Chapter 3: Kabut di Sektor Selatan
Kabut tebal menyelimuti gerbang belakang Akademi Astrum saat fajar menyingsing. Udara terasa lembap dan membawa bau tanah basah yang menusuk hidung.
Di depan barisan murid, Instruktur Varick berdiri dengan tangan bersedekap. Di belakangnya, hamparan Hutan Terlarang membentang luas, pohon-pohon raksasanya terlihat seperti raksasa diam yang menunggu di balik tirai putih.
"Kalian memiliki waktu hingga matahari terbenam untuk mengambil satu kristal esensi dari pusat Sektor Selatan," suara Varick bergema di antara deretan murid yang menggigil.
"Kristal itu tertanam di batang pohon tua yang ditandai dengan simbol akademi. Siapa pun yang kembali tanpa kristal akan langsung kehilangan status sebagai calon ksatria."Chapter 3: Kabut di Sektor Selatan
Caelen memeriksa tas punggungnya. Dia hanya membawa sebilah pedang besi standar yang diberikan pihak akademi pagi tadi. Berat pedang itu terasa berbeda di pinggangnya dibandingkan dengan pedang kayu latihan.
Dia bisa merasakan getaran logam yang dingin dan tajam, sebuah frekuensi yang jauh lebih stabil namun sulit untuk diajak berkomunikasi.
Elian berdiri beberapa langkah di sisi kanan Caelen. Dia mengenakan pelindung dada kulit yang dihiasi ukiran emas. Di tangannya, sebuah pedang dengan gagang berbentuk kepala naga memancarkan percikan listrik kecil setiap kali ujungnya menyentuh tanah. Dia menoleh ke arah Caelen dengan senyum yang tidak mencapai matanya.
"Hutan ini sangat luas, Caelen," ucap Elian sambil menyesuaikan sarung tangannya. "Banyak hal bisa terjadi di balik kabut itu. Pastikan kau tidak tersesat selamanya."
Caelen tidak menoleh. Dia memperhatikan gerakan kabut yang seolah-olah ditarik masuk ke dalam hutan oleh kekuatan yang tidak terlihat. "Fokus saja pada jalanmu sendiri, Elian."
Varick mengangkat tangannya dan melepaskan tembakan cahaya ke langit. Suara ledakan kecil menandakan dimulainya ujian. Murid-murid segera berpencar, berlari masuk ke dalam lebatnya pepohonan. Beberapa orang membentuk kelompok kecil, sementara Elian melesat maju bersama dua pengikutnya, meninggalkan kepulan debu di belakang mereka.
Caelen melangkah dengan kecepatan konstan. Dia tidak berlari. Setiap langkahnya ditempatkan secara hati-hati di atas akar-akar pohon yang mencuat. Semakin dalam dia masuk ke Sektor Selatan, semakin sunyi keadaan di sekitarnya. Suara burung-burung pagi menghilang, digantikan oleh suara gemerisik daun yang saling bergesekan tanpa ada angin yang berembus.
Dia berhenti di depan sebuah pohon besar yang kulit kayunya tampak menghitam. Caelen menyentuh batang itu. Getaran yang dia rasakan sangat aneh. Itu bukan denyut kehidupan normal pohon hutan. Rasanya seperti detak jantung yang lambat dan berat, mirip dengan dengungan yang sering dia dengar di bawah tanah akademi.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara desingan di udara. Caelen merunduk dengan cepat. Sebilah belati kecil melesat di atas kepalanya dan tertancap dalam di batang pohon yang tadi dia sentuh. Getaran belati itu terasa sangat familiar. Tajam, dingin, dan penuh dengan niat membunuh yang terkendali.
"Refleksmu meningkat sejak tadi malam," suara Lyra terdengar dari atas dahan pohon.
Wanita itu melompat turun dengan seringan bulu. Dia tidak mengenakan jubah peraknya lagi, melainkan pakaian kulit hitam ketat yang membuatnya hampir menyatu dengan bayangan hutan. Di tangannya, dia memegang sebuah peta tua yang pinggirannya sudah hangus terbakar.
"Kau membuntutiku?" Caelen menarik pedangnya, menjaga jarak dari Lyra.
Lyra mengabaikan pertanyaan itu dan melemparkan peta tersebut ke arah Caelen.
"Kristal yang dicari teman-temanmu itu hanyalah sampah yang diisi energi buatan. Jika kau ingin tahu apa yang sebenarnya tersembunyi di hutan ini, pergilah ke koordinat yang ditandai dengan tinta merah."
Caelen menangkap peta itu dan melihat tanda merah di pojok paling selatan, jauh di luar batas area ujian yang ditetapkan Varick. "Kenapa kau membantuku?"
"Aku tidak membantumu," Lyra berjalan melewati Caelen tanpa melihatnya. "Aku hanya ingin melihat apakah kau cukup kuat untuk menampung kebenaran yang akan kau temukan di sana. Jika kau mati, berarti aku salah menilaimu."
Wanita itu menghilang di balik kabut sebelum Caelen sempat membalas. Caelen menatap peta di tangannya, lalu melihat ke arah jalur utama yang dilewati murid-murid lain. Suara teriakan kejutan terdengar dari kejauhan, mungkin salah satu murid baru saja menemukan monster hutan pertama mereka.
Caelen melipat peta itu dan memasukkannya ke dalam saku. Dia mengubah arah jalannya, menjauh dari pusat Sektor Selatan menuju wilayah yang lebih gelap. Semakin jauh dia melangkah, kabut di sekitarnya berubah warna menjadi abu-abu pekat. Tanah di bawah kakinya terasa lebih lunak, hampir seperti berjalan di atas daging yang bernapas.
Setelah satu jam berjalan, dia sampai di sebuah lembah kecil yang tersembunyi.
Di tengah lembah itu terdapat sebuah kuil tua yang hampir seluruhnya tertutup oleh tanaman merambat berduri. Di depan pintu kuil, tiga orang murid akademi tergeletak tidak sadarkan diri.
Di tengah mereka berdiri Elian, namun postur tubuhnya tampak aneh.
Elian berdiri membelakangi Caelen. Bahunya gemetar hebat dan pedang naganya mengeluarkan asap hitam, bukan lagi listrik biru yang biasanya. Di depannya, seorang pria dewasa mengenakan jubah abu-abu tanpa lambang sedang memegang leher seorang murid lainnya.
"Energi yang sangat kotor," ucap pria berjubah itu. Suaranya terdengar seperti gesekan batu di dalam gua.
Pria itu melempar murid yang dia cekik ke samping seperti melempar karung beras. Dia kemudian menoleh ke arah Caelen. Wajah pria itu tidak memiliki mata, hanya kulit halus yang menutupi seluruh rongga matanya. Namun, Caelen merasa sedang ditatap dengan intensitas yang luar biasa.
"Satu lagi datang," pria itu mengangkat tangannya. "Dan yang ini memiliki frekuensi yang sangat... sunyi."
Caelen segera memasang posisi bertarung. Dia merasakan getaran di udara di sekitar pria itu sangat kacau. Itu bukan resonansi alam, melainkan sesuatu yang dipaksakan dan merusak. Dia bisa merasakan pohon-pohon di sekitar pria itu perlahan layu dan mati saat pria itu melangkah maju.
Elian tiba-tiba berteriak dan menyerang pria berjubah itu dengan serangan membabi buta. Pedangnya yang berasap hitam menebas ke arah leher pria itu. Namun, pria itu hanya menggerakkan jarinya, dan pedang Elian hancur berkeping-keping di udara.
Elian terlempar ke arah pohon dan jatuh pingsan dengan mulut mengeluarkan darah.
"Jangan gunakan sampah logam itu padaku," pria itu mengarahkan telapak tangannya ke arah Caelen.
Caelen tidak menunggu serangan itu datang. Dia berlari ke samping, memanfaatkan akar pohon untuk melompat lebih tinggi. Saat dia berada di udara, dia merasakan gelombang energi tak terlihat menghantam posisi tempat dia berdiri sedetik yang lalu, meninggalkan lubang besar di tanah.
Dia mendarat dengan napas tersengal. Caelen menyadari bahwa pedang besinya mulai bergetar tidak terkendali karena tekanan energi dari pria tersebut. Logam itu merintih di tangannya.
Caelen memejamkan mata, mencoba menenangkan pedangnya, mencoba memaksa logam itu untuk mengikuti kesunyian di dalam jiwanya.
Pria berjubah abu-abu itu berhenti bergerak. Dia memiringkan kepalanya. "Kau mencoba menelan energiku? Menarik sekali. Mari kita lihat seberapa banyak yang bisa kau tampung sebelum jiwamu pecah."
Pria itu menarik napas dalam-dalam. Seluruh kabut di lembah itu mulai berputar menuju pusat telapak tangannya, membentuk bola energi abu-abu yang berdenyut kencang.
Caelen merasakan tekanan gravitasi di sekitarnya meningkat drastis hingga lututnya tertekuk ke tanah.
Di saat yang genting itu, Caelen merasakan sesuatu di dalam sakunya memanas. Kain perak pemberian Lyra mulai berpendar terang. Sebuah suara asing tiba-tiba bergema di dalam kepalanya, bukan suara Lyra, melainkan suara yang jauh lebih kuno dan berat.
"Buka pintunya."
Caelen menggenggam gagang pedangnya dengan kedua tangan. Dia tidak lagi mencoba menangkis atau menghindar. Dia mengarahkan ujung pedangnya ke bawah, menusukkannya dalam-dalam ke tanah yang lunak itu.
Dia membuka seluruh hambatan di dalam pusat energinya, membiarkan kesunyiannya menarik seluruh getaran di lembah tersebut masuk ke dalam satu titik di bawah kakinya.
Tanah bergetar hebat. Retakan besar muncul dari titik pedang Caelen tertancap, menjalar dengan cepat ke arah pria berjubah abu-abu tersebut. Pria itu terkejut dan mencoba melepaskan bola energinya, namun terlambat.
Retakan di tanah itu mengeluarkan cahaya putih yang membutakan, menelan bola energi tersebut dan menciptakan ledakan vakum yang menarik segala sesuatu di sekitarnya.
Saat cahaya itu memudar, pria berjubah abu-abu itu sudah tidak ada di sana. Hanya tersisa potongan jubah yang terbakar dan sebuah lencana perunggu berbentuk mata tertutup yang tergeletak di tanah.
Caelen jatuh terduduk, paru-parunya terasa terbakar. Dia menatap tangannya yang kini dipenuhi oleh garis-garis hitam tipis yang menjalar dari ujung jari hingga ke siku. Garis-garis itu berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
Dia merangkak menuju lencana perunggu itu dan memungutnya. Lencana itu terasa sangat berat, lebih berat dari pedang besinya yang kini telah hancur menjadi bubuk logam.
Dari arah hutan, suara langkah kaki banyak orang mulai terdengar mendekat. Itu adalah tim penyelamat dari akademi, dipimpin oleh Varick yang tampak sangat khawatir.
Caelen menatap lencana itu sekali lagi sebelum menyembunyikannya di balik ikat pinggangnya. Dia tahu bahwa kejadian ini tidak bisa dijelaskan sebagai bagian dari ujian. Ada faksi lain yang telah menyusup ke dalam wilayah akademi, dan mereka secara khusus mencarinya.
Varick muncul dari balik semak-semak, matanya melebar melihat Elian yang terluka parah dan kehancuran di lembah tersebut. Instruktur itu menatap Caelen, lalu menatap sisa-sisa pedang yang hancur.
"Caelen, apa yang terjadi di sini?" tanya Varick dengan suara gemetar yang belum pernah terdengar sebelumnya.
Caelen berdiri perlahan, menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Dia melihat ke arah hutan yang lebih dalam, tempat koordinat merah di peta Lyra berada. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa kembali ke rutinitas akademi yang biasa lagi.
"Seseorang datang untuk menjemput kristal itu, Instruktur," jawab Caelen pelan. "Tapi dia membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kristal esensi."
Varick mendekat dan memegang bahu Caelen. Dia merasakan getaran hitam yang masih berdenyut di lengan pemuda itu. Wajah Varick memucat saat dia menyadari jenis energi apa yang baru saja dilepaskan di tempat ini. Dia segera memberi perintah kepada para pengawal yang baru tiba untuk mengisolasi seluruh Sektor Selatan.
