Chapter 5: Mekanisme di Bawah Lonceng
Ujung sepatu bot Caelen menyentuh lantai batu yang dingin di dasar Menara Jam.
Ruangan ini dipenuhi oleh suara detak mekanis yang konstan dan berat. Roda gigi raksasa setinggi tiga meter berputar di balik dinding kaca, saling mengunci dan menggerakkan jarum raksasa di puncak menara. Aroma minyak pelumas dan debu tua memenuhi rongga hidungnya.
Di sudut ruangan, bayangan seseorang bergerak perlahan menjauhi pilar marmer.
"Kau datang tepat waktu," suara Lyra muncul dari balik kegelapan.
Wanita itu berdiri di dekat sebuah panel kayu yang terukir simbol matahari terbenam. Dia tidak memegang lampu, namun mata ungu pucatnya memberikan cahaya redup di area sekitarnya.
Caelen mendekat sambil tetap waspada terhadap suara langkah kaki penjaga di luar gedung. Tangannya meraba paha bagian dalam, memastikan lencana perunggu itu masih berada di tempatnya.
"Aku membawa lencananya," ucap Caelen sambil menarik benda logam itu keluar.
Lyra menatap lencana berbentuk mata tertutup tersebut. Jarum kompas di saku jubahnya bergetar liar hingga mengeluarkan suara berdenting.
"Letakkan di lubang kunci pada roda gigi utama. Bagian yang tidak berputar di sisi timur."
Caelen berjalan menuju mekanisme raksasa tersebut. Dia menemukan sebuah celah sempit di tengah poros roda gigi yang diam.
Bentuknya persis dengan lencana perunggu di tangannya. Saat dia mendekatkan benda itu, garis hitam di lengannya kembali berdenyut panas. Rasa sakit menyengat menjalar hingga ke bahu, membuat jemarinya gemetar.
Caelen menekan lencana itu masuk ke dalam celah.
Suara logam beradu terdengar sangat keras. Roda gigi yang tadinya berputar searah jarum jam tiba-tiba berhenti mendadak, menciptakan guncangan yang menggetarkan seluruh lantai menara. Tak lama kemudian, mekanisme itu mulai bergerak mundur. Lantai batu di bawah kaki Caelen bergeser, menyingkap sebuah tangga melingkar yang menuju ke kedalaman gelap di bawah pondasi akademi.
"Cepat," bisik Lyra sambil menarik lengan Caelen. "Hanya ada waktu tiga menit sebelum sistem pengamanan otomatis menyadari ada gangguan pada ritme jam."
Mereka berdua menuruni tangga batu yang licin. Dinding di sekeliling mereka tidak lagi terbuat dari marmer halus, melainkan batuan kasar yang dipenuhi oleh lumut bercahaya biru.
Suara detak jam di atas perlahan memudar, digantikan oleh suara dengungan rendah yang selama ini menghantui mimpi Caelen. Dengungan itu kini terasa sangat nyata, menggetarkan tulang rusuknya di setiap langkah.
Di dasar tangga, mereka sampai di sebuah pintu besi yang sudah berkarat. Di tengah pintu itu terdapat ukiran wajah manusia tanpa mulut. Caelen menyentuh permukaan pintu tersebut. Tangannya langsung terasa seperti tersedot oleh kekuatan magnet yang sangat kuat.
"Gunakan energimu untuk membuka segel ini," perintah Lyra. "Samakan frekuensi jiwamu dengan suara dengungan yang kau dengar."
Caelen memejamkan mata. Dia berhenti melawan rasa sakit di lengannya dan justru membiarkan garis hitam itu menyebar lebih luas ke arah telapak tangannya. Dia menarik napas dalam, mencoba menangkap irama dengungan dari balik pintu. Irama itu terasa berat, lambat, dan penuh dengan kesedihan yang mendalam.
Dia mulai menggetarkan energinya secara internal. Perlahan, pintu besi itu mulai memerah. Karat-karat yang menempel berjatuhan ke lantai. Suara engsel yang dipaksa terbuka merobek kesunyian ruang bawah tanah itu.
Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan luas yang dipenuhi oleh ribuan tabung kaca berisi cairan bening.
Caelen melangkah masuk dengan mata terbelalak. Di dalam setiap tabung kaca, terdapat potongan senjata, perisai, dan artefak kuno yang tampak masih bergetar. Cairan di dalam tabung itu berfungsi sebagai media untuk menahan frekuensi artefak tersebut agar tidak meledak atau menyebar keluar.
"Ini adalah tempat penyimpanan Echoes," Lyra berjalan menyusuri barisan tabung. "Senjata-senjata milik para ksatria yang gagal melakukan resonansi sempurna. Jiwa mereka tertinggal di dalam benda-benda ini."
Caelen berhenti di depan sebuah tabung yang berada di paling ujung. Tabung itu tidak berisi senjata utuh, melainkan hanya serpihan logam hitam yang tampak sangat familiar baginya.
Getaran dari serpihan itu membuat garis hitam di lengannya bereaksi paling hebat. Serpihan itu bergerak-gerak di dalam cairan, mencoba mendekati arah keberadaan Caelen.
"Itu milik ayahmu," ucap Lyra pelan.
Caelen terpaku di tempatnya. Ingatan tentang malam perak itu kembali melintas. Dia melihat ayahnya berdiri di depan pintu rumah dengan pedang hitam yang memancarkan energi yang sama dengan serpihan di dalam tabung ini. Ayahnya telah melawan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pencuri atau monster biasa.
Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi dari lantai atas. Suara lonceng menara berdentang berkali-kali dalam irama yang tidak beraturan. Lampu-lampu kristal di sepanjang koridor bawah tanah mulai menyala merah.
"Kita ketahuan," Lyra mencabut belati kristalnya. "Duke Valerius pasti menaruh pelacak pada lencana itu."
Suara langkah kaki yang sangat banyak mulai terdengar menuruni tangga batu. Itu bukan hanya langkah kaki ksatria biasa. Suara gesekan logam yang berat menandakan kehadiran unit elit Iron Wardens, pasukan khusus yang hanya tunduk pada perintah langsung Dewan Tetua.
Caelen menatap serpihan pedang ayahnya di dalam tabung. Dia tahu jika dia pergi sekarang, dia mungkin tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk kembali ke tempat ini. Dia mengepalkan tangannya dan meninju kaca tabung tersebut dengan seluruh kekuatannya.
"PRANK!"
Cairan bening tumpah membasahi lantai. Serpihan logam hitam itu melayang sejenak di udara sebelum melesat masuk ke dalam kulit lengan kanan Caelen, menyatu dengan garis-garis hitam yang ada di sana.
Caelen berteriak kesakitan saat logam itu merobek jaringan ototnya untuk mencari tempat menetap di dekat tulang bahunya.
"Apa yang kau lakukan?" Lyra tampak sangat terkejut. "Logam itu akan menghancurkan organ tubuhmu jika kau tidak bisa menjinakkan getarannya sekarang juga!"
Caelen jatuh berlutut, memegang bahu kanannya yang kini mengeluarkan uap hitam. Dia bisa merasakan kesadaran ayahnya, atau setidaknya sisa-sisa emosi terakhir ayahnya, membanjiri pikirannya. Amarah, rasa takut, dan sebuah perintah terakhir yang terus berulang.
"Lari."
Pintu ruang penyimpanan itu ditendang terbuka dari luar. Duke Valerius masuk dengan jubah yang berkibar, didampingi oleh sepasang ksatria berbaju zirah lengkap yang membawa tombak bercahaya. Mata Duke langsung tertuju pada tabung kaca yang pecah dan lengan Caelen yang berdenyut hitam.
"Kau mencuri warisan terlarang," Duke Valerius mengangkat tangannya. Cahaya emas yang sangat terang mulai terkumpul di ujung jarinya. "Kini aku memiliki alasan hukum untuk memusnahkanmu di tempat ini juga."
Lyra berdiri di depan Caelen, menghalangi pandangan Duke. "Dia bukan pencuri. Dia mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya sejak awal."
"Seorang sampah tidak memiliki hak milik," Duke melepaskan gelombang cahaya emas.
Lyra menangkis serangan itu dengan belatinya, namun kekuatan ledakannya melempar mereka berdua ke arah dinding belakang ruangan. Dinding tersebut ternyata merupakan bagian dari saluran pembuangan air akademi yang tersembunyi. Benturan keras itu meretakkan dinding batu tua tersebut.
Caelen merangkak berdiri, matanya kini memiliki semburat warna hitam di bagian pupilnya. Dia menoleh ke arah retakan dinding di belakangnya yang memperlihatkan aliran air yang sangat deras menuju luar kompleks akademi. Dia menatap Lyra, lalu menatap Duke Valerius yang sedang menyiapkan serangan kedua.
Caelen tidak menyerang balik. Dia justru mengarahkan telapak tangannya ke lantai bawah kaki mereka. Getaran hitam meledak dari tubuhnya, menghancurkan seluruh lantai dan dinding di sekitar mereka, menciptakan lubang besar yang langsung menuju ke saluran pembuangan bawah tanah.
Tubuh Caelen dan Lyra terjatuh ke dalam kegelapan lubang tersebut tepat saat serangan cahaya Duke menghanguskan udara di tempat mereka berdiri sebelumnya. Mereka terbawa oleh arus air yang dingin dan sangat cepat, menjauh dari cahaya lampu merah akademi.
Di tengah arus air yang menderu, Caelen merasakan lencana perunggu di pinggangnya mulai retak.
Benda itu mengeluarkan suara bisikan yang tidak lagi terdengar seperti dengungan, melainkan sebuah instruksi koordinat baru yang terletak di luar perbatasan kerajaan. Dia menyadari bahwa pelariannya malam ini telah mengubah statusnya dari seorang murid bermasalah menjadi pengkhianat kerajaan yang paling dicari.
Dia menggenggam lengan kanannya yang kini terasa sangat berat seolah-olah terbuat dari besi murni. Di atas sana, lonceng menara masih terus berdentang, mengumumkan kepada seluruh kota bahwa sesuatu yang sangat berbahaya baru saja lepas dari penjara bawah tanah Astrum.
