Chapter 2: Denyut di Balik Bayangan
Angin malam berembus lebih dingin melalui celah pepohonan di pinggiran kompleks akademi.
Lyra berdiri dengan tenang sambil memegang kompas peraknya yang terus berputar tidak beraturan. Cahaya ungu dari matanya berpendar di bawah sinar rembulan yang mulai naik.
Caelen memperhatikan setiap gerakan wanita itu sambil menjaga jarak tiga langkah. Tangannya tetap berada di dekat gagang pedang kayu yang tersampir di pinggangnya.
"Kompas itu bereaksi padamu," ucap Lyra sambil mengangkat alat tersebut lebih tinggi.
Caelen menatap jarum kompas yang bergetar hebat. Dia merasakan tekanan aneh di dadanya setiap kali jarum itu menunjuk ke arahnya. "Benda itu membuat dadaku sesak."
Lyra melangkah maju satu langkah. Caelen secara insting memundurkan kakinya. "Itu karena jiwamu menyerap frekuensi di sekitarmu tanpa melepaskannya kembali. Kau seperti lubang hitam di tengah lautan getaran."
Caelen mengepalkan tangannya. Dia teringat kejadian di lapangan tadi sore saat serangan petir Elian menghilang begitu saja saat menyentuh senjatanya. Selama ini dia menganggap hal itu sebagai kegagalan untuk beresonansi. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya karena tidak bisa menghasilkan cahaya atau suara yang megah seperti murid lainnya.
"Aku hanya ingin belajar mengendalikan apa yang aku miliki," kata Caelen dengan suara rendah.
Lyra menyimpan kompasnya ke dalam saku jubah. Dia menarik sebuah belati kecil dari balik pinggangnya. Belati itu tidak terbuat dari logam biasa. Bilahnya tampak transparan seperti kristal yang berisi cairan hitam pekat.
"Tangkis ini," perintah Lyra tanpa peringatan.
Wanita itu melesat dengan kecepatan yang jauh melampaui Elian. Gerakannya tidak meninggalkan suara langkah di atas daun kering.
Caelen terkesiap dan segera mencabut pedang kayunya. Dia tidak melihat jalur serangan Lyra dengan mata. Dia merasakannya melalui pergeseran suhu udara di sisi kirinya.
Caelen memutar tubuhnya dan mengangkat pedang kayu itu. Benturan terjadi tanpa suara denting logam. Belati kristal Lyra tertahan di permukaan kayu.
Caelen merasakan aliran dingin yang menusuk menjalar dari pedangnya menuju lengannya. Itu terasa seperti es yang mencoba membekukan aliran darahnya.
Dia mengerahkan konsentrasinya.
Caelen membayangkan getaran dingin itu sebagai air yang harus dialirkan ke tanah. Dia merilekskan otot bahunya dan membiarkan energi dingin itu melewati tubuhnya tanpa hambatan. Pedang kayunya mulai retak halus karena tidak kuat menahan kepadatan energi dari belati Lyra.
Lyra memberikan tekanan lebih besar. "Jangan hanya menahannya. Kau harus mengembalikannya."
Caelen mengatupkan rahangnya rapat. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia merasakan denyut di dalam belati itu, sebuah irama yang tajam dan cepat. Dia mencoba menyesuaikan napasnya dengan irama tersebut.
Saat frekuensi jiwanya selaras dengan getaran belati, dia merasakan beban itu menjadi ringan.
Caelen menghentakkan kakinya ke tanah dan memutar pedangnya dengan sentakan kecil.
Lyra terdorong mundur sejauh dua meter. Wanita itu mendarat dengan anggun di atas akar pohon besar. Dia menatap belatinya yang kini memiliki retakan kecil di bagian ujung.
"Kau menghancurkan struktur kristal ini dengan menyamakan getarannya," Lyra menyarungkan belatinya kembali.
Caelen terengah-engah. Pedang kayunya hancur menjadi serpihan kecil di tangannya. Dia menjatuhkan gagang yang tersisa ke tanah. Tangannya gemetar hebat karena kelelahan saraf yang luar biasa.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Caelen sambil berusaha mengatur napas.
Lyra menunjuk ke arah gedung utama akademi yang lampunya mulai menyala satu per satu. "Di sana, mereka akan mengajarimu cara menjadi lilin yang terbakar terang sampai habis. Mereka menyebutnya kejayaan. Aku menawarkan cara untuk menjadi kegelapan yang menelan cahaya itu sendiri."
Caelen menatap telapak tangannya yang memerah. Dia melihat bekas luka bakar dari latihan sore tadi sudah mulai memudar secara tidak alami. Kulitnya beregenerasi dengan kecepatan yang aneh.
"Aku memiliki urusan di tempat ini," ucap Caelen sambil menatap lurus ke mata ungu Lyra. "Ada sesuatu di bawah akademi ini yang memanggilku."
Mata Lyra sedikit melebar. Dia berjalan mendekati Caelen hingga aroma bunga lili yang dingin tercium oleh pemuda itu.
"Kau bisa mendengarnya? Suara dari kedalaman The Vault?"
Caelen mengangguk pelan. Sejak hari pertama dia menginjakkan kaki di Astrum, dia sering mendengar suara dengungan rendah yang berasal dari bawah tanah. Suara itu terasa akrab namun menyakitkan. Itu mengingatkannya pada suara yang dia dengar di malam saat rumahnya hancur.
"Kalau begitu kau berada dalam bahaya besar," Lyra berbisik tepat di telinga Caelen.
"Para tetua akademi tidak akan membiarkan seseorang dengan pendengaran seperti itu berkeliaran bebas. Mereka menyebut orang sepertimu sebagai Kesalahan Resonansi."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah jalur setapak. Cahaya obor mendekat dengan cepat. Caelen menoleh dan melihat beberapa ksatria penjaga akademi sedang melakukan patroli rutin.
"Siapa di sana?" teriak salah satu penjaga.
Caelen kembali menoleh ke arah Lyra, namun wanita itu sudah menghilang. Tidak ada jejak kaki di atas tanah. Hanya ada satu helai kain perak kecil yang tersangkut di dahan pohon tempat wanita itu tadi berdiri. Caelen segera memungut kain itu dan menyembunyikannya di dalam saku celananya.
Dia berdiri tegak saat para penjaga sampai di tempatnya. Mereka menatap Caelen dengan curiga.
"Murid tahun pertama?" tanya penjaga itu sambil menyorotkan obor ke wajah Caelen.
"Apa yang kau lakukan di sini saat jam malam sudah dimulai?"
"Aku hanya berlatih tambahan, Tuan," jawab Caelen sambil menunjukkan sisa-sisa pedang kayunya yang hancur di tanah.
Penjaga itu melihat serpihan kayu tersebut. Dia tampak terkejut melihat betapa hancurnya pedang itu, seolah-olah telah dihantam oleh palu godam besar. Dia menatap Caelen dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan dahi berkerut.
"Berlatih sampai menghancurkan pedang kayu seperti ini?" penjaga itu bergumam tidak percaya. "Cepat kembali ke asrama. Jika kau tertangkap lagi, aku akan melaporkanmu pada Instruktur Varick."
Caelen membungkuk hormat dan segera berjalan pergi. Dia tidak menoleh ke belakang. Di dalam kepalanya, suara dengungan dari bawah tanah itu kembali terdengar. Kali ini suaranya lebih jelas. Itu terdengar seperti sebuah nama yang dibisikkan oleh ribuan orang secara bersamaan.
Dia berjalan melewati lorong-lorong batu akademi yang dingin. Di dinding-dinding lorong, terdapat lukisan-lukisan pahlawan masa lalu yang sedang memegang senjata-senjata bercahaya. Caelen merasa lukisan-lukisan itu sedang mengawasinya dengan kebencian.
Sesampainya di kamar asrama, dia melihat Elian dan dua temannya sedang duduk di atas tempat tidur sambil tertawa. Mereka berhenti bicara saat Caelen masuk.
Ruangan itu mendadak menjadi sunyi dan penuh tekanan.
Elian berdiri dan berjalan menghalangi jalan Caelen menuju tempat tidurnya.
"Kau beruntung di lapangan tadi, Caelen. Tapi kudengar kau baru saja ditegur penjaga di luar."
Caelen tidak menanggapi. Dia mencoba melewati Elian, namun pemuda berambut pirang itu mendorong bahunya. Caelen merasakan getaran emosi Elian yang bergejolak. Itu adalah frekuensi yang tajam dan tidak stabil, penuh dengan rasa iri yang disamarkan sebagai kesombongan.
"Jangan abaikan aku!" Elian berteriak. Ujung jarinya mulai memercikkan listrik biru.
Caelen berhenti dan menatap mata Elian. Dia tidak merasa takut. Dia justru merasa kasihan. Elian begitu terobsesi dengan getaran yang keras sehingga dia tidak menyadari bahwa jiwanya sendiri sedang terkikis oleh kekuatannya sendiri.
"Kau akan melukai dirimu sendiri jika terus memaksakan resonansi itu, Elian," ucap Caelen datar.
Elian tertawa keras. "Melukai diriku sendiri? Ini adalah kekuatan yang diwariskan oleh leluhurku. Kau, yang bahkan tidak bisa membuat sebatang kayu bercahaya, tidak punya hak untuk menceramahiku."
Elian mengangkat tangannya, bersiap untuk melepaskan serangan listrik. Namun, sebelum dia bisa melakukannya, pintu asrama terbuka dengan keras. Instruktur Varick berdiri di sana dengan wajah yang sangat gelap.
"Tidur. Sekarang," perintah Varick. Suaranya mengandung otoritas yang membuat semua murid di ruangan itu gemetar.
Elian menurunkan tangannya dengan kesal. Dia memberikan isyarat pada teman-temannya untuk kembali ke tempat tidur mereka masing-masing. Sebelum memejamkan mata, dia membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Caelen.
"Besok adalah ujian kualifikasi hutan. Di sana tidak akan ada instruktur yang melindungimu."
Caelen berbaring di tempat tidurnya tanpa menjawab. Dia merogoh sakunya dan menyentuh kain perak pemberian Lyra. Kain itu terasa hangat di tangannya. Saat dia mulai memejamkan mata, dengungan dari bawah tanah itu perlahan berubah menjadi irama musik yang sangat pelan.
Dia tahu bahwa besok bukan sekadar ujian. Itu adalah umpan. Seseorang telah menyiapkan sesuatu untuknya di dalam hutan itu. Caelen membiarkan jiwanya tenggelam ke dalam kesunyian, menunggu apa pun yang akan datang menjemputnya di kegelapan fajar.
