa gatal dan panas.

Caelen bangkit berdiri, menyeka keringat yang bercampur debu belerang dari dahinya.

Dia terus berlari menuju garis perbatasan yang ditandai dengan sungai air raksa yang mematikan. Sungai itu tidak mengalirkan air, melainkan logam cair yang memancarkan cahaya perak pucat. Hanya ada satu jembatan gantung yang terbuat dari rantai besi raksasa yang menghubungkan wilayah kerajaan dengan tanah tak bertuan di utara.

Di ujung jembatan, seorang pria berdiri diam. Dia mengenakan jubah abu-abu panjang yang sudah sobek di bagian bawahnya. Pria itu memegang sebuah lonceng kecil di tangan kirinya. Wajahnya tertutup oleh topeng logam berbentuk tengkorak burung yang dingin.

"Jalan ini ditutup untuk aset yang tidak stabil," suara pria itu terdengar datar, terdistorsi oleh topengnya.

Caelen berhenti sepuluh langkah di depan pria itu. "Aku bukan aset siapa pun."

Pria bertopeng burung itu membunyikan loncengnya sekali.

Gelombang suara yang tidak terdengar oleh telinga manusia meledak di udara. Caelen merasakan lengan peraknya mendadak menjadi sangat panas. Sendi-sendi di sikunya terkunci secara paksa. Dia jatuh berlutut, memegangi bahunya yang terasa seperti sedang dibakar oleh besi panas.

"Resonansi perakmu dibuat oleh kakekmu untuk tunduk pada lonceng ini," pria itu melangkah maju. Sepatu botnya berdentang keras di atas jembatan rantai. "Semua penelitian keluarga Astrum pada akhirnya kembali ke tangan Dewan."

Caelen menggeram, mencoba memaksa lengannya untuk bergerak. Namun, setiap kali dia mengerahkan energi, lonceng itu kembali berbunyi, mengirimkan rasa sakit yang membuat sarafnya terasa putus. Dia menoleh ke belakang. Pasukan ksatria matahari sudah terlihat di ujung jalur setapak, mulai mengepung area jembatan.

Di saat kesadarannya mulai memudar karena rasa sakit, Caelen merasakan sebuah getaran baru dari dalam cincin perak ibunya di sakunya. Cincin itu tidak lagi memberikan pesan suara, melainkan memancarkan frekuensi dingin yang menenangkan. Frekuensi itu menyusup ke dalam mekanisme lengan peraknya, menetralisir suara lonceng tersebut.

Caelen merasakan kuncian pada sendinya terlepas. Dia menatap pria bertopeng burung itu dengan mata yang dipenuhi oleh garis-garis hitam yang menyebar cepat. Dia tidak lagi menggunakan energi dari lengan perak. Dia menarik energi langsung dari besi hitam yang ada di dalam tulangnya, membiarkan zat itu merembes keluar melalui pori-pori kulit di sekitar bahunya.

Asap hitam yang kental menyelimuti lengan peraknya. Caelen melesat maju dengan kecepatan yang membuat pria bertopeng itu tidak sempat membunyikan loncengnya lagi.

Tangan perak Caelen mencengkeram leher pria itu dan mengangkatnya ke udara.

"Berhenti... berbunyi," ucap Caelen dengan suara yang kini terdengar berlapis dengan dengungan logam.

Dia melempar pria itu ke arah sungai air raksa di bawah jembatan. Lonceng kecil itu jatuh dan hancur berkeping-keping di atas batu. Caelen berbalik ke arah pasukan ksatria yang kini berhenti bergerak, tampak ragu melihat perubahan fisik pada diri pemuda di depan mereka.

Caelen melangkah mundur ke tengah jembatan rantai. Dia melihat ke arah tali pengikat jembatan yang terbuat dari baja tebal. Dia mengangkat tangan peraknya yang masih diselimuti asap hitam. Dengan satu tebasan horizontal, dia memutus rantai utama jembatan tersebut.

Jembatan itu runtuh. Caelen melompat ke sisi utara tepat saat jembatan rantai itu terjun ke dalam aliran logam cair di bawahnya. Dia berdiri di tepi tebing utara, menatap para ksatria yang kini terpisah oleh jurang lebar yang tidak mungkin dilompati.

Tiba-tiba, seorang wanita muncul dari balik pepohonan di sisi utara. Dia tidak mengenakan zirah kerajaan, melainkan pakaian kulit praktis dengan lambang sayap patah di bahunya. Di belakangnya, beberapa pria dengan senjata yang tampak lebih modern dan kasar berdiri waspada.

"Kau menghancurkan jembatan kami," wanita itu berkata sambil menurunkan busur panahnya. "Tapi kau juga menghancurkan orang Dewan itu. Itu nilai tambah yang bagus."

Caelen merasakan kakinya lemas. Efek dari penggunaan energi murni besi hitam mulai merusak kesadarannya. Dia melihat wanita itu mendekat, lalu melihat ke arah lengannya yang kini menghitam seluruhnya, bahkan melampaui pelindung peraknya.

"Bawa dia ke kamp bawah tanah," wanita itu memberi perintah kepada anak buahnya. "Dan pastikan lengannya diikat dengan pengikat magnetik. Kita tidak ingin dia menghancurkan tempat tinggal kita saat dia mengamuk nanti."

Caelen merasa tubuhnya diangkat oleh beberapa orang. Dia mencoba melawan, namun kegelapan sudah mulai menelan pandangannya. Hal terakhir yang dia dengar adalah suara mesin kapal induk di langit yang mulai menjauh, memberikan tanda bahwa wilayah utara adalah tempat yang bahkan tidak ingin dimasuki oleh ksatria matahari tanpa persiapan besar.

Dia menyentuh saku jubahnya, merasakan buku catatan kakeknya masih ada di sana. Dokumen yang dia temukan di bengkel menunjukkan satu fakta yang lebih mengerikan dari sekadar eksperimen.

Namanya bukan Caelen Astrum, melainkan subjek yang diambil dari panti asuhan setelah Caelen yang asli mati dalam prosedur pertama.

Rantai identitas yang dia pegang selama ini terputus bersamaan dengan jatuhnya jembatan besi itu ke dalam sungai air raksa. Caelen membiarkan dirinya terjatuh pingsan saat tubuhnya dibawa masuk ke dalam terowongan rahasia menuju wilayah yang dikenal sebagai Tanah Para Pengkhianat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel