Chapter 6: Aliran Air dan Sisa Besi
Dingin yang menggigit menembus pakaian Caelen saat tubuhnya terombang-ambing di dalam saluran pembuangan bawah tanah. Air yang keruh menghantam dinding-dinding batu sempit, menyeretnya melewati lorong yang gelap gulita. Dia mencoba menggapai apa pun, namun permukaan dinding terlalu licin karena lumut.
Di sampingnya, Lyra berusaha mempertahankan posisi kepalanya di atas permukaan air sambil terus menggenggam belati kristalnya.
Saluran itu berakhir pada sebuah lubang pembuangan di tebing luar kompleks akademi. Tubuh mereka terlempar keluar, jatuh bebas selama beberapa detik sebelum mendarat di permukaan sungai yang mengalir deras di dasar lembah.
Caelen muncul ke permukaan sambil terbatuk-batuk. Paru-parunya terasa seperti tertusuk ribuan jarum es. Dia menyeret tubuhnya menuju tepian sungai yang dipenuhi kerikil tajam. Lengan kanannya tidak lagi terasa seperti bagian dari tubuhnya.
Logam hitam yang menyatu di bawah kulitnya berdenyut dengan suhu panas yang kontras dengan dinginnya air sungai. Uap tipis mengepul dari balik basahnya kain kasa yang membungkus lengannya.
Lyra merangkak naik ke daratan beberapa meter di sampingnya. Rambut peraknya lepek dan menempel di wajah. Dia segera mendekati Caelen dan menarik paksa lengan pemuda itu.
"Tahan napasmu," ucap Lyra pendek.
Dia merobek sisa perban Caelen. Di bawah cahaya bulan, garis-garis hitam itu tampak menonjol ke luar, membentuk pola geometris yang tajam.
Serpihan pedang milik ayah Caelen bergerak-gerak di bawah jaringan otot, menciptakan tonjolan-tonjolan kecil yang berpindah dari siku menuju sendi bahu. Kulit di sekitar area tersebut berwarna merah keunguan.
Lyra menempelkan bilah belati kristalnya yang dingin tepat di atas tonjolan logam yang bergerak. Caelen memekik tertahan. Otot-otot lehernya menegang saat energi dingin dari belati itu mencoba mengunci pergerakan logam hitam di dalam tubuhnya.
"Jangan biarkan dia mencapai jantungmu," Lyra menekan belatinya lebih dalam.
"Gunakan resonansi sunyimu untuk menekan serpihan ini ke arah tulang. Kau harus menjadikannya bagian dari kerangkamu, bukan membiarkannya mengalir di darahmu."
Caelen mencengkeram tanah berbatu dengan tangan kirinya hingga kuku-kukunya berdarah. Dia memusatkan seluruh kesadarannya pada rasa sakit di bahunya.
Di dalam kepalanya, suara dengungan itu berubah menjadi teriakan logam yang saling beradu. Dia membayangkan kesunyian yang dia gunakan di lapangan latihan tadi sore. Dia menarik semua getaran liar dari serpihan logam itu dan memaksanya untuk diam, menguncinya di sela-sela tulang belikatnya.
Perlahan, tonjolan di bawah kulitnya berhenti bergerak. Warna merah di lengannya memudar, berganti menjadi warna abu-abu pucat yang mati.
Caelen jatuh terlentang, menatap langit malam yang mulai memucat di ufuk timur. Napasnya pendek dan berat.
"Kau berhasil menidurkannya untuk sementara," Lyra menyarungkan belatinya dan duduk di samping Caelen.
"Tapi logam itu akan terus memakan energimu. Kau akan merasa lapar dan lelah lebih cepat dari manusia normal."
Caelen mengangkat tangannya yang terasa seberat timah.
"Duke Valerius tidak akan berhenti. Dia melihat apa yang masuk ke dalam tubuhku."
Lyra melihat ke arah puncak bukit, tempat lampu-lampu akademi Astrum masih berkedip-kedip di kejauhan.
"Dia tidak akan mengejarmu sendirian. Dia akan menggunakan surat penangkapan resmi. Seluruh ksatria di kerajaan ini akan memiliki deskripsi wajahmu sebelum matahari mencapai puncaknya."
Caelen meraba saku di pahanya. Lencana perunggu itu sudah retak menjadi tiga bagian, namun sisa-sisa energinya masih memancarkan cahaya redup yang menunjuk ke arah selatan, menuju pegunungan bersalju yang membatasi kerajaan.
"Peta itu menunjukkan koordinat di luar wilayah hukum ksatria," Caelen duduk dengan susah payah. "Ada sebuah tempat bernama The Silent Graveyard."
Lyra menyipitkan mata.
"Itu adalah wilayah sengketa. Banyak tentara bayaran dan pelarian dari berbagai faksi berkumpul di sana. Jika kau pergi ke sana, kau tidak akan lagi memiliki perlindungan sebagai warga negara."
Caelen melihat ke arah tangannya yang kini memiliki tato hitam permanen yang merambat hingga ke leher. Dia teringat wajah Varick yang memucat dan kemarahan Duke Valerius. Dia sudah tidak memiliki tempat untuk kembali. Akademi Astrum kini hanyalah penjara yang berhasil dia tinggalkan.
"Aku tidak butuh perlindungan mereka," ucap Caelen. Dia berdiri sambil menyeimbangkan berat tubuhnya. "Aku butuh jawaban yang disembunyikan ayahku di dalam besi ini."
Mereka mulai berjalan menyusuri pinggiran sungai, menghindari jalan setapak yang biasa dilalui pedagang.
Di kejauhan, suara terompet khas militer kerajaan terdengar bersahut-sahutan. Burung-burung pengintai mekanis mulai dilepaskan dari menara-menara akademi, terbang berputar-putar di atas hutan untuk mencari jejak panas tubuh manusia.
Lyra memberikan sebuah jubah tua berwarna cokelat kusam kepada Caelen.
"Pakai ini. Tutupi lehermu. Jangan gunakan resonansi apa pun kecuali kau benar-benar terdesak. Setiap getaran yang kau lepaskan akan tertangkap oleh sensor burung pengintai itu."
Saat mereka melintasi perbatasan hutan, Caelen melihat sebuah pos penjaga di kejauhan. Biasanya pos itu hanya dijaga oleh dua prajurit kelas bawah, namun kini ada lebih dari sepuluh ksatria dengan baju zirah lengkap yang sedang memeriksa setiap kereta kuda yang lewat.
Di tengah jalan, sebuah poster besar sedang dipasang pada papan pengumuman.
Caelen mendekat sedikit untuk melihat. Itu adalah potret dirinya. Di bawah gambar itu tertulis kata "Eksperimen Terlarang" dengan hadiah ribuan koin emas bagi siapa saja yang bisa membawanya kembali, hidup atau mati.
Namun, yang membuat jantung Caelen berdegup kencang adalah simbol di bawah poster itu. Itu bukan lambang kerajaan, melainkan lambang mata tertutup yang sama dengan lencana di sakunya.
"Akademi ini sudah disusupi lebih dalam dari yang kubayangkan," gumam Lyra sambil menarik tudung kepalanya lebih rendah.
Caelen membalikkan badan, menjauhi pos penjaga tersebut. Dia menyadari bahwa pelariannya bukan lagi sekadar menghindari hukum, melainkan juga melarikan diri dari organisasi yang tampaknya mengendalikan hukum itu sendiri dari balik bayangan.
Dia merogoh saku jubahnya dan menemukan sebuah benda kecil yang ikut terbawa saat dia menghancurkan tabung kaca tadi. Itu adalah sebuah cincin perak kecil dengan ukiran bunga lili. Saat dia menyentuhnya, sebuah pesan suara yang sangat singkat dan terdistorsi muncul di benaknya, menggunakan frekuensi yang hanya bisa didengar oleh pemilik logam hitam di tubuhnya.
"Caelen... jangan pergi ke pegunungan. Itu adalah jebakan."
Suara itu adalah suara ibunya. Caelen berhenti melangkah, membuat Lyra menabrak punggungnya.
Pemuda itu menatap lencana retak di tangannya yang masih menunjuk ke arah selatan dengan gigih. Kompas di tangan Lyra juga menunjuk ke arah yang sama.
Dua penunjuk jalan memberikan arah yang sama, namun suara dari masa lalunya mengatakan hal yang sebaliknya.
Caelen menoleh ke arah barat, menuju rawa-rawa beracun yang dikenal sebagai wilayah tanpa hukum, tempat di mana getaran sensor akademi akan terganggu oleh gas alam yang pekat.
"Ada apa?" tanya Lyra curiga.
Caelen mengepalkan tangannya hingga lencana retak itu melukai telapak tangannya. "Kita berganti rute. Kita menuju Rawa Kabut."
Lyra hendak memprotes, namun suara kepakan sayap logam terdengar tepat di atas pepohonan tempat mereka berdiri. Seekor burung pengintai mekanis sedang melayang, lensa kristalnya berputar mencari fokus pada dua sosok di bawahnya.
Caelen segera menarik Lyra masuk ke dalam semak berduri, namun terlambat. Burung itu mengeluarkan suara melengking yang tinggi, mengirimkan sinyal posisi mereka kepada seluruh ksatria di area tersebut.
Di kejauhan, suara derap kaki kuda yang sangat banyak mulai bergetar di atas tanah. Caelen menyentuh bahunya, merasakan logam hitam di dalamnya mulai memanas kembali seolah-olah siap untuk meledak.
