Chapter 7: Rawa Kabut dan Frekuensi yang Menipu
Burung mekanis itu menukik tajam sambil terus mengeluarkan suara pekikan yang menyayat telinga. Lensa kristalnya berpendar merah, mengunci koordinat tepat di atas kepala Caelen. Dari arah timur, debu membumbung tinggi diikuti derap kaki kuda yang semakin cepat.
Caelen menarik tudung jubahnya, lalu menyambar tangan Lyra yang masih terpaku menatap langit.
"Lari ke arah vegetasi yang lebih padat," perintah Caelen sambil melompati akar pohon besar yang melintang di jalan.
Mereka menerjang semak berduri. Caelen mengabaikan goresan di wajahnya yang mulai mengeluarkan darah. Di belakang mereka, suara pepohonan yang tumbang terdengar keras. Dua ksatria penunggang kuda dengan baju zirah perak berat merangsek masuk ke dalam hutan, memegang tombak yang dialiri energi resonansi cahaya.
Caelen merasakan getaran tanah di bawah kakinya berubah. Tanah yang padat mulai berganti menjadi lumpur hitam yang mengeluarkan gelembung gas belerang. Bau busuk tanaman mati menusuk hidung. Mereka telah mencapai batas luar Rawa Kabut.
"Burung itu masih di atas kita," Lyra berteriak sambil menghindari tebasan dahan pohon. "Jika kita tidak menjatuhkannya, mereka akan mengepung kita di area terbuka rawa."
Caelen berhenti mendadak di tepi genangan air payau. Dia membalikkan badan, menatap burung mekanis yang melayang rendah. Garis-garis hitam di lengannya berdenyut kencang, memancarkan panas yang membuat tetesan air hujan di jubahnya menguap seketika.
Serpihan logam ayah di bahunya mulai merespons suara mesin burung itu.
Caelen mengangkat tangan kanannya. Dia tidak mencoba mengeluarkan cahaya. Dia memfokuskan pikirannya pada suara mesin yang berputar di atas sana. Dia menarik napas panjang, lalu menyentakkan jemarinya ke udara seolah-olah sedang memetik senar instrumen yang tidak terlihat.
Gelombang tekanan udara yang sangat padat namun tidak bersuara melesat ke atas. Burung mekanis itu mendadak berhenti berputar. Roda gigi di dalamnya berderit hebat sebelum akhirnya meledak menjadi serpihan kecil. Bangkai logam itu jatuh terperosok ke dalam lumpur rawa tanpa sempat mengirimkan transmisi terakhir.
"Kau menghancurkan frekuensi rotasinya," Lyra menatap sisa-sisa burung itu dengan mata melebar.
"Ke barat," Caelen tidak membuang waktu. "Masuk ke dalam kabut hijau itu."
Mereka melompat ke dalam area rawa yang lebih dalam. Kabut tebal berwarna hijau lumut segera menelan sosok mereka. Di sini, jarak pandang berkurang menjadi hanya tiga meter.
Suara derap kuda di belakang mereka mulai terdengar bingung. Kuda-kuda itu meringkik ketakutan, menolak untuk menginjakkan kaki ke dalam lumpur yang mengandung gas beracun.
Caelen merasakan lencana perunggu di sakunya terus menariknya ke arah selatan, berlawanan dengan arah yang mereka tempuh sekarang. Tarikan itu terasa seperti beban fisik yang memaksa tubuhnya berputar. Namun, suara ibunya dari cincin perak masih terngiang jelas di telinganya.
"Lyra, berikan aku belatimu sejenak," ucap Caelen sambil terus berjalan melewati air setinggi lutut.
Lyra memberikan belati kristalnya dengan ragu. Caelen mengambil lencana perunggu yang retak itu, lalu menggoreskan ujung belati pada permukaan lencananya. Cairan hitam pekat mulai merembes keluar dari retakan logam tersebut. Cairan itu bukan minyak, melainkan esensi resonansi yang sudah terkontaminasi.
"Benda ini memang pelacak," Caelen menjatuhkan lencana itu ke dalam lubang lumpur yang dalam. "Siapa pun yang mengaturnya ingin aku pergi ke pegunungan selatan."
Mereka terus berjalan selama dua jam di dalam kesunyian rawa. Satu-satunya suara yang terdengar adalah langkah kaki mereka yang mengaduk lumpur dan suara kepakan sayap serangga rawa yang besar. Caelen merasa tenaganya mulai terkuras. Logam hitam di bahunya terus menghisap energinya untuk menjaga dirinya tetap stabil di dalam daging Caelen.
Tiba-tiba, kabut di depan mereka menyisip, memperlihatkan sebuah gubuk kayu tua yang dibangun di atas panggung kayu yang tinggi.
Di depan gubuk itu, seorang pria tua dengan pakaian compang-camping sedang mengaduk sesuatu di dalam kuali besar. Pria itu tidak memiliki tangan kanan, digantikan oleh sebuah protese kasar dari kayu yang diukir.
Pria tua itu berhenti mengaduk dan menatap ke arah kabut. "Aku sudah lama tidak mendengar resonansi sesunyi ini sejak malam di desa pesisir sepuluh tahun lalu."
Caelen membeku. Dia menggenggam erat cincin perak di dalam saku jubahnya. Lyra sudah bersiap dengan posisi tempur, namun Caelen menahan bahu wanita itu.
"Siapa Anda?" tanya Caelen dengan suara bergetar.
Pria tua itu tertawa kecil, suara tawanya kering seperti daun jatuh. Dia mengangkat tangan kayunya.
"Nama bukan hal yang penting di tempat busuk ini. Tapi kau membawa bau besi yang sangat kukenal. Besi yang menghancurkan satu batalyon ksatria hanya dalam satu malam."
Pria itu memberi isyarat agar mereka naik ke atas panggung kayu. Caelen melangkah maju, menaiki tangga yang sudah rapuh. Di dalam gubuk, ruangan itu dipenuhi oleh berbagai macam artefak logam yang rusak dan dibungkus kain perca. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja kerja dengan peralatan pandai besi yang sangat lengkap.
"Anak itu memilih jalan yang salah," pria tua itu menunjuk ke arah selatan melalui jendela kecil. "Lencana itu akan membawamu langsung ke altar penyerapan. Duke Valerius hanya butuh inang yang cukup kuat untuk membawa serpihan itu ke sana."
Caelen duduk di lantai kayu yang kasar. Dia membuka jubahnya, memperlihatkan tato hitam yang kini merambat ke arah lehernya. "Ibuku... dia mengirim pesan melalui cincin ini."
Pria tua itu mendekat, matanya yang kusam menatap tato di leher Caelen. Dia menyentuh garis hitam itu dengan jari kayunya.
"Ibumu tahu bahwa kau adalah kunci sekaligus kunci cadangan. Jika kau tidak bisa menjinakkan besi di dalam tubuhmu, kau hanya akan menjadi katalis untuk membangkitkan sesuatu yang seharusnya tetap mati."
Pria itu berjalan menuju lemari kecil dan mengeluarkan sebuah botol berisi cairan berwarna merah darah. Dia memberikannya kepada Caelen.
"Minum ini. Ini akan memperlambat penyebaran logam itu, tapi kau akan kehilangan kemampuan untuk merasakan resonansi selama beberapa jam. Kau akan menjadi buta terhadap getaran."
Caelen menatap botol itu, lalu menatap Lyra yang tampak curiga. Namun, rasa panas di bahunya sudah mulai tak tertahankan lagi. Dia membuka tutup botol dan meminum isinya dalam satu tegukan. Rasanya seperti menelan bara api yang menjalar ke seluruh sarafnya.
Seketika itu juga, dunia di sekitar Caelen menjadi sunyi. Suara dengungan yang selalu ada di latar belakang pikirannya menghilang sepenuhnya. Dia tidak bisa lagi merasakan getaran pohon, air, atau bahkan kehadiran energi Lyra di sampingnya. Dia merasa hampa.
"Kalian tidak bisa berlama-lama di sini," pria tua itu mengambil sebuah kapak besar dari balik pintu. "Pasukan Duke memiliki anjing pelacak yang bisa mencium bau gas rawa. Mereka akan sampai di sini sebelum matahari terbenam."
"Ke mana kami harus pergi jika selatan adalah jebakan?" tanya Lyra.
Pria tua itu menunjuk ke arah utara, kembali ke arah kerajaan, namun melalui jalur yang melewati pegunungan berapi yang tidak dihuni manusia. "Cari sisa-sisa bengkel tua kakekmu di lembah sulfur. Di sana ada sesuatu yang bisa menampung besi itu tanpa membunuhmu."
Saat Caelen berdiri, dia merasa tubuhnya sangat ringan namun rapuh. Tanpa kemampuan merasakan getaran, dia merasa seperti berjalan di atas awan. Dia mengikuti Lyra keluar dari gubuk, menuju kegelapan rawa yang lebih dalam.
Namun, saat mereka baru berjalan beberapa ratus meter, sebuah ledakan besar menghancurkan gubuk kayu pria tua itu. Api biru membumbung tinggi ke langit, membakar kabut hijau di sekitarnya. Caelen berbalik dan melihat sesosok pria dengan baju zirah emas berdiri di atas sisa-sisa panggung kayu yang terbakar.
Itu bukan Duke Valerius. Pria itu memiliki rambut perak panjang dan membawa busur besar yang terbuat dari tulang naga. Dia melepaskan satu anak panah ke langit, dan anak panah itu pecah menjadi ribuan percikan cahaya yang menerangi seluruh area rawa seperti siang hari.
"Pemburu Bayaran dari faksi matahari," desis Lyra sambil menarik Caelen untuk bersembunyi di balik pohon besar. "Mereka dikirim oleh Dewan Tetua, bukan oleh Duke."
Caelen menyadari bahwa statusnya kini bukan lagi sekadar urusan keluarga bangsawan tertentu. Dewan Tetua telah mengeluarkan perintah pembersihan total. Dia melihat ke arah tangannya yang tidak lagi berdenyut karena pengaruh cairan merah tadi. Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya, dan kini para pemburu paling mematikan di benua itu sudah mengepung posisi mereka.
Lyra mengeluarkan sebuah granat asap dari sakunya. "Kita harus berpisah di sini, Caelen. Kau ambil jalur air, aku akan memancing mereka ke arah hutan kering."
Caelen hendak memprotes, namun suara langkah kaki yang berlari di atas air rawa terdengar dari segala arah. Dia melihat Lyra berlari ke arah yang berlawanan, meledakkan granat asap untuk mengaburkan pandangan para pemburu.
Caelen menjatuhkan dirinya ke dalam air rawa yang dingin, menyelam sedalam mungkin sambil menahan napas.
Di dalam kegelapan air, dia melihat bayangan anak panah cahaya menembus permukaan air berkali-kali. Dia terus berenang mengikuti arus bawah tanah yang menuju ke arah lembah sulfur, membawa rahasia besi di bahunya menuju ke tempat pengasingan yang baru.
