Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 1: Pedang yang Tidak Bergetar

Langit di atas Akademi Astrum berwarna jingga pucat saat angin musim gugur membawa aroma pinus dan besi tempa. Di tengah lapangan latihan yang luas, puluhan remaja berdiri dengan postur tegap, memegang pedang kayu latihan mereka dengan penuh konsentrasi.

Di depan mereka, seorang instruktur dengan bekas luka melintang di pipi berjalan mondar-mandir, matanya tajam seperti elang yang mencari mangsa.

Instruktur itu bernama Varick, seorang mantan ksatria garis depan yang telah pensiun. Dia berhenti tepat di depan seorang pemuda berambut hitam legam yang tampak terlalu tenang di tengah ketegangan kawan-kawannya.

"Caelen," suara Varick berat dan parau. "Tunjukkan padaku Resonansi Tahap Awalmu. Fokuskan niatmu pada bilah kayu itu."

Caelen mengangguk pelan. Dia menarik napas dalam, merasakan aliran energi yang halus di dalam dadanya. Di dunia ini, setiap benda memiliki frekuensi unik. Seorang ksatria yang hebat adalah mereka yang bisa menyamakan getaran jiwanya dengan senjata mereka, menciptakan apa yang disebut sebagai Vibrational Edge.

Caelen menggenggam gagang pedang kayunya. Namun, tidak ada cahaya yang berpendar. Tidak ada desis angin yang tajam atau percikan listrik seperti yang ditunjukkan oleh murid-murid jenius lainnya di kelas itu. Pedang kayu itu tetap diam, seolah-olah Caelen hanyalah seorang warga sipil biasa tanpa setetes pun bakat sihir.

Tawa kecil terdengar dari barisan belakang. Elian, putra seorang Duke yang selalu merasa di atas angin, tidak bisa menahan ejekannya.

"Tetap sunyi seperti biasanya, ya?" Elian berbisik namun cukup keras untuk didengar semua orang. "Mungkin kau harus mencoba menjadi tukang kebun saja, Caelen. Setidaknya tanaman tidak butuh resonansi untuk tumbuh. Hahaha!"

Caelen tidak bergeming. Matanya tetap fokus pada ujung pedangnya. Dia tahu apa yang mereka lihat. Bagi mereka, kesunyian adalah tanda kelemahan.

Dalam teori dasar akademi, semakin keras getaran yang dihasilkan, semakin besar daya hancurnya. Tapi Caelen merasakan sesuatu yang berbeda. Baginya, getaran itu bentuk dari kepadatan.

Varick menyipitkan mata. Dia tidak ikut tertawa. Sebagai veteran, dia merasakan sesuatu yang aneh. Udara di sekitar Caelen tidak bergerak, tapi entah mengapa terasa sangat berat.

"Cukup bicaranya," bentak Varick sambil melirik Elian. "Elian, jika kau merasa sangat hebat, maju ke depan. Uji kemampuan bertarungmu dengan Caelen. Hanya teknik dasar, tanpa pelepasan energi skala besar."

Elian menyeringai. Ini adalah kesempatan yang dia tunggu. Dia melangkah maju dengan percaya diri, pedang kayunya mulai berpendar dengan cahaya biru elektrik yang tipis. Itu adalah resonansi elemen petir, tanda bahwa dia sudah mencapai tingkat yang jauh melampaui teman sebaya mereka.

"Jangan salahkan aku kalau pedangmu patah, Caelen," ujar Elian sambil memasang kuda-kuda rendah.

Caelen hanya mengangkat pedangnya sedikit, memosisikannya secara vertikal di depan wajah. "Silakan."

Tanpa peringatan, Elian melesat maju. Kecepatannya luar biasa untuk ukuran murid tahun pertama. Pedang kayunya menebas secara diagonal, meninggalkan jejak cahaya biru di udara. Kebanyakan murid di sana yakin bahwa Caelen akan terlempar dalam satu serangan.

"TAK!"

Suara itu sangat pendek dan kering. Tidak ada ledakan energi maupun benturan yang dapat memekakkan telinga.

Semua orang terbelalak. Caelen telah menangkis serangan Elian hanya dengan pergeseran minimal pada pergelangan tangannya. Pedang kayu Elian yang dialiri energi petir tertahan mati di udara, seolah-olah menabrak dinding batu yang tidak terlihat.

"Apa?" Elian menggeram. Dia mencoba menarik pedangnya, tapi terasa seperti terjepit di antara beton. "Lepaskan!"

Elian mengerahkan lebih banyak resonansi. Cahaya biru itu semakin terang, berderak dengan liar.

Namun, semakin besar energi yang dia salurkan, semakin tenang pedang kayu milik Caelen.

Caelen tidak melawan getaran Elian dengan getaran lain. Dia melakukan sesuatu yang disebut sebagai Phase Cancellation secara tidak sadar, menyerap dan menetralkan frekuensi lawan tepat di titik kontak.

"Kau terlalu berisik, Elian," ucap Caelen dengan suara rendah.

Caelen memberikan sedikit dorongan ke depan. Itu bukan gerakan yang kuat, tapi dilakukan pada momen di mana resonansi Elian sedang tidak stabil karena frustrasi.

Hasilnya, Elian kehilangan keseimbangan dan terhuyung mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh.

Keheningan menyelimuti lapangan latihan. Para murid yang tadinya mengejek kini saling berpandangan dengan bingung.

Varick, sang instruktur, mengelus dagunya dengan ekspresi bermakna. Dia melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain. Caelen tidak memiliki "mana" yang melimpah, tapi kontrolnya terhadap frekuensi objek yang dia sentuh berada pada level yang tidak wajar.

"Kembali ke barisan!" teriak Varick, memecah kecanggungan. "Pertarungan bukan hanya soal siapa yang paling terang cahayanya, tapi siapa yang paling tahu cara menggunakan energinya."

Elian kembali ke barisannya dengan wajah memerah karena malu dan marah. Dia melemparkan pandangan tajam ke arah punggung Caelen, sebuah janji bahwa ini belum berakhir.

Sementara itu, Caelen melihat telapak tangannya sendiri. Ada sedikit luka bakar kecil di sana akibat energi petir Elian yang bocor. Dia belum sempurna. Dia bisa menetralkan serangan itu, tapi tubuhnya belum cukup kuat untuk menampung energi yang dia serap.

"Aku butuh lebih banyak latihan," pikir Caelen.

"Jika hanya begini, aku tidak akan pernah bisa menemukan kebenaran tentang apa yang terjadi malam itu." Ingatannya kembali sejenak pada sebuah malam di mana langit seolah terbelah dan rumahnya tertelan oleh cahaya perak yang dingin.

Itulah alasan dia ada di sini. Ia sedang mencari jawaban atas kekuatan yang dianggap kutukan oleh dunia ini.

Sore itu berakhir dengan latihan fisik yang melelahkan. Saat murid-murid lain mulai bubar menuju asrama, Caelen memilih untuk tetap tinggal di tepi hutan dekat lapangan. Dia mendekati sebuah pohon besar dan menyentuh batangnya.

Dia memejamkan mata, mencoba merasakan detak jantung dari pohon itu. Merasakan frekuensi kehidupan yang mengalir di dalamnya.

Dunia ini berbicara kepadanya melalui getaran, dan dia adalah satu-satunya orang yang tampaknya lupa cara untuk berteriak, namun belajar bagaimana cara mendengarkan dengan sangat teliti.

Tiba-tiba, dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Kehadiran ini terasa jauh lebih dingin dan tajam, seperti sebilah pisau yang menempel di tengkuk.

"Bakat yang menarik untuk ukuran seseorang yang dianggap sampah oleh akademi ini," suara seorang wanita terdengar dari balik bayang-bayang pohon.

Caelen tidak berbalik dengan terburu-buru. Dia mengatur napasnya, mencoba menenangkan frekuensi jiwanya agar tidak terdeteksi sebagai ancaman. "Siapa Anda?"

"Seseorang yang tahu bahwa pedang yang tidak bergetar adalah pedang yang paling mematikan," wanita itu melangkah keluar.

Dia mengenakan jubah perak dengan lambang yang tidak dikenal oleh Caelen. "Namaku Lyra, dan aku sedang mencari seseorang yang bisa 'memahami' dunia tanpa perlu menghancurkannya."

Caelen akhirnya berbalik dan melihat wanita itu. Mata Lyra berwarna ungu pucat, dan di tangannya, dia memegang sebuah kompas kuno yang jarumnya menunjuk tepat ke arah dada Caelen.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel