Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 12: Resonansi Pengkhianatan

Debu dari dinding yang runtuh mengepul tebal di udara terowongan. Varick berdiri tegak di depan bor raksasa, pedang panjangnya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Di belakangnya, barisan ksatria matahari membentuk formasi setengah lingkaran, ujung tombak mereka berpendar biru karena aliran energi resonansi.

Caelen menggenggam gagang The Silent Dirge hingga buku jari tangannya memutih. Tangan peraknya berdesis, mengeluarkan uap panas yang segera mendingin di udara gua yang lembap.

"Kau belajar banyak di akademi, Caelen," Varick melangkah maju, ujung pedangnya menggores lantai batu hingga memercikkan api. "Tapi kau tidak pernah belajar cara memenangkan perang yang sudah ditentukan hasilnya."

Caelen melebarkan kuda-kudanya. Dia merasakan getaran mesin bor di belakang Varick merambat melalui lantai, mencoba mengacaukan ritme jantungnya. Dia memusatkan pikirannya pada bilah kristal di tangannya. Cairan hitam di dalam pedang itu bergolak, mengikuti kemarahan yang membakar dada Caelen.

"Begitu? Kakekku meninggalkan pedang ini untuk menghancurkan orang seperti Anda," suara Caelen rendah, bergetar bersama dengungan logam di bahunya.

"Hahaha" Varick tertawa pendek, lalu melesat maju. Gerakannya sangat cepat, meninggalkan jejak cahaya putih di udara. Pedang panjangnya menebas secara diagonal, mengarah tepat ke bahu kiri Caelen.

Caelen mengangkat tangan peraknya untuk menangkis. Benturan itu menghasilkan suara denting logam yang sangat nyaring, diikuti oleh gelombang kejut yang meretakkan langit-langit terowongan.

Caelen membalas dengan ayunan The Silent Dirge. Bilah kristal itu membelah udara tanpa suara. Varick melompat mundur, namun ujung pedang Caelen berhasil merobek jubah putih sang instruktur. Cairan hitam di dalam pedang Caelen mendadak memanjang, membentuk sabit energi yang menghantam dinding gua di belakang Varick hingga hancur berkeping-keping.

"Bagus," gumam Varick sambil mengusap bekas robekan di jubahnya. "Gunakan lebih banyak lagi. Biarkan besi hitam itu memakan sisa kemanusiaanmu."

Para ksatria di belakang Varick mulai melepaskan tembakan jaring energi. Caelen berputar di tempat, mengayunkan pedangnya dalam lingkaran penuh. Gelombang energi hitam meledak dari bilah kristal, menelan semua jaring energi biru dan membalikkannya kembali ke arah para ksatria. Teriakan kesakitan terdengar saat para ksatria itu terlempar ke arah mesin bor.

Varick tidak mempedulikan anak buahnya yang tumbang. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mengumpulkan cahaya matahari buatan yang sangat padat di ujung bilahnya. Udara di dalam terowongan mendadak menjadi sangat panas. Batuan di sekitar Varick mulai meleleh dan menetes ke lantai seperti madu merah.

Caelen merasakan lengan peraknya mulai bergetar hebat. Peringatan merah berkedip di layar holografis kecil di pergelangan tangannya. Suhu di dalam rektor kota di bawah sana ikut melonjak naik, menanggapi pelepasan energi besar-besaran di pintu masuk ini.

"Jika kau terus melawan, seluruh kota ini akan menjadi kuburan massal," Varick mengayunkan pedang cahayanya ke bawah.

Caelen menusukkan The Silent Dirge ke lantai batu. Dia membiarkan besi hitam dari tulangnya mengalir deras menuju pedang dan terus menuju ke pondasi terowongan. Dia menciptakan dinding getaran yang sangat padat untuk menahan hantaman cahaya Varick.

Saat kedua energi itu bertemu, ledakan vakum tercipta, menyedot semua oksigen di dalam ruangan selama beberapa detik.

Gua itu berguncang hebat. Retakan-retakan besar menjalar ke seluruh struktur penopang Iron Haven. Caelen melihat Valerie di kejauhan sedang mengarahkan warga masuk ke dalam gerbong evakuasi bawah tanah. Wajah Valerie penuh dengan debu dan ketakutan.

"Lari, Valerie!" teriak Caelen sambil menahan tekanan pedang cahaya Varick.

Varick memberikan tekanan lebih besar. "Dia tidak akan sempat, Caelen. Bor di belakangku memiliki hulu ledak resonansi yang terhubung dengan jantung reaktor yang baru saja kau aktifkan. Sekali aku menekan tombolnya, seluruh tempat ini akan lenyap dari peta."

"Ahh" Caelen menatap mata Varick. Dia tidak melihat keraguan di sana. Dia menyadari bahwa misi Varick bukan hanya untuk menangkapnya, melainkan untuk memusnahkan seluruh populasi pengkhianat di utara dengan menggunakan energinya sebagai pemicu.

Caelen menarik pedangnya dari tanah. Dia berhenti menahan serangan Varick dan justru membiarkan pedang cahaya itu menebas lengan peraknya. Logam perak itu tergores dalam, mengeluarkan cairan hidrolik biru yang menyembur ke wajah Varick. Di saat yang sama, Caelen mencengkeram leher zirah Varick dengan tangan kirinya dan menghantamkan bilah The Silent Dirge langsung ke arah mesin bor di belakang mereka.

Bilah kristal itu menancap di pusat mesin bor. Cairan hitam di dalam pedang segera merambat masuk ke dalam sirkuit mesin, menginfeksi sistem kendalinya dengan frekuensi liar. Mesin bor itu mulai berputar mundur secara tidak terkendali, mengeluarkan suara derit logam yang mengerikan.

"Apa yang kau lakukan?" Varick mencoba menarik Caelen menjauh, namun kekuatan besi hitam membuat Caelen tidak bergeming.

"Aku mengubah frekuensinya," ucap Caelen dengan napas tersengal.

Mesin bor itu meledak dari dalam. Api hitam menyembur keluar, menghancurkan langit-langit terowongan secara permanen. Reruntuhan batu raksasa mulai berjatuhan, menutup akses antara terowongan masuk dan jantung kota. Caelen melepaskan Varick dan melompat mundur tepat saat sebuah batu besar jatuh di antara mereka.

Asap tebal menutupi pandangan. Caelen terbatuk, merasakan darah mengalir dari luka di bahunya. Dia melihat ke arah jalan menuju reaktor. Jalannya sudah tertutup total oleh ribuan ton batu. Dia terpisah dari Valerie dan warga Iron Haven. Dia sendirian di bagian terowongan yang mulai runtuh menuju arah luar.

Caelen menyeret langkahnya menuju lubang udara yang tercipta dari ledakan bor tadi. Dia merangkak keluar ke permukaan, mendarat di atas salju dingin di lereng luar pegunungan utara. Di kejauhan, dia melihat kapal induk ksatria matahari mulai berputar arah, menjauh dari lokasi ledakan yang mereka anggap sebagai akhir dari segalanya.

Dia melihat lengan peraknya yang kini rusak parah. Pelindung logamnya terkelupas, memperlihatkan sirkuit yang masih memercikkan listrik. Di telapak tangannya, pedang The Silent Dirge telah meredup, kristalnya kini dipenuhi retakan halus.

Caelen merogoh sakunya dan mengeluarkan dokumen dari bengkel kakeknya yang sempat dia amankan. Halaman terakhir dokumen itu baru saja terbuka karena terkena panas ledakan tadi, menyingkap sebuah peta baru yang menunjuk ke arah Benua Hitam, jauh di seberang samudra perak.

Di sana tertulis satu kalimat yang ditulis dengan tinta emas:

"Cari bengkel asli di mana besi ini dilahirkan."

Caelen berdiri tegak di tengah badai salju yang mulai turun. Dia melihat ke arah utara yang tak berujung. Dia bukan lagi bagian dari akademi, bukan juga bagian dari kota pengungsi. Dia adalah pembawa wabah logam yang kini memiliki tujuan baru.

Dia mulai melangkah menjauh dari pegunungan yang runtuh. Setiap langkahnya meninggalkan jejak hitam di atas salju putih. Caelen menyadari bahwa ledakan di Iron Haven akan memicu mobilisasi besar-besaran dari Dewan Tetua untuk menyisir seluruh benua. Dia harus menemukan pelabuhan gelap sebelum pasukan pengejar menyadari bahwa dia masih bernapas.

Kapal-kapal perang di langit mulai menyalakan lampu sorot mereka, memindai daratan di bawah. Caelen menarik tudung jubahnya yang sobek dan masuk ke dalam lebatnya hutan pinus yang membeku, memulai perjalanannya menuju wilayah yang tidak pernah berani didatangi oleh ksatria matahari mana pun.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel