Chapter 4: Tato Bayangan dan Ruang Kedap Suara
Caelen duduk di atas kursi logam yang dingin di tengah ruangan tanpa jendela. Dinding ruangan itu terbuat dari batu obsidian yang dipahat halus, memantulkan bayangan dirinya yang terlihat kuyu.
Di langit-langit, sebuah batu saphira biru berpendar redup, memancarkan gelombang penekan energi yang membuat dadanya terasa sesak. Dia menunduk, menatap lengan kanannya. Garis-garis hitam tipis itu kini telah menetap, menjalar dari ujung jari tengahnya hingga melewati siku, menyerupai akar pohon yang merambat di bawah kulit.
Pintu batu di depannya bergeser terbuka dengan suara gesekan yang berat. Dua orang pria masuk.
Varick berjalan di depan dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari biasanya. Di belakangnya, seorang pria kurus berjubah putih dengan kacamata kecil bertengger di hidungnya melangkah masuk sambil membawa gulungan perkamen dan botol berisi cairan perak.
"Letakkan tanganmu di atas meja," perintah Varick. Suaranya datar, tanpa emosi yang biasanya meledak-ledak di lapangan latihan.
Caelen menuruti perintah itu. Dinginnya meja logam merambat ke kulitnya. Pria berjubah putih itu mendekat, lalu meneteskan sedikit cairan perak ke atas garis hitam di lengan Caelen.
Begitu cairan itu menyentuh kulit, asap hitam tipis menguap disertai suara desis yang tajam. Caelen mengatupkan rahangnya, menahan sensasi panas yang membakar sarafnya.
"Garis ini tidak bereaksi terhadap penetral tingkat tinggi," gumam pria berjubah putih itu sambil mencatat sesuatu di perkamennya.
"Getarannya berada pada frekuensi yang tidak bisa dideteksi oleh alat standar kami."
Varick menarik kursi dan duduk di hadapan Caelen. Dia menatap lurus ke mata pemuda itu.
"Elian masih belum sadar. Tim medis menemukan jejak energi yang menghancurkan struktur internal pedangnya sampai ke tingkat molekul. Hal seperti itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang murid tahun pertama, Caelen."
Caelen tetap diam. Dia merasakan lencana perunggu di balik ikat pinggangnya menekan pinggulnya. Benda itu terasa semakin berat seiring berjalannya waktu.
"Siapa pria berjubah abu-abu itu?" tanya Varick. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat cahaya saphira di atas mereka menciptakan bayangan tajam di wajahnya. "Dia bukan bagian dari staf akademi. Dia juga bukan bagian dari faksi mana pun yang kami kenal di kerajaan ini."
"Dia mencari sesuatu," jawab Caelen pelan. Suaranya terdengar serak di ruangan yang sunyi itu. "Dia menyebut tentang energi yang kotor dan resonansi yang sunyi."
Pria berjubah putih itu berhenti menulis. Dia menatap Caelen dengan pandangan penuh selidik. "Apa yang kau lakukan hingga dia melepaskan gelombang energi sebesar itu di lembah? Kami menemukan kawah sedalam tiga meter dengan pusat di bawah tempatmu berdiri."
Caelen mengepalkan tangannya yang dihiasi garis hitam. "Aku hanya berusaha tidak mati. Aku menusukkan pedangku ke tanah dan membiarkan semuanya keluar."
Varick dan pria berjubah putih itu saling berpandangan.
Keheningan di ruangan itu terasa semakin mencekam. Caelen bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, namun anehnya, garis-garis hitam di lengannya berdenyut dengan irama yang berbeda, seolah-olah ada jantung kedua yang hidup di dalam ototnya.
"Kau tahu apa yang akan terjadi jika berita ini sampai ke Dewan Tetua?" Varick berbicara dengan suara yang hampir berbisik.
"Mereka akan menganggapmu sebagai inang dari energi terlarang. Mereka tidak akan peduli kau membela diri atau tidak. Mereka akan membedahmu untuk mencari tahu bagaimana kau bisa bertahan dari ledakan itu."
Caelen merasakan dorongan untuk mengeluarkan lencana itu dan menunjukkannya pada Varick. Namun, dia teringat peringatan Lyra. Jika para tetua menyebut orang sepertinya sebagai Kesalahan Resonansi, maka menunjukkan bukti keterlibatan organisasi asing hanya akan mempercepat eksekusinya.
"Aku akan membantumu menutupi bagian tentang ledakan itu," ucap Varick secara mengejutkan. Dia berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aku akan melaporkan bahwa itu adalah kegagalan artefak kuno yang tertanam di lembah tersebut. Tapi sebagai gantinya, kau tidak boleh meninggalkan area asrama tanpa pengawasanku. Dan garis itu... tutupilah dengan perban setiap saat."
Pria berjubah putih itu tampak ingin memprotes, namun Varick memberikan tatapan yang membungkamnya. Mereka berdua keluar dari ruangan, meninggalkan Caelen sendirian kembali dalam kegelapan.
Beberapa jam kemudian, Caelen diantar kembali ke asramanya di bawah pengawalan ketat dua ksatria penjaga. Koridor akademi terasa berbeda.
Murid-murid yang berpapasan dengannya segera menepi, berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah lengannya yang kini sudah terbungkus kain kasa putih hingga ke bahu.
Berita tentang kehancuran di Sektor Selatan telah menyebar lebih cepat daripada api di padang rumput.
Sesampainya di kamar, dia menemukan tempat tidurnya telah dibongkar. Bantal dan selimutnya berserakan di lantai. Lemari kecilnya terbuka lebar, dan semua pakaiannya ditarik keluar.
Di tengah kekacauan itu, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian bangsawan yang sangat mewah. Pria itu memiliki rambut pirang yang mulai memutih, sangat mirip dengan Elian.
"Di mana benda itu?" tanya pria itu tanpa menoleh. Dia adalah Duke Valerius, ayah Elian.
Caelen berdiri di ambang pintu, tangannya secara refleks menyentuh lokasi lencana perunggu yang dia sembunyikan di balik lipatan kain di pinggangnya. "Aku tidak tahu apa yang Anda maksud, Tuan Duke."
Duke Valerius berdiri dan berbalik. Wajahnya merah padam karena amarah yang tertahan. Dia melangkah mendekat hingga ujung sepatunya yang mengkilap menyentuh sepatu bot Caelen yang berlumpur.
"Anakku terbaring sekarat karena mencoba melindungi area ujian. Dan kau, seorang yatim piatu tanpa nama, kembali tanpa luka berarti dengan lengan yang dipenuhi tanda kutukan. Jangan berbohong padaku. Elian mengirim pesan sebelum dia pingsan. Dia melihatmu mengambil sesuatu dari pria itu."
Caelen tetap pada posisinya, mencoba menjaga detak jiwanya agar tetap stabil. Jika dia menunjukkan sedikit saja fluktuasi resonansi, Duke ini akan merasakannya. Para bangsawan kelas atas memiliki kemampuan untuk membaca getaran emosional lawan bicara mereka.
"Aku hanya mempertahankan nyawaku sendiri yang hampir melayang, Tuan," ucap Caelen dengan nada dingin yang tidak dia duga bisa dia hasilkan.
Duke Valerius mengangkat tangannya, dan tiba-tiba tekanan udara di dalam kamar itu meningkat tajam. Caelen merasa seperti ada tangan raksasa yang meremas paru-parunya. "Kau pikir perlindungan Varick cukup untuk menjagamu dari pengaruh keluargaku? Jika aku menginginkannya, besok kau akan terbangun di ruang bawah tanah penjara pusat."
Tekanan itu tiba-tiba menghilang saat seorang pelayan masuk dengan terburu-buru.
"Tuan Duke, kondisi Tuan Muda Elian memburuk. Tim medis membutuhkan kehadiran Anda segera."
Duke Valerius memberikan tatapan terakhir yang penuh ancaman pada Caelen sebelum melangkah keluar dengan langkah lebar.
Caelen menarik napas panjang, mencoba mengisi kembali paru-parunya yang kekurangan oksigen. Dia segera menutup pintu kamar dan menguncinya.
Dia duduk di lantai yang berantakan, lalu mengeluarkan lencana perunggu itu. Di bawah cahaya lampu meja yang remang-remang, lencana berbentuk mata tertutup itu tampak berkedip.
Caelen menyentuh permukaan logam perunggu itu, dan seketika itu juga, garis-garis hitam di lengannya mulai memanas.
Sebuah bayangan tipis muncul dari lencana tersebut, membentuk proyeksi peta yang berbeda dari peta Lyra.
Peta ini menunjukkan jalur-jalur rahasia di bawah pondasi akademi, berkelok-kelok menuju satu titik di bawah perpustakaan pusat yang ditandai dengan simbol yang sama dengan lencana tersebut.
Caelen menyadari bahwa Duke Valerius tidak mencari lencana itu karena ingin menegakkan hukum. Dia mencarinya karena dia tahu apa kegunaan benda ini. Ruang isolasi, garis hitam di lengannya, dan kemarahan seorang Duke hanyalah bagian kecil dari jaring yang mulai menjeratnya.
Dia mengambil sehelai kain bersih dan mulai mengikat lencana itu di paha bagian dalamnya, memastikan benda itu tidak akan terlihat meski dia sedang berlatih fisik. Dia kemudian mulai merapikan kamarnya yang berantakan.
Saat dia memungut salah satu bukunya yang terjatuh, sebuah surat terselip di dalamnya.
Surat itu tidak memiliki nama pengirim, hanya sebuah kalimat pendek yang ditulis dengan tinta perak yang mengkilap di bawah cahaya malam. Surat itu berisi pesan:
"Pesta dansa musim gugur akan menjadi pengalih perhatian yang sempurna. Temui aku di dasar Menara Jam saat lonceng ke-12 berbunyi malam ini. Bawa kuncinya."
Caelen meremas surat itu hingga hancur. Dia melihat ke arah jendela yang menunjukkan bulan yang hampir mencapai puncaknya.
Waktu yang diberikan sangat sempit, dan di luar pintunya, dia bisa mendengar langkah kaki penjaga yang ditempatkan Varick untuk mengawasinya.Dia mendekati jendela dan melihat ke bawah. Jarak ke tanah cukup jauh, namun ada pipa air yang melintas di dekat sana.
Caelen melepas perban di lengannya sejenak, menatap garis hitam yang kini tampak berdenyut lebih cepat seolah-olah sedang menanggapi panggilan dari Menara Jam. Dia kembali membalut lengannya dengan kencang, lalu mulai memanjat keluar melalui bingkai jendela, meninggalkan keselamatan semu di dalam kamarnya demi sebuah pertemuan yang mungkin adalah jebakan.
Langkah kakinya mendarat tanpa suara di atas rumput basah. Dia mulai berlari di balik bayangan bangunan, menghindari sorotan obor patroli ksatria. Di kejauhan, jarum jam besar di menara akademi mulai bergeser mendekati angka dua belas, memecah kesunyian malam dengan suara roda gigi yang berputar berat.
